
Tanah yang bergetar menyebabkan tata letak taman berubah 180 derajat. Bahkan Ash dan Lilith terpisah, mereka dibatasi oleh sebuah dinding putih kokoh setinggi delapan meter.
Sontak hal tersebut membuat Lilith sedikit panik. Ia pun seketika itu juga memukul kuat dinding tersebut, tapi sayangnya pukulan itu ditepis oleh kekuatan tak terlihat, dan langsung mendorong tubuhnya jauh ke belakang.
“Percuma-Sebelum kau-Mengalahkanku-Dinding itu-Tidak akan-Bisa dihancurkan”
“Ughh ... ini menyebalkan. Bukan saja aku tidak bisa melihat suamiku, tapi juga harus berhadapan dengan makhluk pengganggu ini.”
Di dalam pikirannya, Lilith hanya memikirkan Ash, dan tidak ada yang lain. Namun, hal itu hancur tanpa peringatan begitu mendengar perkataan Nardhal yang datar, dan statis.
Tidak peduli berapa kali pun ia mencoba menghancurkan dinding pembatas itu. kekuatan pukulannya kembali memantul. Ia bahkan berusaha menghancurkan dinding itu dengan sihir perusak, tapi sayangnya tidak ada goresan, ataupun tanda jika dinding tersebut akan hancur dalam waktu dekat—mustahil.
“Bukankah-Aku sudah-Mengatakannya?”
“Tidak ada yang tidak mungkin selama belum dicoba”
“Kau ini-Sama seperti-Penghuni Taman Kecil-Tapi perilakumu-Seakan berkata-Jika dirimu-Adalah manusia nyata.”
Lilith yang pasrah hanya memandang Nardhal [Laki-laki] dengan mata sinisnya.
Tubuh tenang serta aura yang lembut di sekitarnya pun langsung mengamuk. Di mana cahaya di matanya berganti menjadi kegelapan penuh akan amarah serta kebencian.
Sebagai seorang permaisuri, statusnya mungkin dapat dikatakan sebagai bentuk pengakuan dunia “ini” kepada dirinya. Namun, jauh di dalam kebenaran, sosoknya bukanlah apa yang tampak seperti yang dilihat oleh kebanyakan orang.
Karena itu ia tidak bisa menampilkan kekuatan penuhnya kepada Ash. Apalagi setelah perubahannya menjadi entitas kegelapan. Memang benar laki-laki yang dicintainya hampir serupa, tapi jauh berbeda dari segi kelas, dan juga cerita dunia.
Jika Ash merupakan inkarnasi Oz sebagai setengah Vampir elegan, maka Lilith adalah reinkarnasi dari seorang hibrida Ratu Succubus, dan Vampir. Hal itu membuat darahnya tidak murni dan terkadang merasa bahwa dirinya kurang pantas.
Mengingat bagaimana ia telah diselamatkan oleh orang yang tidak pernah ia pikirkan. Lilith sangat tidak ingin memperlihatkan wujud aslinya kepada Ash, ia tidak ingin laki-laki tersebut jijik atau membencinya karena bentuk tersebut.
“Jadi seperti ini-Ya?”
Tubuh semampai dan elegan yang dipenuhi oleh aroma eksotis Lilith menjadi terdistorsi. Perutnya berlubang, kedua matanya menghitam tanpa ada pupil sama sekali.
Sebuah mahkota ranting tumbuh di atas kepalanya. Di mana gaun kebangsaan yang ia dapatkan dari Ash hangus terbakar api hitam dan berganti menjadi lingerie seksi transparan yang memperlihatkan semuanya—tanpa apa pun yang menghalangi terkecuali sebuah ****** ***** tipis.
Sekumpulan debu hitam berkumpul di punggungnya, memadat kemudian meledak menjadi dua buah sayap dengan urat nadi merah yang berdenyut setiap kali terkepak.
__ADS_1
“Ini tidak akan lama, jadi diam, dan lenyaplah demi diriku.”
Seperti kabut yang menyisih ketika disapa oleh angin lembut, keberadaan Lilith tiba-tiba saja menghilang, dan sebuah pentagram muncul bawah Nardhal [Laki-laki].
Takhta putih tempat peristirahatan entitas misterius itu pun luntur menjadi ruangan bersimbah darah. Seakan ditelan oleh ilusi kenyataan tanpa batas, beratus-ratus duri merah-kehitaman mencuat dari dalam pentagram tersebut.
Namun, ekspresi Nardhal [Laki-laki] tetap datar. Tidak terlihat panik ataupun cemas, hanya sebuah bentuk ketenangan seperti permukaan air danau yang damai. Dan hanya sepersekian detik itu, ia bisa menghindari semua serangan Lilith dengan sempurna.
Sayangnya serangan tersebut adalah pancingan karena serangan sebenarnya yang Lilith lepaskan adalah sebuah sabit algojo merah yang jatuh dari atas. Mengayun cepat tanpa suara.
“Hampir saja-Benar ’kan?”
Sama seperti sebelumnya, tapi kali ini Nardhal [Laki-laki] tidak menghindarinya melainkan menangkap sabit tersebut dengan tangan kanan kemudian meremasnya hingga hancur berkeping-keping.
“Lumayan-Juga”
“Jadi seperti itu bentuk kekuatanmu, huh?”
Nada Lilith semakin dipenuhi emosi negatif. Selain itu ia juga tidak mengira bahwa kekuatannya dapat dilumpuhkan begitu saja, padahal kedua serangan itu adalah kekuatan yang dulu pernah membinasakan satu kerajaan.
