Nameless Crown

Nameless Crown
Chapter 6 - Player Spesial


__ADS_3

Dari arah timur muncul seberkas cahaya yang menyinari seluruh tempat rumah Lesta berada. Ya, itu adalah sang penanda bahwa pagi telah di sambut oleh si bulat kuning yang bercahaya. Suara kicauan burung yang terdengar begitu riang di pagi hari, membuat Ryan yang terpulas akhirnya terbangun.


Walaupun pada awalnya ia masih berguling kesana-kemari. Hingga pada akhirnya kepalanya terbentur tembok lalu jatuh dari atas ranjang itu dengan posisi kepala yang mendarat terlebih dahulu, sedangkan pantat dan kaki terangkat ke atas.


“Ouchh... aww, hoammm~ rupanya sudah pagi.”


Ketika ia memegangi bagian kepala, sebuah rasa menyengat membuat Ryan sedikit jengkel. Karena rasa sakitnya yang benar-benar berbeda dengan rasa sakit yang lain. Di kala itu ia langsung bangkit dari posenya yang memalukan.


Mengucek-ngucek matanya lalu sesekali menguap kembali. Berjalan menuju ruang utama di mana mungkin Lesta berada. Gagang pintu di putar lalu di tarik ke dalam. Setelah itu Ryan langsung melangkah keluar dari kamar sementaranya itu.


Dan benar saja ia mendapati Lesta sedang membaca sebuah buku. Ia sedang duduk sambil menghadap jendela luar. Karena ia tidak menyadari bahwa Ryan berada di belakangnya, dengan jahil Ryan memberikan sapaan khas pemuda Bandung.


“Heee sia keur naon?!”


Ujar Ryan dengan logat Bahasa Sunda yang di tinggikan seperti memergoki seseorang yang sedang membaca buku terlarang. Buku yang hanya boleh diakses oleh [18+]. Lesta pun kaget hingga ia spontan berdiri lalu membentur bagian atas jendela terbuka itu.


Bukunya terjatuh, sekarang ia sedang memegangi kepalanya yang kesakitan karena benturan itu. Ryan hanya bisa tertawa cekikikan sendiri, Lesta pun langsung segera menengok ke arah Ryan berada. Berjalan cepat lalu mencekiknya seperti akan membunuh seseorang, walau pun ia hanya bercanda.


“A-apa yang kau lakukan, Ryan!”


Lesta menggoyang-goyangkan cekikannya dengan cukup kencang sehingga membuat Ryan sedikit sempoyongan. Setelah itu ia langsung mengambil bukunya yang terjatuh sambil memegangi luka di kepalanya itu... ‘sepertinya akan mengembang’ itulah yang kini ia pikirkan saat ini.


Namun Ryan berjalan kesana-kemari seperti dilanda pusing. Akhirnya ia bisa mengontrol dirinya kembali. Tidak lama kemudian ia tertunduk lalu merasa mual, ia pun langsung berlari ke luar rumah. Tepat di belakang rumah Lesta dapat mendengar seorang yang sedang muntah karena mabuk.


Beberapa saat setelah itu pintu depan terbuka kembali, Ryan muncul dari balik pintu itu.


“D-dimana kamar mandi?” tanyanya sambil berjalan lambat seperti Zombie.


Lesta langsung menunjukkan letak kamar mandi tersebut dengan menunjuknya dengan jari telunjuk kanan. Lalu seperti angin Ryan langsung berlari cepat menuju tempat itu berada.


Beberapa detik kemudian ia keluar dari kamar mandi itu lalu pergi menghampiri Lesta. Ia langsung menempelkan tangan kanannya ke bahu kanan Sang pembuat kue tersebut setelah berada di depannya.


“A-aku tak mengira bahkan efek seperti itu pun ada, ihh ngeri. Jadi Lesta bukannya kau akan mengajakku ke rumah temanmu hari ini?”


“Tidak hingga kau membersihkan dirimu terlebih dahulu, Ryan. Lihat dirimu.”


Ryan spontan langsung melihat tubuhnya sendiri. Tampak berantakan sekali dengan pakaian yang compang-camping seperti di cakar oleh sesuatu. Kemeja hitamnya hampir setengahnya robek, celana panjang putihnya yang bagian kiri hilang hingga selutut.


“Mengerti?”


Lesta pun langsung mendorong Ryan ke arah kamar mandi kembali. Ryan tidak bisa berkata tidak, jadi ia menuruti teman barunya itu dan akhirnya masuk kembali ke dalam kamar mandi.


