My Enemy My Lovely

My Enemy My Lovely
episode 33


__ADS_3

Dibalik kamar 'Honeymoon Room' , terdapat dua pasang kaki yang saling melingkar, kehidupan pengantin baru yang tidak pernah jauh dari kata malam pertama sangat melekat pada malam itu.


Maira yang sudah mulai bangun, mencoba membangunkan Max yang sudah menjadi suaminya.


Dengan lembut dia mengusap wajah Max yang masih terlelap, dan Maira juga mencoba untuk memberi kecupan mesra pada Max.


"Sayang... ayo bangun," ucap Maira lembut.


Max mengerang sambil menggerayangi Maira yang masih terbaring di sampingnya.


"Max, bangun Dong sayang...," ucap Maira lembut lagi.


Max yang mencoba membuka matanya seketika terkejut dan terbelalak melihat Maira sungguh cantik pagi ini.


Dengan gaun tidur yang di kenakan nya, serta wajah bantalnya Maira sangat terlihat seksi pagi ini.


Max sontak mengecup bibir Maira, karena dia sungguh tidak tahan melihat Kecantikan dan Kemolekan tubuh Maira.


Dari semalam hingga pagi ini mata Max masih saja di manjakan karena melihat Maira dengan versi yang lebih cantik.


"Bangun Sayang," ucap Maira lagi.


"Aku udah bangun sayang," jelas MaX.


"Tapi kenapa mata kamu masih di tutup!" tanya Maira.


"Karena aku gak sanggup,_" ucap MaX yang menghentikan ucapannya.


"Gak sanggup kenapa, kamu gak boleh malas gitu dong sayang, jangan karena kita baru menikah terus kita malas-malasan, itu tidak baik." Jelas Maira.


"Aku bukan malas, aku gak sanggup lihat wajah kamu yang terlalu cantik, bikin aku jadi gak tahan." ujar MaX sambil tersenyum dan menggelitik Maira.


Hal itu sontak membuat Maira menjadi malu dibuatnya.


Setelah cukup lama bersenang-senang, Max dan Maira memutuskan untuk mandi, Max menarik pelan tangan Maira menuju kamar mandi dan mereka pun akhirnya mandi bersama-sama untuk pertama kalinya.


Cukup lama mereka berada didalam sana, hingga terdengar suara ******* dan percikan air dari dalam sana.


Setelah beberapa saat dua sejoli ini akhirnya menyelesaikan ritual yang pertama kali dilakukannya, mereka pun keluar hendak menuju ruang makan.


Saat mereka hendak keluar dari kamarnya, mereka di kejutkan dengan surprise kedua yang diberikan oleh Lisa bersama keluarga lainnya.


"Bulan madu?" tanya Maira yang kaget.


"Iya, semua sudah disiapkan kok, kalian tinggal berangkat aja," ucap Lisa.

__ADS_1


"tapi gue perlu beberes dulu kali Lis," ucap Maira.


"Enggak perlu Maira, semua sudah siap, semua barang-barang kalian sudah berada di bandara dan ini paspor bersama tiketnya," jelas Nadin yang langsung memberikannya kepada Maira dan Max.


"Tapi kak_," ucap Maira yang langsung di potong oleh Lisa.


"Enggak pake tapi-tapi, kalian harus segera berangkat dan pulang bawain gue keponakan cantik dan ganteng itu wajib," jelas Lisa.


Maira yang mendengar semuanya sontak Menjadi kaget karena dia merasa semua itu terlalu cepat dan berlebihan.


Tidak ada dalam pikiran untuk pergi Honeymoon secepat dan sejauh ini.


Maira takut pergi jauh, dia sangat takut untuk kehilangan kakaknya jika dia pergi sejauh itu.


Maira pun pergi dari sana tanpa mengucapkan sepatah kata lagi kepada semua kerabatnya, dia tidak ingin membahas semua itu sekarang.


Max yang melihat itu sontak ingin menyusul Maira, tetapi dia di tahan oleh Nadin kakaknya Maira.


"Sudah MaX, biar kakak aja ya," pinta Nadin.


Max pun mundur seketika Nadin memintanya untuk berhenti mengejar Maira, Max merasa jika Maira membutuhkan Nadin dari pada dirinya saat ini.


