
*Clark
Kebahagiaan dirumah semakin sempurna dengan kehadiran putri kecil kami Laurent, jika sebelum nya Hans yang berbuat keributan dirumah saat ini suara tangisan Laurent membuat suasana rumah menjadi ramai. Hans selalu minta untuk tinggal dirumah menemani Lauren, sedangkan Jini harus bekerja dan tinggal sendiri dirumah nya jika Hans datang kerumah.
Yusi tidak keberatan merawat mereka berdua karena sejak lahir dialah yang merawat Hans seperti anak sendiri, kami membantu merawat Hans dengan sebisa mungkin. Jini masih terus sibuk mengembangkan toko baju nya, dia sangat cekatan juga dalam berbisnis. Aku hanya membantu membuka toko kecil nya dan membantu finansial saat pembukaan toko tersebut, selanjutnya dia mengembangkan usaha nya dengan cara sendiri. Entah bagaimana keadaan Mike sekarang tapi aku yakin dia pasti akan sangat terluka jika mengetahui aku membawa Jini bersama ku dan meninggalkan nya. Bukan salah ku, dia lah yang tidak menghargai keberadaan Jini.
*Jenny
Kepulangan kakak dari rumah sakit aku harus menginap dirumah nya dan membantu nya mengurus Lauren karena Kakak belum sanggup melakukan semua pekerjaan rumah nya. Setiap pagi aku mengantar Hans sekolah dan membuka toko setengah hari kemudian dilanjutkan oleh pegawai yang lain. Mereka hanya mengantar kunci toko kerumah kakak di sore hari jika toko sudah ditutup.
Lusa adalah ulang tahun Hans, aku sudah memikirkan sebuah perayaan kecil. Kakak juga ikut serta mempersiap kan nya, kami membeli beberapa bahan makanan karena kami akan merayakan nya dirumah dengan orang terdekat saja. Hans dibawa oleh Will bermain dengan nya sementara kami mengatur kejutan di rumah, dari depan terdengar suara klakson mobil Will dan kami pun bersiap siap di depan pintu.
Surprise......
Hans terkejut melihat kami sudah di depan pintu dengan kue ulangtahun, sejenak dia menutup mata kemudian meniup lilin nya. Kami makan bersama dan bercanda tawa mengingat masa kecil Hans, dia hanya tersenyum malu malu saat kakak menyebut nya anak nakal saat berusia 2 tahun.
Clark : Hans !
Hans : iya paman ?
Clark : boleh paman tau permintaan ulang tahun apa yang paling Hans inginkan?
Jenny :iya beritahu paman mu mungkin dia akan menyanggupi nya sayang (mengelus rambut)
Hans : sudahlah paman, paman tidak akan bisa memberikan nya pada Hans.
Yustine : bagaimana paman mu bisa tau apa yang Hans inginkan kalau Hans tidak jujur (penasaran)
Clark : iya Hans. coba katakan, apa itu ?
Hans : Hans ingin Ayah ? (setengah berbisik)
Jenny : uhuk..uhuk..(tersedak)
Clark : apa ? (terkejut)
Hans : selama ini Hans selalu ditertawakan karena tidak memiliki Ayah.
Jenny : kita akan menemui nya sayang (menitik kan air mata dan berlalu)
Aku berlalu begitu saja, meninggalkan mereka Kakak mencoba mengikuti ku namun aku melarang nya agar mereka menemani Hans. Ku sandar kan tubuh ku diatas kursi yang selama ini setia menemani ku jika aku banyak masalah dan ingin menyendiri. Kursi ini sangat nyaman tempat ku melampiaskan seluruh keluh kesal ku, saat di sini aku hanya akan duduk dan menatap bulan sampai mata ku perih karena mengantuk. Batin ku berkata bajwa sepasang mata sedang manatap ku sejak tadi, aku menoleh tapi tidak menemukan apapun. Aku tidak nyaman karena sejak tadi aku merasa sedang diawasi, aku menoleh untuk kedua kali nya dan melihat Hans berdiri di belakang ku.