“Oii... Lesta, aku tidak membawa handuk atau pakaian ganti, sebaiknya begini juga sudah cukup”


“Tidak... tidak, Ryan, akan kusiapkan sisanya. Nanti kusimpan handuk tepat di lemari sebelah kamar mandi sedangkan pakaian gantinya akan kutaruh tidak jauh dari sana.”


Jelas Lesta sambil menunjukkan letak kamarnya. Setelah itu Ryan hanya dapat pasrah lalu akhirnya mengikuti saran Lesta. Kini lelaki berantakan itu telah berada di dalam kamar mandi, ia pun mulai melepas bajunya. Namun, begitu ia mencobanya tidak bisa....


“Ah, aku ingat.”


Ia pun segera menyentuh layar panel tak terlihat. Begitu muncul, Ryan segera menyentuh bagian Equipment lalu melepas semuanya termasuk Scraft-nya juga. Sekarang ia benar-benar telanjang.


“Dan satu lagi, bahkan yang seperti ini juga bisa.”


Walaupun ia tak percaya apa yang  dirasakannya sekarang. Tetapi, perasaan ketika tubuhnya terkena siraman air dingin dan tubuhnya langsung menggigil kedinginan bukanlah sebuah mimpi.


“Elesis, pengaturan tambahanmu benar-benar mengagumkan ... brrr.”


Waktu berlalu dan akhirnya Ryan selesai membersihkan tubuhnya itu. Lalu membuka pintu kamar mandi secara perlahan untuk mengambil handuk di samping kiri luar pintu kamar mandi. Ia mencoba meraihnya dan akhirnya berhasil... untungnya Lesta tidak melihat hal itu.


Rumah pun tampak sepi saat itu, segera setelah Ryan mengelap seluruh tubuhnya hingga kering dengan handuk. Ia pun melilitkannya pada bagian bawah tubuhnya. Lalu pergi ke kamar Lesta berada sambil melihat-lihat kondisi rumah saat itu.


Di sana ia di pinjami pakaian dan juga celana. Sebuah kaos polos putih dengan celana training biru bergaris kuning pucat memanjang dari bagian pinggang hingga mata kaki. Ryan pun langsung memakainya.


Setelah itu menggunakan Scraft merahnya lagi, sarung tangan, dan terakhir adalah meliliti tangan kanannya dengan perban putih. Hingga yang terakhir adalah sepatu Sport. Sebelum ia pergi ke kamar mandi tadi, jika tidak salah Ryan menyimpannya tepat di samping kiri bawah kamar mandi.


Ryan pun langsung menghampiri sepatu Sportnya berada. Setelah sampai di sana, ia pun langsung memakainya. Lesta yang tampak tidak ada di dalam rumah, sepertinya kini sedang berada di luar.


Berjalan keluar rumah, Ryan langsung melihat Lesta yang sedang berdiri menikmati angin pagi yang sejuk.


Rambut cokelat pendeknya terkibas-kibas oleh angin sehingga mirip seperti rerumputan kecil.


“Apa kau sudah mem—ah... tampaknya kau sudah siap sekarang, Ryan.”


Kini Lesta melihat seorang lelaki berambut hitam pendek yang sedikit panjang dengan keadaan yang rapi dan juga segar. Ia juga menggunakan pakaian yang di sediakan untuk dirinya.


“Kalau begitu mari ikuti aku.”


Ryan mengangguk pelan lalu segera mengikuti Lesta yang kini memimpin di depan sana. Berjalan melewati hamparan padang rumput di pagi hari. Cuaca saat itu tidak tampak terlalu banyak awan. Tetapi laut langit biru cerah yang membentang di sepanjang mata memandang.


Di samping itu tepat di beberapa bagian Ryan melihat sebuah robot yang sudah dirambati oleh lumut. Tidak hanya robot, kendaraan seperti balon udara yang hancur, serta bangkai monster raksasa.


Saking luasnya ia tidak sempat berpikir bahwa dunia gim yang kini di tinggalinya sangatlah luas. Walaupun di surat tertanda ‘Taman Kecil’ tampaknya dunia gim ini bukanlah taman kecil biasa.

__ADS_1


“Lesta, apakah di sana itu adalah robot yang sudah hancur?”


Lesta menengok ke belakang, senyum tipis tergurat di wajahnya.


“Bukan robot melainkan sebuah Automaton, Ryan”


“Automaton!?”


Ryan langsung bersiul takjub, sebuah Automaton. Sebenarnya gim yang sekarang ia mainkan masuk ke dalam kategori genre apa saja?


