
“Elen... apakah kau tidak menyadari sedari tadi kita berlari di tempat yang sama?”
“Eh....”
Ryan pun seketika itu menepak jidatnya sendiri.
“Jangan-jangan kau sama sekali tidak menyadarinya?”
Elen menunjukkan senyum penuh ketidakbersalahan dengan mudahnya. Namun, Ryan hanya bisa menghela dengan pasrah.
“Hehehehe... maaf, maaf”
“Lupakan... pertama-tama coba lihat itu!"
Ryan pun menunjukkan kastel di atas tebing dengan ujung jari telunjuknya.
“Apakah kau melihatnya?”
“Yup... aku bisa melihatnya, lalu?”
“Demi martabak keju!” jerit Ryan.
“Apakah itu makanan? Kalau iya aku ingin mencicipinya.”
Tangan kanan Ryan terangkat setengahnya. Jari tengah tertahan oleh jempol, ia seperti roket yang akan segera lepas landas. Ketika jempol di longgarkan dan sebuah sentilan keras berhasil menyentak jidat Elen dengan telak.
“Ughuuuu....”
Elen hampir terjungkal dan untungnya ia berhasil mempertahankan keseimbangannya.
“Fiuhhh... akhirnya aku berhasil menyentil seseorang lagi setelah sekian lama. Dengar! Kastel itu masih tetap sama, seberapa jauh pun kita berlari, kastel itu terlihat semakin jauh, apa kau mengeti?”
Sambil mengelus-ngelus jidatnya yang merasakan bagaimana sakitnya terkena sentilan Ryan, Elen pun mengangguk pelan.
“Bagus, kalau begitu ...!”
Walau sesaat Ryan dapat merasakan sesuatu yang mengawasinya dari jarak jauh. Namun—
“Di sana!”
Ryan pun langsung berbalik, menyentak tanah dengan kekuatan kaki kanannya lalu menghilang menjadi bayangan gelap karena keahlian Shadow Dash miliknya.
Ia menerjang sebuah pilar batu yang sedari tadi tampak bergemuruh. Ketika ia berada di atasnya, Ryan pun bersalto dan melesatkan tebasan berputar menggunakan belati.
Saat Pilar itu terbelah menjadi dua dan menghilang tertelan data-data. Jarak mereka—Ryan dan Elen menjadi semakin dekat dengan kastel. Suara geraman terdengar setelah pilar itu di kalahkan oleh serangan cepat milik Ryan.
Lalu beberapa saat kemudian Ryan telah kembali ke samping Elen.
“Kau mengerti sekarang?”
Di kedua mata bulat yang sedang berbinar-binarnya itu, Elen mengangguk penuh arti.
“ Whoaaa~ kak, tadi itu keren."
Namun, Ryan hanya dapat menghela panjang, kemudian mereka kembali pergi menuju tujuan mereka yang berada di atas tebing.
Saat mereka sampai di sana, mereka kebingungan. Bagaimana cara agar mereka dapat pergi ke atas sana. Namun, mereka tiba-tiba saja bertemu dengan Player yang lain.
“Yo~ apakah kau berencana mengalahkan Boss di lantai pertama ini, bung?”
Boss? lantai pertama? bukannya ini sebuah Dungeon, ya? pikir Ryan terkejut.
“M-maksudmu Boss?”
“Ya, ini adalah Boss lantai pertama, jangan-jangan kau tidak mengetahuinya?”
Player di hadapannya itu adalah seorang Knight. Ia memiliki Armor perak terpasang di tubuhnya. Rambutnya hitam acak-acakan. Terlebih lagi sebuah perisai dengan lambang persegi di tengah-tengahnya.
Sebuah pedang berukuran sedang ia genggam dengan menggunakan tangan kanannya. Di sebelahnya terdapat beberapa Player lagi.
Mereka tampaknya satu Party. Apakah Ryan dan Elen telah membentuk sebuah Party?
