My Enemy My Lovely

My Enemy My Lovely
episode 37


__ADS_3

Hari ini Maira tengah bermain dengan bayi kembarnya ditaman, pagi yang cerah memang sangat cocok untuk melakukan piknik di taman belakang rumah.


Maira sangat bahagia melihat perkembangan bayi kembarnya yang sangat cepat bisa memanggil dirinya mama.


Sesaat air mata Maira menetes ketika dia selalu sendiri saat bayi nya lahir hingga saat ini, Max yang selalu sibuk dengan pekerjaannya membuatnya merasa sepi dirumah.


"Kiran dan Karin sayang mama," ucap Maira bermain bersama anaknya.


Maira melihat Max memasuki dapur, Maira lantas berdiri dan bertemu dengan suaminya.


"Mas kamu masih dirumah, gak kekantor!" tanya Maira.


"Nanti siang aku kekantor," Sahut Max.


"Kalau gitu gimana kamu main sama Kiran dan Karin dulu mas," pinta Maira.


"Aku mau istirahat Maira," ucapnya ketus.


"Iya mas aku tahu kamu capek, tapi seharusnya kamu bisa bagi waktu dong," jelas Maira.


"Jadi kamu mau aku gimana," ucap MaX.


"Ya kamu bagi waktu buat bayi kembar kita, mereka bukan anak aku sendiri, mereka juga anak kamu, anak kita!" jelas Maira.


Mereka memang kita Maira, tapi kamu dong yang harusnya mengerti, aku kerja kamu jaga anak, adil kan," jelas MaX.


Maira semakin tidak mengerti dengan ucapan dari suaminya, semakin hari suaminya semakin jauh dari nya.


Maira yang merasa jika MaX selalu bikin alasan saat disuruh bermain bersama anaknya, Maira merasa Ada yang ditutupi oleh Max.


"Kamu kenapa berubah sih mas," gumam Maira.


Max pun pergi dari sana sambil membawa secangkir teh di tangannya.


Maira pun kembali ke anak kembarnya, Maira yang harus lebih extra memberikan kasih sayang buat anaknya sekarang.


"Mama akan selalu ada buat kalian," ucap Maira kepada kedua anaknya.


...****************...


"Ya mas, udah dirumah sakit! oke kau kesana ya," ucap Maira sambil di telfon.


"Mbok aku titip si kembar ya, Kak Nadin udah dirumah sakit, mau ngelahirin kayaknya," ucap Maira.

__ADS_1


"Baik buk," jawabnya.


Maira berangkat kerumah sakit, sesampainya disana Maira langsung menemui kakaknya di di ruang bersalin. Sebelum sampai sana, Maira tidak sengaja tabrakan dengan seorang pria yang baru aja mau keluar dari rumah sakit itu.


Maira seperti mengingat wayah pria itu, tapi dia lupa dimana dia melihat pria itu. Maira pun tak menghiraukannya dia hanya fokus kakaknya yang sedang ingin melahirkan.


"Gimana mas," ucap Maira saat sampai di ruang tunggu bersama kakak iparnya.


"Udah di dalam Mai, paling bentar lagi keluar," sahutnya.


"Sabar ya Mas, semua akan baik-baik saja," ucap Maira menyemangati kakak iparnya.


"Iya Mai, semoga semuanya lancar ya," ucap Aldi.


"Bayu mana!" tanya Maira.


"Aman, Bayu aman kok Mai," sahut Aldi.


"Syukurlah kalau gitu," jelas Maira.


Dan Setelah cukup lama Akhirnya dokter keluar dari ruang bersalin, dengan perasaan yang campur aduk dan banyak pertanyaan di benak Maira dan kakak iparnya.


"Kenapa dok, apa proses bersalin nya sudah selesai, kenapa suara bayi saya tidak terdengar!" tanya Aldi yang sangat khawatir saat ini.


"Apa Maira, dia udah begitu lama didalam dan dia keluar tapi suara bayinya juga gak ada?" tanya Aldi sekali lagi.


"Maaf dok apa ada masalah?" tanya Maira dengan tenang.


"Begini Buk, Nyonya Nadin mengalami pendarahan, kami tidak bisa mengeluarkan bayi secara normal, kami ingin bapak menandatangani surat persetujuan untuk operasi Caesar," jelas Dokter.


