
*Jenny
Hari ini seperti biasa, aku bermalas malasan bangun dan bergegas ke kamar mandi. Rabu adalah hari yang paling memuakkan bagiku karena jadwal pelajaran tambahan dari mak lampir itu sangat membosankan.
Jenny : bik, siapin sarapan ya..
Bi asih : baik non,
Aku bergegas turun menuju meja makan, dan melahap sarapan pagiku. Sudah hal biasa jika aku harus sarapan sendiri, aku selalu mengajak bik Asih ikut makan sertaku walau ia sering menolak ajakan ku.
Jenny : bik, papa udah pulang belom?
Bik asih : belum non, tapi semalam nyonya menelfon kerumah menanyakan kabar.
Jenny : kalo mama nelfon lagi bilangi jenny, uda mati bik (meneguk air)
Kuraih kunci mobil ku, memacu secepat mungkin menuju sekolahku. Aku berlari kecil menuju ruang kelasku, dan duduk sebelum mak lampir itu datang.
Tesa : gilak, kusem banget muka lu jen ? (meledek)
Jenny : diem lu, gua capek.
Tak lama kemudian, si mak lampir datang membawa buku dan lembaran kertas ujian di tangan nya. Sekedar sapa, bu Saras melanjut kegiatan nya mengotak atik kertas ujian.
Walaupun aku tak cukup pintar, tapi aku masih bisa mengimbangi teman yang lain dengan standar nilai yang setara. Jam berlalu begitu cepat, bel istirahat berbunyi. Semua orang berhamburan keluar tak terkecuali aku, aku ingat hari ini ada janji dengan teman di kelas sebelah. Tak sengaja aku menabrak seorang pria yang tak ku kenal.
Jenny : maaf...
Aku berlalu begitu saja tanpa membantu nya merapikan buku nya yang berserak karena ku, egois bukan?
Itulah aku !
Sesampai diruangan teman ku, aku melihat kerumunan gadis gadis cantik sedang bergosip. Sudah pasti Ayu juga ikut serta. Aku menarik tangan Ayu cepat dan menanyakan apa yang terjadi.
Jenny : ada apa sih rame rame gitu yu, gak biasanya, (tanyaku heran)
Ayu : ih.. lu tau gak jen, ada pria ganteng disekolah kita (senyum sendiri) tinggi, kekar, cute dan satu lagi baik banget jen... uh... (histeris)
Jenny : ya ellah, gua kirain apaan. gua tadi nabrak dia tuh didepan (menunjuk kearah pintu)
Ayu berlari keluar pintu dan melihat sekeliling dan tak menemukan apapun, aku tak tau mengapa mereka sangat mengaguminya. Belum sempat berbincang, bel sudah terdengar dan mengharuskan kembali keruangan.
Aku kembali keruangan dan mendapati pria yang tadi tertabrak oleh ku sedang duduk di depan.
Shitt.. ternyata seorang guru.
Aku memandang nya datar tanpa rasa bersalah dan duduk ditempat biasa. Dia memperkenalkan diri nya dan melanjutnya dengan pelajaran Biologi, tentu saja itu mungkin bidang studinya.
Semua memperhatikan dengan seksama kecuali aku. Aku merasa mengantuk dengan celoteh nya yang tak berkesudahan.
Entah sudah berapa lama aku tertidur dan aku menemukan ruangan kelas ku kosong, seperti nya aku ditinggal yang lain. Aku bergegas dan ternyata hari sudah gelap, alangkah bodoh nya aku bisa tertidur diruangan.
Aku pulang kerumah dan terkulai lemas di sofa.
Mama : apa kabar sayang ? (mengecup keningku)
Jenny : fine (beranjak pergi)
Aku meninggalkan mama sendiri, dan tak lama berselang papa datang. Pertengkaran hebat terjadi, ini sudah biasa dan aku tak peduki. Aku hanya memakai headset dan menutup mataku agar tak menyaksikan semua itu.
Sudah hal biasa mereka ribut dan bertengkar dengan papa, itulah alasanku memilih ikut dengan pap.Aku merasa mereka berdua sangat egois dan tak memikirkan aku. Mereka menyanggupi kebutuhan materiku tapi melupakan tanggung jawab mereka sebagai orangtua. Malam berlalu begitu saja.
