
Maira aku berangkat dulu ya," ucap MaX sambil mengecup kening Istrinya itu.
Dengan dingin Maira menerima kecupan yang diberikan oleh Max, Maira yang masih marah kepada Max, masih tidak bisa memaafkan atas apa yang telah di lakukan oleh Max pada nya.
Dengan perasaan bersalah Max, berangkat kerja.. Maira memasuki kamar buah hatinya, dia melihat setiap tatapan dari kedua buah hatinya itu.
"Entah apa yang ada di benak papa mu, hingga tega membuat ini kepada kalian sayang," gumam Maira dengan kedua anaknya.
Maira hendak menemui pria yang telah mengambil alih tempat Max sebagai ayah dari anaknya itu.
Setelah mencari di rumah sakit, Maira masih belum menemukan Dion pria yang di yang sudah bekerja sama dengan suaminya itu.
"Kemana aku harus mencari dia," gumam Maira.
Maira mampir ke kopi shop untuk menenangkan fikiran dengan memesan secangkir kopi disana.
Setelah kopinya datang, Maira langsung menyeruput kopi susu yang telah di pesannya itu.
Betapa terang dunia ini ketika pikiran kita menjadi tengang, Walau rasa kecewa yang di dapatnya dari suaminya masih belum usai, tapi Maira masih menganggap Max adalah ayah dari kedua anak kembarnya.
Dia harus menemui Pria itu, karena Maira merasa harus menyelesaikan segala yang telah di mulai oleh suaminya.
"Dia..," gumam Maira saat melihat dari jendela kaca kopi shop itu.
Maira lantas keluar, mengejar pria yang di cari nya itu, sambil meneriakkan namanya Maira berlari hingga pria itu berhenti di suatu gang sempit.
"Kenapa lagi, kenapa kamu menghentikan ku!" tanya pria itu.
"Aku mohon, kita bicara sebentar.. masih ada yang harus di selesaikan?" ucap Maira.
"Sudah tidak ada yang perlu di selesaikan lagi, semua telah selesai, ibuku telah tiada.. dan sekarang aku hanya seorang diri, sebatang kara," ujarnya.
"Tidak.. jangan ucapkan itu, ikutlah dengan ku, kita bisa bicarakan ini baik-baik," ajak Maira.
"Sudah tidak ada yang perlu di bicarakan, kecuali kau mau berikan satu anak untukku," pinta Dion.
"Ha.. tidak mungkin. mana mungkin aku bisa berikan anakku kepada mu, jangan ngacok," tolak Maira.
"Ya kalau begitu, bersiaplah untuk kehilangan kedua anak itu," ucapnya.
Dion lantas pergi dari sana, dan sebelum pergi dia sempat mengatakan, "ingatlah bahwa bayi kembar itu milikku, aku adalah ayah biologis mereka."
__ADS_1
Maira terdiam mendengar dia mengungkapkan itu, dengan rasa takut dan juga rasa tidak percaya jika pria itu akan senekat itu, Amaira akhirnya memutuskan untuk pulang.
...****************...
Dua hari setelahnya... Maira yang terbangun saat tengah malam, melihat kekamar buah hatinya, disana dia melihat anaknya tengah tidur dengan nyenyak.
tapi saat dia mendekati Box bayi kembar nya, dia tidak melihat Kiran disana, hanya karinlah yang tertidur pulas disana.
Maira lantas memanggi-manggil anaknya itu, hingga Max dan pembantu nya terbangun karena suara Maira.
"Ada apa Maira!" tanya Max.
"Kiran mas, Kiran gak ada di kamarnya,_ sahut Maira.
"Akan saya coba cari buk," ucap Asisten rumah tangga nya.
Maira menangis dan teringat dengan ucapan Dion tempo hari, bahwa dia akan mengambil satu dari anak kembarnya.
"Dion mas.. ini semua pasti ulah Dion," ucap Maira.
"Gak mungkin Maira, dia sudah pergi kemaren," ujar MaX.
"Dari mana kamu tahu, aku menemuinya kemaren dia mengatakan bahwa akan mengambil anaknya," jelas Maira.
