My Teacher My Dear

My Teacher My Dear
Eps 14. Misterius


__ADS_3



*Jenny



Rutinitas yang aku lakukan sampai hari ini masih sama, merawat Hans dan mengurus toko. Aku tidak mengeluh, karena aku harus bisa memenuhi biaya hidup kami berdua. Sudah hampir 3 bulan aku dan Hans pindah dari rumah Kakak, meski awal nya dia menolak kami pergi akhir nya dia tetap mengijinkan karena aku tetap bersikeras.



Sangat tidak memungkin kan jika kami berdua selalu merepot kan kaka, apalagi sebentar lagi Kak Yusi akan melahirkan. Meski telah pindah kami masih sering bermain atau sekedar melihat keadaan Kak Yusi.



Sejak pagi aku selalu sibuk, tanpa ku sadari ternyata ponsel ku sudah berbunyi beberapa kali namun tidak terdengar karena jarak dari meja kasir ku tidak begitu dekat dengan susunan baju yang dipajang didepan toko. Menyadari ada panggilan masuk setengah jam yang lalu aku kembali menghubungi kakak, dengan sangat panik Kakak meminta ku ke rumah sakit karena istri nya kak Yusi akan melahir kan.



Aku menutup toko dan bergegas menuju rumah sakit tempat kakak dirawat, aku berjalan tergesa gesa sampai aku menemukan kakak yang telah menunggu sejak tadi. Kami hanya bisa berdoa di luar ruangan agar Kak Yusi dan bayi nya baik baik saja,


uwekk...uwekk..


Terdengar suara bayi dari dalam ruangan, Paman dan bibi berpelukan senang sementara Kakak masih konsentrasi menunggu dokter keluar dan memberi kabar keadaan dari Kak Yusi.



Dokter : keluarga Yusi Lavonso?


Clark : Iya ada apa dokter? bagaimana keadaan istri saya?


Dokter : selamat pak, bayi anda perempuan. Anak dan istri bapak sehat. selanjut nya akan dipindahkan ke ruang rawat.(Mengulurkan tangan)



Kami semua bersyukur dan karena kakak dalam keadaan sehat, tiba tiba aku teringat pada Hans. aku pamit pulang duluan karena harus menjemput Hans.



Aku mancari Hans di sekolah nya, walau aku terlambat menjemput nya biasa nya dia akan menunggu ku didepan sekolah. Bingung harus mencari keberadaan Hans aku menghubungi Will,aku akan menghubungi Will panggilan masuk datang dari kakak.


Clark : Jini, kembali lah kerumah sakit Hans dan Will sudah berada disini


Jenny : astaga.. anak itu. aku mencari nya kemana mana.


Clark : pulang lah



Tenaga ku terbuang sia sia dengan datang kesini, harus nya Will bisa memberitahi ku agar aku tak perlu datang. Mereka semua sudah menunggu diluar ruangan kemudian aku menghampiri.



Jenny : Hans ! apa kamu tidak bisa menghubungi Mama untuk memberitahu kamu sudah pulang?


Hans : Maaf Ma, aku lupa. Harus nya Mama datang lebih cepat.


Jenny : jadi sekarang Mama yang salah?


Willson : berhenti lah memarahi nya, ini sudah berlalu (Memalingkan wajah)


Jenny : kamu memperlakukan nya istimewa sampai dia kadang lupa dengan ku.



Kaki ku melangkah meninggalkan mereka yang sedang sibuk melihat ku berjalan dengan wajah kecut. Mereka hanya bisa memandangi ku yang tengah berlalu.




*Clark



Yusi sedang berada didalam ruangan bersama dengan dokter yanv membantu nya dalam proses lahiran, Jini yang sedari tadi menemani pamit keluar sebentar untuk menjemput Hans.


Beberapa menit Jini pulang, Hans datang bersama dengan Will. Kedua nya sangat akrab sejak Hans masih bayi, Will memang selalu bersikap dingin pada Jini namun dia selalu bisa tersenyum saat berdua dengan Hans.