Selain itu di sebelah pinggir padang rumput yang kini ia lewati, hutan dengan pohon-pohon teralis yang membentuk pagar abstrak terhampar begitu memanjang di sepanjang pinggir kanan padang rumput itu.


Saking luasnya, Ryan sepertinya tidak menduga bahwa rumah teman Lesta sangatlah jauh sehingga ia harus berjalan cukup lama untuk sampai di rumahnya.


“Rumah temanku cukup jauh dari sini, jadi agar tidak terlalu bosan. Aku ingin mengetahui bagaimana kesanmu terhadap dunia ini, Ryan? Terutama kau menemui NPC sepertiku yang mampu berkomunikasi dengan baik seperti para pengelana lainnya.”


Rasa penasaran mulai muncul dari dalam diri Lesta. Ia masih menyimpan keraguan terhadap Ryan, apakah ia masuk ke dalam kategori baik ataukah buruk?


Jawaban kali ini akan menentukan bagaimana Ryan dalam pandangan Lesta yang sebenarnya.


“Hmmm ... kau ingin meminta pendapatku?”


“Seperti yang tadi kukatakan”


“Baiklah, tapi jangan kecewa... menurutku ini sebuah misteri yang masih tertutup rapat. Tentunya bagaimana kami di bawa kemari, aku tahu kau mengetahui berapa jumlah Player yang masuk ke dalam dunia ini.”


Lesta tertegun dengan ucapan Ryan. Bagaimana ia bisa mengetahuinya dan lagi ia begitu tenang tidak ada tanda-tanda gangguan sama sekali.


“Itu karena NPC biasanya di rancang  untuk mengoptimalkan sebuah gim. Terutama jika genrenya MMORPG seperti ini, maka tentunya pasti akan banyak sekali Player yang masuk... lalu pihak admin akan mengirimkan data tersebut melalui server utama untuk memberi NPC semua informasi tentang kehadiran para Player yang telah datang”


“Hooo ... hebat juga kau bisa mengetahuinya”


“Tidak hanya itu... kau sebenarnya bukan pembuat kue kering, kan? Siapa kau sebenarnya Lesta? Bagi NPC biasa tindakan yang kau lakukan itu bukanlah biasa melainkan seperti ada perintah atau lebih tepatnya ada rasa penasaran, benarkan?”


Kedua tangannya ia lipatkan ke belakang kepala sambil berjalan menikmati hembusan angin lembut di padang rumput itu. Sedangkan Lesta sepertinya sudah tertangkap basah, tapi ia masih bisa mengendalikan sikapnya dengan baik.


“Maksudmu apa, Ryan? Aku memang seorang pembuat kue kering tau”


“Tentu aku tidak meragukan hal itu, karena kue buatanmu lezat”


“Ah ... terima kasih—“


“Tetapi, apa yang ingin aku tegaskan adalah ... siapa kau sebenarnya Lesta—maksudku pekerjaan utamamu. Pembuat kue kering itu adalah pekerjaan sampingmu ... aku tahu itu,” potong Ryan dengan nada dingin.


Sebuah senyuman lebar yang tipis dan juga tampak seperti seorang badut.


“Hehhh... hebat juga kau bisa mengetahuinya sejauh itu. Bagaimana kau mengetahui itu semua?”


“Menguping tentunya, aku tau kau tadi malam sedang melaporkan sesuatu kepada seseorang dengan pangkat yang tinggi. Dari nadamu, tata bahasamu dan jelas dari sikapmu. Aku tidak tau siapa itu yang pasti ia sangatlah penting bagimu.”


Di dalam perjalanan itu seperti terjadi sebuah ketegangan di antara dua orang musuh yang mengenakan samaran dengan kata ‘Teman’. Sebuah tepuk tangan yang pelan terdengar dari arah Lesta, dugaan Ryan sepertinya benar.


“Satu lagi, apa yang kau maksud dengan Player 00?”


Tiba-tiba saja Lesta terdiam, tetapi Ryan pun memasang wajah tenang sambil terus berjalan. Walaupun biasanya di dalam keadaan seperti ini ia terhenti juga. Namun, ia lebih memilih untuk terus berjalan hingga mendahului Lesta yang masih terdiam.


Namun, sebuah pergerakan cepat muncul dari Lesta, ia seperti mengeluarkan sebuah pedang magi dari sabuk transparannya. Melesatkan sebuah serangan cepat yang menyayat ketegangan itu. Arah lesatan pedang itu hampir setara sebuah kampak yang akan mengeksekusi terdakwa hingga mati.