"Caesar, tapi itu pasti akan memakan banyak biaya," gumam Aldi.


Maira yang sangat mengerti dengan kondisi kakaknya, merasa bingung, bukan bingung karena uangnya, Taki bingung gimana bilang nya supaya Kakak iparnya tidak tersinggung ketika Maira menawarkan Bantuan.


"Mas, kita harus selamatkan nyawa kak Nadin dan bayinya. Sudah tidak ada waktu lagi, aku mohon beri aku kesempatan untuk membantu kalian, beri aku satu kesempatan untuk membalas kak Nadin," pinta Maira.


Dengan melihat kesungguhan dari Maira, akhirnya Aldi menerima segala bantuan dari Maira adik Ipar nya.


"Makasih Maira, tapi aku pasti akan ganti semuanya," ucap Aldi.


"Iya kak," jawab Maira.


Dan akhirnya dokter kembali masuk dan segera melakukan tindakan kepada Nadin, untuk melakukan operasi Caesar, agar Nadin dan bayinya bisa selamat.

__ADS_1


Dan setelah cukup lama akhirnya terdengar suara bayi dari dalam ruangan itu, Aldi dan Maira sangat senang karena bayinya menangis.


Dan sekarang mereka tinggal menunggu Nadin di bawa keruang inap, "masih harus menunggu Nadin," ujar Aldi.


Maira dan Aldi menunggu di luar, dan tidak begitu lama akhirnya mereka membawa Nadin keluar beserta bayinya.


Nadin diantar keruang inap, serta bayinya di masukkan kedalam inkubator.


Maira melihat Kakaknya yang terbaring lemas di kasur, sedangkan Aldi melihat putri nya yang baru lahir, betapa cemburu hati Maira saat Aldi memberikan kasih sayang nya kepada putri mereka.


Maira pun mencoba mendekati bayi dari kakaknya, bayi yang cantik dan mungil Maira begitu bahagia Nadin telah berhasil menjadi ibu untuk kedua kalinya.


"Kamu sangat beruntung sayang, ayah dan ibu kamu sangat menyayangi kamu," ucap Maira sambil menyentuh inkubator bayi tersebut.


Sudah cukup lama maira berada disana, dia permisi pamit sebentar kepada Kakak iparnya.


Nadin yang masih belum bangun, ditinggal sebentar oleh Maira, Maira hanya ingin pulang mengecek anak kembarnya. Setelah dirasa aman Maira akan kembali kerumah sakit dan menggantikan Aldi berjaga sebentar .


...****************...


Setelah berada dirumah, Maira tidak melihat Max dirumah. Lantas Maira langsung menemui bayinya di kamarnya, Maira melihat anaknya yang tengah tidur lalu mencium putri kembarnya dan Maira kembali keluar mencari asisten rumah tangganya.


"mbok, aku mau kerumah sakit lagi. Tolong lihatin si kembar ya, dan nanti kalau dia bangun tolong buatkan susu ya," ucap Maira yang langsung keluar rumah menuju rumah sakit.


Sesampainya dirumah sakit, Maira lantas menemui kakaknya dan meminta Kakak iparnya untuk pulang sekedar mandi dan mengganti baju.


Maira menangis di hadapan kakaknya yang tengah pingsan usai melahirkan, Dia mencurahkan semua isi hatinya kepada Nadin yang sedang tidak sadarkan diri.


Tanpa sadar saat Maira bercerita Nadin pun sadar dari tidurnya, Maira yang tengah bercerita menjadi bingung. Dia takut kakaknya mendengar semua curahan hatinya tadi.


Nadin yang masih setengah sadar menanyakan gimana kabar anaknya, Maira Sontak terdiam karena pertanyaan pertama Nadin.


Maira yang sedang menangis akhirnya memeluk kakaknya yang masih setengah sadar, dan tak lama setelah itu Aldi pun datang.


"Sebaiknya kamu pulang Maira, lagi pula Nadin sudah siuman kan," ucap Aldi.


"Iya mas, aku juga gak enak ninggalin Si kembar kepada si mbok," sahut Maira.


Maira pun berpamitan kepada Kakaknya dan kakak iparnya tak lupa pula dia melihat keponakannya di inkubator yang sedang tidur nyenyak.


"Kamu yang sehat ya sayang, aunty sayang kamu," ucap Maira lirih.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2