My Teacher My Dear

My Teacher My Dear
Eps 21. Salahkah Takdir ?


__ADS_3


Author



Tidak ada seorang pun yang mengetahui keberadaan Jenny sejak hari dimana dia meminta ijin pada Willson untuk menghadiri pameran busana. Semua orang berusaja mencari keberadaan Jenny dan Hans, jejak nya benar benar menghilang seperti 6 tahun yang lalu. Jika pertama kali menghilang Jenny dibantu oleh Clark, untuk kedua kali nya dia membuat keputusan nya sendiri dan membawa Hans pergi sejauh mungkin.





*Willson



Jini !!


Maafkan aku telah mengabaikan kesalahpahaman kita selama ini, aku memilih diam dan tidak berusaha menyenangkan mu.



Kembali lah !!!



Aku sanggup menghadapi kemarahan Mike dan keluarga Franklin yang menyalahkan ku atas menghilang nya Jini, tapi aku tidak mampu memaafkan diri ku atas apa yang telah terjadi. Sepanjang perjalanan dari Inggris menuju Jepang aku hanya memikirkan Jini dan Hans, sampai aku tidak menyadari perjalanan telah berakhir.



Kaki ku mengikuti kerumunan orang orang yang berjalan menuju pintu keluar, terlihat kakak sudah menunggu ku berharap Jini datang bersama ku. Kakak Yusi mulai mencari cari keberadaan Jini, kekecewaan terlihat di wajah nya.


Kami masuk kedalam mobil dan tidak banyak berbicara.


Clark : Will, katakan padaku apa yang terjadi ?


Willson : aku bingung kak, aku tidak tau apa apa...


Yustine : kalau tidak ada apa apa bagaimana mungkin Jini pergi begitu saja ? apa Jini sebodoh itu ?


Clark : Yusi benar. Jini itu rapuh, dan sangat sulit luluh jika sudah bersikeras. Pasti ada hal yang membuat nya marah dan pergi.


Willson : aku dan Jini sempat beradu pendapat, bahkan aku menampar nya malam itu.


Yustine : Willson ! tadi nya aku berpikir kamu berubah tapi ternyata kamu tak ada beda nya dari Mike..


Clark : tidak Yusi, Mike lebih baik Will.


Willson : apa Kak ?


Clark : iya Mike lebih baik dari mu. Mike bisa melawan semua isi dunia ini demi Jini, kesalahpahaman lah yang membuat aku harus membawa Jini kabur. Mike bahkan bisa menentang keluarga nya demi Jini, merelakan nya untuk mu karena berharap kamu akan membuat dia bahagia.


Mike bahkan mengorbankan nyawa nya untuk Jini, sedangkan kamu sanggup menampar nya dengan alasan yang tidak pasti


Willson : Jini menyebut Ibu tidak memiliki hati seketika itulah aku menampar nya.


Yustine : apa ?? bagaimana Jini bisa berbuat begitu (terkejut)


Willson : aku tidak tau kemana lagi mencari harus mencari Jini kak


Yustine : biarkan Jini, berhentilah mencari nya. Dia tidak pantas mendapat perhatian jika menghina ibu.


Clark : kita akan kerumah ibu dan menanyakan nya..



Kami pun memutar arah dan pergi ke rumah ibu, meski aku sudah menanyakan nya sebelum nya tapi aku sangat berharap jawaban ibu kali ini berbeda dari sebelum nya.




*Clark



Aku dan Yusi menjemput Will di bandara, tidak lupa kami membawa Laurent untuk berjaga jaga jika tidak bisa pulang lebih awal. Kami berbincang dan aku berusaha meminta kejujuran Will atas apa yang telah terjadi pada Jini, Yusi yang mendengar pengakuan Will sempat goyah dalam usaha mencari Jini karena merasa Ibu telah di hina oleh Jini. Mereka tidak tau apa yang terjadi sebenarnya pada Ibu dan Jini, meski aku mengetahui nya aku ingin mereka mengetahui nya dari Ibu sendiri.



Aku memutar arah perjalanan menuju rumah Ibu, satu satu nya harapan adalah mendapat pengakuan dari Ibu.


Ibu menyambut kedatangan kami dan segera menyiapkan teh pada kami.