"Apa.. kamu kasih dia uang, gila kamu mas.. pasti didalam kereta itu ada kiran, dia telah membawa kabur Kiran mas," ucap Maira menangis.
Maira menangis merasa tidak sanggup ini bisa terjadi, dia menemui Karin dikamarnya dan menggendong buah hatinya, sambi menciumi dan memeluk erat anaknya, Maira merasa penyesalan mendalam.
Max yang sangat bingung, menjadi sedih karena Istri yang dia cintai menangis seperti ini.
"Maafkan aku Maira," ucap MaX.
"Sudah terlambat mas, kamu memang jahat.. aku sangat gak bisa berfikir lagi, kamu begitu tega dengan ku," ucap Maira.
"Maira kamu mau kemana? tunggu Maira!" ucap MaX.
"Berhenti Mas.. sudah cukup semua.. aku sudah tidak bisa memaafkan mu lagi, besok pagi aku akan pergi dari rumah ini," jelas Maira.
"Tidak Maira.. kamu tidak boleh pergi, aku sangat mencintaimu, jangan tinggalkan aku," ucap max, memohon.
Maira menutup pintu kamarnya, dia meletakkan buah hatinya di kasur, lagi-lagi Maira mengingat kenangannya bersama Max, dia sangat menyesalinya jika rasa benci itu timbul kembali kepada suaminya.
__ADS_1
Namun kesalahan suaminya sudah begitu fatal, sehingga sudah tidak ada kata yang bisa untuk merubah semua keadaan yang ada.
Maira melihat kembali putri malang nya, dia menangis kejer, lalu membayangkan Kiran putri yang satunya.
"Kenapa bisa begini.. kenapa kamu mengambil anakku," ucap Maira, di depan kaca.
...****************...
Keesokan paginya, Maira keluar dari kamarnya dengan membawa Koper besar, dengan menggendong anaknya Maira ingin keluar dari rumah ini.
"Tunggu Maira, Maira.. jangan pergi sayang, kalau kamu pergi aku sama siapa," bujuk Max.
"Minggir mas, aku harus pergi dari sini," ucap Maira.
"Maira aku mohon jangan kayak gini dong, kita bisa selesaikan ini bersama," jelas max.
*Sudah selesai mas, udah gak ada lagi yang harus di bicarakan, lagi pula buat apa aku disini, kenangan Kiran akan terus menghantuinya aku," jelas Maira.
"Ya kalau gitu aku ikut sama kamu ya, plis! ayok lah sayang, aku mohon" ucap MaX, sambil menyimpulkan tangan.
"Jangan gini mas, udah cukup! tolong dong izinkan aku pergi, jangan persulit langkah aku," ucap Maira.
"Oke baik, kamu mau pergi, silahkan aku gak akan tahan kamu lagi, tapi satu hal Maira, kamu pasti akan pulang kesini lagi, itu pasti," tegas Max.
"Maira tidak memperdulikannya ucapan Max, Dengan menggendong bayi dan membawa dua tas besar Maira sangat yakin untuk meninggalkan rumahnya.
Sementara Max tidak bisa menghentikan Maira, dia hanya bisa melihat Maira pergi dari sana, dengan berat hati dia melepas istrinya itu.
"Kamu memang seperti dulu Maira," gumam Max.
Max melihat segala kenangannya bersama Maira, dari mulai kasur dan kamar bayi mereka, Max sangat tidak menyangka jika ide konyolnya bisa membawa Mala petaka bagi rumah tangganya.
Sementara yang tersisa hanyalah dirinya saja, Max pun memutuskan untuk liat dari apartemen itu, dia ingin kembali kerumah lamanya.
Setelah membereskan segala yang ada, Max segera keluar dari sana, sebelum dia meninggalkan apartemennya tak lupa Max mencari asisten rumah tangganya terlebih dahulu.
"Si bibik kemana sih, di cari-cari ga ada," gumam Max.
Max yang sangat bingung, baru sadar jika dia tinggal di apartemen lantai 5 sangat sulit bagi orang asing menerobos masuk ke sana jika tanpa orang dalam.
"Jangan-jangan," gumam Max, saat mengingat sesuatu.
__ADS_1
Bersambung...