
*Jenny
Sudah sejak 10 menit lalu aku menatap Willson yang tengah membungguk dan mengusap kepala Hans, aku tak ingin mengacau nya bagaimana pun aku tidak ingin mengganggunya. Aku turun lagi kebawah dan berlalu kedapur mengambil minum dan meneguk nya, entah apa yang dilakukab Willson dikamar ku.
Aku kembali ke kamar dan Willson sudah tak pergi, mungkin dia sudah mengantuk.
Tak lagi kudapati kesedihan semenjak aku berada di Jepang, bayangan Mike bahkan tak pernah hadir dalam mimpi ku. Orang lain mungkin menilai ku sangat buruk karena melupakan suami sendiri dengan begitu cepat.
Malam berlalu begitu saja, dan aku masih sibuk didapur menyiapkan sarapan untuk semua orang rumah. Masakan telah tersaji dan aku menunggu mereka semua turun. Paman, bibi, Kak Clark dan Kak Yusi sudah datang dan menyantap makanan yang telah ku buat kan sejak pagi.
Paman : Jini kenapa kamu tidak ikut makan?
Jenny : ah.. iya paman aku akan menanggil Will dulu
Yustine : sudah lah Jini, makan saja dia pasti masih tertidur.
Jenny : baik lah kak ( duduk)
kamu semua duduk dan menikmati makanan kami masing masing, saat tengah sibuk menyantap sarapan Willson tiba tiba turun tangga menggendong Hans.
Kami semua tercengang, mengapa dia membawa Hans. Dengan tatapan datar dia datang menghampiri kami yang tengah sibuk.
Willson : besok pekerjakan asisten dirumah mu Kak, jika Jini melakukan kerjaan rumah kapan dia akan mengurus Hans?
Aku bergegas mengambil Hans dari Willson karena tidak tau mengapa tatapan nya kali ini sangat dingin.
Jenny : apa maksud mu Will, aku bisa mengurus semua nya.
Willson : terserah pada mu (datar)
Willson berlalu menuju dapur dan membawa teh hijau kesukaan nya ke taman belakang rumah, sedang kan yang lain masih duduk tenang. Aku berlalu dan membawa Hans ke kamar ku.
*Yustine
Hari kemarin sangat melelahkan meski bukan pesta besar namun kaki ku cukup sakit karena terus mondar mandir mengurus persiapan pesta, pagi ini aku bangun terlambat sementara Jini sudah sibuk didapur. Kami semua sudah duduk dan menikmati sarapan pagi ini, aku terkejut saat melihat Will sedang menggendong Hans dan dengan wajah kesal dia meminta ku agar mempekerjakan asisten dirumah.
Sebenar nya sejak kemarin aku telah memikirkan hal itu karena akan melelahkan untuk Jini mengurus semua nya sendiri di rumah. Tapi yang tidak aku mengerti sejak kapan Will bisa menggendong anak bayi? Bahkan anak tetangga rumah kami harus tersiksa karena diganggu oleh Will.
Ayah : Yusi, sejak kapan adik mu suka anak bayi?
Yustine : (mengangkat bahu ) entah lah ayah, aku juga tidak tau
Ibu : seperti nya Will memiliki perasaan berbeda kepada Jini
Clark sejak tadi tidak mengeluarkan suara dan tetap menyantap makanan nya. Mungkin dia tengah memikirkan sesuatu.
*Clark
Aku menyudahi sarapan ku dan segera mandi untuk berangkat ke kantor, aku menyempat kan diri melihat Hans dan kebetulan Jini ada disana.
Clark : Jini ?
Jenny : iya kak?
Clark : apa kamu ingin kembali?
Jenny : apa ? Kakak sudah sangat baik padaku selama ini, aku akan mencari pekerjaan dan pindah. Tapi kak, aku tak ingin kembali. Aku bahagia disini.
Yusi datang menghampiri kami dan ikut duduk disebelah Jini.
Clark : hey.. Jini ! kakak tidak bermaksud demikian, aku hanya ingin memastikan perasaan mu pada Mike. Aku senang jika kamu bisa berada disini dan bahagia, tak ada niat untuk mengusir mu (memegang tangan)
Jenny : Aku tidak ingin kembali kak
Yustine : bagaimana jika Hans mulai bertumbuh dan menanyakan Ayah nya Jin.