Aku meminta Jini kembali karena Hans memang sudah di rumah sakit, alhasil Jini kesal karena Will bahkan tidak memberitahu nya kalau dia akan menjemput Hans.



Entah kemana Jini melampiaskan rasa kesal nya, dia berlalu begitu saja sementara aku harus melihat keadaan Yusi dan bayi ku.


Aku mengikuti langkah dokter wanita yang membawa ku ketempat bayi. Sangat cantik.



Setelah Yusi di pindah kan keruang rawat, kami semua menjenguk nya sementara perawat membawa bayi perempuan kami keruangan karena Yusi sejak tadi ingin bertemu.



Yustine : sayang ? kemana Jini


Clark : ah mungkin sebentar lagi dia akan datang, tadi ada salah paham sedikit dengan Will.


Yustine : Will ? kamu apakan Jini?


Hans : bibi, paman Will tidak berbuat apa pun.


Yustine : baiklah, Will cari kan Jini.


Willson: kenapa aku harus mencari nya ? istirahat lah kak, dia pasti pulang jika dia merasa baikan


Ayah : Yusi, kamu baik baik saja bukan?


Yustine : iya ayah, aku baik baik saja.


Ibu : Yusi, kami sudah melihat mu dan cucu kami. jika nanti kami pulang apa kamu akan marah?


Yustine : tidak apa Ibu, kalian bisa datang saat aku kembali kerumah. Tapi jika kalian datang, harus menginap selama seminggu. Dan iya, minta Will mengantar kalian.


Ayah : ah tidak, Will akan tetap disini karena Ayah membawa mobil sendiri.

__ADS_1


Clark : sayang, kamu punya nama untuk bayi kita ?


Yustine : hm.. aku ikut pendapat mu saja sayang


Clark :Laurent Lavonso !


Yustine : nama yang bagus sayang.




Kami berbincang dengan cukup lama, kemudian Jini datang keruangan dengan membawa beberapa makan malam karena sejak tadi kami tidak makan apapun.


Clark : apa kamu marah Jin ?


Jenny : oh tidak kak, tadi aku hanya bercanda. Aku membawa makanan kalian semua makan lah.


Clark : kamu tidak makan Jin, makan lah bersama kami


Jenny : apa kakak tidak akan memberi ku ruang untuk melihat gadis kecil mu kak?


(melirik)



ha..ha..ha..


Kami semua tertawa melihat ekspresi Jiniyang sangat ingin melihat bayi kecil sampai melupakan makan nya.



*Jenny



Tak bosan bosan nya aku memandang wajah bayi kecil dalam pangkuan ku, sejak tadi mata ku tak berhenti menatap nya sambil tersenyum. Paman dan bibi telah pulang sejak tadi sedangkan kami masih terus sibuk bercerita tentanc hal hal yang lucu.



Malam semakin larut dan Hans pun telah tertidur dipangkuan Will, Kakak meminta kami pulang. Aku berusaha menggendong Hans, tapi tidak bisa. Clark meminta Will nengantar kami pulang, aku sempat menolak dan akan membangun kan Hans supaya berjalan sendiri namun Will langsung menggendong nya dan membawa Hans pergi masuk ke mobil akhir nya aku dan Will pamit pulang.



Sepanjang perjalanan aku dan Will hanya terdiam, karena aku pun mulai mengantuk dan tertidur. Tiba tiba aku merasa tubuh ku melayang dan terangkat, aku mencoba membuka kelopak mata ku namun rasa kantuk ku lebih dominan dibanding membuka mata.



Sinar matahari pagi masuk menembus jendela kaca rumah ku, aku terbangun dan menyadari aku tertidur bersama Hans yang sedang memelukku. Aku berjalan menuju dapur untuk mengambil air putih, aku melihat Will tertidur di sofa ruang tamu.


Tentu saja aku kebingungan, bagaimana dia bisa masuk? aku mencoba mengingat kejadian semalam. Aku tidak dapat mengingat apapun karena semalam aku tertidur di dalam mobil.



Will menggendong ku masuk ke rumah ?


darimana dia dapat kan kunci nya ?


