Nameless Crown

Nameless Crown
Chapter 36 - Permainan Endymion III


__ADS_3

Fion berusaha bangkit dengan kondisi yang kritis. Bukan saja HP, tapi juga terdapat berbagai debuff yang ia dapatkan dari serangan Endymion sehingga penggunaan sihir menjadi sangat sulit.


“Ughh ... hahh ... huhh ....”


Taman kecil merupakan dunia yang dibuat untuk dapat dinikmati oleh berbagai Player. Namun, meski dikatakan sebagai dunia virtual, sensasi baik ketika mengalami kelaparan, kedinginan, kesakitan persis seperti dunia nyata.


Dengan tubuh babak belur itu Fion berusaha bangkit, bangkit, dan bangkit. Sayangnya setiap kali ia ingin berdiri, tubuhnya terasa sangat berat sehingga ia kembali mencium tanah.


Di sisi lain, Adiknya lebih parah karena setelah mendapatkan begitu banyak debuff. Ia juga digerogoti oleh DoT—Damage Over Time, yang mana setiap detik HP miliknya akan berkurang.


Damage Over Time ialah kondisi di mana seorang Player terkena serangan khusus atau spesial. Alhasil serangan tersebut memberikan efek khusus pada status Sang Player, di mana HP mereka akan terus berkurang sesuai dengan jenis serangan DoT tersebut.


“D ... oT? Tidak mungkin ... bagaimana bisa?”


Mata Fion melebar dengan pupil yang mengecil. Jantungnya berdetak cepat tak karuan setelah mengetahui kondisi Adiknya lebih serius dan kritis daripada dirinya sendiri.


Sejauh ini aku tidak melihat monster itu mengeluarkan serangan spesial, tapi ... t-t-tunggu ... jangan-jangan ..., pikir Fion tegang.


“Kha ... kha ... kha. Akhirnya ... akhirnya ... perempuan itu ... terkapar ... juga. Itulah ... akibat ... dari ... perbuatanmu ... sendiri.”


Sementara Fion berpikir dan menyambungkan setiap tali merah yang berhasil ia lihat. Endymion hanya tertawa puas dengan logat statis dan glitch-nya. Makhluk itu tidak peduli terhadap kedua bersaudara tersebut karena apa yang ia pedulikan saat itu adalah kesenangannya sendiri.


Sebuah permainan sederhana dan apik. Untuk sekelas Player unik seperti mereka hingga tidak menyadari skema dari Sang Master, Endymion sendiri puas dengan hasil akhir yang ia dapatkan.


Melihat keduanya dengan mata mengejek, ia pun tertawa berulang kali. Nada yang sama, statis serta glitch tak berujung, dan sebuah ekspresi tercela keluar memandang kedua bersaudara tersebut dalam kesenangan tiada tara.


“Lemahnya ... kalian ... sama ... seperti ... semut.”


Kepala Endymion memiring lalu mulutnya merekah lebar, menampakkan lubang hitam tak berujung. Tidak lama setelah itu sebuah suara berfrekuensi tinggi terdengar mendengung.


[Peringatan! Peringatan! Peringatan!]


[Sub-kategori Boss akan segera membangkitkan para pengerat]


Dengan kemunculan informasi tersebut pada papan panel. Fion pun memukul tanah untuk melampiaskan kekesalan serta rasa ketidakberdayaan yang ia rasakan saat itu juga.


Melihat peringatan seperti itu, ia sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa, tidak dengan kondisinya yang babak belur. Selain itu ia juga masih memperhatikan kondisi Fiona yang tidak sadarkan diri.


“Kha ... kha ... kha ... kha!”


Gumpalan tanah berserakan, bergerak pelan, terangkat ke atas berkumpul menjadi satu. Begitu suara berfrekuensi tinggi itu lenyap, gumpalan tanah itu pecah, melahirkan sebuah golem berwajah terdistorsi.


Tidak seperti monster humanoid sebelumnya, kali ini goleh-golem yang terlahir dari gumpalan tanah itu terlihat lebih kuat. Memiliki perawakan besar dengan tinggi kurang lebih tiga meter, mereka semua serentak menginjak tanah kuat.


Perpaduan bunyi hentakkan dan suara abstrak menyatu. Semua monster itu pun langsung mengalihkan perhatiannya kepada Fion dan Fiona.

__ADS_1


Bertubuh besar, terbuat dari kumpulan tanah serta mineral. Bentuk wajah mereka hampir persis seperti Endymion, hanya saja baik mata, dan mulut monster itu terus berpindah-pindah seolah-olah jarum jam yang sedang bergerak.


[Banished Golem Lv.35]


Setelah perhatian mereka benar-benar tertuju pada kedua bersaudara tersebut. Indikator yang awalnya berwarna abu tiba-tiba saja berubah menjadi merah legam.


Setiap indikator memiliki artinya tersendiri dan mereka yang memiliki indikator berwarna merah, ungu, dan hitam biasanya memiliki sifat agresif yang tamak. Musuh dari semua Player dan bencana bagi mereka yang akan menghadapinya.


Terlepas dari seberapa gelap warna indikator yang muncul. Semakin gelap warna dari indikator tertentu, maka semakin ganas pula monster tersebut.


Dari banyaknya gumpalan tanah yang menyatu lalu melahirkan golem, hanya ada enam golem yang benar-benar stabil, dan hidup.


“Lumpuhkan mereka!”


Namun, begitu mereka semua berusaha menerjang Fion, dan Fiona. Tiba-tiba saja dua anak panah muncul dan meledak, mengikat semua golem itu dengan akar tanaman.