Dengan kakunya, kepala Ryan berputar dan menengok Elen yang sedang kegirangan karena melihat kastel raksasa berdiri tepat di atas tebing di depannya.
“E-Elen ... jangan-jangan kau ikut bersamaku adalah... “
“Hehehehe~ yup... karena kita akan mengalahkan Boss lantai pertama~”
Dengan nada girangnya itu, wajahnya bersemi bagai pohon yang sedang mekar.
“Tetapi, kita belum membuat sebuah Party”
“Tentu... aku kan hanya ikut saja, sehingga kita belum tergabung di dalam satu Party, hihihihi~”
Wajah Ryan mulai menggeram. Kenapa ia tidak diberitahu sebelumnya. Terlebih lagi Wendy hanya mengatakan bahwa Dungeon kali ini adalah Dungeon tanpa penjelasan yang lebih rinci. Jangan-jangan ia lupa memberikan nada kutip dalam pengucapannya.
“Tch... Wendy!!!” geram Ryan.
Elen hanya menatap wajah Ryan yang tengah memerah, tapi bukan memerah karena malu ataupun senang. Namun, merah karena marah, lalu tiba-tiba saja sebuah tempat penyimpanan air muncul di atas kepala Ryan.
Tempat itu turun perlahan-lahan dan mengguyur kepala Ryan dengan airnya. Sehingga kini Ryan kembali tenang seperti sedia kala.
“Akhirnya~ Kak Ryan tenang juga~”
“Elen... ”
“Hmm?”
Sebuah sentilan kembali melayang dan mendarat di jidat Elen dengan sempurna. Membuatnya bertambah merah dari yang sebelumnya. Anehnya lagi bar HP milik Elen tidak berkurang sama sekali.
Di saat itu lah Ryan senang sekali, karena sentilannya akan terus berlanjut jika saja Elen membuatnya kesal kembali. Tepat ketika Elen mengelus kembali jidatnya yang sakit sambil mengerang, saat ia mendongakkan kepalanya untuk melihat Ryan.
Ia jadi merinding dan sebuah suara lepas seperti Hii keluar begitu saja, pasalnya wajah Ryan kini sedang tersenyum iblis.
__ADS_1
“Lalu apakah kalian juga ingin mengalahkan Boss lantai pertama ini?” tanya Ryan.
Knight beramor perak itu pun mengangguk.
“Ya... kami di sini untuk mengalahkannya. Ah! Perkenalkan aku adalah Andre.”
Orang Indonesia!? pikir Ryan terkejut.
“Ketiga temanku ini juga ikut dalam penyerangan Boss, ini adalah Rokh....”
Rokh, seorang Lancer yang memegang tombak panjang. Rambutnya merah dan ia memiliki ras Sprigan. Sepasang sayap transparan mencuat dari punggungnya gagahnya.
Matanya pun merah pucat sedang kan wajahnya terkesan orang yang baik walau pun sesungguhnya Ryan tidak mengetahuinya sama sekali. Ia memiliki armor yang cukup simpel dibandingkan dengan para Player yang kutemui sebelumnya.
Hanya sebuah Hakama dengan satu lengan yang tidak ada. Warna Hakama itu pun hitam keputihan. Dengan bagian pinggangnya yang terlilit oleh Obi merah.
“Lalu selanjutnya adalah Sera.”
Seorang Archer dengan ras Elf. Memiliki rambut berwarna hijau muda yang dibiarkan terurai, kedua daun telinganya pun panjang. Matanya memiliki warna yang indah, yaitu kuning cerah.
Paras tubuhnya cukup ideal, wajahnya terbilang cantik. Armor yang di pakainya seperti gaun tempur berwarna putih namun tidak transparan. Roknya terbelah hingga tak membatasinya ketika bergerak.
Sebuah busur panjang menempel di punggungnya yang putih.
“Dan terakhir adalah....”
