My Enemy My Lovely

My Enemy My Lovely
episode 8


__ADS_3

"Kenapa Lo selalu bela dia?"tanya MaX.


"Gue tidak bela siapa-siapa MaX,"jawab Lisa.


"Gue cuman mau Lo bersikap adil,"tambahnya.


"Kapan Lo pulang,"ucap MaX.


Lisa menjelaskan bahwa dirinya pulang kemarin siang dan dia juga sudah bertemu serta berbaikan dengan Maira.


MaX terkaget mendengar perkataan Lisa,dia tidak habis fikir kenapa Lisa begitu cepat memaafkan Maira.


Lisa pun berkata bahwa kesalahan Maira itu tidak cukup besar dari pada kesalahan yang dilakukannya.


Terlebih lagi Lisa juga berbohong soal identitasnya dari Maira, tapi Lisa dan Maira sudah melupakan segalanya dan memulai segalanya dari awal lagi.


"Jadi gue harap Lo juga gitu,"ujar Lisa.


Seharusnya MaX dan Maira tidak memiliki Masalah apapun,hanya saja cara bertemu mereka yang salah sehingga mereka menjadi canggung untuk berbicara lebih baik dari sebelumnya.


MaX menaruh hati kepada Maira,itu lah alasannya kenapa dia tidak bisa bersikap manis kepada Maira, yang membuat Maira selalu salah paham dengannya.


MaX sudah menyukai Maira dari awal bertemu dahulu, dia selalu gagal untuk bersikap manis kepada Maira, sehingga apapun yang dia lakukan selalu salah akhirnya.


sesungguhnya dia juga tidak ingin menjadi musuh bagi Amaira, tapi dia juga tidak bisa memberi tahu tentang perasaannya terhadap Maira.


"MaX," panggil Lisa, yang dari tadi melihat saudaranya melamun.


"Udah telfon dia sekarang," ucap Lisa.


"Gue ga mungkin telfon dia," ujar MaX.


"Kenapa?" tanya Lisa.


Lisa tersenyum melihat MaX gelagat MaX, dia sangat yakin jika saudaranya menyimpan perasaan terhadap Maira, walau maX tidak pernah mengatakan apapun tapi Lisa sangat tahu isi hati MaX.


"Udahlah MaX! kalau Lo ga mau, Lo bisa suruh HRD kan,"ujar lisa.


"Apa perlu gue yang suruh ni,"tanyanya lagi.


"Ya biar gue yang suruh HRD telfon dia."


Maira akhirnya ditelpon kembali dengan perusahaan Y dan di minta untuk kembali bekerja besok hari.


Maira menolak semua tawaran dari mereka, karena dia tau yang memimpin dari perusahaan itu adalah MaX.


Amaira dan MaX seakan musuh bebuyutan, seperti kucing dan anjing, karena ketika mereka bertemu pasti ada saja yang di ributkan oleh keduanya.


Itulah yang membuat menolak bekerja disana, dia tidak mau menambah masalah disana, bekerja disana pasti tidak akan baik bagi semuanya.


Karena Maira merasa bagaimana perusahaan itu akan maju jika bos nya bermusuhan dengan sekretaris nya.

__ADS_1


Keputusan Maira di dengar oleh kakaknya ,


kakaknya meminta Maira menerima kesempatan itu, karena itu akan baik bagi karir nya kedepannya.


"Tapi kak,"ujar Maira.


"Maira kamu harus bisa mengesampingkan urusan pribadi sama urusan pekerjaan," ucap Nadin.


"Ia maira," ujar Aldi Kakak iparnya.


"Kamu harus profesional dalam segi apapun, kamu tidak boleh mencampur adukkan segalanya,"tambah Aldi.


"Betul Mai,"ujar Nadin, yang dari tadi gelisah dengan perutnya.


"Kenapa kak?" tanya Maira, kepada Nadin.


"Ga tau, dari tadi kakak mules,"jawab Nadin.


"Apa sudah waktunya kali ya,"tambah Maira.


"Harusnya belum," ujar Nadin.


"Kamu yakin sayang,"tanya Aldi.


"Kalau kamu ga sanggup kita bisa ke dokter sekarang,"tambahnya.


"Harusnya kan masih 3 Minggu lagi,"ucap Nadin.


Nadin mengira ini hanya kontraksi palsu, karena jadwal melahirkannya pun belum tiba Nadin Masih terlihat santai dengan perutnya yang sudah mulai bertambah mulas.


Sementara Nadin belum mau di bawa ke rumah sakit, Maira pun berinisiatif memasukkan segala keperluan Nadin dan bayinya kedalam tas.


