My Teacher My Dear

My Teacher My Dear
Eps 40. Berita besar


__ADS_3



* Mike



Hari sudah semakin sore dan kami harus menunggu di apartemen Hans untuk sementara ini, Clark juga ikut bergabung sementara Marie dan Laurent di awasi oleh Alex.



Aku sama sekali tidak menduga bahwa kejadian belasan tahun lalu akan sangat mempengaruhi kehidupan keluarga ku, dulu aku berusaha keras melindungi keluarga ku saat Barak bekerja sama dengan Andreas untuk menyakiti keluarga besar Franklin termasuk isteri ku.



Ini akan menjadi kisah yang terakhir kali nya untuk keluarga ku, Andreas akan menerima hukuman karena telah membantai keluarga besar ku.


Polisi sudah melacak keberadaan Andreas bersembunyi, kami bergerak cepat menyusun rencana sebelum melakukan hal di luar kendali.



Berita kematian keluarga besar Leonard dan Franklin telah tersebar di seluruh negeri, masyarakat luas juga sangat terkejut dengan berita hari ini. Aku menatap isteri ku Jenny yang masih terpaku dengan tontonan acara berita dalam saluran tv, aku segera bangkit dan mengajak Hans berbicara jauh dari Jenny.



Hans : ada apa Papi ?


Mike : perintah kan Alex agar membawa Bibi serta Laurent kesini, karena Papi sangat yakin mereka bisa menjaga diri disana.


Hans : ada Alex di sana, mereka akan baik baik saja. Sekarang kita harus mencari sekutu lain untuk membantu kita. Karena paman Clark saja tidak cukup untuk menjadi teman kita, aku merasa Andreas pasti memiliki banyak anggota Mafia.


Mike : Mafia ? sekarang aku ingat, aku juga pernah menjadi ketua geng Mafia. Tetapi aku menyerahkan nya pada paman Rey.


Hans : Papi, mungkin kah paman Rey masih menjadi ketua geng itu ? ( penasaran )



Kami berdua terdiam sejenak sampai tiba tiba Rey dan Shelle datang dalam keadaan panik, aku dan Hans menhampiri mereka.



Mike : Rey ! akhir nya kamu datang. aku ingin menanyakan sesuatu.


Rey : Mike ! aku tau apa yang ingin kamu tanyakan, aku sudah mengerahkan mereka semua untuk bergabung dengan kita. Dimana puteri ku Helen ?


Hans : dia sedang istirahat di kamar ku paman (menunjuk kamar )


Shella : syukurlah, kami bergegas berangkat karena takut terjadi apa apa dengan kalian semuaa ( bernafas lega )


Rey : Clark tidak ikut bergabung ?


Hans : paman sedang menjemput bibi dan Laurent..



Tak lama kemudian Clark datang dan bergabung bersama kami, sementara Marie dan Laurent masuk kedalam kamar menemui Jenny dan Shella.





* Helena



Aku terbangun dari tidur ku dan mendapati diri ku di suatu kamar yang tidak ku kenal, aku bangkit dari tempat tidur dan keluar ruangan. Aku melihat paman dan Hans sedang sibuk berbicara dengan Ayah dan paman Clark. Kaki ku berjalan menghampiri mereka dan langsung memeluk Ayah dari arah belakang.



Helena : Ayah ! aku merindukan ayah.


Rey : Ayah juga, kamu baik baik saja kan ?


Helena : tidak Ayah, Hans menjaga ku dengan baik.


Rey : Helen, kamu harus berjaga diri di rumah bersama Ibu dan bibi. Kami ada urusan di luar bersama paman Mike.




Aku yakin mereka akan menangani masalah pembunuhan semalam, tetapi aku merasa sangat takut tetapi tidak bisa berbuat apapun.


Hans dan Paman menatap ku sejak tadi,



Mike : Helen, kamu tidak perlu takut nak.


Helena : paman, bisakah ayah ku tidak ikut ? ( memohon )


Hans : apa kamu sudah gila ? paman sniper terbaik, apa kamu tidak ingin paman membantu kami ? ( geram )



Mendengar perkataan Hans aku merasa sangat marah dan kembali memaki nya, aku sampai lupa bahwa Ayah juga berada di sana.