Ryan memiliki perasaan buruk tentang ini, karena anggota terakhir yang di kenal kan oleh Andre adalah seseorang yang ia kenal dan cukup menjengkelkan.
“... Elesis, dia adalah anggota terakhir kami.”
Setelah memperkenal kan seluruh anggota Partynya, Andre pun menjabat tangan Ryan dengan semangat.
“Lalu denganmu?”
“Ahh ... he-hehe, maaf. Kau bisa memanggilku—“
“Ryan! Hehehe,” potong Elen secepat kilat.
Tiba-tiba saja anggota Party Andre langsung saling berbisik-bisik. Ryan yang merasakannya sedikit terusik, di dalam pikirannya sekarang sedang bertanya-tanya apa yang mereka bisikan dan gumam kan.
Padahal tidak ada yang aneh dengannya sama sekali. Namun, Ryan bukannya terganggu karena itu, ia lebih terganggu ketika Elen memotong perkataannya.
“Ya! Aku Ryan dan ini Elen!”
Dengan tangan kebesarannya itu, Ryan mencengkeram kepala mungil Elen dengan tangan kanannya. Elen pun berusaha menggertak tetapi usahanya itu sia-sia ketika melihat raut wajah Ryan yang menyeram kan.
“Ampuni hambaa~”
Namun, untuk yang kesekian kalinya Ryan hanya bisa menghela .
Pada akhirnya Ryan pun melepaskan cengkeraman itu. Ia cukup terkejut ketika melihat Andre dan anggota Party yang lainnya tertawa kecil saat melihat dirinya dengan Elen begitu sangat akrab sekali.
“Apakah ada yang salah?”
“Terkenal?”
Andre mengangguk pelan.
“Tujuh Player terkenal... dan Elen yang tadi sempat kau cengkeram itu adalah salah satunya. Julukannya adalah The Fallen Noble.”
Ryan bersiul takjub kemudian ia pun menengok Elen yang masih memegangi kepalanya karena sakit akibat cengkeraman tangan Ryan.
“Benarkah itu, Elen?”
“Unn... huuuu, Kak Ryan kau jahat!”
Dua buah tatapan dingin pun kembali dilihat oleh Elen. Tatapan yang diberikan oleh Ryan terkesan dingin dan angkuh.
“Aku tak pernah berkata bahwa aku baik,” ucapnya datar.
“Ughuu....”
Perkataan Elen berhasil di kunci oleh tajamnya perkataan Ryan.
“Huhhh... lalu bagaimana kita akan mendaki tebing curam ini?”
Andre memegang dagunya sendiri. Ia tampaknya juga sedang berpikir tentang hal itu.
Sera dan Rokh pun mereka juga tampaknya sedang berpikir. Ketika melihat Elesis, Ryan merasa ada yang aneh dengannya..
Ia tahu Elesis yang ia ketahui sebelumnya cukup menjengkelkan, tetapi di saat yang sama menyenangkan.
Berbeda dengan Elesis yang kini di tatapnya. Warna rambutnya mungkin sama, putih keperakan. Namun, gaya rambutnya tidak di kucir dua melainkan sengaja di gerai hingga menutupi telinga serta menyentuh kedua bahunya.
Pakaiannya mungkin sama, tetapi ada yang aneh darinya. Entah itu sikapnya atau Elesis sengaja tidak menyapanya.
Pikiran itu langsung sirna ketika sebuah suara besar disertai guncangan yang cukup hebat membuat mereka—Ryan, Elen, Andre, Rokh, Sera dan Elesis bergoyang.
“Apa itu!?”
Orang yang pertama kali menyadari sesuatu yang mengganjal itu adalah Sera sang Archer.
Kemudian semua perhatian tertuju pada sebuah bayangan besar. Tertutup debu-debu kecokelatan yang pekat.
Berdirilah sebuah bayangan setinggi lima meter kurang lebih.
