
* Helena
Aku dan bibi sedang berbagi cerita tentang masa kecil Hans, foto foto masa kecil Hans sangat lucu sekali. Aku tidak menduga bahwa dia seperti anak perempuan saat masih berusia 8 tahun.
Paman dan Hans sudah kembali, aku melihat ekspresi Hans yang malu malu ketika aku memegang foto nya.
Hans : Mam, seharus nya mami tidak mengeluarkan foto foto itu ( cemberut )
Helena : kamu sangat di manja Hans, ( senyum )
Jenny : sudah lah, jangan berdebat ! Hans, mulai sekarang panggil aku Ibu dan dia Ayah mu ( menunjuk Mike )
Mike : tidak boleh !
Jenny : aku melahirkan nya jadi aku punya hak ( menyombongkan diri )
Paman dan bibi memang sangat serasi, bahkan saat mereka berdebat seperti hari ini. Karena bibi sudah baik baik saja, kami memutuskan untuk pulang ke apartemen setelah makan siang ini.
Helena : Hans, ibu mu sangat cantik.
Hans : apa kamu baru menyadari nya ?
Helena : bukan seperti itu, sejak dulu aku sudah menyadari kalau bibi benar benar cantik.
Hans : kamu juga cantik,
Aku hanya terpaku mendengar pujian Hans, aku segera memalingkan wajah ku agar tidak terlihat oleh Hans. Cukup lama kami terdiam sampai akhir nya aku teringat pada Jia
Helena : Hans, ayo menemui Jia
Hans : kita akan pergi saat bulan madu kita
Helena : apa ? (terkejut )
Hans : apa kamu belum siap menikah dengan ku ?
Helena : aku...
Hans : tidak perlu menjawab, jika tidak ingin ( datar )
Aku terdiam sepanjang perjalanan sampai kami sudah berada di apartemen Hans, aku segera mandi membersihkan tubuh ku yang penuh dengan keringat.
Hans sedang sibuk dengan laptop dan berkas berkas nya, aku menyeduhkan kopi untuk nya agar dia bisa tetap terjaga melakukan pekerjaan nya.
Hans : belum tidur ?
Helena : aku akan menunggu mu ( duduk )
Dia tidak akan membiarkan ku kesulitan, jadi aku menunggu nya setengah jam dan akhir nya berpura pura tidur untuk mengalihkan nya dari pekerjaan nya.
Tangan Hans langsung menggendong ku dan membawa ku masuk kedalam kamar, setelah membaringkan tubuh dia dia hendak pergi.
Aku dengan cepat menahan tangan nya,
Hans : kamu tidak tidur ?
Helena : ( menggeleng kepala )
Hans : baiklah, aku akan menemani mu ( berbaring )
Aku memeluk tubuh nya dan mencium bibir nya, dulu aku membenci nya tetapi belakangan ini aku menyukai saat bibir nya.
cuup....
Tangan ku melingkar di leher nya dan tetap berinisiatif untuk menciumi bibir nya. Hans segera berbalik dan menindih tubuh ku,
Hans : aku tidak bisa mengendalikan diri ku sendiri, ( berbisik )
Helena : aku tidak akan menyesali nya jika dengan mu Hans,
Hans : kam...
cuuppp... cup...
Aku mencium bibir nya dan kembali memeluk nya, cukup lama aku melakukan hal yang sama sampai Hans bergerak lebih cepat dari ku.
Seluruh baju yang menempel di tubuh kami berdua telah terlepas dan berserakan di lantai, kini tak ada yang menghalangi kedekatan kami berdua.
emph... mmm...
Bibir ku hanya bisa mengeluarkan desahan desahan kenikmatan atas perlakuan Hans,
Hans menatap ku cukup dalam meminta persetujuan dari ku, aku hanya mengangguk dengan wajah memerah.
auhh... Hans.... sa...kit...