Jenny : Kak, bantu aku berpisah dengan nya. Aku tidak ingin kembali lagi pada nya. hiks..hiks..(menangis) Mike hanyalah masalalu yang ingin ku lupakan.
Clark : baik lah jika itu keputusan mu
Yustine : jangan menangis, kamu akan dapatkan yang jauh lebih baik dari nya
Aku dan Yusi beranjak dari kamar Jini, dia butuh waktu sendiri dan aku tau berpisah bukan keputusan yang mudah.
Dikantor aku mencoba mencari cara bagaimana membantu Jini berpisah dari Mike.
Aku merogoh ponsel ku dan mencoba mencari nomor yang bisa membantu ku mengurus segala nya.
Ricci pasti bisa membantu ku karena seingat ku dia pernah bertengkar dengan Mike saat Mike menyiksa Jini.
tutt...tut...
Ricci : hallo.
Clark : hallo Ricci, ini aku Clark. Clark Lavonso
Ricci : oh kau kah itu ? aku sungguh tak percaya kau menghubungi ku setelah sekian lama. bagaimana kabar mu?
Clark : Aku baik Ricci.
Ricci : ada apa tiba tiba menghubungi ku Clark?
Clark : ah.. kau sangat to the point Bung, bolehkah aku meminta bantuan mu?
Ricci : tentu boleh, dalam hal apa aku bisa membantu mu?
Clark : tolong bantu aku mengurus Perpisahan Mike dan Jenny.
__ADS_1
Ricci : Perpisahan ? (terkejut)
Clark : Begini aku akan menceritakan detail nya pada mu saat kita bertemu nanti. Satu hal yang pasti Jenny sedang bersama ku, aku mengubah identitas nya dan membawa nya ikut ke Jepang.
Ricci : apa ?? apa kau diam diam menyukai nya
Clark : ha..ha...ha.. ayolah bung, aku bahkan sudah menikah dengan gadis cantik yang dulu sempat kau incar saat kuliah. Bagaimana mungkin aku menyukai Jenny.
Ricci : Yustine ??
Clark : iya. aku membawa Jenny saat Jenny putus asa karena Mike selingkuh. kita tau bagaimana siapa Mike sebenarnya. Aku hanya tidak ingin Jenny kembali terluka, saat ini Jenny sudah berganti nama menjadi Jini. Putra nya baru berusia sebulan lebih bernama Hans
Ricci : dia punya bayi ?
Clark : iya, anak dari Mike. Saat ini Jenny belum sempat memberitahukan pada Mike.
Ricci : baiklah aku akan mengurus nya..
Clark : tolong rahasiakan hal ini dari Mike dan tolong sampaikan salam kami pada keluarga Franklin.
Ricci : baiklah, aku tutup telfon nya ya.
Sambungan telepon nya telah diputus, aku yakin Ricci akan setuju pada keputusan ku. Aku harap semua akan berjalan sesuai rencana ku, dan Jini pasti akan bahagia.
~INGGRIS
*Mike
Sudah hampir setahun, dan tak ada titik keberadaan Jenny. Baru saja aku memikirkan nya sebuah surat datang beratas nama kan Jenny. Secepat mungkin aku membuka amplop dan membaca isi surat tersebut.
Surat Perceraian !
Bagaimana mungkin Jenny setega itu melakukan nya, dia belum memastikan keadaan ku tapi dia sudah mengirim surat perceraian yang sudah ditanda tangani oleh Jenny sendiri.
Lidah ku tak mampu mengucapkan sepatah kata pun, selembar Surat itu mampu membungkam ku dan terdiam cukul lama.
^Dalam hati Mike
bagaimana Jenny melakukan nya dengan mudah, Jenny pernah bertemu dengan Ceryn. Saat itu aku berpikir tidak perlu menjelaskan nya karena mungkin Jenny tidak akan bertanya hal lain, ternyata Jenny sesakit itu selama ini.