Yustine : Ibu, apa aku boleh bertanya ?


Ibu :sejak kapan kamu meminta ijin bertanya pada Ibu?


Willson : bisakah ibu Jujur tentang apa yang terjadi antara Ibu dan Jini ?


Ibu : apa kalian curiga pada ibu kalian sendiri ?


Ayah : mengapa hanya bertanya pada Ibu mu ? tanyakan hal ini pada Jini. Pasti ibu mu tidak akan berbuat hal yang membuat Jini tersinggung. Kami menyayangi Hans seperti cucu kami sendiri.


Ibu : kami hanya berbincang biasa dan tidak ada masalah dengan itu.



Semua orang terdiam, mereka membuat pendapat sendiri pada Jini. Aku tidak sanggup mendengar percakapan mereka yang menebak karakter Jini, aku mengambil ponsel ku dan memutar video yang diambil dari cctv rumah sakit.


Clark : maafkan aku Ibu, tapi aku harus memberitahukan sesuatu pada kalian semua.




Setelah menonton video semua orang menatap Ibu tak terkecuali Willson, dia menunduk setelah menatap Ibu.


Yustine : Ibu apa ini ?

__ADS_1


Ibu : apa salah Ibu, itu kenyataan nya. Kami butuh cucu dari Willson bukan dari Mike si pengecut itu.


Willson : aku yang pengecut Ibu, aku menampar nya karena berpikir dia sedang menghina Ibu. Ternyata inilah penyebab Jini menghilang


Ibu : apa ??


Yustine : aku kecewa pada Ibu..


Clark : tunggu ! ada yang mau aku sampaikan.


Jini itu adik ku. Itulah alasan aku menyelamatkan nya dulu dari Mike. Waktu itu aku belum yakin bahwa Jini adalah adikku tapi aku berusaha menyelidiki nya. Nama Mama kami Jessika Aurora, aku lahir sebelum Mama dipaksa menikah dengan Bram Franklin dan terpaksa meninggalkan ku dengan Ayah di jepang. Sejak dulu Jini selalu tersiksa, apalagi semenjak Juni Aurora mengaku ngaku sebagai Ibu kandung nya.


Aku melakukan kesalahan karena membawa nya kembali ke Jepang dan membuat nya harus menderita untuk kesekian kali nya. Maafkan aku.



Aku membungkuk dihadapan Ayah dan Ibu, dan bergegas pergi meninggalkan mereka. Yustine membawa Laurent dan mengikuti ku dari belakang..


Clark : Yusi, kalau kamu juga menyalahkan Jini sebaiknya kamu tinggal dulu di rumah Ibu. Aku mau mencari Jini.


Yustine : aku ikut sayang.. aku merasa bersalah pada Jini



Kami pergi meninggalkan rumah Ibu dan kembali pulang, Yusi tertidur begitu juga dengan Laurent sedangkan aku masih berkonstrasi menyetir.




*Mike



Waktu terus berjalan dan keberadaan Jenny belum di temukan, Papa Bram tidak berhenti mencari Jenny dan Hans.


Pagi ini aku berangkat ke kantor dan untuk menyelesaikan masalah tender yang sudah di mulai oleh Rey saat berada di Jepang. Setelah selesai rapat dengan klien aku langsung pergi ke dalam ruangan kantor ku, aku duduk menghadap jendela kaca di dalam kantor ku.


Mata ku mulai terpejam mengingat saat saat bersama Hans dikantor, sekilas aku mencoba menebak kemana Jini dan Hans pergi


Sekilas kata kata terakhir Jenny saat berada di Jepang terngiang di telingaku, "jika suatu saat aku pergi, temui aku ditempat pertama kali kita bertemu"



Aku menghubungi Rey untuk menyiapkan helikopter pribadi untuk keberangkatan besok ke Australia ,aku harus membuat semua orang percaya bahwa kepergian ku hanya untuk mengurus masalah bisnis. Mobil melaju dengan sangat cepat menuju Mansion Franklin, ternyata Papa tidak sehat belakangan ini.


Bram : Mike, bagaimana perubahan nya ?


Mike : Aku akan menjemput nya Pa, tapi tolong rahasiakan hal ini.


