
Sebelum Ash menerima serangan mematikan Nardhal, ia terlebih dahulu mengiyakan permintaan Lilith. Permintaan itu adalah mengizinkannya mengurangi setengah status miliknya untuk digunakan demi Kelompok Fion dan Elen.
Berkat pengorbanan itu, Lilith berhasil mengaktifkan kemampuan terlarang lalu memindahkan semua orang terkecuali Ash dan Nardhal ke luar dimensi. Dengan kata lain Kelompok Fion dan Elen dipaksa keluar dari tempat tersebut.
Mengetahui hal tersebut, Ash akhirnya bisa bernapas lega karena dengan ini ia tidak perlu mengkhawatirkan mereka lagi. Terlepas dari kekuatan Lilith yang luar biasa dan anehnya sedikit tidak masuk akal, Ash ingin menanyakannya, tapi sayang ia tidak memiliki cukup waktu.
Dan dari situlah kita kembali ke waktu yang sesungguhnya. Dengan pengurangan status itu, kekuatan Ash menurun drastis, dan lagi HP-nya berada dalam keadaan kritis.
Jika disandingkan dengan kemampuan makhluk-makhluk ataupun binatang eksotis. Ash sengaja mengorbankan hal itu demi menyelamatkan dirinya ... plus juga dengan kawan-kawannya.
Harga yang setimpal dengan hasil memuaskan. Ia selamat meski tidak berada dalam posisi yang menguntungkan, sedangkan kawan-kawannya berhasil selamat, dan kini mereka tidak perlu lagi terlibat dalam pertarungan melawan Nardhal.
Ini benar-benar melelahkan, statusku berkurang setengah hanya demi menyelamatkan mereka, huh? Batin Ash.
Dengan ekspresi kecut dan tak menyenangkan, Ash mendesah pasrah.
“Sekarang apa?” tanya Ash pelan.
“Mustahil!—k-k-kau ... berhasil selamat?! Dari seranganku?”
Sementara itu Nardhal terhenyak sesaat sebelum emosinya kembali distabilkan secara paksa oleh sistem. Sebagai makhluk ciptaan Taman Kecil, Nardhal memiliki emosi, dan jika emosi tersebut melampaui kapasitas bar parameter, maka Nardhal [Perempuan] akan segera menurunkan ego tersebut.
Di dalam besarnya badai basir dan gemuruh berskala minim, Ash berdiri sembari mengambil napas lalu mengeluarkannya berulang kali. Ia sama sekali tidak akan menyangka akan berada di dalam situasi seperti itu.
Dengan kekuatan dahsyat yang muncul karena efek kemampuan khusus, ia setidaknya dapat bertarung seimbang melawan Nardhal. Namun, sayangnya kesempatan itu lenyap seketika karena permintaan Lilith.
Memang benar itu sedikit menyebalkan, tapi aku tidak punya pilihan lain, batin Ash.
Ia pun melirik ke arah Lilith yang sedang mengambang di samping kirinya. Sang Permaisuri Pemikat itu hanya tersenyum senang dengan ekspresi lega dan bersemi.
Apa jangan-jangan selama ini kamu ingin menguji kemampuan itu? hahhh ... sepertinya aku sudah masuk ke dalam jebakanmu, huh? Batin Ash.
“Dasar. Lain kali jangan melakukan itu lagi, bisa-bisa aku habis ditangan yang salah”
“Hehehehe. Setidaknya sekarang aku tahu sejauh mana kekuatan ini bisa kumanipulasi”
__ADS_1
“Hahhh ... apa yang salah dengan dirinya?”
“Jangan begitu, Ash. Bukankah sekarang kamu lega karena mereka tidak ada lagi di sini?”
“Lega sih lega, tapi sekarang bagaimana dengan nasib kita sendiri, Lilith? Dalam kamusku ini memang sebuah permainan, tapi kasusmu berbeda denganku, bukan?”
Walaupun ekspresi Ash tenang, tapi jauh di dalam hatinya ia benar-benar panik, dan tidak tahu apakah dirinya bisa mengatasi sumber masalah di depannya atau tidak.
“Ahnn~ Ash, kamu rupanya sangat peduli denganku. Aku sangat senang”
“Peduli jidatmu, sekarang bantu aku mengurus makhluk itu,” tandas Ash dengan ekspresi masam.
Nardhal pun menggeram. Percikan urat listrik menjalar di sekujur tubuhnya, menggeliat mencari tempat untuk melepaskan diri. Namun, Sang Gemini langsung menarik semua percikan tersebut kemudian mencengkeramnya hingga hancur berkeping-keping.