Aku memanggil Rey dan menyuruh nya melacak alamat pengirim surat tersebut, ini harapan satu satu nya menemukan Jenny.
Kandas sudah harapan ku bertemu dengan Jenny karena ternyata alamat pengirim surat itu hanyalah rumah kosong tak berpenghuni.
"mungkin akan lebih baik jika aku melupakan nya "
*Jenny
Rutinitas ku hanya merawat Hans dan melakukan pekerjaan rumah lain nya, meski kakak sudah mempekerjakan asisten tapi aku masih sering membantu nya.
Hans bertumbuh dengan baik meski tanpa seorang Ayah.
Seorang laki laki datang ketoko dan melihat lihat, aku menyapa dan ternyata itu Willson.
Jenny : silahkan dipilih Tuan.
Willson : (berbalik) Tuan ? apa aku se tua itu (muka datar)
Jenny : oh. .Will
ada apa tumben datang kemari?
Willson : dimana Hans ?
Jenny : itu (menunjuk ke arah Stroller)
Willson : baiklah aku akan bermain dengan nya, kamu bisa urus toko.
Jenny : ta..pi..
Will pergi begitu saja dan mendorong stroller Hans berjalan jalan di dekat taman bermain, aku dapat melihat nya dengan jelas dari kejauhan.
Aku hanya dapat tersenyum melihat pemandangan yang tak pernah kutemui selama ini, Hans bahkan tidak rewel saat bersama dengan Will.
Tiga tahun kemudian...
*Clark
Hans...hans..
Sejak tadi aku berteriak memanggil Hans tapi anak itu belum juga muncul. Seluruh ruangan telah diperiksa tapi tak ku kutemukan. Anak itu berkembang dengan baik, sifat nya sama persis dengan Mike saat masih kecil karena aku tumbuh besar dengan nya.
Sifat angkuh, egois, dan dingin nya sangat melekat pada Hans.
Aku menghubungi Jini menanyakan Hans tapi Hans juga tidak berada disana, aku mencari nya di sekitar yang mungkin tempat dia bermain.
dert...dert...Ponsel ku bergetar.
Will ??
Clark : ada apa Will ?
Willson : Kak, Hans bersama ku.
tadi nya aku ingin memberitahu mu tapi Hans mencegah karena katanya kalian sedang musuhan.
Clark : Hans... anak itu..
__ADS_1
baik lah Will aku titip Hans ya
Willson : iya.
Sejak Hans masih bayi, Will sangat perhatian pada nya. Mungkin karena mereka berdua punya sifat yang hampir mirip. Aku bisa bernafas lega dan bisa berangkat ke klinik Yusi. Seperti biasa sibuk masih sibuk dengan pasien nya dan aku hanya bisa menunggu di ruangan nya.
kreek..
Yustine : hai sayng, sudah lama kah menunggu ?
Clark : (memeluk) apa lah daya yang hanya bisa menunggu karena menjadi pasien terakhir mu sayang..
Yustine : (mencium sekilas) maafkan aku sayang
Clark : sayang, bagaimana hubungan Willson dengan Anna?
Yustine : ada apa ?
Clark : aku merasa Will menyukai Jini
Yustine : sungguh ? aku juga pernah merasa demikian tapi aku tak pernah melihat Will dan Jini berbicara berdua.
Clark : tapi Will sangat dekat dengan Hans.
Yustine : mungkin itu hanya perasaan mu saja sayang, lebih tepat nya Will hanya menyukai Hans
Clark: jika suatu hari Will dan Jini bersama apa kamu akan setuji sayang?
Yustine : tentu saja, ayah ibu juga menyukai Jini
Clark : bagaimana kamu tau sayang
Yustine : ayah pernah memintaku menjodohkan mereka, tapi aku menolak nya. Jini butuh waktu memulihkan hati nya yang dulu petnah disakiti oleh Mike. Aku kenal Will dengan baik karena aku kakak nya, dia akan menentukan jalan nya sendiri tanpa harus dipaksa
Clark : baik lah sayang kita akan tunggu perubahan mereka. Oh iya bagaimana dengan Bayi kita.