Tangan ku memeluk nya sangat kuat menahan sakit di daerah intim ku, aku menggigit bibir bagian bawah agar tidak mengeluarkan rintihan.
Sesaat Hans berhenti menggerak kan tubuh nya, setelah aku tenang dia kembali melahap tubuh ku yang tenggelam di balik tubuh nya....
ah...mphh.... Hans,...
Hans semakin liar menggerak kan tubuh nya diatas ku dengan cukup lama,
Setelah perjuangan cukup panjang akhir nya Hans tumbang dia atas tubuh ku dan memeluk dengan sangat erat.
Hans : Maafkan aku ( memeluk )
Helena : kamu tidak melakukan kesalahan, aku mencintai mu
Hans : aku akan bertanggung jawab atas hidup mu sayang, kita harus menikah !
__ADS_1
Helena : secepat itu ?
Hans : tentu saja, aku tidak ingin kamu di rebut oleh pria lain. Kamu milik ku..
Helena : Paman posesif...
Hans menekuk wajah nya menatap ku, aku yakin dia terpengaruh pada kata kata ku yang memyebut nya " paman "
Helena : astaga, apa aku salah ? usia kita beda jauh..
Hans : itu tidak benar, hanya beda beberapa tahun saja.
Helena : apapun itu yang pasti kita tidak se umuran
Hans : kamu mau menggoda ku lagi ? aku masih sanggup untuk babak kedua sayang ( senyum nakal )
Helena : tidak tidak... aku ingin tidur saja. ini sangat melelahkan
Kami berdua tertidur dalam keadaan tubuh polos tanpa balutan busana,
Mata ku terasa berat untuk terbuka, aku sangat mengantuk sampai tidak menyadari bahwa aku terlambat bangun. Hans datang membawa makanan untuk ku, aku bangkit dan duduk di ranjang.
Hans sangat manis pagi ini, dia menyiapkan ku sarapan dan tidak berangkat bekerja untuk bersama ku. Dia memaksa ku menghabiskan semua makanan yang dia sajikan, aku menurut saja meski perut ku sudah sangat sesak karena makan terlalu banyak.
Aku merasa tubuh ku sangat lengket karena peluh keringat tadi malam, baru saja aku ingin bangkit tetapi aku merasakan sakit di bagian selangkangan ku.
Hans menggendong ku dan membawa ku ke dalam kamar mandi, dia membantu ku mandi dan ikut mandi bersama ku
Helena : aku bisa sendiri Hans
Hans : aku sudah melihat semua nya tadi malam, jadi apa yang ingin kamu sembunyikan lagi ?
Helena : tapi aku malu, kamu harus bekerja bukan
Hans : aku bos nya !
Setelah menyelesaikan mandi aku dan Hans menghabis kan waktu bersama sepanjang hari dengan menonton film di rumah. Aku terlalu lemah untuk berangkat bekerja, sedang kan Hans memaksa untuk menemani ku hari ini agar aku tidak kesepian.
Aku teringat waktu pertama kali bertemu dengan Hans di pesta ulang tahun Jia beberapa tahun lalu, dia sempat menjadi guru pembimbing ku untuk meraih medali saat olimpiade sekolah. Sangat tidak terduga kami berakhir dengan cara seperti ini, aku dan Hans saling jatuh cinta dan menjalin hubungan yang baru.
Dulu Hans termasuk orang yang tidak peduli dan kasar pada wanita, aku bahkan pernah membenci nya selama bertahun tahun karena memaksa ku untuk menikah dengan nya. Pelarian ku membuat ku lelah dan akhir nya memilih untuk kembali, aku ingin melanjutkan kehidupan ku tanpa Hans.
Ternyata takdir kembali mempertemukan kembali karena aku tidak mempunyai kenalan lain saat kedua orangtua ku meninggal.
Paman !
mengenai paman, aku akan menyelesaikan nya nanti saat aku dan Hans menikah. Aku tidak ingin membebani nya dengan masalah Paman, dia akan menerima ganjarang atas apa yang sudah dia lakukan pada ku.