Sayangnya Ryan berhasil menghindari itu dengan cepat, ia memutar tubuhnya ke samping kiri lalu segera melompat. Kini ia berada di belakang Lesta dengan belati yang diacungkan ke arah lehernya.


Jarak belati itu hanya sekitar 1cm, jika Lesta bergerak sedikit saja maka kemungkinan leher miliknya akan berlubang lalu hancur menjadi kepingan data transparan biru yang akhirnya menghilang.


“Cepat katakan siapa kau sebenarnya! Atau lehermu akan melayang—tidak lebih tepatnya hancur menjadi kepingan tak berkualitas!”


Ryan mengancam Lesta yang kini dalam posisi yang tidak menguntungkan. Kedua tangan Lesta bergerak pelan, lalu terangkat dengan melepaskan pedang maginya itu.


“Tampaknya kau sudah menyerah sekarang, job-mu pasti seorang Magic Swordman? ... lalu sekarang muntahkan semua informasi yang kau ketahui, atau tidak lehermu yang akan menjadi korbannya.”


Lesta meneguk ludahnya sendiri, ancaman itu bukanlah sebuah gertakan melainkan nyata. Jika ia salah sedikit saja. Ia benar-benar dalam keadaan yang sangat bahaya sekali.


“Cepat jawab!”


“Baiklah, baiklah. Aku memang bukan NPC biasa”


“Huhhh... rupanya analogiku benar. Mana mungkin NPC biasa bersikap biasa-biasa saja ketika ladangnya dihancurkan oleh sekumpulan Monster, apalagi tanda yang menunjukkan kau kesusahan tidak bergetar ataupun tidak mengeluarkan reaksi yang berlebihan”


“Huh?! Apa maksudmu?”


“Dengar baik-baik. NPC yang sedang dalam kesusahan biasanya menunjukkan tanda seru jika ia berada di dalam masalah atau dalam keadaan panik. Contohnya saja jika ia sedang diserang oleh monster dengan level yang sangat tinggi, tetapi kau malah menunjukkan tanda tanya merah yang artinya rasa penasaran dengan dibalut kewaspadaan.”


Lesta kembali terdiam dengan keringat dingin, walau angin sejuk membelai tubuh serta wajahnya. Tetap saja jika mempunyai rasa gugup dan juga takut, keringat itu akan selalu saja muncul.


“Lalu tentang Player 00 itu?”

__ADS_1


“Player itu disebut sebagai Player spesial. Ada sekitar delapan orang yang memiliki nomer yang berbeda denganmu, tetapi mereka juga termasuk spesial. Di mulai dari Player 00 hingga Player 07”


“Dari puluhan juta Player? Yang benar saja... mana mungkin hanya delapan orang yang memiliki status spesial sepertiku”


“Itu fakta... jadi bisakah kau lepaskan aku sekarang?”


“Tidak sebelum kau menjawabnya dengan lengkap... atau kau lebih memilih mati di tempat seperti ini ketimbang mati dengan terhormat?”


“ Arhhh.... baiklah aku mengerti! Kau ingin aku menjawab apalagi?”


Ryan tersenyum licik dan sebenarnya ia mempunyai maksud terbalik dari setiap pertanyaannya.


“Lanjutkan lagi tentang maksudmu ‘spesial’ itu”


“Spesial yang kukatakan tadi merujuk pada Special Abillity, tapi bukan termasuk ke dalam Job. Di dalam kasusmu, Ryan. Kau lah yang paling unik dan yang paling langka”


“Huh?”


“Lebih singkatnya kau memiliki dua Special Abillity... apalagi masuk ke dalam kategori Phantasm, suatu saat kau akan mengetahuinya sendiri.”


Ryan mendecak kecil, kemudian ia mulai berjongkok mendekati Lesta yang kapan saja bisa ia bunuh.


“Terima kasih atas informasinya... kawan,” bisiknya halus.


Segurat senyum iblis tampak di wajah Ryan yang polos itu. Ia pun menarik kembali belati dari belakang leher Lesta. Lalu kembali berdiri dan meneruskan perjalanan sambil mengabaikan pria yang baru saja ia ancam.


Lesta mengusap-usap lehernya agar memastikan tidak ada luka sedikit pun. Sosok laki-laki di depannya itu lebih berbahaya dari apa yang ia bayangkan sebelumnya.


“Jika kau berpikir aku berbahaya, maka itu salah besar. Karena aku bukanlah musuhmu tetapi pengelana yang berbagi pengalaman dengan NPC berpangkat tinggi seperti dirimu.”