*Willson
Ponsel ku berdering, seseorang mengajak ku bertemu di sebuah tempat karena ingin membicarakan sesuatu hal yang penting. Kebetulan hari ini pekerjaan ku tidak terlalu merepotkan jadi ku putuskan untuk mengikuti kemauan nya.
Itu Anna !
Dia sudah duduk menunggu ku, aku menghampiri nya dan duduk di sebelah nya.
Willson : ada apa Anna ?
Anna : aku merindukan mu, sudah bertahun tahun kita tidak bertemu sejak kita putus
Willson : ada hal yang lain
Anna : aku ingin kita kembali, aku sangat mencintai mu
Willson :aku tidak bisa, saat ini aku ingin konsentrasi dengan pekerjaan ku.
Anna : aku akan tetap akan bersamamu
Willson : terserah
Aku pergi meninggalkan nya sendiri, entah apa yang di ingan kan gadis itu lagi dari ku. Saat aku benar benar mencintai nya dia menunjukkan sifat asli nya yang tidak ku ketahui. Serakah !
Jika berbicara dengan orang lain lidah nya sangat berbisa dan mematikan orang lain, dia tidak merasa bersalah walau sudah melakukan tindakan bodoh. Itulah penyebab nya aku tidak bisa bersama nya, karena aku tidak ingin gadis ku menyakiti orang lain tanpa rasa bersalah.
__ADS_1
Aku kembali kekantor dan kembali bergelut dengan pekerjaan ku, rekan kerja tidak berkutik sedikit pun saat aku kembali. Bukan karena kedudukan ku, tapi rekan kerja sangat sungkan walau hanya bertegur sapa dengan ku. Ketika kaki ku hendak beranjak, tiba tiba Jini dan Hans datang membawa bungkusan makanan aku kembali duduk.
Hans: paman kami datang.
Jini : apa kami mengganggu waktu kerja mu Will?
Willson : ah tentu saja tidak, kalian datang membawa apa?
Jini : makananan, mari kita makan.
Willson : ada hal apa kalian datang tiba tiba?
Jini : hm.. Hans memaksa ingin menemui mu jadi kami memutuskan untuk singgah
Willson : ada apa Hans?
Hans : aku mau bermain dengan paman (merengek)
Jini : Hans jangan memaksa, Mama akan menemani mu
Willson : ayo kita pergi (datar)
Jini : kau tidak perlu memaksakan diri Will, kami akan pulang setelah ini
Willson : (menatap Jini dingin) kalau kamu tidak ingin aku dan Hans akan pergi
Hans : yee..kita jalan jalan...
Hans memegang tangan ku saat berjalan jalan, entah mengapa aku tidak pernah bisa menolak permintaan Hans. Tatapan nya selalu menghipnotis ku untuk mengikuti keinginan nya, tetapi aku bahkan mengikuti dan menikmati kebersamaan ku dengan nya. Hans sangat lincah walau sudah malam dia masih ingin berjalan mengelilingi mall tanpa lelah, sedangkan Jini sudah jalan lemas karena seharian berjalan kaki. Kami pergi menonton bioskop dan Hans yang memilih nya, kami bertiga duduk menikmati film yang sedang diputar dilayar bioskop. Hans tertidur saat pertengahan film sedangkan Jini masi terlihat menikmati adegan aksi di layar, aku melingkarkan tangan ku di leher Hans agar bisa mengawasi nya. Setelah film selesai diputar kami beranjak pulang, aku menggendong Hans menuju parkiran dan Kami pun pulang.
Aku menyetir mobil dengan pelan, dan berbincang seadanya dengan Jini. Dia tidak tertidur kali ini seperti biasa sebenar nya dia mengantuk tapi aku tau dia sedang menahan kantuk nya. Beberapa saat kemudian kami sudah tiba dirumah nya, aku mengangkat Hans kedalam rumah. Baru saja aku membaringkan Hans di tempat tidur tiba tiba listrik nya mati,
Will....