Dan Aldi masih menggenggam tangan Nadin dan memberinya semangat untuk tidak stres saat ini.


Maira melihat cairan mengalir mengalir di kaki Nadin, dan memberitahu Aldi, setelah mereka melihat mereka segera berangkat kerumah sakit.


Nadin sangat heran kenapa persalinan bisa di majukan seperti ini, mereka sangat khawatir ketika Nadin di dorong keruang bersalin.


Maira memberi semangat kepada Aldi, dan mengatakan agar tetap tenang, Maira pun sangat khawatir dengan kondisi kakaknya dan calon keponakannya.


Setelah penantian panjang, akhirnya terdengar suara tangisan bayi dari dalam ruangan, Maira dan Aldi sangat senang mendengarnya.


Mereka tersenyum dan tidak sabar untuk melihat bayi nya, Maira pun memberi selamat kepada Aldi karena telah menjadi seorang ayah sekarang.


Dokter yang membantu Nadin pun keluar memberi tahu segalanya baik-baik saja ibu dan anaknya selamat dan bayinya laki-laki.


"Keluarga Nyonya Nadin,"ucap suster.


"Saya suster,"ucap Aldi.


"Tolong segera melunasi administrasi nya pak dan sebentar lagi ibu dan bayinya akan di pindahkan keruangan." ucap suster lagi.

__ADS_1


Aldi segera melakukan segala keperluan nya dan menunggu istri dan anaknya keluar dari ruang bersalin.


pertemuan Aldi dengan Nasi ketika mereka sama-sama masuk kuliah dulu menumbuhkan cinta diantara keduanya.


Tetapi mereka memutuskan untuk tidak berpacaran, Aldi melamar Nadin ketika mereka sama-sudah lulus kemaren.


Sebelum Hamil Nadin pernah bekerja di salah satu perusahaan swasta dia bekerja cukup lama disana, dan saat mengetahui dirinya hamil dia memutuskan untuk berhenti.


Ditambah di awal kehamilannya cukup sulit baginya, tapi dia sangat bersyukur memiliki Aldi sebagai suaminya.


Aldi melihat Wajah anaknya untuk pertama kali dan dia sangat bahagia dan mengucapkan terimakasih kepada istrinya karena telah melahirkan anak yang tampan.


"Kak selamatnya," ucap Maira sambil memeluk kakaknya dan mencium kening Nadin.


"Aku keluar dulu mau cari makanan buat kita," ucap Maira sambil keluar dari sana.


Maira sengaja keluar dari ruangan itu,untuk memberi waktu kepada mereka bertiga.


kring....


kring...


Maira melihat ponselnya yang berdering, lalu mengangkat nya.


"Ya Lisa," ucapnya


"Lo dimana Mai?" tanya Lisa.


"Gue di rumah sakit,kak Nadin melahirkan! ada apa?"tanya Maira, sambil berjalan kearah mobilnya.


"Gue kesana ya?" tanya Lisa.


"Ok Gue tunggu di cafe dekat rumah sakit,"jawab Maira.


Setelah berjumpa Lisa pun memeluk Maira memberi selamat atas kelahiran keponakannya.


Mereka memesan sebuah minuman disana, Lisa melihat Maira tengah bingung dan bertanya kepadanya.


Maira mengatakan bahwa dia sudah tidak enak kepada kakaknya, sepertinya dia ingin mencari tempat tinggal baru, dia tidak ingin tergantung pada Nadin lagi.


"Ini saatnya Nadin bahagia bersama suami dan anaknya, apalagi disaat anaknya lahir pasti mereka ingin selalu menghabiskan waktu untuk bersama," ucap Maira.


Lisa mengerti dengan ucapan Maira dan dia memberi solusi agar tinggal bersama dengannya.


terlebih Lisa hanya tinggal sendiri sekarang, setelah ayahnya meninggal dunia dia sudah tidak memiliki siapa pun lagi.


Setelah ibu Lisa meninggal ketika melahirkannya, Lisa hanya tinggal bersama ayahnya saja, sedangkan ayahnya memilih untuk tidak menikah lagi.


Dan hanya membesarkan Lisa seorang diri dengan bantuan seorang pengasuh.


Maira tidak menjawab apapun, dia hanya diam dia memberi tahu Lisa bukan untuk di kasiani seperti ini.

__ADS_1


Lisa memberi tahu bahwa nasib mereka sama sekarang, bahkan mereka seorang diri sekarang, tidak ada tempat berbagi dan bersandar.


"Jadi apa salahnya untuk kita tinggal bersama," ucap Lisa.


__ADS_2