
"Jadi Maira nya ada kak," tanya Lisa.
"Ada dikamar," jawab kak Nadin.
Maira merasa tidak enak badan sejak kemaren, Rasa sedihnya setelah dibohongi oleh temanya sendiri ditambah ia terkena hujan kemaren.
Lisa menaiki anak tangga menuju kamar Maira, dia datang hendak melihat keadaan Maira sekaligus meminta maaf pada nya.
Lisa merasa bersalah telah membohongi Maira, dan dia sangat menyesal.
Pintu kamar yang emang tidak tertutup semua, membuat lisa bisa melihat temanya terbaring lemas diatas kasur, dan tidak tega baginya untuk mengetuk pintu kamarnya.
Lisa masuk perlahan lalu duduk di samping Maira dan mengucapkan rasa penyesalannya.
Maira yang saat itu tengah tidur pun terbangun olehnya.
Disaat ia melihat bahwa ada Lisa di sampingnya dia pun langsung berekspresi kesal dan marah serta banyak tanda tanya di benaknya.
"Hai Mai, apa kabar?" Tanya Lisa.
"Buat apa Lo kesini," jawab Lisa lemas.
"Gue minta maaf ya Mai, gue tau gue salah... gue sangat menyesal dan gue sama sekali ga bermaksud buat bohong sama Lo."
"Gue tau gue udah nodain persahabatan kita."
"Gue menyesal Mai."
"Maaf," ucap Lisa yang penuh penyesalan.
Lisa sangat menyesali perbuatannya,
dia tau jika Maira tidak suka dengan orang pembohong.
Maira meneteskan air matanya, dia merasa sedih ketika sahabatnya berkata begitu.
Maira sangat lemah saat ini, jadi dia sangat sulit untuk membuka mulutnya.
Lisa pun menceritakan semuanya kepada Maira, bahwa MaX adalah sepupunya, Lisa berharap Maira bisa mengerti keadaannya.
Maira tidak menjawab satu kata pun dia hanya menangis, yang di pikirannya, dia bermusuhan dengan MaX.
Dia tidak mau ada konspirasi disini, jadi dia belum bisa memaafkan Lisa.
MaX adalah musuhnya, itu yang di benaknya, Lisa adalah adalah sepupunya, fikir nya kemana-mana.
"Lebih baik Lo pulang aja," ucap Maira.
"Gue mau istirahat."
Lisa berdiri dan keluar dengan penyesalannya, dengan menuruni anak tangga Lisa pun berpamitan kepada Kakaknya Maira.
Diluar sudah ada ojek online yang menunggunya, dia menaiki sepeda motor itu dan pergi dari sana.
Persahabatan Maira dan Lisa sedang di ombang kehancuran.
Kehidupan Maira dan Lisa pun sudah tidak bersama lagi.
Mereka menyelesaikan akhir semesternya masing-masing.
Dan setelah duduk di kelas tiga, Maira masih tidak mau berbicara Pada Lisa.
MaX sibuk dengan kuliahnya, makalah yang dia buat mendapatkan nilai terbaik dari dekan.
Dia merasa senang dan juga menyesal, karena dia dua sahabat ini menjadi bermusuhan.
"Hai Lis udah siap,"tanya max.
"Sudah." jawab Lisa.
__ADS_1
"Emang kita mau ke mana, ngapain sih lu jemput gue."
"Emang ada yang penting ya?" tanya Lisa.
Max menjalankan mobilnya, lalu melaju di jalanan.
Tibalah di salah satu cafe terkenal, Max mempersilahkan Lisa turun, lalu mengajaknya masuk ke dalam restoran.
Max mempersilahkan Lisa duduk lalu memesan minuman.
Lisa masih mempertanyakan apa tujuan max yang sebenarnya mengajak mereka untuk bertemu.
MaX pun menjelaskan apa tujuannya, dia ingin bertemu dengan Maira dan meminta maaf padanya.
Lisa pun terkejut mendengarnya, dia mengatakan itu tidak perlu.
Segalanya telah terlambat, sangat sulit untuk membujuk Maira jika sudah sakit hati.
ya seperti itulah Maira.
MaX pun terdiam mendengar ucapan Lisa,
dia membujuk Lisa sekali lagi, agar bisa diizinkan untuk bertemu dengan Maira.
"Ayolah Lis,"bujuk max.
Gue cuman ingin lo sama Maira bisa baikan, gue yang salah jadi nggak seharusnya lo yang menanggung akibatnya.
"Please izinin gue," max membujuk sekali lagi.
"Gue cuman mau lo sama Maira bisa temenan lagi, bukannya itu juga yang lo inginkan."
Lisa terdiam mendengar ucapan Max, dia berpikir Max ada benarnya juga maka dari itu dia mengatur pertemuan Max dan Maira.
Akhirnya MaX berhasil bertemu dengan Maira, dan dia menjelaskan segala nya kepada Maira.
