
Lisa mencoba mengingat tentang Nyonya Yin, dan setelah di ingat-ingat kembali ternyata Lisa sangat tau bahkan akrab dengan wanita itu.
"Kenapa Lisa?" tanya Maira.
"Ha! kenapa memangnya?" tanya Lisa kembali.
"Lo kenapa gue cerita Lo diam aja!" tanya nya lagi.
"Enggak apa gue, udah ayok makan!"
Melihat temannya yang menjadi aneh saat dia selesai cerita, maira pun menjadi terdiam tanpa kata dan menghabiskan makanannya.
Malam ini terasa sangat dingin buat Maira, sehingga dia tidak bisa tidur dibuatnya, perempuan ini sudah mematikan AC nya tetapi rasa dingin itu terus ada di ujung kakinya.
Diambilnya ponsel yang ada di meja, di lihatnya foto keluarganya membuat dia sedikit tersenyum saat mengenang semuanya ketika keluarganya masih utuh.
Tetapi rasa dingin mengacaukan segalanya, akhirnya Maira menambah selimutnya menjadi dua lapis.
Saat dia berdiri untuk mengambil selimut lagi Maira meletakkan ponselnya ke meja lagi, tetapi tanpa sengaja dia menekan nomor Max dan menelponnya.
Hallo!
Hallo!
Hallo Maira, kenapa Lo telfon gue.
Terdengar suara dari ponsel Maira, maira pun mengangkat telfon itu dan mengira jika MaX yang menelponnya.
"Ada apa, kenapa telfon malam-malam!" tanya Maira.
"Lo yang telfon gue! kok Lo yang malah tanya kenapa, aneh!" ujar MaX.
MaX dan Maira pun kembali bertengkar saat itu, mereka mempermasalahkan tentang siapa dan mengapa di telfon.
Semua itu m membuat Lisa terbangun saat sudah tertidur lelap.
"Ya sudah mulai lagi," ucap Lisa seliweran.
Lisa pun tersenyum ketika mengetahui Max dan Maira sedang berdebat di telfon, dia bersyukur temannya telah kembali normal lagi.
Tidak lama perdebatan antara Max dan Maira akhirnya terhenti, masalah yang tak ada ujungnya ini terhenti karena baterai ponsel Maira habis.
"Dasar cowok gila," gumam Maira.
Seketika rasa dingin yang di rasakan Maira menjadi panas sesaat setelah selesai berdebat dengan MaX.
"Ah kok jadi panas ya," ucap Maira sambil menghidupkan kembali AC nya dan kembali tidur.
Keesokan paginya...
"Sudah balikan sama MaX Mai," ucap Lisa sambil meledek Maira.
"Maksud Lo," ucap Maira yang tersedak saat mendengar ucapan Lisa.
__ADS_1
Sambil minum Maira menanyakan kembali tentang ucapan Lisa tentang dirinya.
"Ya gue denger Lo tadi malam berantem sama Max, itu berarti Lo udah balik lagi menjadi Maira yang dulu," jelas Lisa.
"Ha! itu... ya emang gue Berdebat sama Max semalam,"
"lagian tu anak yang salah masak dia yang telfon tapi enggak ngaku malah nyalahin gue kan gila tu anak." jelas Maira.
"Ya gue sangat bersyukur," ucap Lisa sambil memeluk Maira.
Setelah selesai sarapan mereka berangkat masih menggunakan mobil mini Cooper milik Maira.
Mobil yang harusnya di klaim oleh asuransi, sampai sekarang belum selesai juga.
"Maaf ya Mai, gue jadi sering nebeng Lo," ucap Lisa.
"Ngomongin apa sih, gue malah seneng kalo kalo kita bisa bareng gini," jelas Maira sambil menyetir.
"Besok Lo yang nyetir ya, Udah kebiasaan gue kalo Lo yang nyetir," ucap Maira.
"ya siap bos!" ucap nya.
Akhirnya mereka sampai di kantor dan Maira pun langsung di labrak oleh Max soal kemaren malam.
"Lo kenapa coba, masih pagi bos! enggak usah berisik," ucap Maira.
"Lo yang kenapa telfon gue terus matiin telfon nya gitu aja enggak sopan tau?" tanya Max.
Maira yang sadar atas itu pergi meninggalkan Max disana yang masih berceloteh, sambil menunduk maira masuk ke ruangannya.
