
Maira memulai paginya dengan pergi kekantor seperti biasanya.
Dia menggunakan angkutan umum untuk berangkat kekantor seperti biasanya. Setelah sampai di kantornya Maira langsung memulai pekerjaan seperti biasa di hari itu.
"Maira, Lo siap-siap ya kita bakal ngadain rapat, nanti setelah makan siang," ucap Salah satu staf.
"Oya makasih," jawab Maira.
Saat ingin memasuki Ruang meeting Maira melihat ada Max yang sudah menunggu bersama klien lain.
Maira jadi mengurungkan niatnya untuk masuk kedalam ruangan dan menyuruh temannya untuk menggantikannya.
"Kenapa Max ada di sini ya," gumam Maira.
"Maira Kamu ngapain disini!" tanya David yang melihatnya seperti orang bingung.
"Pak David , saya enggak apa kok," jawab Maira.
"Kamu tidak ikut Meeting di dalam!" tanya nya lagi.
"Saya lagi enggak enak badan pak," jelasnya yang langsung ingin meninggalkan tempat itu.
"Tunggu Maira, ucap nya sambil menarik tangan Maira.
"Maaf pak, saya mohon tolong lepaskan saya," pinta Maira.
Kamu tahu kan Maira, saya sangat merindukan kekasih saya, saya harap kamu mau bantu saya sekali lagi," ujarnya sambil menyentuh wajah Maira.
"Maaf saya tidak bisa, mohon lepaskan saya pak," pinta Maira sambil berusaha lepas dari sikopat itu.
Kamu tidak akan bisa untuk menolak saya Maira, ayo ikut saya," Ucapnya sambil menarik
tangan Maira.
Maira terus meminta tolong agar segera di lepaskan, dan setelah beberapa lama suaranya terdengar sampai ruang Meeting dan mereka yang sedang meeting lalu mencari sumber suara itu.
"Maira, itu suara Maira," gumam Max.
Max berusaha mencari sumber suara yang dia dengar seperti suara Maira, dia mengelilingi ruang meeting dan suara itu semakin lama semakin kecil.
Max hampir kehilangan Jejak dari suara Maira, dia berusaha mencari sekali lagi, tapi suara itu telah hilang sehingga Max tidak dapat mendengarnya lagi.
Max pun berlalu dan melanjutkan meeting bersama yang lainnya.
Ditempat lain Maira yang sudah berhasil di dekap oleh David berusaha melepaskan diri dari genggaman David.
"Maaf pak! saya katakan sekali lagi, saya bukan Keisha," ucapnya sambil pergi dari sana.
...****************...
Setelah kejadian meeting tadi siang, Max masih terngiang-ngiang dengan suara Maira di kantor itu, dia sangat yakin Maira berada di dalam kantor tersebut.
"Gue harus balik kesana untuk memastikannya," gumamnya.
keesokan harinya MaX kembali kekantor tempat dia Meeting, dia melihat-lihat sekeliling dan mencari tau keberadaan Maira.
__ADS_1
"Maaf mbak, apa Maira tidak masuk kerja," tanya Max kepada Salah satu Staf.
Saat Max lagi bertanya Santi datang dan menanyakan kenapa dia mencari Maira.
"Lo nyari Maira, ada apa?" tanya Santi.
'Gue ada perlu sama dia," jawab MaX.
"Dia memang karyawan baru disini, tapi hari ini dia gak masuk," ucap Santi.
"Lo tau dimana rumahnya!" tanya Max lagi.
"Gue gak tau," jawabnya.
"ouch....ok makasih,"ucap MaX yang langsung pergi dari sana.
...****************...
Di tempat Lain David yang mengetahui Maira tidak Masuk kerja hari ini, berniat mencarinya di rumahnya.
Setelah sampai disana, dia mengetuk pintu dan berusaha mengetuk pelan agar Maira membukakan pintu untuknya.
Tok...
Tok...
Maira membuka pintu saat mendengar pintu di Ketuk pelan dari luar.
Saat membuka pintu Maira terkejut melihat David yang berada di luar dan memaksa masuk ke dalam rumah.
Ayo lah Maira, sebentar saja... saya sangat merindukan Keisha kekasih saya, Maira saya mohon," pinta David.