Lesta yang telah memastikan tidak ada luka pada bagian lehernya. Kemudian bangkit sambil memandangi seorang Player di depannya itu.


“ Ryan sebenarnya kau itu siapa—“


“Dengar ini kesatria gagal. Jangan pernah meremehkan seseorang. Apalagi dengan jobku sekarang, walaupun pemula... aku tidak akan menganggap remeh lawanku. Seharusnya kau lebih tahu itu dengan baik dibandingkan dengan diriku dan juga tidak ingin dibohongi karena itu wajar. Kau mudah sekali ditebak... apalagi ketika kau mengatakan pekerjaanmu adalah pembuat kue kering dengan alis yang terangkat. Aku sampai heran mengapa orang sepertimu bisa di angkat sebagai kesatria”


Ryan pun berbalik menghadap Lesta dengan wajah yang sulit untuk bisa ditebak


“Aku hanya seorang Player yang terpaksa masuk ke dalam gim sialan seperti ini karena kesalahan hewan peliharaanku yang cukup pemalas, camkan itu!”


“Huhhh!?... kau benar-benar seorang Player yang misterius, Ryan.”


Pedang magi kini kembali masuk ke dalam sarung transparannya sekarang. Lesta kini percaya bahwa Ryan bukanlah Player yang akan mendatangkan bencana ke dalam dunia ini.


“Cepatlah... aku tidak tahu di mana rumah temanmu itu, jadi bisakah kau kembali memandu perjalanan ini... Lesta. Arrhhh... dan aku tidak percaya, sekarang aku lapar.”


Lesta tersenyum lalu tertawa kecil. Ia pun berdiri lalu kembali berjalan, kini dirinya dan juga Ryan saling berdampingan.


“Tapi aku benar-benar heran, sebenarnya kau itu siapa, Ryan?”


“Hmm... hanya seorang pelajar kelas 2 SMA dengan sifat semi Hikikomori penggemar martabak keju—lupakan bagian martabak kejunya”


“Martabak keju lagi?... hahahaha.”


Ketegangan yang membuat suasana menjadi memanas kini mulai dingin dengan sebuah lelucon yang aneh. Di setiap langkah kaki yang mereka jejakkan di padang rumput itu akan menjadi sebuah kenangan suatu hari nanti.


Angin kembali bertiup dari selatan menuju utara, gemersik rerumputan terdengar ria di sepanjang hamparan luas itu. Dengan di selangi oleh kicauan burung-burung kecil yang terbang kesana-kemari. Ryan dan Lesta hampir sampai di tujuan mereka hingga mereka berdua di hadang oleh sesosok Monster dengan status Unkown.


Lesta sudah siap menghunuskan pedang maginya sedangkan Ryan, ia sudah masuk ke dalam mode Assassin.


[O-o-o-our K-king H-he-help U-us....]


Monster itu berwarna hitam total, buram seperti sekumpulan semut. Suaranya ber-echo dan nyaring serta melengking. Lalu keberadaannya menghilang tepat sebelum Lesta melayangkan sebuah tebasan cepat.


“Menghilang?”


Lesta kembali menyarungkan pedang magi miliknya sedangkan Ryan menyembunyikan belatinya yang telah ia keluarkan. Ryan pun menghampiri Lesta.


“Monster?”


“Aku tidak yakin, tetapi yang pastinya seperti makhluk dengan kemampuan berbicara seperti para Player dan juga NPC”


“Apa kau yakin, Lesta? Bukankah kau sebagai NPC pasti mengetahuinya, ‘kan?”


“Itu tidak seperti yang kau pikirkan, Ryan. Ini juga baru pertama kali aku melihat hal yang seperti itu.”


Ryan teridam kemudian ia berjalan kembali mendahului Lesta.


“Jika seperti itu jangan terlalu di pikirkan. Cepat, aku tak sabar ingin makan jika di rumah temanmu itu ada makanan ... hehehe”


“Dasar.”


Lesta tertawa kecil, kemudian ia kembali memandu perjalanan yang tadi sempat terhenti oleh sesosok makhluk hitam yang tidak dapat di jelaskan. Melewati tempat yang belum di ketahui oleh Ryan akan membantunya membuka Map yang belum terlihat.

__ADS_1


Setelah mereka memasuki hutan bambu yang tinggi seperti teralis besi penjara. Akhirnya mereka berdua sampai di tempat itu. Tepat di samping sungai kecil terdapat rumah dengan gaya tradisional yang cukup elegan.


__ADS_2