Dia berkata bahwa segala yang terjadi bukanlah kesalahan dari Lisa, seharusnya yang dihukum Adalah MaX, Lisa tidak pantas buat di jauhi .
Setelah mengatakan segalanya, Maira pun pergi dari sana.
"Maaf," ucapnya pada MaX.
"Dan tolong sampaikan juga Maaf gue kepada Lisa."
"Gue dapat magang keluar kota, jadi gue harus pergi, tolong sampaikan juga pada Lisa."
"Gue Pamit."
"Kenapa ga Lo aja yang minta maaf sendiri,"
tanya MaX.
"Gue ga bisa," ucapnya.
Akhirnya Maira pergi tanpa pamit kepada Lisa , MaX pun lulus dengan nilai yang bagus di kampusnya, sedangkan Lisa mendapatkan tempat magang di daerah tanah kelahirannya.
Mereka bertiga pun menjalani kehidupannya masing-masing.
Setelah Beberapa tahun kemudian, Maira akhirnya kembali lagi untuk menemui kakaknya, tapi... sudah lama tidak bertemu dengan temannya bahkan mereka sudah tidak saling berkomunikasi.
Kehidupan yang baru dengan tempat yang sama, membuat keadaan terasa De Javu.
"Maira," ucap Nadin yang terkejut melihat adiknya kembali.
"Hai kak," kata Maira yang langsung memeluk kakanya erat.
Rasa kangen diantara mereka begitu besar karena sudah begitu lama tidak bertemu.
Nadin pun sekarang telah menikah dan akan segera melahirkan.
__ADS_1
"Kamu ya tega banget sama kakak." ucap Nadin kesal,sambil tersenyum.
"Maaf kak, aku baru bisa pulang sekarang."ucap Maira.
"Kamu ga liat ni perut Kaka," sambil memegang perut besarnya.
"Jangankan untuk Jenguk Kaka, kasih kabar aja engga kamu Mai."
"Ya.... aku tau, tapi kan sekarang aku udah pulang."jelas Maira.
"ehm,"menggeliat
aku kangen tau kak di sini, tempat ini suasananya dan semuanya tidak ada yang berubah.
"Aku kangen... banget," sambil memeluk kakanya erat lagi.
Kamu mendingan istirahat ya, Kakak mau telfon mas Aldi, biar sekalian beliin makanan buat makan malam kita.
"Kaka itu semenjak hamil ga pernah masak, suka mual kalo di paksain ke dapur, makanya selalu beli."
"Apalagi ini kan udah gedek banget, jadi serba sesak rasanya sekarang."
"Ia kak ga papa, yang penting Kaka sehat, bayi nya sehat ibu kuat ya,"ucap Maira sambil mengelus perut kakanya.
"Kapan katanya?" tambah Maira bertanya.
"Perkiraan dokter itu sekitaran dua bulan lagi." jawab Kak Nadin.
Maira terus saja mengelus perut besar kakanya dan mengasih sayangi bayi Yang ada di perut Kaka ya, seakan dia bisa melihat dan merasakannya.
Bahkan dia tidak sabar untuk berjumpa dengan bayi mungil itu.
Dia tersenyum sambil mengelus,perut kakanya.
Sepertinya dia sangat menyayangi keponakannya.
Setelah sejenak, Maira pun terdiam dan teringan kepada Lisa sahabatnya.
"Sudah-sudah pergi sana istirahat," ucap kakanya mengagetkan Maira.
Maira pun tersenyum Lalu Naik kelantai dua untuk istirahat di kamarnya.
Sesampainya dikamar Maira merebahkan tubuhnya di atas kasurnya,dan menghela nafas panjang.
Merasakan kembali apa yang pernah ia rasakan dulu.
"welcome back, Maira." Sambil melihat foto lamanya bersama Lisa.
Maira mengingat semua kenangan dirinya bersama Lisa, dan pertemuannya Dengan MaX.
Dia berfikir, bagaimana keadaannya saat ini.
karena saat dulu, keputusan yang mereka ambil untuk melanjut kan sekolah bersama-sama tidak terpenuhi.
Membuat Maira cukup merasa bersalah karena telah pergi tanpa pamit kepada Lisa.
Bahkan wajar baginya, jika nanti disaat mereka bertemu lagi, Lisa tidak memaafkannya.
Sama disaat dia kecewa dulu,Lisa juga pasti akan melakukannya.
Maira terdiam dalam pikirannya, segala macam hal ada di benaknya.
Dan dia memutuskan untuk tidak bertemu kembali Kepada MaX dan Lisa.
Masa lalunya.
Dia sangat berprinsip, Jika Benci tidak akan berubah menjadi cinta...
Jika sudah kecewa, maka selama tidak akan bisa berubah lagi.
__ADS_1
Seperti kaca yang sudah retak maka walau di betulkan tidak akan bisa utuh kembali.