Jini berteriak, aku mencari nya dengan menggunakan senter ponsel pintar ku. Tiba tiba seseorang memelukku dari belakang, aku berbalik dan melihat samar samar kewajah Jini yang sedang ketakutan.
Willson : ada apa Jin?
Jini : aku..Takut Will (gemetar)
Jini : jangan pulang dulu
*Jenny
Gelap !
Aku sangat membenci kegelapan, ketakutan ku pada gelap berawal dari semenjak aku berusia 9 tahun saat Mama Juni mengunci ku di sebuah kamar gelap. Malam itu entah mengapa listrik nya padam dan seluruh kota dalam kegelapan, aku bahkan tidak memiliki lilin untuk persediaan saat keadaan darurat.
Suara ku menjerit memanggil nama Will yang saat itu sedang mengantar Hans ke kamar, aku memeluk nya saat dia tiba tiba muncul didepan ku. Kami duduk di sofa dan menunggu listrik nya menyala kembali namun sudah beberapa menit keadaan masih sama. Tak ku ijin kan Will pulang meninggalkan ku berdua dengan Hans, akhir nya dia mengunci mobil nya dan menutup mobil nya. Hans memanggil dari arah kamar, Will menuntunku dengan hati hati kearah kamar agar kaki kami tidak menabrak apapun yang tidak terlihat. Will menyalakan ponsel nya dan ponsel ku untuk penerangan seadanya, dia memeluk Hans di sebelah kanan nya sedangkan aku hanya memegang jari nya dan duduk di sebelah kiri Will. Sudah 2 jam listrik nya belum juga menyala dan mata ku belum juga terpejam, Wilk menyadari keadaan ku dan memeluk ku perlahan dengan rasa takut.
Willson : Jini, jangan takut ! aku ada disini
Jini : Will aku sangat takut sampai mataku tidak bisa tertutup
Willson : boleh aku memeluk mu? setelah itu cobalah untuk memejam kan mata mu
Will masih meminta ijin pada ku dan aku sudah memeluk nya terlebih dahulu, sangat erat sedangkan Hans sudah dari tadi tertidur disebelah kiri Will. Tubuh nya sangat kekar, aroma parfum nya begitu alami dan sangat nyaman di penciuman ku. Tangan Will mengelus rambut ku berkali kali dan mencium kening ku saat aku setengah terlelap, tidak ada penolalan dari diri ku saat dia mengecup kening ku. Aku mempererat pelukan ku dan tertidur.
*Clark
Kerjaan di kantor belakangan ini terbilang sangat padat, namun karena sore hari sudah ada pemberitahuan akan ada pemadaman listrik menyeluruh aku pulang cepat sebelum listrik padam. Aku sudah membeli banyak perlengkapan lilin dan lampion untuk dirumah dan untuk Jini, karena aku tau dia sangat ketakutan dengan gelap tadi nya aku ingin langsung singgah mengantar beberapa lilin kerumah nya namun rumah tertutup dan seperti nya mereka juga sedang diluar. Saat listrik padam, aku meminta ijin pada Yusi agar aku bisa mengantar lilin kembali pada Jini. Ketika aku masih memasuki gerbang rumah nya mobil Will ada didalam, aku membuka pintu nya perlahan karena memang tidak terkunci.
Kunyalakan ponsel ku untuk mencari keberadaan mereka, mata ku tertuju pada kamar yang pintu nya terbuka lebar. Ku arah kan cahaya senter dan melihat Jini dan Will sedang tertidur sambil berpelukan, sedangkan disebelah kiri Will Hans juga tertidur lelap. Aku menatap ketiga nya dari arah pintu kamar, aku hanya tersenyum melihat wajah Jini yang dengan tenang terlelap dipelukan Will. Aku menyalakan beberapa lilin dan meninggalkan rumah Jini dan kembali kerumah.
Yusi belum tidur dan masih menunggu ku sambil bermain dengan Laurent yang sedang minum asi.
Yusi : kamu sudah memberi lilin nya sayang ?
__ADS_1
Clark : sudah sayang (senyum).
Yusi : ada apa?