Disekolah aku mulai menggertak teman ku satu per satu karena tidak membangunkan ku semalam.
Tesa : lo tidur pules banget, makanya pak Mike gak ngasi ijin kita banguni lo (nada kesal)
Jenny : Mike??
Mike : iya saya, kenapa?
Jenny : semalam bapak, larang teman saya bangunin saya ya pak?
Mike : iya. (berlalu)
Apa yang ada di pikiran pria bodoh itu? Dia merasa dia pantas berlaku selerti itu padaku(gerutuku)
Kesal ku ketika melihat senyuman palsu pak Mike itu semakin menjadi jadi saat ia melihatku dihukum pak Broto dilapangan.
Mike : minum dulu ( menyodorkan minuman)
Jenny : tidak, terimakasih
Pak Mike pergi begitu saja membawa minumannya dan membuang nya ketempat sampah, sangat sombong. Itulah gambaran yang bisa kudapat dari pak Mike.
__ADS_1
*Mike
Aku baru pindah mengajar disekolah baru, tapi hari ku dirusak oleh gadis kecil yang tak bertanggung jawab. Pagi ini dia menabrak ku dan berlari begitu saja, saat memasuki kelas nya pun aku harus melihat nya lagi. Ia berjalan datar tanpa merasa bersalah, aku membiarkan nua begitu saja.
Beberapa teman nya berusaha membangunkan nya tapi ku larang, mungkin dia ada masalah tuturku.
Belakangan ku ketahui namanya Jenny. Jenny Michella.
Keesokan hari nya aku melihat nya menggertak teman nya karena tak membangun kan nya semalam.Aku mengaku melarang mereka.
Benar benar gadis keras kepala.
Saat jam pelajaran tak sengaja aku melihat nya dihukun dilapangan, meski sangat membenci nya tapi aku kasihan. Aku membawa minuman dan menawari nya, tetapi ia menolak. Aku berlalu dan melempar botol minuman nya ke tempat sampah.
*Jenny
Hari ini sangat berat dan sial, tak ada yang berjalan lancar sesuai rencana.
Plakk..
Suara itu lagi, aku bergegas menuju kamar papa mama dan melihat mama ditampar oleh papa. Disisi lain seorang pria terlihat gugup melihat kemarahan papa, sudah bisa ditebak masalah nya datang dari mama.
Aku berlari menuju kamarku, seraya menangis dan menutup mulutku sekuat mungkin. Mengapa harus aku? Semua orang bahagia dengan hidupnya kecuali aku.
Mereka selalu membuat ku menderita, seolah tak memiliki keluarga. Ke egoisan menutup mata papa dan mama. Bagi mereka, uang adalah segala nya dan tak memikirkan hal lain.
Kuratapi nasib ku yang sangat menyedihkan, aku duduk memeluk kedua kaki ku dibalik pintu kamarku. Aku mengingat semua kisah menyakitkan sejak dulu yang membuat ku sangat terpukul. Ku banting kepala ku ke pintu kamar agak aku tak memikirkan permasalahan mereka. Suara tangisan ku semakin histeris saat mendengar mama memilih pergi dengan pria lain malam itu juga.
Mengurung diri adalah hal terbaik untuk menenangkan diri saat ini. Kuraih handphone dan mengetik pesan agar Tesa membantuku ijin dalam dua hari ini.
Dua hari berlalu dengan cepat, saat kembali kesekolah aku semakin menjadi sosok pendiam. Beberapa kali pak Mike membentak ku karena aku melamun, kami selaku berselisih paham dan aku harus mengalah karena ia Guru ku.
Taman belakang sekolah menjadi tempat khusus untukku berdiam diri dan menjauh dari teman yang lain. Seseorang menghampiriku.
Jenny : bapak...
Mike : iya saya, ada apa jen?
belakangan ini kamu terlihat muram tak seperti biasa nya.
Hening...
Mike : tentu, aneh saja rasa nya jika kamu tak melawan saya jenny..(senyum)
Jenny : hiks...hiks...