Yustine : baik sayang, aku sudah memeriksa nya
*Jenny
Entah kemana Hans menghilang, aku sangat takut terjadi sesuatu dengan nya. Aku mencoba menghubungi kakak Clark tapi tidak tersambung.
Beberapa menit kemudian mobil Will muncul, Hans keluar dari mobil Will.
Will terlalu memanjakan nya sampai terkadang dia pergi begitu saja tanpa pamit.
Hans : Mama...
Jenny : Hans ! kamu mulai nakal ya? pergi begitu saja sampai paman mu kecarian.
Willson : jangan memarahi nya ( datar ) aku yang membawa dari rumah tanpa permisi.
Jenny : Hans. Mandi lah
Willson : ayo Hans ! paman akan membantu mu mandi
Hans : ah..tidak... Hans malu paman (berlari)
Willson : Jini anak mu sungguh pemalu
Jenny : terimakasih telah menjaga nya.
Willson : ya
Selalu begini, Will sangat dingin jika berhadapan dengan ku sedangkan dengan Hans dia bisa tertawa lepas. Aku meninggalkan nya dan melayani pelanggan yang sedang memilih baju, Will masih menunggu Hans selesai mandi.
Saat aku sibuk dengan pelanggan, aku merasa Will sedang memperhatikan ku tapi saat menoleh dia sibuk dengan ponsel nya
Aku menemui nya kembali dan duduk di samping nya, dan dia beranjak pindah menjaga jarak dengan ku.
Jenny : hey, kenapa ?
Willson : tidak apa
Jenny : kenapa kamu pindah, aku tak akan menelan mu .
Willson : berhentilah bercanda (tatapan tajam)
Jenny : oke. kenapa kamu tak pernah membawa Anna kesini?
Willson : jangan menyebut nama itu.
Temperamen Will benar benar buruk, ditanya begitu saja marah. Hans sudah kembali dari kamar mandi, dan menghampiri kami yang tengah berbincang.
Hans :Mama, Hans ngantuk
Jenny : tidur lah dikamar Mama
Willson : sini Hans ! tidur lah didekat paman
Hans : sungguh ? (bergelayut di kaki Will)
Melihat Hans dan Will dekat membuat ku tersentuh, bahkan Hans tak pernah menanyakan siapa ayah nya dan aku bersyukur akan hal itu. Beberapa menit kemudian Hans tertidur.
Willson : Jini
Jenny : iya (menoleh).
Willson : mengapa kamu tidak kembali kepada Mike?
Jenny : apa itu penting ?
Willson : aku hanya penasaran, bagaimana jika Hans bertambah dewasa dan mulai mengerti keadaan sesungguh nya?
Jenny : aku akan menjelaskan nya secara perlahan, aku akan mengatasi hal ini. Kamu tenang lah
Willson : baiklah, aku hanya tidak ingin jika Hans akan terluka saat tau kebebaran nya.
Jenny : terimakasih Will, kamu menemani nya sampai sejauh ini. aku bahagia saat melihat Hans bisa tertawa bahagia dengan mu.
Willson : tidak apa Jini, aku menyayangi Hans tulus. apa aku bisa bertanya hal lain Jini?
Jenny : apa ?
Willson : apa kamu bahagia sekarang ?
Jenny : aku bahagia disini, aku tak pernah sebahagia ini selama ini. Bukan berarti aku melupakan keluarga ku, tapi jika aku dekat dengan keluarga ku Mike akan menemukan ku.
Aku tak ingin mengingat nya atau sekedar melihat bayangan ku, Ingatan buruk itu telah aku hilangkan dari pikiran ku. Selanjut nya aku akan menata masa depan ku dengan Hans, aku sudah tak butuh apa apa lagi di hidup ku.
Awal nya aku merasa putus asa karena di khianati oleh Mike, tapi aku berubah pikiran bagaimana pun hidup harus terus berlanjut dengan atau tanpa ada nya Mike.
Willson : apapun yang menurut kamu baik maka lakukan lah Jini, kamu berhak atas kebahagiaan mu sendiri.
kamu lah yang akan menjalani hidup mu, jadi jangan sampai kamu salah memilih jalan hidup mu sendiri
__ADS_1