Bram : maafkan kami Mike karena sebelum nya membantu Clark menyembunyikan Jenny


Mike : tidak masalah Pa, itu hanya bentuk kasih sayang dari seorang kakak. aku tidak menyalahkan nya.


Bram : kakak ? darimana kamu mengetahui nya Mike?


Mike : Clark sudah menceritakan segalanya pada ku Pa.


Erlin bahkan mengurung diri sejak mengetahui Jini dan Hans menghilang.


Mike : aku akan berusaha Pa, tapi akan butuh waktu lama.




~JEPANG



*Willson



Toko yang dikelola Jini sudah ditutup, seorang karyawan menyerahkan sebuah map berisi berkas berkas penting beserta kunci toko. Aku mulai membuka map besar tersebut, ada sebuah tabungan berisi uang dengan jumlah yang sangat besar. Ternyata Jini tidak membawa banyak uang saat pergi menjemput Hans, disana ada lagi surat kepemilikan toko yang sudah dibalik nama menjadi nama ku.


Dan yang terakhir adalah surat perceraian, aku terkejut dan segera menghubungi pihak sipil untuk memastikan berkas yang ku terima asli atau kah palsu.



Aku tidak tau kapan tepat nya aku menandatangani berkas itu,namun tanda tangan ku kuga tertera didalam surat.


Ini arti nya Jini benar benar sangat terluka dan kembali menyendiri.



^Dalam hati Willson


Apa yang telah ku perbuat pada Jini, aku telah menyakiti nya. Berkali kali kata Maaf ku ucapkan namun Maaf ku tidak merubah apapun




*Yustine



Aku merindukan Jini dan Hans, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada ku jika aku mengalami hal yang sama.


Clark sedang mencari keberadaan Jini dan Hans, kebahagiaan yang pernah ada di dalam rumah kami kini harus redup karena perilaku Ibu dan Will.



Bagaimana Ibu bisa sejahat itu pada Jini?


Tidak kah Ibu merasakan bagaimana rasa nya jadi perempuan yang tersiksa seumur hidup nya .



Will dan Jini baru menikah namun sudah berpisah lagi, sudah pasti Jini tidak sanggup menerima perlakuan Will. Sebagai wanita aku juga tidak membenarkan hal itu,wajar jika Jini pergi. Clark sudah pulang dari kantor dan langsung tertidur di kamar Laurent. Pasti sangat menyakitkan bagi Clark saat adik nya menghilang.

__ADS_1


Yustine : Clark apa kamu sudah menemukan Jini


Clark : belum


Yustine : Maafkan keluarga ku Clark karena telah menyebabkan kamu harus kehilangan Jini.


Clark : aku menyerah sayang..


Yustine : menyerah pada apa(penasaran)


Clark : aku tidak akan mencari Jini, dia sudah sangat tersiksa karena aku. Aku akan melepas nya agar dia bisa hidup sesuai keinginan nya.


Yustine : baiklah sayang, apapun keputusan mu aku akan mendukung nya.




*Jenny



ΔTakdir



"Mengapa selalu menyakiti ku ?


Tidak kah kamu lelah mempermainkan kehidupan ku? Aku lelah jika harus bergumul dengan diri ku sendiri dan menahan rasa sakit ku.


Salah kah aku jika ingin bahagia walau sesaat?



Kemana aku harus mengadu ? Teriakan keras dihati ku tidak mendapat jawaban dari siapapun tentang siapa aku.


Pundak ku bahkan tidak sekuat dulu menahan beban berat nya hidup yang selalu mampu membuat ku terguncang.



Mama !! Aku tidak mengenal mu, tapi aku merasa jika kamu ada pasti Kamu orang yang pertama memeluk ku saat aku menangis.


Bantu aku kuat dalam menghadapi semua ini Mama.


Haruskah aku menyalahkan Takdir ?"





Aku harus kembali berjuang sendiri. Hans segala nya bagi ku dan aku tidak akan pulang ke Jepang maupun Inggris. Menetap di Indonesia menjadi pilihan ku, dengan status pendidikan yang aku miliki aku pergi melamar pekerjaan.