MaX yang telah sadar akhirnya memutuskan menyusul Maira, di sana Max kembali menyalahkan Maira atas segalanya.
"ISS Max udah deh, emang Lo mau jatuh cinta sama gue ketika Lo sedang marah kayak gitu," tanya Maira.
Max pun terdiam mendengar ucapan Maira.
Ya enggak sih," ucap MaX.
Max pun meredam amarahnya dan duduk di kursi besarnya, apalah daya MaX yang sebetulnya sudah jatuh cinta pada Mira tetapi dia tidak bisa mengungkapkannya.
Maira dan Max pun kembali bekerja dan melakukan beberapa meeting hari ini.
Sampai di malam harinya, Maira pergi kerumah Nyonya Yin, disana dia disambut sangat hangat oleh nyonya Yin dan.
Terlebih Maira sudah disuguhi makanan lokal yang sangat disukai oleh Maira, mereka duduk seperti ibu dan anak saling bercengkrama dan menatap mata yang dalam.
Saat mereka asik bercerita terdengar suara orang mengetuk pintu dan melangkah ke dalam rumah.
Suara itu semakin terdengar jelas ketika seseorang itu telah ada di hadapan Maira.
"Ibnu!" ucap nyonya Yin sambil memeluk pria itu.
"Hai Mam,"
__ADS_1
Saat pria itu mengucapkan kalimat tersebut sontak membuat Maira terkaget dan memperhatikan pria itu dari atas sampai bawah dan berbalik melihat nyonya Yin.
"Maira kenalkan ini anak saya Ibnu," ucap nyonya sambil tersenyum.
Mereka pun saling berkenalan, terlihat sangat jelas jika pria itu menyukai Maira saat pertama melihat nya.
Nyonya Yin mengajak anaknya dan Maira makan bersama, mereka makan sambil mengobrol dan tertawa bersama.
Maira yang sangat risih ketika di lihat terus-menerus dengan Ibnu cepat-cepat menghabiskan makanannya.
"Ibnu ini anak saya juga Maira, anak pertama!" jelasnya.
"Kamu sangat mirip dengan Tiara anak kedua saya, cantik dan bersemangat kayak kamu," ucap Nyonya Yin sambil melihatkan koleksi foto Tiara.
"Saya sengaja mengundang kamu kesini untuk mempertemukan kamu dengan Ibnu siapa tau kamu suka jika saya menjodohkan kalian." tambahnya.
"Apa... " Maira sangat terkejut ketika mendengar itu, Maira pun tidak bisa berbicara saat itu juga dia langsung meminta izin untuk pulang duluan kepada nyonya Yin.
Dalam perjalanan pulang Maira sangat tidak fokus, perkataan nyonya Yin masih terngiang-ngiang di telinganya.
Dan saat melihat anak dari nyonya Yin yang melihatnya terus-menerus seakan ingin memakannya membuat Maira sangat takut.
Sesampai nya di rumah Maira langsung memeluk Lisa yang sedang menonton televisi. Hal itu justru membuat Lisa cemas melihat temannya dan langsung memeluk nya juga.
Enggak apa Maira, Lo aman disini!" sambil memeluk Maira dan menenangkannya.
Maira yang masih ngos-ngosan dan belum bisa bercerita banyak kepada Lisa, tetapi seakan Lisa telah mengerti apa yang telah menimpa Maira.
Lisa terus memeluk Maira, Maira seakan tidak ingin melepaskan pelukan itu, dia seakan begitu takut saat ini hingga Lisa memeluk Maira saat tidur sampai pagi.
Di pagi harinya, Lisa yang masih melihat temannya Seperti orang ketakutan menyebutkan satu nama yang semakin membuat Maira takut.
"Ibnu kan," ucap Lisa.
"Lisa Lo, kenapa!" tanya Maira.
"Gue tau Maira, gue sangat tau apa yang Lo rasakan sekarang.gue sangat mengerti rasa ketakutan begitu besar sama seperti gue saat itu," jelas Lisa.
"Apa, jadi Lo kenal nyonya Yin,"
"enggak hanya Nyonya Yin, gue jelas tau tentang keluarga mereka," dan Lisa pun menjelaskan.
Bersambung...
***Hayo penasaran ya ...
nanti di lanjutkan lagi ya ...
sekarang like vote dan jangan lupa hadiah nya juga serta tap tombol favorit nya
Supaya author semangat update nya terus...
Terimakasih...🙏😘***
__ADS_1