Mata ku menatap pria hebat yang kini bersama ku, dia terlihat manis jika temperamen nya sedang bagus.
Hans : jangan tatap aku begitu sayang,
Hans : pernah ! tapi aku hubungan kami tidak berlanjut karena suatu alasan.
Helena : kapan ?
Hans : tenang lah, aku tidak pernah menyentuh nya seperti saat bersama mu. Aku bahkan tidak pernah memegang tangan nya
Helena : benarkah ?
Hans : benar sayang, apa kamu cemburu ?
Aku hanya tersenyum melihat kejujuran di mata Hans, tetapi meski begitu dia terlihat mahir dengan wanita
Helena : jika begitu, kenapa kamu bisa mahir dalam urusan ranjang ??
Hans : kamu mau tau dari mana aku bisa mengetahui masalah berhubungan dengan wanita ? ( senyum )
Helena : tentu saja !
Hans : aku melihat nya dari video XXX di ponsel ku sayang, kamu ingin melihat nya ?
Helena : ah... tidak.. Dasar mesum !
Kaki ku beranjak meninggalkan nya dengan wajah cemberut,
* Hans
Wajah Helen terlihat kesal saat aku merayu nya, aku menemui nya di dalam kamar dan duduk di sebelah nya.
Hans : sayang, apa kamu marah ?
Helena : iya, aku sangat marah. ( memalingkan wajah )
Hans : baiklah, maafkan aku sayang
Kami berdua berpelukan sangat lama sampai aku mengajak nya untuk makan malam di luar, dia menurut pada ku dan mengganti pakaian piyama nya dengan pakaian biasa.
Karena Helen tidak menyukai restoran mewah, aku membawa nya menuju restoran kelas menengah tidak jauh dari apartemen. Aku dan Helen mencari tempat duduk yang nyaman untuk berbincang dan menikmati makan malam, setelah pesanan kami datang tiba tiba Luarent mengejutkan kami dan meminta bergabung makan bersama kami.
Aku menatap tajam Alex yang sedang berdiri dengan Laurent,
Alex : sayang, kita akan mengganggu mereka berdua nanti nya
Helena : tidak apa , duduk lah
Hans : Lex ! kamu benar benar mengganggu ku
Laurent : kakak !!
Laurent tersenyum dengan Helen yang sejak tadi duduk berhadapan, kedua gadis itu bercerita tentang kosmetik dan tempat liburan yang cocok dengam musim semi bulan depan.
Laurent : kita berlibur bersama saja, sangat menarik bukan ?
Alex : itu bukan ide yang buruk, tetapi aku tidak yakin aku bisa
__ADS_1
Helena : mengapa ?
Hans : dia akan mengurus perusahaan, kami akan pergi berlibur lebih dulu. Selanjut nya kalian boleh mengatur liburan berdua !
Laurent : benarkah ? beri waktu 2 minggu untuk kami berlibur Kak.
Hans : apa ? ( terkejut ) tidak, itu terlalu lama
Laurent : ayolah kak ( memohon )
Hans : baiklah ! aku akan memikir kan nya.
Alexsander Keller !!
Kamu memanfaatkan adik ku untuk mendapat cuti mu !!
Aku akan menghabisi mu di kantor !!
Lusa depan aku dan Helen akan pergi berlibur, untuk sementara waktu Alex akan menangani perusahaan seperti biasa nya.
Aku sangat percaya pada nya karena dia memang sahabat ku sejak masih kecil, Alex sangat berbakat hanya saja kemampuan keluarga nya yang terbatas menyekolah kan nya.
Ibu mengusul kan untuk merawat nya sejak remaja dan membuayai seluruh keperluaan nya, sejak saat itu Alex tidak bisa terpisah dari ku dan keluarga Leonard.