Helena : hei pria bermuka datar ! kenapa kamu harus marah ? aku hanya bertanya, kalau Ayah pergi aku juga harus ikut !.


Hans : kamu... ergghh (mengepalkan tangan)


Rey : sudah sudah... Helen, Ayah akan baik baik saja. kamu harus tetap berada di rumah.



Ibu segera datang dan mengajak ku meninggalkan Ayah dan menemui bibi Marie dan kakak Laurent.




* Hans



Setelah cukup mengatur rencana dan persiapan akhir nya kami berangkat ke tempat persembunyian Andreas, aku ingin melihat sosok iblis yang membunuh anggota keluarga ku.



Meskipun aku bersikap datar dan seolah baik baik saja, aku tidak ingin membuat Papi meragukan ku dan meminta ku menunggu di rumah. Tidak seharus nya Papi ikut dalam misi ini, terapi dia bersama kedua sahabat nya memaksa dan tetap ingin bersama ku menghadapi Andreas.



Kami telah sampai di sebuah lorong gedung tua yang menjadi markas pembunuh tersebut, 5 orang pria keluar dari gedung dan menemui kami saat Papi berteriak memanggil nama Andreas. Paman berbisik kepada ku nama pria yang kini berada di hadapan kami,



Andreas : ha... ha... akhir nya kamu datang juga Mike.. Sudah lama aku menunggu mu. Bagaimana dengan hadiah dari ku ? tidak kah kau menyukai nya.


Mike : cih... kamu sudah kalah dua kali. Aku tidak akan melepas mu kali ini..



Aku menatap tajam pada sosok pria yang sangat tidak asing bagiku, pria itu bernama Willson.



Clark : jadi kalian pelaku nya...


Willson : hey.. mantan kakak ipar, tidak kah kamu merasa aku akan membunuh mu juga dan mengambil keponakan ku Laurent ?

__ADS_1


Hans : Shitt.. ! sampai kamu menyakiti adik ku, kamu tak akan ku ampuni (mengepalkan tangan)


Willson : wah, anak ingusan yang dulu sudah berubah sekarang, apa kabar mu Hans ?


Hans : kamu tidak punya hak bertanya padaku, sebaik nya kamu berdoa untuk kematian mu. Karena tangan ku sendiri yang akan membunuh mu !



Tak lama kemudian Andreas menyerang Papi, dengan sigap aku menarik pelatuk pistol ditanganku mengarahkan tepat di kepala Andreas..



duarrr ..


Sekali tembakan satu musuh telah lumpuh, pertempuran pun di mulai dan semua orang saling menembak dan menghantam satu sama lain.


Anggota geng mafia mulai membaku hantam dengan anggota Andreas.



duar.... duarrr....



Beberapa tembakan terdengar di tempat kericuhan, semua musuh telah lumpuh dan sekarang yang tertinggal hanya Willson.



Willson menodongkan sebuah pistol tepat di kepala ku, Papi dan paman terpaku dan menjauh menuruti perintah Willson.



Aku bisa saja melawan tetapi aku harus memastikan kalau keluarga ku menjauh dari ku dan Willson, setelah cukup jauh aku dengan cepat menarik tangan Willson dan merampas pistol nya.



Willson : kam...



duuarr.. duarr...



Willson ambruk jatuh tepat di hadapan ku, pistol yang sejak tadi di pegangan ku akhir nya lepas dari genggaman ku.



Papi menghampiri ku dan mengajak ku meninggalkan tempat itu, bau amis darah kini menyengat dimana mana. Goresan luka yang sejak tadi terabaikan oleh ku kini mulai terasa sakit, aku tidak ingin di bawa ke rumah sakit dan meminta agar segera pulang.


Para penjaga telah mengaman kan gedung tersebut agar membersihkan mayat pembunuh tersebut.



Mami telah menunggu kami di apartemen, dia meringis luka di tubuh ku dan segera mengambil obat dan menutup luka agar tidak ter infeksi.