"Tidak pak, saya bukan Keisha tolong tinggalkan saya sendiri, pergi dari sini," ucapnya semakin ketakutan.
"Saya tidak akan pergi Keisha, saya akan menunggu mu disini sayangku," ucap David yang semakin menggila.
Ditempat lain perasaan Max semakin campur aduk, tentang kemana Maira pergi, kenapa dia tidak masuk kerja hari ini, banyak hal yang dipikirkannya Sehingga dia hampir menabrak seorang pejalan kaki.
stret.. suara rem mobil.
"Maaf pak, saya minta maaf," ucap MaX.
"Makanya kalo nyetir pake mata," ucap pejalan kaki yang marah.
"Aduh! Maira kamu dimana sih, aku harus menyelesaikannya sekarang juga," gumam Max, setelah pejalan itu menyingkir dari sana.
Setelah di tinggal pergi selama berminggu-minggu membuat MaX merasa bersalah, kenapa dia membiarkan Maira pergi begitu saja.
Max yang ingin menyelesaikan segala kesalah pahamnya terhadap Maira, sangat kuatir karena nomor yang di lacak nya hilang ntah kemana.
"Jejak Maira bisa ke hapus gini, dasar ceroboh," gumamnya.
"Maira kamu dimana," gumamnya lagi.
Di tempat lain Maira yang semakin ketakutan tidak tau harus berbuat apa lagi untuk mengusir Pak David dari sana.
__ADS_1
Dia semakin kacau dengan pikirannya sendiri, di bukanya ponsel dan dia melihat, terbesit dalam benaknya bahwa Max bisa membantu saat ini.
Kring...
Kring...
Suara ponsel Max berbunyi...
Max pun dengan cepat mengangkat telpon itu.
"Hallo, Maira... kamu dimana," ucap MaX yang reflek memanggil Maira.
"Max... tolong aku takut," ucap Maira dengan suara bergetar.
"Kamu tunggu disitu aku akan segera datang,"ucap MaX dan langsung melaju ketempat Maira.
Disisi lain, David yang masih menggedor-gedor pintu kos Maira, selalu saja berteriak memanggil nama Keisha.
Maira yang semakin ketakutan dan selalu berusaha tenang sambil menyuruh David untuk meninggalkan tempat ini.
Tidak lama kemudian Max datang dan Memukuli David yang berada tepat di pintu luar kos nya Maira.
Bom...
Brak...
Suara pukulan terdengar keras dari dalam ruangan, membuat Maira menjadi sedikit tenang karena sudah Mendengar suara Max dari luar.
"Maira buka pintunya, Ini aku Max," ucap MaX pelan.
"Aku takut, MaX... aku takut," ucapnya dengan nada yang bergetar.
"Kamu tenang ya, sekarang kamu menjauh dari sana, aku akan dobrak pintu ini,"ucap MaX lagi.
Max mendobrak pintu kos Maira dan masuk lalu memeluk Maira dengan erat, rasa kangen saat melihat Maira seakan hilang, Max tidak ingin kehilangan nya untuk keduakalinya.
Setelah Menenangkan Maira, Max berusaha berbicara kepada Maira, dia meminta maaf untuk segala yang telah terjadi dan memohon untuk tidak pergi lagi.
"Maira... aku sangat merindukanmu, aku mohon kamu pulang ya, Lisa juga pasti sangat merindukan mu," pinta MaX.
Tapi Max, aku sangat tidak pantas, kalian terlalu baik padaku," ujarnya merendah.
"Kami sangat ingin berkumpul dengan mu lagi," ucap MaX sambil mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya.
"Maira, apa kamu bersedia untuk menikah dengan aku..," ucap MaX sambil berlutut dan memegang sebuah cincin emas yang sangat cantik.
Max, aku... Kamu yakin," ucap Maira.
"Sangat yakin," ucap MaX.
"Baiklah aku mau menikah dengan mu," ucap Maira.
Max memasangkan cincin di jari manis Maira dan memeluk nya erat lalu mengecup keningnya dengan mesra.
Max sangat Bahagia Maira menerima pinangannya sehingga membuat nya meneteskan air matanya.
__ADS_1
Bersambung...