Helen pergi berbelanja untuk membeli perlengkapan untuk berlibur, aku sedang menyelesaikan proyek kerja sama ku dengan beberapa perusahaan terkemuka dari luar negeri dan akan pulang terlambat.
Sudah larut malam !
Aku akan kembali, atau Helen akan datang menemui ku nanti nya.
Mobil ku melaju dengan kecepatan standart menembus jalan malam menuju apartemen, aku berhenti di sebuah toko bunga dan membeli beberapa tangkai untuk calon isteri ku yang menunggu ku di rumah.
Aku pulang sayang !
Helen berhambur ke pelukan ku saat aku baru masuk ke dalam rumah,
Hans : kamu merindukan ku ?
Helena : kamu membuat ku takut, aku baru menghubungi pihak kantor dan mereka mengatakan kamu sudah pulang sejak sejam yang lalu.
Hans : aku baru saja membelikan mu ini ( memberi buket bunga mawar )
Helena : oh.. cantik nya ( terkagum kagum ) terimakasih Hans ! cupp... ( mencium sekilas )
Sebuah kecupan kilat mendarat di wajah ku, setelah itu Helen membawakan tas kerja ku masuk ke dalam kamar.
Sangat manis ! Seperti seorang isteri menyambut suami nya.
Aku segera mandi membersihkan diri setelah Helen menyiapkan air panas untuk ku, sementara Helen sedang menyiapkan makan malam untuk ku sambil tersenyum menatap buket bunga yang ku berikan.
Hans : aku bisa membelikan lebih banyak lagi jika kamu mau,
Helena : tidak Hans, aku hanya menyukai ini. ( menunjuk bunga )
Hans : duduk lah dan temani aku makan sayang, ada yang ingin ku tanyakan.
Helena : apa ? ( penasaran )
Hans : konsep pernikahan apa yang kamu ingin kan sayang ?
Helena : bukan kah kita akan menikah tahun depan ?
Hans : tidak aku hanya ingin bertanya pada mu sayang, kita harus memberitahukan Ayah dan Ibu saat kita pulang berlibur nanti nya
Helena : secepat itu ? ( panik ) aku belum mempersiap kan diri ku untuk itu sayang
Hans : kita sudah sering bertemu, kamu bisa bersikap biasa saja ( meneguk minuman )
Aku melihat raut wajah Helen yang penuh dengan keraguan,
Apa dia belum siap juga ?
Hans : kamu ingin menunda nya lagi ?
Helena : bukan begitu sayang ( menunduk )
Hans : jadi ? ( penasaran )
Helena : sebelum nya aku bertemu dengan mereka sebagai anak dari sahabat mereka, bukan sebagai calon menantu nya. Wajar saja jika aku sedikit gugup ( malu )
ha... ha... ha...
Hampir saja aku berpikir yang tidak tidak, ternyata ini alasan nya dia ingin menunda pertemuan dengan Ayah.
Hans : tidak apa ! aku akan menunggu
Helena : maaf kan aku Hans, tapi aku benar benar takut.
Hans : baiklah, bagaimana dengan persiapan liburan besok ?
Helena : aku sudah berbenah sebelum kamu pulang tadi,
Hans : baiklah, kita istirahat besok harus bangun pagi.
Helen : kamu tidak marah Hans ?
Aku menggelengkan kepala ku dan mengajak nya masuk ke dalam kamar untuk beristiraha, baru saja aku ingin memejam kan mata terdengar suara bel di balik pintu depan. aku bangkit berdiri dan membuka kan pintu, entah siapa yang datang tengah malam seperti ini.
Paula ?
Seorang wanita masuk menerobos ku dan langsung duduk di sofa ruang tamu, Helen keluar dari kamar dan melihat Paula sedang duduk di sofa dalam keadaan mabuk.
Helen menatap ku tajam dan mencoba bertanya kewat tatapan nya, aku hanya mengangkat bahu ku mengisyaratkan bahwa aku memang tidak mengerti apa yang terjadi.
__ADS_1