My Enemy My Lovely

My Enemy My Lovely
episode 11


__ADS_3

Nyonya kenapa, nyonya menangis!" tanya Maira sambil memegang pundak wanita paru baya itu.


"Saya hanya teringat sama anak saya Maira, jika dia hidup dia akan sebesar dan secantik kamu sekarang," ungkap Nyonya Yin.


"Maaf nyonya saya membuat anda mengenang anak anda, saya sama sekali tidak tahu," jelas Maira dan juga merasa iba.


"Tidak apa Maira, saya senang ketemu sama kamu saya jadi tidak kesepian lagi, apa lain kali kita masih bisa bertemu," pinta nyonya Yin.


"Bisa nyonya, kita masih bisa bertemu," ucap Maira.


Sudah hampir larut malam mereka berada restoran tersebut, bercengkrama Sambil menikmati hidangan yang ada, bercerita satu sama yang lain membuat kedua nya menjadi lebih dekat.


Seperti ibu dan anak NYonya Yin yang kehilangan anaknya serta Maira telah lama merindukan sosok ibunya, membuat mereka semakin akrab bagaikan ibu dan anak.


Maira mengantar nyonya Yin pulang kerumahnya, berhubung hari sudah larut malam Maira pun kembali kerumah Lisa.


Maira memasuki kawasan rumah Lisa yang besar dan megah, dia memarkirkan mobilnya lalu turun dari sana.


Maira mengeluarkan kunci dari dalam tas nya lalu membuka pintu rumah yang sangat terbilang cukup besar itu.


Lisa dan Maira sepakan akan sama-sama memegang kunci rumah, supaya tidak sulit untuk masuk saat pulang kemalaman seperti ini.


Dilihatnya Lampu rumah yang sudah padam, Maira mengunci pintu kembali dan jalan perlahan menuju kamarnya.


Saat dia hendak menaiki anak tangga, dia dikejutkan dengan lampu menyala, ternyata Lisa yang menyalakannya kerena melihat temannya pulang larut malam ini.


"Malam banget pulangnya!" tanya Lisa, yang memegang segelas air.


"Lisa... Lo ngagetin tau ga," ucap Maira yang hampir jantungan oleh temannya itu.


Maira pun melanjutkan menaiki anak tangga sambil berceloteh jika MaX yang membuatnya pulang larut begini.


Lisa mengikutinya dari belakang sambil menenggak air yang di pegang nya sejak tadi.


"Emang kalian kemana kok pulang semalam ini," tanya Lisa sambil menaiki tempat tidur dan berbaring.


Mending Lo tanya aja sama saudara Lo sendiri," jawab Maira dengan nada kesal sambil menanggalkan beberapa aksesoris yang di kenakan nya.


"Gue si ga heran kalo kalian tu berantem, tapi mungkin heran kalo kalian saling kangen." ucap Lisa sambil memejamkan kedua matanya.


Maira yang tak menggubris ucapan Lisa, memasuki kamar mandi, dia sudah biasa mendengar kalimat seperti itu dari mulut sahabatnya.


Terdengar bunyi air dilantai, maira sedang menghidupkan shower buat mandi dan berendam di bathtub, dia melemaskan badannya disana sambil memasang lagu favoritnya.


Lisa yang sejak tadi sudah tertidur, dilihat oleh Maira seperti mengigau saat Maira keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


Maira tahu Lisa orang yang sangat rapuh, dia sering mengigau seperti itu, dia hanya melihatkan sisi luarnya saja dia selalu menyembunyikan kesedihannya.


Bahkan saat ayahnya meninggal Maira tidak ada di sampingnya, perasaan bersalah selalu menghantui Maira yang memusuhi sahabatnya sendiri beberapa tahun lalu.


Maka dari itu Maira menerima untuk tinggal bersama serta bekerja di kantor MaX, walau sesungguhnya dia keberatan karena dia tidak mau merepotkan temannya.


Tetapi dia juga tidak ingin meninggalkan temannya sendiri, dan sebisanya menuruti kemauan Lisa.


Maira tidur di sebelah kanan Maira lalu mengambil ponsel di atas meja, terlihat beberapa pesan disana.


MaX: "Maira pokoknya jika besok kamu tidak berhasil membujuk Nyonya Yin, itu akan menjadi poin kegagalan kamu yang pertama."


MaX: "saya tunggu kamu di ruangan saya jam delapan pagi besok."


MaX: "jangan sampai terlambat."


Si***** atau apa si nih orang, nulis pesan sampai sepanjang ini panggilan tak terjawab sebanyak ini, Fik stress nih orang!" gumam Maira yang melihat pesan masuk dari Max.


Maira pun meletakan ponselnya keatas meja dan mematikan lampu lalu menarik selimut dan kembali buat tidur.


Tepat jam delapan pagi MaX memasuki ruangannya, berharap Maira terlambat dan tidak mendapatkan hasil apapun.