Nadin menyusul adiknya yang berada di taman belakang, Maira tengah duduk di atas ayunan dekat kolam renang.


"Kakak tau kegundahan kamu, kakak ngerti kok," ucap Nadin.


"Aku gak mau pergi,.aku gak mau semua itu terulang lagi," ucap Maira yang tengah menahan air matanya.


"Kenapa, kamu gak boleh begini dong, setiap orang ketika sudah menikah pasti ingin pergi bulan madu bukan?" tanya Nadin.


Tapi gak sejauh itu kak, lagi pula naik pesawat, masih bisa naik yang lain kan," jelas Maira yang sedikit kesal.


"Lisa, kakak serta mas Aldi sudah menyiapkan segalanya untuk kamu dan Max, sebagai pengantin baru Max ingin bersama kamu dua puluh empat jam tanpa di ganggu oleh siapapun." tambahnya .


"Dan tempat itu pas untuk kalian, mas Aldi sudah observasi semuanya dan disana tempat yang cukup nyaman dan aman buat kamu sayang." Tambahnya lagi dan lagi.


"Tapi kakak gimana, aku gak mau jauh dari kakak," ucapnya sambil memeluk kakaknya.


"Sekarang ini bukan hanya tentang kamu dan perasaan kakak aja, tapi ada perasaan Max yang harus kamu jaga disini," jelas Nadin sekali lagi.


Maira menarik nafasnya panjang dia memeluk kakaknya erat, Sekali lagi dia memikirkan semua yang dibilang oleh kakaknya.


"Sekali lagi kak Nadin benar," gumam Maira dalam hatinya.


"Ya sudah aku coba diskusi dulu sama Max, nanti aku kasih jawabannya," jelas Maira.

__ADS_1


"Jangan Max Maira, kamu harus panggil yang lain, gak boleh langsung panggil nama gitu," ujar kakaknya.


'Ha," ucap Maira yang baru tau setelah menikah itu banyak hal yang harus berubah dalam hidup kita.


Maira pun masuk menemui Max, Max yang telah berada didalam kamar Duduk disudut kasur merenungi semua ini.


"Kenapa bisa tidak kepikiran buat bulan madu ya," gumam Max.


Max, aku mau ngomong sesuatu," ucap Maira, yang telah berada di dalam kamar.


Maira, kamu mau ngomong apa?" tanya Max, yang lamunannya telah di bubarkan oleh Maira.


Soal bulan madu, gimana menurut kamu!" tanya Maira.


"Ya terserah aja Maira, aku ikut aja," jawab MaX.


Gak bisa gitu, mas! kita kan udah menikah, jadi apapun itu harus dibicarakan berdua secara empat mata," jelas Maira.


"Mas, kamu panggil aku mas?" tanya Max.


"Iya, aku sudah jadi istri sekarang, jadi aku harus hormati suami aku dengan tidak menyebut namanya langsung," ucap Maira.


"Wahh... dewasanya istri aku," sahut Max sambil mencubit pipi Maira.


"Iya aku tau nya dari kak Nadin," gumamnya.


"Ya sudah karena semua sudah disiapkan, dan gak enak juga kalau kita tolak kan, mending kita pergi aja gimana!" tanya Max.


"Gitu ya, tapi aku_," ucap Maira yang menahan dirinya mengucapkan jika dia takut akan pesawat.


"Tapi apa sayang," sahut Max.


"Enggak ada kok, ya sudah biar aku bilang sama yang lain kita jadi berangkat ya," ucap Maira.


Maira keluar dan mengatakan jika dia Max akan menerima hadiah yang diberikan oleh semua kerabatnya.


Semua orang sontak bersorak kegirangan mendengar ucapan dari Maira, mereka lantas mengantarkan Max dan Maira ke bandara.


Semua keperluan mereka selama bulan madu sudah disiapkan dan semua koper dan hal lainnya telah berada di bandara.


Tidak lama Max dan Maira sampai di bandara, betapa gugup nya Maira saat menginjakkan kakinya pertama kali disana.


Maira yang punya masa lalu kelam dengan Bandara membuatnya enggan untuk masuk kesana, hal itu justru membuat MaX semakin bingung dengan tingkah Maira.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2