Aku masih kebingungan tapi Will sudah terbangun dari tidur nya.





Flassback On



Kakak meminta ku mengantar Jini dan Hans pulang kerumah, aku tak punya pilihan lain selain mengikuti nya. Tak ada kata yang keluar dari ku maupun Jini dalam perjalanan, aku mencoba memutar musik dalam mobil untuk memecah keheningan namun saat aku ingin menyalakan nya aku melihat Jini sudah tertidur. Tak lama kemudian kami pun sampai, aku bingung bagaimana akan membangun kan nya. Aku mencari kunci rumah didalam tas Jini agar aku bisa menggendong Hans masuk kedalam kamar, saat aku kembali Jini belum juga terbangun dari tadi meski mobil sudah berhenti sejak tadi. Aku menatap nya sekejab dan menggendong nya juga masuk kedalam kamar dan membaring kan nya disebelah Hans. Jam sudah menunjuk angka 2 sangat tidak mungkin jika aku kembali kerumah ku, akhir nya aku pun memilih tidur di sofa ruang tamu.



Flassback Off



Mata ku terbuka dan menangkap basah Jini yang sedang menatap ku.


Wilkson : ada apa ? kau terpesona dengan ketampanan ku ?


Jenny : cih... kamu sangat berbangga diri,


Willson : bisa tolong buatkan aku teh hijau ?


Jenny : baik lah



Aku berlalu dikamar mandi dan kembali duduk di sofa, sedangkan Jini datang dan membawa teh hijau ditangan nya lalu duduk di depan ku.



Jenny : terimakasih Will untuk semalam?


Willson : untuk apa?


Jenny : kamu mengantar ku dan menggendong aku dan Hans ke kamar. itu pasti berat.


Willson : aku tidak menggendong mu, kau berjalan sendiri (datar).


Jenny : hahk.. bagaimana mungkin?.


Willson : iya iya aku bercanda (senyum).


makan lah yang banyak berat badan mu sangat buruk.


Jenny : maksud perkataan mu apa?


Willson : Hans bahkan lebih berat dari mu.


Jenny : aa.. baiklah aku akan meminta Hans bangun (beranjak).


Willson : biarkan saja dia tidur (menahan)

__ADS_1


Jenny : dia harus sekolah


Willson : apa kamu sudah pikun ? ini akhir pekan.



*Jenny



Aku menepuk jidat ku sendiri saat tau ini akhir pekan, aku dan Will melanjutkan obrolan kami. Sudah 4 tahun kami saling mengenal nama, tapi ini pertama kali nya kami berbicara satu sama lain dengan cukup lama. Selama ini kami hanya berbicara seadanya dan tak saling mengenal jauh, selain karena sifat nya yang dingin dan angkuh aku juga tidak ingin terlalu jauh mengenalnya karena mungkin kekasih nya akan berbicara yang tidak tidak dengan ku.



Aku menyiapkan sarapan dan aku membangun kan Hans untuk sarapan, Will juga tampak duduk menunggu kami keluar dari kamar.



Hans :Ma, jalan jalan yuk.


Hans bosen dirumah terus


Jenny : tapi Hans kita harus kerumah sakit menjenguk bibi mu.


Willson : tidak apa, ayo keluar.


aku akan mengatasi kakak


Jenny : baik lah sayang, selesai makan kamu mandi kita pergi


Hans : paman Will ikut ?


Willson : kalau Hans ingin, paman ikut


Hans : ayolah



Kami berbenah dan berangkat jalan jalan santai, tak ada tempat khusus kami hanya pergi ke taman bermain dan bioskop sekedar menonton film. Hans sangat bahagia, dia bisa tertawa lepas tanpa beban.



^Dalam hati Jenny


Apa kabar mu Mike ?


tidakkah kamu mencari ku?


seandai nya kamu melihat nya Mike, anak yang tidak pernah kamu ketahui tumbuh dengan baik tanpa ada nya kamu. Kamu akan merasakan penyiksaan yang lebih sakit saat melihat anak mu sendiri lebih nyaman dengan orang lain yang tidak mempunyai ikatan darah dengan nya.