Betapa terkejutnya MaX ketika dia memutar kursi besarnya itu sudah di duduki oleh Maira disana, Maira tersenyum sambil menunjukan jam yang berada disana sudah pukul delapan lewat lima menit, berarti MaX terlambat memasuki kantor.


Gue bisa jelasin kok," ucap MaX.


Sangat beda kejadian jika gue yang telat, pasti Lo udah ngamuk kesetanan." gumam Maira pada MaX yang selalu membuatnya jengkel.


Mana hasilnya?" tanya Max, sambil duduk di kursi besarnya.


"Silahkan lihat sendiri," jawab Maira sambil menunjuk kearah berkas yang ada di atas meja.


Di sana sudah tertulis tanda tangan dari Nyonya Yin, sebagai tanda bahwa perjanjian kontrak di setujui oleh nyonya Yin.


MaX terkejut melihat hasil berkas itu, bagaimana mungkin dalam semalam wanita ini mendapatkan tanda tangan nyonya Yin, terlebih terbilang sangat sulit untuk membujuk wanita seperti nyonya Yin.


"Tidak perlu mengherankan kemampuan gue, gue udah, gue ini berpotensi, jadi sebaiknya Lo cabut kalimat Lo yang semalam, yang mengatakan kalau gue akan mendapatkan kegagalan hari ini," pinta Maira jelas.


"Gue akuin Lo memang berpotensi, dalam bekerja dan dalam membodohi nyonya Yin," ujar MaX.


"Maksud Lo apa,"ucap Maira.


Gue ga pernah membodohi siapa pun, Lo bisa tanya sama orang nya langsung, gue bekerja sesuai kemampuan gue, apa yang gue tawarkan itu sesuai dari presentasi Lo semalam jadi gue cuman melanjutkan apa isi dari persentase itu sendiri," jelas Maira yang semakin bertambah kesal kepada Max.


Kali ini Max harus mengakui bahwa Maira mampu membuktikan dirinya, Tetapi bukan Max namanya jika dia mau menerima sebuah kekalahan terlebih kekalahan itu dia dapat dari Maira.

__ADS_1


keesokan paginya...


Gue denger Lo mendapatkan kontrak dengan nyonya Yin Mai," ucap Lisa yang sedang membuat teh.


Pasti Lo tau dari si MaX kan Lis," ucap Maira.


"Wajar gue tau Mai, gue kan rekan bisnis dari perusahaan MaX juga." ucap Lisa.


Lisa menghabiskan teh nya, dia mengatakan jika hari ini mereka ada Meeting penting lagi, jadi Lisa meminta Maira agar datang lebih cepat dan langsung menemui nya di ruang meeting nanti.


Maira melihat foto keluarga di atas meja, dia kembali keatas untuk mengambil tas dan ponsel, dan dia mendengar semua perkataan Lisa dari bawah.


"Aku kangen kakak," ucap Maira.


Maira selalu merindukan keluarganya dan dia melihat terus foto itu, Wanita ini menyandang tas lalu menggenggam ponsel di tangannya .


Ponselnya berdering sontak dia meletakkan foto itu kembali keatas meja, maira melihat pesan masuk dari MaX.


Maira berjalan keluar dan menuruni anak tangga sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas dan mencari kunci mobilnya.


Maira melaju dengan kecepatan tinggi, dia sangat laju membawa mobilnya, dijalan ponselnya terus berdering MaX memanggil beberapa kali disana.


Wanita itu terus berjalan tanpa memperdulikan panggilan MaX di ponselnya.


Terjadi kemacetan ketika Maira berjalan kearah barat menuju kantornya, Wanita itu bertanya sama salah satu pengemudi apa yang sebenarnya terjadi di depan.


Pak ada apa, kenapa kok bisa macet?" tanya Maira kepada pengendara motor.


"Ada tabrakan Mba kayaknya," jawab pengendara.


"Udah ga bisa maju dan juga mundur, putar balik pun juga susah," gumam Maira, sambil melihat kanan dan kiri.


Maira mengambil ponselnya mencoba menelpon Lisa, tetapi tidak ada jawaban sama sekali dari sana.


Maira mencoba beberapa kali tetap saja tidak ada jawaban, Maira pun bergumam "tidak mungkin kan dia udah sampai dan meeting sudah di mulai."


Maira semakin cemas takut terjadi sesuatu pada temannya, Ponsel Maira pun berdering terdapat nama Lisa diatas panggilan nya.


"Halo Lisa, gue kejebak ma_," ucap Maira yang belum selesai , dia malah mendengar bahwa bukan Lisa yang mengangkat telfon nya.


"Halo ini siapa mana Lisa?" tanya Maira lagi.


"Halo jadi nama perempuan ini Lisa mba," ucap seseorang disana.


Terjadi kecelakaan disini mba, sepertinya korban terluka cukup parah," ucap seseorang di tempat kejadian.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2