Kehadirannya membuat Ryan dan yang lainnya memasuki mode bertempur. Senjata mereka telah di siap untuk menyerang makhluk itu.
Namun, tiba-tiba saja Elesis menghentikan mereka dengan sebuah perkataan yang sangat tenang.
“Tunggu sebentar.”
Mereka pun terhenti, tapi sayangnya anak panah yang dilepaskan oleh Sera tidak dapat berhenti.
__ADS_1
Bagai air yang telah tumpah, semua itu sudah terlanjur dan tidak bisa dihentikan begitu saja. Lesatan anak panah itu menembus sekumpulan debu bagai kabut raksasa.
Suara sentakan terdengar dan dari arah kabut itu sesuatu keluar dan mendarat di depan Sera. Ia tidak menyangka bahwa itu adalah anak panah yang baru saja ia lepaskankan karena ketidaksengajaan ketika mendengar perkataan Elesis yang berusaha untuk menghentikannya.
Setelah kabut itu memudar. Sebuah siluet besar bermata satu terlihat. Itu adalah sebuah Golem raksasa.
Entah mengapa ketegangan mereka mereda setelah Elen melangkah maju dengan kaki kecilnya. Dengan sebuah Halbert raksasa yang berada di dalam genggamannya, Andre menjadi tenang.
Sementara Ryan hanya dapat memiringkan kepalanya.
“Berhati-hati lah”
“Ryan, kau akan mengetahui kenapa dia memiliki Title sebagai Fallen Noble. Bukan hanya saja ia kuat atau gesit, tetapi—“
Perhatian Ryan pun pecah dan segera melihat Elen yang sedang menyerang Golem itu dengan brutal. Bukan hanya brutal, tetapi juga ia tidak memiliki ekspresi apa-apa di dalam setiap serangannya.
Dapat dikatakan kuat, mungkin. Dapat di katakan gesit, mungkin. Dapat di katakan tak berhati, itu bisa saja.
Karena cahaya di kedua matanya sudah dapat dikatakan tidak ada lagi, mungkin saja sudah tak tersisa.
Namun, ketika Golem itu di serang dengan kombinasi serangan ganda dan putaran. Tetap saja ia belum tumbang, bagian-bagian tubuhnya yang hancur kembali menyatu. Tingkat regenerasi yang dimilikinya sangat tinggi sekali.
Lalu di saat Ryan menengadahkan kepalanya dan melihat status parameter sang Golem. Betapa terkejutnya ia ketika melihat bar HP Golem itu tidak berkurang sama sekali.
“Elen, hentikan itu secepatnya juga!”
Teriakan Ryan itu berhasil membuat kesadaran Elen kembali seperti sedia kala. Cahaya di kedua matanya pun telah kembali. Namun, ia lengah dan terhempas jauh oleh serangan Golem.
“Aww! Kak, kenapa Kakak menghentikanku!?”
Elen yang protes sama sekali tidak ditanggapi oleh Ryan sedikit pun. Bahkan Andre, Sera, Rokh dan Elesis pun di buat bingung olehnya.
Ryan pun menunjuk Golem yang kini sedang berjalan menghampiri mereka, Elen langsung menengok ke arah yang Ryan tunjukan.
Ia tidak bisa berkata apa-apa bahkan kedua matanya pun kini melebar karena tidak percaya sama sekali.
“Sebaiknya kau berpikir baik-baik jika ingin menyerang Monster yang sama sekali tidak dapat dilukai atau memiliki status Unknown.”
Di hadapan mereka sebuah Monster yang tidak bisa dilukai itu berdiri. Sosoknya yang besar membuat Ryan, Sera, Andre, Elen, Rokh dan Elesis harus bersiaga penuh.
Dari mata merahnya sebuah sinar merah bersinar terang. Di saat itu lah Rokh memperingati mereka semua agar segera menghindar dari jarak pandang sang Golem.