Ada banyak mata yang melihat ku, aku kembali menatap mereka.



Mike : Hans ! dari mana kamu belajar menggunakan senjata ?


Rey : iya, tadi nya aku juga ingin bertanya hal itu. aku merasa tersaingi sekarang...


Clark : apa kamu mengikuti geng mafia juga ?


Hans : sudahlah, jangan mengintrogasi ku seperti itu. aku tidak akan membuat kalian dalam masalah..



Mendengar jawaban ku akhirnya mereka terdiam dan membersihkan diri dari bercak bercak darah di tubuh masing masing.


Helena menatap ku dengan tangan bergetar, setelah menyadari itu aku melirik nya dan melempar senyuman sinis pada nya.




Dasar gadis bodoh ! Dia bahkan tidur di ranjang ku sekarang..



Aku menutup pintu dan Helen melihat ku tiba tiba bangkit dari tidur nya,



Helena : apa yang kamu lakukan ?


Hans : bodoh !!


kamu menggoda ku ? ini kamar ku.


Helena : (panik) ah maaf, aku akan keluar..


Hans : sudah terlambat, kamu tidak bisa keluar. Bantu aku berganti pakaian (berjalan mendekat )


Helena : (mundur ) ti...tidak aku akan berteriak..



Aku melewati nya dan mengambil baju dari lemari, Helen masih terpaku di sudut kamar. Tingkah ceroboh nya ini lah yang membuat ku merasa kesal dengan nya setiap hari, bagaimana dia bisa masuk ke dalam kamar pria dengan mudah nya.



Hans : keluar lah, aku tidak tertarik dengan dada kecil mu itu !


Helena : hey.. paman Mesum ! bicaralah dengan sopan atau akan memberitahukan pada Ayah ku. (mengancam)


Hans : katakan lah kalau kamu tidak merasa malu.



Helen terdiam sampai akhir nya memilih berjalan pelan keluar dari kamar ku, wajah nya memerah dengan bibir bawah nya masih digigit oleh nya sendiri..



Aku menarik tubuh nya dan mencium nya dengan tiba tiba,


cuupp...


Kaki nya dengan sigap menginjak kaki ku sampai aku melepas ciuman ku, secepat kilat dia berlari meninggalkan kamar ku.



Ahkk... !


Gadis itu sangat lucu sampai aku tidak bisa menahan diri ku.



Ini kali ketiga aku mencium nya, itu lah alasan dia memanggil ku paman mesum. Usia kami memang terpaut jauh, Helen lebih cocok menjadi adik Jia.




* Helena



oh God !


Paman mesum itu mencium ku lagi !


__ADS_1


Bruakk...



Semua orang terkejut melihat ku keluar dan menutup pintu dengan keras sampai terdengar suara hantaman, aku berjalan menghampiri Ayah dan Ibu dan mengajak mereka pulang.



Rey : sayang, kami akan langsung berangkat hari ini. kami hanya memastikan keadaan mu baik baik saja.


Helena : baiklah Ayah, Helen pulang dulu.


Shella : ah tidak, kamu harus tinggal bersama bibi Jenny untuk sementara waktu. Tidak baik tinggal seorang diri.


Jenny : Shel, kami sudah tinggal di desa belakangan ini. Tidak kah terlalu jauh dari desa ke kantor ?


Helena : tidak apa bu, Helen tidak masalah tinggal disana. Sudah beberapa bulan Helen tinggal sendiri..



Tak lama kemudian Hans ikut bergabung dengan kami, dan duduk di sebelah Ayah.



Hans : dimana paman Clark ?


Mike : Alex mengantar mereka pulang.


Hans : oh begitu.. (mengangguk)


Mike : begini saja, biarkan Helen tinggal bersama dengan Hans. Dia kan aman bersama dengan Hans.



deg...


Bagaimana paman bisa berpendapat seperti itu, dunia akan kiamat jika kami tinggal bersama. Aku melirik Hans dan langsung menggeleng



Jenny : iya ! benar sekali. dengan begitu kalian tidak perlu takut dengan keadaan Helen.