Aku terus menatap Hans yang sedang bermain dengan Will, pria dingkn dan cuek yang sudah sangat baim pada anak ku tapi tidak padaku.


Will selalu bersikap acuh padaku, tak pernah memandang mata ku dalam waktu lama. Setiap aku bertanya dia hanya akan menjawab nya dengan sangat singkat.Bahkan sangat jarang dia memberi senyuman padaku dan orang lain, hanya kepada Hans lah dia bisa tersenyum lebar sedangkan padaku dia hanya memberi muka musam dan kecut



Dasar aneh !



Hari sudah semakin sore dan mereka berdua datang menghampiri ku, seperti biasa tidak banyak percakapan antara kami berdua hanya Hans dan Will yang sering berbicara dan tertawa senang.



Kami telah sampai didepan rumah sedangkan Will langsung pulang,aku dan Hans masuk kedalam rumah dan istirahat karena besok aku harus menjaga kak Yusi .



Pagi nya aku telah mengantar Hans sekolah,dan langsung kerumah sakit. Aku menemui kak Yusi yang sedang memberi asi pada bayi nya.


Yusi : Jini, kamu datang?


Jenny : ia kak, apa perlu ku ambilkan makanan?


Yusi : tidak perlu Jin, kamu gendong Laurent saja aku harus ke kamar mandi.



Kakak sedang ke kamar mandi dan kembali dalam hitungan menit, kakak tidak langsung tidur dia hanya melipat baju baju mungil milik putri nya yang berserakan


Yustine : semalam dari mana saja Jini?


Jenny : aku dan Hans jalan jalan saja kak


Yustine : berdua saja?


Jenny : tidak kak, Will juga ikut


Yustine : (tersenyum)



Aku tidak mengerti apa arti dari senyuman kak Yusi, aku hanya konsentrasi menatap putri kecil nya yang sedari tadi tertidur. sangat cantik seperti kakak.



Aku mengajak kakak berjalan jalan ditaman rumah sakit mendorong Kak Yusi di kursi roda dan menggendong bayi nya, suasana rumah sakit sangat membosan kan jadi aku berniat membawa mereka sekedar berjalan jalan menghirup udara segar.


Yustine : jin, kita kembali ke kamar aja. udah sore hawa nya tidak baik untuk bayi



Aku mendorong kursi roda melewati taman dan lorong lorong rumah sakit sampai menuju ruangan nya, tak lama kemudian kakak Clark datang bersama dengan Hans. Namun mereka hanya datang untuk membawa baju ganti dan melihat keadaan bayi kecil nya. Kakak harus pulang karena besok subuh dia haru pergi keluar negeri, memang sangat sulit meninggalkan istri nya yang baru saja melahirkan tapi tak ada pilihan lain dan Kak Yusi juga tidak keberatan karena aku ada disana.



Mereka pun pulang, aku dan kakak melanjutkan perbincangan kami yang tadi tertunda karena kedatangan Hans dan kak Clark. Tak terasa malam semakin larut, dan kakak sudah tertidur begitu pun dengan Laurent putri kecil nya. Aku sedang sibuk duduj dikursi disebelah kakak sambil mengotak atik ponsel ku dan akhir nya tertidur juga.


Mata ku terbuka, ternyata sudah pagi aku beranjak dari tidur ku yang sudah berada di sofa dan memakai selimut. Semalam aku tidur kursi dekat kakak, bagaimana bisa aku bangun disofa?


Selimut ini bahkan tidak ku kenali, bukan milik Kak Yusi atau pun milik ku karena aku tak membawa apapun kerumah sakit.


Aku meraih ponsel ku dan menghubungi teman ku agar bisa mengantar Hans pergi sekolah. Setelah itu aku masih kebingungan dengan apa yang terjadi? Sangat tidak mungkin jika aku bertanya pada Kakak karena itu akan membebani pikiran nya. Aku mencoba mencari tau dengan menanyakan nya pada perawat yang jaga malam tapi tidak ada yang melihat seseorang masuk kedalam ruangan Kakak Yusi.

__ADS_1


__ADS_2