Clark : aku sedang bahagia sayang
Yusi : bahagia? apa ada hal yang istimewa
Clark : Will dirumah Jini
Yusi : hanya karena itu saja kamu bahagia sayang?
Clark : tidak..
Yusi : lalu ?
Clark : Will dan Jini tidur berpelukan, Hans jhga ada disana. Aku merasa sedang melihat keluarga kecil yang bahagia
Yusi : apa ??
Clark : apa kamu keberatan sayang?
Yusi : tidak sayang, aku tau Will peduli pada Jini tapi aku tidak menduga dia bergerak secepat itu
Kami berdua hanya tertawa dan mengharapkan mereka berdua akan saling jujur dan bahagia.
*Jenny
Aku terbangun dari tidur ku membuka kedua kelopak mata ku yang masih terasa perih, tangan Will melingkar dipinggang ku. Wajah nya sangat tampan, aku bahkan tak pernah menyadari kalau Will punya wajah setampan ini. Selama ini aku hanya melihat dia sebagai seorang yang tidak mau tau dan ber sifat dingin. Kemarin malam dia sudah bersedia menjaga ku dan Hans, aku hany mengelus wajah nya dan mencium kening nya sekilas sebagai ungkapan terimakasih ku. Aku membuka selimut dan beranjak pelan agar Will tidak terbangun namun saat aku hendak pergi,Will menarik tangan ku sampai aku terjatuh menindih nya.
deg..deg...
Cup...Bibir kami menyatu dan aku melepas nya secepat mungkin.
Willson : apa kecupan kening itu bisa dikatakan morning kiss?
Jenny : jadi kau sudah bangun sejak tadi ? dasar mesum!
Willson : (mengeratkan pelukan)
krekk.. Pintu terbuka dan Hans masuk kedalam rumah dan menatap kami.
Hans : Mama, paman ayo makan
Jenny : makan ?
Hans : iya aku memesan nya dari ponsel paman, Hans tidak mau mengganggu tidur kalian.
Kami berdua berjalan sedangkan Hans sudah duduk menunggj aku menyiapkan makanan, Will hanya nenatap ku sekilas dengan tatapan tajam. Aku tidak tau apa maksud dari tatapan nya itu, tapi aku merasa dia sedang marah karena aku mengecup kening nya pagi ini.
Kami menyantap makanan kami dengan tenang dan Hans memecah keheningan.
Hans : paman bisa tidak tinggal disini ?
Willson : disini ?
Hans : iya , aku suka lihat paman bisa meluk Mama
Jenny : apa?? jangan mengada ngada Hans
Hans : baik lah
Sepanjang hari aku hanya memikirkan kejadian pagi tadi, pikiran ku terganggu karena tingkah Will. Bangun tidur dia masih memeluk ku dan bahkan berani mencium ku, tetapi saat dia pulang dia kembali ke sifat asli nya. Cuek dan dingin itu lah gambaran asli dari Will, tak sepatah kata pun dia ucap kan pada ku.
Ahk... Laki laki dingin itu.
Aku memeriksa pembukuan hasil penjualan bulan ini,cukup memuaskan jadi aku bisa menabung lebih banyak untuk masa depan Hans. Sore hari toko sudah tutup aku memutuskan untuk pergi kerumah Kakak pasti Hans sudah berada disana, benar saja Hans sedang bermain dengan Lauren aku menemui Kak Yusi yang sedang duduk di sofa.
Yusi : Jini kamu sudah datang?
Jenny: apa kabar mu kak
Yusi : baik. Bagaimana dengan Will?
Jenny : Will ??
Pertanyaan kakak mengejutkan ku, bagaimana dia bisa bertanya tentang Will pada ku sedangkan Will adalah adik nya sendiri, saat aku meminta kejelasan kakak malah mengalihkan pembicaraan. Meski aku memaksa, kakak hanya menggeleng dan melanjutkan cerita yang lain.
^Dalam hati Jenny
mengapa harus Will yang ditanyakan? apa kakak sudah tau kejadian malam itu?
__ADS_1