
Max yang ditatap Maira sontak memeluk Maira dan mengecup lembut bibirnya yang hangat.
Maira hanya terdiam atas perlakuan Max padanya, ini pertama kali bagi Maira.
Entah apa yang terjadi, seketika dunia bagaikan melayang di udara, bumi yang di pijak pun menjadi tak terasa baginya.
Max menyudahinya, dan berkata! "terimakasih, karena kamu sudah mengucapkan itu! I Love you."
Sekali lagi mereka berpelukan dan menghabiskan Malam ini bersama-sama.
"Ini kencan pertama kan," gumam Maira.
"Jadi begini rasanya," jelasnya lagi.
Max menggandeng tangan Maira, dua sejoli ini sedang di mabuk asmara, bagaikan dunia hanya milik berdua, dan yang lain hanya ngontrak.
Sebelum pulang Maira meminta MaX untuk merahasiakan hubungan ini, dia tidak ingin orang lain tahu tentang ini.
Dia hanya belum siap dengan semuanya, dan itu juga tidak masalah bagi Max, dia pun menyetujui segala nya.
Max mengantarkan Maira pulang jauh dari rumahnya Lisa, Maira pun sengaja turun agak sedikit jauh dari kediaman Lisa, dia tidak ingin Lisa melihat segalanya nanti.
Maira melanjutkan perjalannya dengan ojek online, Max pun mengikuti dari belakang.
Pria gentleman ini hanya ingin meyakinkan jika kekasihnya sampai dirumah dengan selamat.
Saat turun dari Ojek Maira melihat Max kebelakang, memberi kode jika ini waktunya Max untuk pulang.
Beberapa hari kemudian setelah Max dan Maira menjalin hubungan, semua terlihat biasa saja.
Tidak ada yang curiga dan menanyakan kenapa mereka sudah jarang bertengkar dan berselisih paham.
Sampai di suatu hari, ada seorang wanita cantik memasuki gedung tempat Max dan Maira bekerja.
Wanita itu masuk menyelonong seolah dia sudah biasa kesana, wanita itu langsung menghampiri MaX di ruangannya.
Karyawan yang melihatnya pun terpesona akan kecantikannya, Banyak yang membicarakannya.
"Itu ibu Safira kan,"
"Itu Mantannya Pak Max."
"Wanita itu kenapa bisa kesini lagi."
Ada yang senang dengan kedatangan, ada pula yang tidak merespon nya sama sekali.
Didalam ruangan itu Safira langsung memeluk Max dan berkata, " aku kangen!"
Hal itu sontak membuat Maira cemburu, Maira yang tidak bisa berbuat apa-apa hanya diam menyaksikan segalanya.
Seolah tau jika Maira tidak menyukai kedatangan Safira, Max pun melepaskan pelukan wanita itu.
"Ngapain kamu kesini?" tanya Max kesal.
__ADS_1
"Max, aku kangen! ya. wajarlah aku kesini," jelasnya.
"Lagian Max, aku kan juga sering kesini dulu," jawabnya lagi.
Rasa sesak di dada dan panasnya hawa di ruangan itu membuat Maira sulit bernafas, dia memutuskan untuk pergi ke toilet.
Di dalam toilet, Amaira sedih dan menangis hal yang pertama dirasakan baginya, jatuh cinta sekaligus patah hati.
"Siapa sih wanita itu!" gumam Maira sambil menangis.
"Kenapa dia begitu mesra,"
"Apa MaX juga menyukainya,"
Maira bergumam menerka-nerka tentang siapa sebenarnya Safira tersebut, semakin difikirkan ya semakin sakit hatinya.
Max begitu marah, dia menarik tangan Safira keluar! Max pun mengucapkan jika hubungan mereka telah lama berakhir tidak seharunya dia mencarinya lagi.
"Tapi Max aku masih mencintaimu," jelas Safira.
Sudah safira, aku udah capek jangan begitu lagi," ucap MaX.
"Max Maafkan aku, aku tau... aku salah dan aku datang kesini untuk memperbaiki segalanya, kita mulai dari awal laginya," pintanya."
"Apa yang sudah berakhir, tidak bisa diulang kembali," jelas MaX.
Maira begitu sedih dan sakit hati melihat Max dengan safira, pertanyaan-pertanyaan pun muncul di benaknya.
Malam harinya sebelum mengantarkan Maira, MaX menjelaskan segalanya, jika Safira adalah Mantan kekasih Max.
"Kamu cemburu?" tanya Max.