Shella : tidak masalah selagi Hans mau.


Mike : kamu tidak keberatan kan Hans ? anggap dia sebagai adik mu..


Hans : iya. tentu saja !



Bagaimana ini, itu tidak mungkin terjadi. Dia akan menyiksa ku sepanjang waktu.



Helena : tidak, aku akan tinggal bersama dengan Jia.


Hans : Jia tinggal di asrama sekolah dan dia sudah di awasi oleh beberapa orang agar dia tidak mengalami masalah.


Rey : tidak apa nak, kami akan tenang jika kamu baik baik saja.



Aku tidak bisa membantah lagi perkataan Ayah, kini aku mengetahui mengapa keluarga tidak mempedulikan Jia. Ternyata keadaan nya baik baik saja karena di awasi oleh beberapa orang.



Untuk malam ini Ayah dan Ibu akan menginap di apartemen sebelum beragkat besok pagi kembali ke Manila. Aku memilih tidur bersama Ibu dan tertidur lelap.



Sebuah tangan kasar berusaha membangunkan ku, aku membuka kelopak mata ku yang masih terasa berat.



Hans : bangun lah !


Helena : baik lah.. dimana Ayah dan Ibu ku ?


Hans : mereka sudah pulang, sebaik nya kamu mandi karena kita akan mengunjungi makan kakek bersama Mami.



Aku bersiap siap dan akhir nya keluar kamar dan menemui paman dan bibi yang sudah menunggu ku sejak tadi, Hans melempar bungkusan kepada ku dan mengganti pakaian ku.





Setelah perjalanan jauh akhir nya kami telah sampai di sebuah tempat pemakaman umum, kami hanya menabur bunga di pemakaman kakek Bram dan keluarga lain nya. Hans terlihat menahan amarah nya sendiri, dan tetap bersikap tegap.


Bibi hanya menangis di pelukan paman karena tidak bisa melihat orangtua nya saat pemakaman.



Tak lama kemudian akhir nya paman dan bibi pulang meninggalkan kami berdua, setelah kepergian mereka kami pun menyusul pulang. Sepanjang perjalanan Hans hanya terdiam dan menatap lurus ke arah jalan.



Hans terbaring di sofa ruang tamu apartemen nya, aku membawakan minum agar dia bisa sedikit lebih tenang. Mata nya berkaca kaca menahan air mata, aku duduk di sebelah nya dan memegang tangan nya.



Dia memeluk tubuh ku, air mata nya mulai terjatuh mengenai tangan ku. Aku sangat terkejut melihat Hans



Helena : ada apa Hans ?


Hans : Helen, aku gagal ! aku gagal menjaga keluarga ku (menitikkan air mata)


Helena : sudah, kamu tidak salah.. istirahat lah (menepuk pundak)



Aku baru mengetahui bahwa seorang Hans juga bisa se rapuh ini, aku selalu beranggapan bahwa dia memiliki ke pribadian yang keras.


Ternyata di balik keras nya sosok Hans, dia juga bisa menjadi lemah. Dia menanggung beban ini berhari hari dan tetap terlihat kuat di depan keluarga nya, aku yakin dia tidak ingin membuat keluarga nya kecewa dan merasa iba kepada nya.



Kami masih berpelukan, sangat lama sampai Hans tertidur di pelukan ku.


Aku meninggalkan nya dan mencari makanan yang bisa mengisi perut kami berdua, karena tidak menemukan apapun aku memilih memesan makanan cepat saji.



Aku membangun kan Hans untuk makan siang, sejak semalam kami belum mengkonsumsi apapun untuk mengisi perut.



Hans : Helen, terimakasih sudah menemaniku.


Helena : makan lah dan aku akan mengganti perban luka mu.


Hans : baiklah..



Untuk hari ini kami melupakan pertengkaran dan berdamai, karena bagaimana pun untuk selanjut nya kami akan tinggal bersama selama Ayah dan Ibu di Manila.



__ADS_1



__ADS_2