Tempat dimana aku berasal, aku akan bekerja sebagai guru pengajar di sekolah tempat ku berasal. Beberapa Guru masih mengenali ku kecuali para guru muda yang tentu nya tidak sempat mengenali ku saat masih sekolah. Pada pagi sampai siang hari Hans harus bersekolah yang tidak jauh dari tempat ku mengajar, setelah itu aku akan menjemput nya dan menitipkan nya di rumah Ayu teman sekolah ku dulu.



Ayu belum mengetahui apa yang terjadi pada ku, aku menceritakan bahwa aku dan suami ku bercerai. Dia juga telah menikah dengan seorang karyawan swasta di Jakarta, tetapi sangat disayangkan mereka belum memiliki anak.



Seorang Guru bukanlah profesi yang ku inginkan tetapi untuk saat ini keadaan membuat aku tidak bisa bernegoisasi dengan pekerjaan ku. Hans harus sekolah dan itu butuh biaya agar bisa melanjutkan sekolah nya.



Awal nya sangat sulit, namun semakin hari aku bisa menyesuaikan diri dengan para siswa. Aku mencoba dekat dengan semua siswa yang ada di lingkungan sekolah, itu aku lakukan agar bisa menghilangkan kecanggungan antara Guru dan siswa.


Mantan Guru yang sering ku sebut Mak lampir juga masih berada di sekolah dan masih bersifat sama seperti dulu. Cerewat dan centil.



Hans terlihat bahagia semenjak tinggal di Indonesia, dia berusaha belajar bahasa Indonesia agar mendapat teman lebih banyak lagi. Dia tidak pernah mengeluh kemana pun aku membawa nya, Hans benar benar seorang anak yang sangat penurut.


Jenny : Hans, apa kamu bahagia?


Hans : iya..Hans tidak ingin kembali ke Jepang. Disana Mama selalu menangis sementara disini Mama tidak pernah melakukan nya. Bahkan Mama juga Bahagia bukan


Jenny : Cepat lah bertumbuh menjadi pria dewasa dan lindungi Mama sayang.


Hans : baik Ma, (mengangguk)



Aku dan Hans melewati hari hari dengan bahagia, tidak ada lagi tangisan atau orang yang akan memisahkan kami berdua. Ini lebih baik dari sebelum nya.


Meski terkadang aku merindukan Mike, tapi aku menepis pemikaran ku agar aku tidak harus menangis jika mengingat masa lalu.



Rutinitas sebagai Guru membuat ku segalanya, perlahan aku melupakan sakit hati ku pada semua orang yang menyakiti ku termasuk Willson dan Ibu nya. Terkadang beberapa Siswa laki laki selalu usil dan mengacau hari ku, aku tidak terganggu dengan hal itu. Bahkan aku menyukai nya karena jika ketahuan oleh ku mereka akan ku beri hukuman dengan mengelilingi lapangan, dan itu sangat menarik untuk di pertontonkan.



Sudah sangat lama aku meninggalkan tempat ini, rasa nya masih nyaman seperti dulu. Taman belakang yang dulu menjadi tempat kesukaan ku melepas penat kini di ubah menjadi taman dengan pohon pohon berukuran setinggi lebih dari 3 meter an. Setelah kelas selesai terkadang aku menyempatkan diri untuk duduk disana, hari ini pun aku melakukan hal yang sama. Aku hanya duduk menatap lurus kedepan, ditempat ini lah pertama kali nya aku dan Mike saling bertemu. Seperti sekarang, saat itu juga aku sedang berselisih dengan Mama Juni dan akhir nya Mike datang menenangkan ku. Sejak saat itu lah kisah kami berubah, cobaan datang silih berganti dan merusak kepercayaan ku pada Mike.



Sepasang mata sedang memperhatikan ku yang tengah sibuk dengan ingatan masa lalu, aku tidak menghirau kan nya karena sudah pasti itu Guru olahraga yang separuh baya yang terus mengganggu hari ku.


Orang tersebut



Orang tersebut mulai datang menghampiri ku, dan menepuk pundak ku. Tepukan itu sangat Familiar dan aku menoleh, alangkah terkejut nya aku saat melihat Mike duduk bersama ku.



Mike !!!

__ADS_1



__ADS_2