
Maira memasuki kamar kosnya, lalu menghempaskan dirinya ke kasur yang memang sangat begitu tipis, pikirannya melayang kemana-mana.
Di lihatnya Kontak telepon nya dan dia berencana ingin menelfon Max atau Lisa, Maira sangat bingung apakah dia akan membuat panggilan atau tidak.
Saat dia ingin meletakkan ponselnya kembali tanpa sengaja dia menekan panggilan untuk nomor Max, dan Max pun menjawab panggilan itu.
"Hallo! hallo Maira."
"Ehm, Max apa kabar." ucapnya yang glagapan.
"Hay! Maira, aku senang kamu bisa telfon aku sekarang," jelasnya.
"Ya Max, aku udah bisa menenangkan diri, nanti aku telfon lagi ya."
Setelahnya Maira menutup telfonnya dan kembali memikirkan segalanya.
"Maira entah sampai kapan kamu bersikap begini," gumamnya dalam hati.
Kring...
kring...
Telfon Maira berbunyi dan dia melihat dari layar ponselnya tertulis nomor baru disitu.
"Siapa ya," ucap Maira.
"Hallo siapa ini,"
"Hallo Maira, kamu bisa temui saya di taman sekarang, atau saya bisa jemput kamu sekarang."
"Ngapain, ini saya siapa." jawabnya tambah bingung.
"David... kita ketemuan ya, ada yang mau saya omongin."
"ouch, bapak... ya sudah pak share kesini alamatnya."
"Kamu yakin ga mau saya jemput."
"Gak usah pak," jelasnya menolak."
"Baiklah saya tunggu ya,"
Telepon nya pun di tutup dan setelah mendapatkan alamat yang dituju Maira langsung kesana menggunakan angkutan umum seperti biasanya.
Dan setelah sampai disana, Maira melihat David membawa sebuah buket bunga Lily dan sepucuk surat diatasnya.
Maira menghampirinya dan David pun memeluk Maira hingga membuat Maira sontak bingung disana.
Maira yang merasa tidak nyaman mencoba melepaskan pelukan itu.
"Maaf pak, ada apa ya," sambil sedikit menjauh.
__ADS_1
"Maaf Maira kalau saya membuat kamu takut," jelasnya.
"Saya hanya kangen sama pacar saya,"
"Kalau bapak kangen sama pacar bapak, kenapa bapak temui saya, sebaiknya bapak temui dia kan," ucap Maira yang bingung.
"Iya, tapi... ini buat kamu dan coba kamu baca surat nya ya," ucapnya sambil memberi buket Bunga tersebut.
Maira menerima buket itu dan membaca suratnya, disana tertulis jika itu buket terakhir yang belum sempat di berikan kepada kekasih nya David, karena dia mengalami kecelakaan saat menuju ke taman ini, taman tempat Maira David bertemu.
Maira yang membacanya tanpa sengaja meneteskan air matanya, dan kembali melihat David yang sedang menatap nya sejak tadi.
"Keisha, namanya Keisha... dia begitu mirip dengan mu, saat malam itu kita bertemu, disitu aku merasa jika Keisha hidup kembali di dalam senyum mu."
"Aku tau mungkin ini sangat naif kedengaran tapi itu lah yang terjadi Maira, Melihat mu aku menjadi melihat Keisha kembali, makanya tadi aku langsung peluk kamu kayak gitu," jelasnya yang tersenyum.
"Tapi pak, saya bukan Keisha! saya Amaira... walau bapak bilang kami mirip, tetap saja Keisha sudah tidak ada, dan sampai kapan pun saya tidak akan bisa jadi Keisha." jelas Maira.
Saya tau Maira, tapi setidaknya bolehkah saya memeluk kamu sebagai Keisha untuk terakhir kalinya," pinta David.
Tapi pak,"
"Maira merenungkan sebentar permintaan dari David, Maira yang selama ini merasa dirinya tidak bisa membuat orang-orang di sekeliling bahagia, dia mengiyakan perkataan David demi membuat David bisa bahagia."
"Hanya sekali, dan terus saya akan pulang," ucap Maira.