"Enggak, buat apa!" jelas Maira.
"Kalau cemburu, enggak apa loh," goda MaX.
"ISS Max, apaan sih," rengek Maira.
"Aku senang kalau kamu cemburu, berarti kamu sayang sama aku," ujar MaX menggoda Maira.
"Sudah lah, aku mau pulang," Maira pun turun dari mobil MaX.
"Ehh, mau kemana!" tanya Max.
"Pulang Max, nanti ada yang lihat," jelasnya lagi.
"Aku sudah mutuskan, jika kita akan kasih tahu segalanya, kamu tidak usah takut, cukup percaya sama aku." Jelas Max.
"Tapi Max,_" Max menghentikan ucapan Maira dengan mengecup bibirnya lembut.
Max mengantarkan Maira pulang, disana Lisa yang lagi duduk diruang tamu berdiri dan membukakan pintu.
"Max, tumben Lo ngantar Maira! terimakasih loh," ucap Lisa yang sudah membuka pintu.
__ADS_1
Gue sama Maira udah jadian," jelas MaX.
Lisa yang mendengar itu, sangat kaget dan terdiam sejenak, setelah beberapa saat dia hanya mengatakan, "Oh".
Maira yang malu atas pengakuan Max langsung masuk tanpa mengucapkan satu kata pun.
Lisa langsung menutup pintu tanpa pamitan kepada Max.
Diatas Maira sedang merapikan dirinya dia bersiap untuk mandi lalu Lisa datang dan meledeknya.
"Pacaran sekarang, katanya mustahil benci jadi cinta."
"Sudah Lisa, diam itu lebih baik sekarang," ucap Maira yang sangat kesal dan malu.
"Lo marah sama gue! gue heran sama Lo Mai, gue capek selalu berusaha membujuk Lo nenangin Lo, semua nya hanya tentang Lo"
"Lis_,"
"Enggak, sekarang Lo diam, gue capek mengalah.. sudah lah terserah Lo aja."
Lisa yang kesal dengan tingkah kekanakan Maira dan sifat yang dominannya, akhirnya meninggalkannya sendiri disana.
Lisa pindah dari kamar itu, dia begitu marah pada sahabatnya, dan memutuskan untuk tidur dikamar yang berbeda.
Maira yang pertama kali melihat Lisa marah begitu takut dan cemas, Lisa benar-benar tidak ingin memaafkannya.
Maira berusaha membujuk Lisa kembali ke kamarnya, tetapi Lisa tidak menjawab nya, dia hanya diam sambil menunggu sampai kapan Maira bisa seperti ini terus.
Lisa hanya ingin Maira berubah menjadi lebih baik, belajar dewasa itu perlukan. Karena sifat kekanak-kanakan itu hanya merugikan diri sendiri.
Maita yang merasakan putus asa kembali ke kamarnya, dia merasa sikapnya sangat keterlaluan.
Wanita ini hanya diam dan menangis dikamarnya semalaman.
Setelah kejadian semalam, Maira dan Lisa masih terlihat diam-diaman, seolah merasa canggung satu sama lain dan berusaha menahan egoisnya sendiri.
Melihat Lisa yang hanya diam saja sejak semalam, Maira sangat takut karena ini kali pertama dia marah.
Maira yang mencoba melirik Lisa ingin mengucapkan sesuatu, dia berusaha menjatuhkan benteng harga dirinya demi teman baiknya.
Saat Lisa ingin berangkat kekantor, Lisa ditahan oleh ucapan Maira, "maaf Lisa."
Lisa sontak terdiam mendengarnya, dia berbalik menghadap Maira dan tersenyum lalu memeluk sahabatnya itu.
"Gue ingin yang terbaik buat Lo," ucap Lisa.
"G_gue, gue malu! karena udah menjilat omongan gue sendiri," ucapnya pelan.
"Gue bahagia jika Lo sama Max, gue udah tau kalo Max suka sama Lo, gue juga udah pernah omongin ini sama dia, tapi! keras kepala Lo ini yang membuat dia takut mengucapkannya," jelas Lisa.
Maira pun menjelaskan, dia tidak tau apa yang dirasakan nya benar apa tidak, makanya dia perlu waktu untuk dirinya sendiri.
Lisa mengerti jika temannya butuh banyak waktu buat pelajarin semua ini dan dia akan membantunya memahami segalanya.
__ADS_1
Akhirnya mereka berpelukan dan berangkat kekantor bersama-sama.
Bersambung...