Air mataku jatuh tanpa ku sadari, sesegera mungkin aku mengusap dengan punggung telapak tangan ku.
Jenny : maaf pak, sebaik nya tinggalkan aku sendiri dulu (menangis)
Mike : saya akan tetap disini menemani kamu jenny ( mengusap air mata jenny)
*Mike
Hatiku berdesir saat melihat gadis konyol itu menangis, aku mengusap air mata nya dengan lembut berharap ia tenang. Aku tak pernah selemah ini menghadapi seorang wanita, andai ini bukan area sekolah aku ingin memeluk nya.
Aku tau dibalik semua sifat keras nya sosok Jenny, dia menyimpan banyak beban hidup yang amat berat.
Tiba tiba hati ku menjadi sangat ingin menemani nya setiap saat, baik itu suka maupun duka nya.
Mike : kembalilah ke ruangan (menepuk bahu)
Jenny : baik pak.
*Jenny
Mata ku masih sembab saat aku meninggalkan pak Mike di taman belakang, ia sangat perhatian hari ini.
Sepulang sekolah, aku langkahkan kaki ku menuju parkiran. Saat sedang mencari kunci, pak Mike datang lagi dan menawarkan diri mengantar ku karena takut terjadi sesuatu diperjalanan dengan kondisiku saat ini.
Mike : kita cari makan dulu ya jen..
Jenny : iya pak (datar)
Mike : Mike aja, cukup disekolah aja panggil bapak (menoleh sekilas)
Jenny : berapa usia bapak?
Mike : dua enam
Jenny : (mengangguk)
Kami makan dan berbincang seadanya, aku sangat lelah dan ingin segera pulang. Pak Mike mengantar ku sampai kerumah, aku mangajak nya mampir.
__ADS_1
Ia melihat sekeliling rumah.
Jenny :bik.. bikinin minum 2 ya ...
Bik asih : baik non
Aku meninggalkan pak Mike sebentar dibawah seraya aku mengganti seragam sekolah ku. Selepas itu aku turun kebawah,dengan kaus oblong putih dipadu hotpan biru. Pak Mike terpelongo dengan penampilan ku.
Jenny : diminum pak..
Mike : Mike aja !
Jenny : ups.. lupa..
Mike :(meneguk jus )
Entah apa yang sedang pak Mike cari dirumahku, sampai tak terasa jus nya habis dan kami belum berbicara sepatah kata pun.
Mike : orangtua kamu dimana Jen?
Jenny : entah ( menaikkan bahu )
Mike : apa yang terjadi? cerita lah saya siap mendengar (formal)
Jenny : apa yang harus ku ceritakan Mike?
kehidupan ku yang hancur?
atau masa lalu ku yang pilu?
Mike : semua nya. ceritakan semua yang bisa membuat hati mu lega.
Jenny : ehmmm...(menarik nafas berat)
aku anak tunggal, mama papa selalu sibuk. Sejak kecil aku tak pernah di rawat. Bagi mereka uang adalah segalanya, aku bahkan tak pernah duduk bersama di sana (menunjuk meja makan) walau hanya lima detik. hiks... hiks... (menangis) Apa salah ku ? aku hanya ingin menikmati masa muda ku..hikss.. (terisak)
Mike : bagaimana pun pasti mereka sayang sama kamu, mereka bekerja hanya untuk memenuhi kebutuhanku (mengusap pipi)
Jenny : tidak pak, beberapa hari lalu mama bahkan ketahuan selingkuh.. hiks...hiks...hikss..(menjerit) mereka hanya mementingkan ego mereka sendiri. Aku lelah.. aku gak kuat pak..
*Mike
Hari ini aku mengantar nya pulang ke rumah nya karena kwatir terjadi sesuatu hal yang tak di inginkan. selepas singgah makan siang kami meluncur menuju rumah nya. Tak ku temukan seorang pun disana untuk diajak berbicara, hanya bik Asih yang mengantar minuman.
Aku memulai perbincangan untuk mengorek informasi alasan mengapa Jenny begitu dingin dan keras kepala. Aku membujuk nya untuk menceritakan permasalahan yang ia hadapi.