Bukan karena daya serang melainkan intensitasnya yang terus menerus bermunculan setiap detik. Begitu semua duri merah itu menyerap darah, layaknya makhluk hidup, bentuk nihil dari kekuatan sihir tersebut berevolusi menjadi entitas baru.
Sejak saat itu sebuah rumor dan cerita rakyat beredar luas. Bagi mereka para pedagang keliling yang menyaksikan langsung kejadian tersebut hanya dapat terperangah, terhenyak lama sebelum akhirnya sadar berkat lutut lemas, dan berakhir jatuh dengan pantat yang membentur tanah.
Tidak lama kemudian muncul berbagai spekulasi dan mitos yang mengatakan jika ada makhluk ganas serta kejam yang berkeliling untuk mencari mangsa. Namun, hingga waktu yang tidak diketahui, kebenaran sesungguhnya tidak pernah terungkap.
Sayangnya bagi Sang Permaisuri Pemikat, hal itu sama sekali tidak pernah mengganggunya melainkan ia bersyukur karena itulah tidak ada orang asing yang berusaha mendekatinya lagi.
Tidak sebelum Vlad datang lalu merebut kebebasannya dan kemunculan Ash sebagai penyelamat yang berhasil mencuri kasih sayang serta cinta miliknya.
“Aku tidak tahu bentuk makhluk seperti apa dirimu di masa lalu, tapi sampai berani menghalangiku untuk melihat suami. Aku tidak akan pernah memaafkanmu!”
Nardhal [Laki-laki] hanya tersenyum tipis.
Lilith pun langsung terbang cepat ke arah entitas kuat tersebut. Tangan kanannya terkepal selagi mahkota duri di atas kepalanya melepaskan cambuk kuat.
Satu pukulan dan Nardhal [Laki-laki]berhasil menangkisnya, ketika cambuk mendarat cepat ke arah wajah. Ia hanya tersenyum tipis sebelum akhirnya cambuk duri tersebut layu dan hancur menjadi partikel udara.
__ADS_1
Sang Permaisuri Pemikat tidak berhenti di situ saja. Ia kali ini melayangkan godam darah dari udara kemudian menghantamkannya ke arah Nardhal [Laki-laki].
“Kenapa kau memisahkanku dengannya? Enyahlah!” ucap Lilith dingin dengan penekanan di akhir kata.
Sayangnya sama seperti serangan sebelumnya, ia sama sekali tidak terluka malah terlihat senang dengan semua perhatian Lilith. Tidak seperti kebanyakan orang yang takut akan kemunculannya, Lilith justru mengarahkan nafsu pembunuh ke arah makhluk antah berantah tersebut dengan segenap kekuatannya.
Begitu juga Nardhal [Laki-laki] yang sedari tadi tidak menyerang dan hanya tersenyum tipis melihat semua usaha Lilith terbuang sia-sia. Namun, setelah ia memejamkan kedua matanya, langkah kecil pun ia ambil.
Seakan menapak permukaan air danau yang tenang, bunyi tetesan gelombang halus meluas, menggelitiki takhta putih. Menyadari sekelilingnya aneh, Lilith segera terbang ke udara.
Ia tidak ingin mengambil risiko yang tidak diketahui. Berbeda dengan semua musuh dan monster yang pernah ia kalahkan, Nardhal [Laki-laki] sendiri sangat berbeda. Selain itu sosoknya berkemungkinan memiliki kekuatan sedahsyat bencana.
Kekuatan miliknya yang dapat meratakan satu kerajaan saja dapat ditahan dengan mudah, apalagi jika sampai ia lengah, dan mungkin pada saat itulah nasibnya berakhir.
“Makhluk memiliki pemikiran-Dengan indera sebagai anugerah-Ketika mereka mati-Semua itu akan sirna-Tidak segalanya berakhir-Dengan kekerasan-Karena akal pun-Dapat menjadi pemecah konflik.”
Ia pun mengangkat telapak tangan kanan perlahan-lahan. Permukaan tanah putih yang semula terdiam kini mulai bergerak. Terpecah menjadi balok-balok kecil yang bangkit, gundukan sulur tanaman pun mencuat mengikat semua balok tersebut menjadi satu.
Bunyi retakan terdengar dan BAMMM!
Semua balok itu hancur, meninggalkan sebuah bola putih mengambang dengan garis-garis cahaya kuning yang berpendar. Begitu jari telunjuk Sang Nardhal [Laki-laki] menekuk, bola itu pun jatuh.
Dua buah tangan keluar dari sisi-sisi bola, kemudian di susul oleh kaki serta sebuah bulatan kepala dari atas.
“Bangkitlah-Wahai kesatriaku.”
Hanya dalam waktu singkat itu sebuah makhluk berwarna putih dengan garis nadi kuning berpendar muncul. Persendian diperkuat oleh sulur tanaman seakan menandakan bahwa sulur tersebut adalah otot penunjang.
BAM.BAM.BAM ... bunyi entakkan kaki. Sangat besar dan hampir setengah tinggi dinding penghalang.
“Kau bisa terbang-Kenapa tidak mencobanya?” tanya Nardhal [Laki-laki] datar.
“Apa kau pikir aku sebodoh itu hingga tidak menyadari adanya penghalang ilusi?”
Mulut Nardhal [Laki-laki] menyungging kecil.
“Aku tidak akan bisa tenang sebelum bisa menghajar wajah menjengkelkan itu hingga tak jelas”
__ADS_1
“Aku mendukungmu-Itu pun-Jika kau-Memiliki apa-Yang diperlukan.”