"Baiklah Maira,"
David memeluk Maira erat dan hal itu justru membuat hati Maira menjadi sangat hangat, entah kenapa begitu, Maira pun tidak bisa menjawab semua pertanyaan yang muncul dalam benaknya saat di peluk oleh David.
"Baik lah pak! saya pamit, Oya sebelum saya pulang saya berharap, ini semua tidak terjadi di kantor, semuanya akan baik-baik saja sama seperti dahulu," pinta Maira.
"Ya baiklah Maira, kalau gitu kamu saya antar gimana," pintanya lagi.
"Tidak usah pak, saya bisa sendiri kok,"
Maira pun menyudahi ucapannya dan pergi dari sana menuju jalan angkutan umum, tanpa dia sadari David telah mengikuti dari belakang.
Dan beberapa saat kemudian Maira sampai di gang sempit rumahnya dan itu semua di lihat oleh David dia memperhatikan Maira yang turun dari angkutan umum hingga masuk kedalam gang tersebut.
"Disana kamu tinggal Keisha," gumamnya dalam hati.
Dan David pun pergi meninggalkan tempat itu lalu kembali kerumahnya.
...****************...
Setelah mendapatkan telfon dari Maira, MaX berusaha melacak keberadaan Maira dengan nomor ponselnya.
Dia menemui temanya yang seorang I.T,
lalu meminta bantuan agar bisa mencari keberadaan Maira dimana sekarang.
__ADS_1
"Jadi gimana, bisakan pake nomor ini?" tanya Max.
"Bisa tapi kita perlu waktu, nanti jika udah ada progres pasti langsung kita telfon." ucapnya.
"Ya tapi jangan lama-lama," kalau masalah biaya gak usah kwatir," jelas Max menegaskan
Max meninggalkan tempat itu dia berjalan menuju kantornya.
...****************...
Di tempat kosnya Maira masih memikirkan tentang pacar David, begitu ada orang yang mirip sama kita, Maira sedikit tidak mempercayainya.
Tetapi dia mengingat ucapan kakaknya bahwa dia perlu membuat orang disekelilingnya merasa nyaman dengan nya.
Maira melupakan segalanya, dan keluar untuk mencari makanan sambil menelfon Santi untuk mengajaknya makan malam bersama.
Dan beberapa saat akhirnya Santi dan Maira bertemu di tukang nasi goreng pinggir jalan, disana, disana Maira menanyakan tentang pacarnya David.
"Santi, Lo tau tentang pacarnya Pak David!" tanya Maira.
"Tahu, kenapa," jawabnya.
"Emang mirip sama gue ya!" tanya Maira lagi.
"sekilas mungkin ada, tapi masih banyak bedanya, tunggu Lo tau mana tentang mantannya pak david!" tanya Santi.
"Jadi bener Keisha itu mantannya Pak David, yang meninggal," ucapnya.
"Lo kok tau banyak sih?" tanya Maira.
"Dan saat itu Maira langsung menceritakan semua kejadiannya, dan itu membuat Santi menjadi sedikit bingung.
"Pak David ngomong gitu?" tanya Santi yang semakin bingung.
"iya ,masak gue mau bohong sih," jelas Maira.
"Ya gue saranin aja nih, Lo harus hati-hati sama pak David, soalnya dia agak lain, apalagi semenjak pacarnya si Keisha itu meninggal." Jelasnya.
"Gitu ya, gue jadi takut Santi... terus gue gimana sekarang?" tanya Maira.
"Ya biasa aja, nah kalau di kantor mending Lo jauhi dia,jangan semakin terjerumus," ucap Santi dengan santai dan memakan nasi goreng yang telah sampai.
Maira yang mendengar ucapan dari teman barunya sangat tidak percaya, dan walau bagaimanapun dia harus tetap hati-hati.
Maira pun memakan nasi goreng nya dengan lahap sambil memikirkan segalanya.
Maira pun semakin takut saat memikirkan ucapan dari Santi, dia takut kejadian waktu itu terulang lagi.
Dan akhirnya dia tidak bisa tidur hingga pagi dan juga tidak masuk kantor.
...****************...
__ADS_1
Max yang sudah berhasil Mendapatkan alamat Maira, berusaha mencarinya untuk memperbaiki segala kesalahpahaman yang ada.
Bersambung...