Ia menceritakan kisah nya dan mulai menitik kan air mata, perlahan namun pasti tetesan air bening itu semakin deras mengalir mengikuti lekukan pipi Jenny. Awal nya aku hanya menenangkan nya dengan mengusap rambut nya. Dia sangat terpukul dengan keadaan nya, aku tau dia tegar dalam menghadapi kenyataan hidup yang tak di miliki orang lain. Hanya saja orangtua nya sangat keterlaluan, menelantar kan jenny di usia sangat muda.
Jenny semakin histeris dengan tangisan nya, aku tak kuat dan terpaksa harus memeluk nya agar bisa menenangkan nya. Ia menurut saja, aku tetap menenangkan nya. Mengusap rambut nya, sampai ia berhenti menangis.
Deg..
deg...
Apa ini? jantungku berdebar tak karuan. Apa aku terkena serangan jantung? Memeluk nya membuat ku gusar dan tak bisa berpikir jernih.
*Jenny
Aku bingung, aku tak apa yang terjadi. Pak Mike orang pertama yang bisa kupercaya, aku menceritakan kisah ku tanpa merahasiakan apa pun. Walau terdengar memalukan, tapi aku ingin melampiaskan semua beban ku yang selama ini aku pendam seorang diri.
Pak mike, menenangkan ku. Mengusap rambut ku perlahan, aku tak pernah merasakan diperhatikan seperti ini bahkan oleh orang tua ku sekali pun.
Aku melanjutkan cerita, dadaku rasa nya sesak dan tak bisa melanjutkan kata kata ku karena isakan tangis ku. Dengan cepat pak Mike memelukku memberi semangat dan motivasi hidup untuk menguatkan ku.
Deg...deg...
Perasaan aneh apa ini? mengapa aku merasa sangat nyaman berada di pelukan pak Mike.
Mungkin karena dia bisa menenangkan ku disaat aku tak kuat menghadapi hidup.
Keesokan hari nya disekolah, aku hanya bisa duduk mengerjakan tugas sekokah tanpa menghiraukan teman yang lain. Permainan ku kini terbatas oleh kesendirian ku, taman belakang menjadi sasaran utama saat aku harus menenangkan diri disekolah. Pak Mike selalu menghampiri ku di ruang kelas atau ditaman walau hanya bertegur sapa lalu pergi, itulah yang terjadi sampai beberapa bulan berikut nya dan aku hampir mengakhiri masa belajar aku disekolah. Aku tak menyusun rencana untuk keluar bersama teman atau siapapun yang mengajak ku untuk liburan perpisahan.
Sekolah mengadakan perpisahan untuk tingkat akhir, aku tak berencana datang namun selalu dipaksa oleh Tesa. Teman ku si usil itu.
Aku mengenakan mini dress hitam dengan sepatu senada seolah menggambarkan hatiku yang berduka.
Sepasang mata sedang memperhatikan gerak gerik ku sedari tadi, aku tak peduli tan tetap pada pandangan kosong ku menatap para dancer yang sedang menunjukkan aksi nya.
Tiba tiba aku sangat ingin ke kamar mandi, aku berjalan dan seseorang mencegat ku. Bastian, pria brengsek yang selama ini mengejar ku. Aku tak peduli apa yang dia ingin kan , aku ingin berlalu dan ia tetap menghalangiku.
Jenny : apa ini
Bastian : aku mencintai mu.
Jenny : hehkk (senyum menyungging)
cinta? maaf aku sedang tak ingin diganggu (pergi)
Aku hendak berlalu, tapi ia menarik tangan ku kedinding kamar mandi dan mencoba memelukku. Aku berontak namun, tubuh kekar nya sangat sulit ditaklukkan. Sebuah pukulan mendarat di pipi nya, aku menoleh dan itu pak Mike. Secepat kilat aku memeluk nya dan berusaha menghindar dari kejaran Bastian, pak Mike menyuruh ku bersembunyi dan tenang.
__ADS_1
Mereka beradu otot, pukulan demi pukulan melayang di tubuh kedua nya yang tak mau mengalah sampai akhor nya Bastian jatuh dan tak sadar kan diri. Aku memeluk pak Mike dan menangis di dada bidang nya, ia menarik tanganku meninggalkan tempat tersebut