Dan dari kegelapan itu juga muncul empat orang Player yang berlari dengan terburu-buru. Mereka adalah Elen, Rokh, Andre, dan Sera. Sebuah Party dengan satu anggota sementara, di mana anggota sementara itu adalah seorang Player unik.


“Aku hanya bisa bertahan selama dua menit, jadi cepatlah!” ucap Sera lantang.


Andre dan Rokh pun mengangguk mantap lalu pergi ke arah dua bersaudara yang tertimbun tanah. Sedangkan Elen berjaga di sekitar mereka jika saja Endymion, ia bisa menahan monster tersebut dengan kekuatan Halbert miliknya.


“L-Level yang mengerikan ... pantas saja mereka tidak bisa melawannya. Bermain dengan monster berlevel tiga digit memang bukan candaan biasa,” ucap Elen sembari mengeratkan pegangannya pada Halbert.


Enam golem berlevel 35, sementara itu Party Andre hanya memiliki level kurang dari 30, terkecuali Elen yang kini menginjak level 60. Dibandingkan Fion dan Fiona, Elen memiliki sebuah kemampuan khusus atau disebut juga sebagai perk—Super Growth.


Dengan kemampuan khususnya itu ia bisa naik level lebih cepat dibandingkan dengan Player-player lainnya. Jika Fion dan Fiona baru menginjak level 40, maka Elen sendiri sudah jauh di atas mereka.


Bahkan dengan kemampuannya ini, Ryan—Ash sampai dibuat terkejut olehnya. Mengesampingkan level dan kemampuan khusus, Elen sendiri tidak lalai dalam melatih penguasaan kemampuannya yang lain.


Sebagai contoh adalah [Whirlwind Bash]—“Rasakan ini!”


Begitu golem-golem itu mendekat, bukannya berhasil menjatuhkan lawan malah merekalah yang terpukul mundur sekaligus terdiam akibat efek lanjutan stun.


Terhuyung selama kurang lebih dua detik. Sera mengambil inisiasi cepat kemudian melepaskan tiga anak panah sekaligus ke langit.


Aku tahu levelku masih rendah dan percuma saja menyerang mereka dengan kondisiku saat ini. Sekarang aku hanya bisa melakukan satu hal dan itu adalah ..., pikir Sera.


“[Eagle Bind]!”


Ketiga anak panah yang telah melambung itu kini menukik cepat layaknya terjangan seekor Burung Elang. Begitu ketiganya menancap di tanah, berbagai akar rambat pun bermunculan, dan sekali lagi membuat semua golem itu tak bisa bergerak.


Tak mau melepaskan kesempatan tersebut, Elen datang dengan serangan penghabisan yang langsung melontarkan makhluk besar, tinggi itu satu-persatu.


“BAMMMM! [Boulder Impact]!”

__ADS_1


Elen menerjang, membawa bagian samping kanan bahunya ke depan. Kakinya kirinya terhenti sementara tubuhnya sedikit memiring, ketika momentum berat badan semua mengalir ke tangan kanannya, ia pun langsung melepaskan semua energi itu dalam satu tarikan napas.


Sebuah ayunan Halbert secara diagonal meledak hebat, menerbangkan semua golem besar itu dalam satu kali serangan.


“Cepat mundur, Elen. Aku sudah tidak memiliki Mana lagi,” teriak Sera.


Elen pun mengangguk pelan lalu melompat mundur. Andre dan Rokh juga sudah berhasil menyelamatkan kedua bersaudara dari timbunan tanah serta batu.


Sang Endymion yang melihat elemen tak diketahui itu terdiam seketika lalu tidak lama setelah itu wajahnya scream-nya berubah-ubah setiap detik. Terkadang senang, terkadang marah, terkadang datar ... terus dan terus seperti itu.


Tubuh besarnya yang selama ini tak bergerak kini bangkit, memperlihatkan seberapa tinggi tubuhnya dapat mencapai langit-langit tempat itu.


Namun, begitu ia ingin menyerang kelompok Andre, tiba-tiba saja langkahnya kembali terhenti.


“Gemuruh?”


Rokh yang sadar akan perubahan atmosfer segera membopong Fiona di atas pundaknya, sementara Rok mengalungkan lengan kirinya ke leher Fion kemudian mereka berjalan menjauhkan diri dari tempat tersebut.


“Berapa banyak gulungan pemulih lagi yang kita miliki, Andre?” tanya Rokh.


“Memangnya ada apa?”


“Firasatku buruk. Selain itu tempat ini jadi aneh”


“Aneh?” kepala Andre memiring.


Di depan mereka, Elen yang telah tiba pun berkata yang sama seperti Rokh.


“Tempat ini jadi aneh”


“Dengar? Elen saja merasakan hal yang sama sepertiku”


“Aku sama sekali gak ngerti apa yang kalian maksud—“


Namun, belum sempat Andre menyelesaikan perkataannya. Tiba-tiba saja Sera tiba dengan ekspresi panik dan wajah yang pucat.


“Cepat kita pergi dari sini!”


“T-t-tunggu, apa yang kamu katakan Sera? Kita baru saja menyelamatkan mereka ... setidaknya jelaskan apa yang terjadi di sini kepadaku!” tutur Andre panik.


Endymion yang tiba-tiba berhenti pun mendongak ke atas. Terdiam kaku sebelum kedua tangannya ia angkat ke atas.


“Ibu ... Ayah ... kalian ... memanggilku?”


Barulah setelah itu seluruh ruangan mulai berguncang. Dinding, tanah, langit-langit terdistorsi kemudian sebuah percikan petir putih menyambar Endymion dan membawanya pergi dari ruangan tersebut dengan sangat cepat.

__ADS_1


__ADS_2