Begitu ia melepaskan cengkeramannya, sebuah bola kecil dengan energi padat berputar perlahan di atas telapak tangannya.
“Bangkitlah anak-anakku, [Terestrial Blasmyion].”
Nardhal menjatuhkan bola itu ke tanah dan tanah yang awalnya tandus mulai memunculkan rumput hijau. Meluas cepat seperti ombak laut di kala angin berhembus kencang.
Akar-akar mulai tumbuh lalu bertambah besar hingga membentuk satu batang pohon raksasa yang akhirnya hancur melahirkan enam makhluk abstrak berwarna cokelat kusam.
Seperti warna pohon yang telah mati, mereka terlihat layaknya mayat hidup setinggi enam meter. Dengan bagian dadanya berlubang dan menampilkan sebuah api hijau yang menyala samar.
Tampilan mereka tidak terlalu mencolok, bahkan sangat polos, dan semulus permukaan pohon muda yang beranjak dewasa. Kepala mereka bundar, memiliki tiga tanduk bagai rusa—kiri, kanan, dan tengah.
Mata mereka menyala bagai predator kelaparan. Tanpa ada pemikiran individu nyata dan kendali atas emosi mereka. Keberadaan makhluk-makhluk besar itu seperti seorang bayi yang baru saja lahir.
Nardhal mengangkat tangannya lalu menunjuk Ash dengan niat mematikan.
“Habisi. Jangan sampai lolos. Makan. Jangan sisakan.”
Sang Gemini pun menyeringai puas. Terdapat aura mengerikan keluar samar dari dalam tubuhnya dan seketika itu juga semua makhluk yang diperintahkan olehnya langsung melirik Ash.
Mulut mereka terbuka dengan air liur mengalir tak kunjung henti. Menggeram seperti kelaparan, menatap tajam layaknya seekor apex di hutan belantara, dan suaranya yang kecil bagai bayi membuat bulu kuduk Ash sedikit berdiri.
__ADS_1
“Berhati-hatilah, Ash. Mereka bukan tipikal jenis monster yang biasa kita kalahkan”
“Aku mengerti, tapi membayangkan semua makhluk itu keluar hanya dari kata-katanya. Bayangkan apa yang terjadi jika mereka lepas ke luar dungeon?”
[Blasmyion Lv.100] itulah indikator yang muncul di atas kepala mereka dan Ash hanya bisa meneguk ludahnya sendiri. Karena masing-masing mereka memiliki level yang sangat tinggi dari monster mana pun, bahkan jika dikatakan spesial, mini-boss, ataupun unik jauh sekali.
Namun, jika Ash ingin mengategorikan mereka ke dalam jenis tertentu, maka pastinya status mereka adalah tidak diketahui alias “unknown”.
Tidak lama kemudian tanah bergemuruh dan pasukan makhluk tak berakal itu berlari menerjang Ash dengan sangat cepat. Lambungan tinju menukik dari atas mengincar kepala Ash yang terlihat tanpa penjagaan.
Untungnya Ash dapat menghindari serangan tersebut tepat waktu, jika tidak, maka nasibnya akan sama seperti tanah berlubang besar di depannya.
“Ini mengerikkan—“
“Arah jam dua!” potong Lilith membangunkan Ash dari pemikirannya.
“Guh!—“
Setelah serangan pertama berhasil ia lewati, gelombang kedua pun datang dengan kejutan yang lebih dahsyat dari sebelumnya. Di mana tiga makhluk tersebut melompat secara bersamaan sembari mengarahkan tubuh mereka ke arah Ash.
“Dari arah jam sembilan juga!”
“Tchh ....”
Sedangkan dari sebelah kirinya dua Blasmyion berlari cepat dengan tampang garang dan mulut terbuka lebar. Mengeluarkan air liurnya yang menciprat tak kenal ampun.
Tubuh mereka besar, tapi kecepatan serangan serta kelincahan gerakan mereka hampir setara dengan Ash. Itu berarti saat ini ia sedang menghadapi kloningan dirinya sendiri dengan sedikit penurunan aspek tertentu—tak berakal dan menggantungkan diri pada insting semata.
Ash bergerak cepat dengan gerakan kabut berdarah, meninggalkan jejak merah selagi keberadaan dirinya menghilang dalam sekejap mata. Namun, ketika ia kira serangan Blasmyion telah berhasil ia hindari, tepat di depan matanya sesosok wajah muncul mencoba menerkam wajah Ash.
“Ughh—“
Itu adalah makhluk lain yang berusaha menerkam dan ******* wajah Ash menggunakan rahang lebarnya.
“Benar-benar di luar dugaan. Mereka ... mereka sangat kuat ....”
__ADS_1