Ketika matanya bersinar terang sekali, sebuah serangan cahaya merah panah keluar begitu cepat. Lintasan serangannya yang lurus, tapi memiliki daya rusak yang hebat itu hampir-hampir meledakkan tempat itu menjadi tak berbentuk.
Untungnya di saat waktu yang tepat, mereka semua menghindar dengan sempurna. Tidak ada yang mengalami luka atau pun HP yang berkurang. Semua selamat, tetapi mereka tidak percaya begitu saja dengan serangan hebat itu.
Apakah Golem itu adalah Boss lantai ini atau hanya sebuah Monster biasa yang memiliki status abnormal. Semua belum terjelaskan hanya dengan beberapa menit saja.
“Apakah ada yang terluka?”
Di balik kabut debu yang lagi-lagi muncul akibat serangan dahsyat itu, Ryan berteriak mencari Andre dan yang lainnya.
“Kami baik-baik saja, bagaimana dengan teman Partymu?”
Suara itu... pasti Rokh, pikir Ryan.
“Aku tidak tahu, Elen... bagaimana denganmu?”
Tubuh Ryan yang sedang tersungkur dengan dada menyentuh tanah kini sedang mencari keberadaan Elen.
“Sebaiknya aku segera bangkit atau—akhh... apa ini!? Berat!”
Ketika Ryan ingin mengangkat tubuhnya, ada rasa menyengat di punggung kuatnya. Saat Ryan mencoba melihat apa yang baru saja terjadi dengan punggungnya, sebuah bayangan gelap, tapi karena tertutup kabut debu cokelat ia tidak bisa melihat sosok itu karena tebalnya kabut debu.
“Ahcooo!!~”
“Ahhh... Elen apakah itu kau?”
Hanya sesaat saja Ryan mendapatkan firasat buruk dengan suara bersin itu.
“Ouu... jadi tempatku duduk adalah tubuh Kak Ryan?”
Di dalamnya hatinya yang paling terdalam, kali ini ia benar-benar ingin mencengkeram kepala Elen lebih keras.
“Aww... aww. Apa yang kau lakukan dasar Monster kecil!”
“Punggung kak Ryan~ hehehe ~ kayak naik kuda~”
Kesabaran Ryan mulai menipis.
“Hihaaaaa~”
Dan akhirnya habis, Ryan bangkit dan menjatuhkan Elen yang berada di atas punggungnya tadi. Suara sentakan kecil terdengar bersamaan dengan suara “Ouchh” yang sedikit nyaring.
Ryan berbalik, menghadap Elen yang masih terduduk. Kemudian mencengkeramnya dengan kuat.
Elen memucat dan memberontak sayangnya itu semua percuma, karena di depannya kini terdapat sebuah iblis yang mengintip dari celah-celah samping kepala Ryan. Dengan matanya yang merah dan memiliki dua tanduk menjulang ke atas.
Beberapa roh terlihat di sekelilingnya. Membuat Elen berkeringat dingin di samping itu juga kini mulai tersenyum sinis.
“Dasar Monster kecil! Inilah hukumanmu karena membandingkan punggungku dengan punggung kuda!”
Elen menjerit kecil dengan histeris. Tiba-tiba saja suara Andre muncul dan menanyakan apa yang sedang terjadi pada mereka berdua.
Namun, Ryan membalasnya dengan hanya “Ok, tidak ada yang terjadi, kok” seperti itu lah.
Suara “HIIII” yang panjang melengking keras di saat itu juga. Setelah kabut debu menghilang dan membuat seluruh pandangan jelas kembali. Andre terlihat bingung karena melihat Ryan yang sedang tersenyum lega sedangkan Elen yang memegangi kepalanya lagi.
Lagi-lagi perhatian mereka teralihkan oleh Golem yang sedang mengangkat tangannya.
Ryan mendecah kecil sambil tersenyum canggung.
“Sepertinya ini tidak semudah apa yang kubayangkan.”
__ADS_1