Nameless Crown

Nameless Crown
Chapter 19 - Sigil Evolusi


__ADS_3

Apakah keputusanku salah..., pikirnya.


Tiba-tiba saja jantung milik Ryan berdetak kuat sekali sehingga ia mengalami rasa sakit yang luar biasa. Darah keluar dari mulutnya dan waktu di sekitarnya berhenti begitu saja. Semuanya berhenti dan tidak bergerak sama sekali.


Kemudian muncul seorang pemuda yang mirip dengannya. Ia terbang menggunakan sayap di punggung kanannya, warnanya sangat berbeda dari yang lain.


Seketika itu juga Ryan berteriak... ia berteriak meminta bantuan kepadanya.


Di dalam hatinya yang paling terdalam ia sangat sakit sekali ketika melihat Elesis berada dipelukan Vlad. Namun, apa yang bisa di perbuatnya? Tidak ada... ia sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa, meskipun kemampuannya telah berkembang, bahkan ke tingkat yang berbeda.


Kemudian pemuda itu merendahkan tubuhnya sehingga ia bisa saling tatap-menatap dengan Ryan yang kini membeku dalam waktu.


Ia mendesah kecewa melihatnya.


—Apakah kau begitu saja menyerahkan dia ke dalam genggamannya lagi?


Sangat tidak asing dengan gaya bicaranya itu. Ia mulai tersenyum kecut melihat Elesis yang sedang di peluk dari belakang oleh Vlad.


—Hmmm... bagaimana? Apakah kau sanggup melewati batas? Ataukah kau menyerah dan melihat bagaimana nasib orang yang pernah kau sayangi itu menjadi kacau?


—Ayo jawab pertanyaanku ini... wahai “diriku”.


Ternyata itu adalah Oz. Pemuda yang telah terkubur dalam ingatan waktu dan menghilang dari eksistensi dunia 300 tahun yang lalu.


Ryan hanya menatap Oz dalam kurungan beku. Tak bisa bergerak, tak bisa berbicara, tak bisa berkedip apalagi ia tak bisa melakukan apapun.


Oz hanya dapat tersenyum kecut melihat eksistensi dirinya di masa ini tak berdaya menghadapi Vlad.


—Apakah kau diam saja ketika ia merebutnya darimu? Ataukah kau rela melepaskannya untuk kedua kalinya?


Nadanya begitu menyedihkan dan terdengar kecewa, tetapi tidak lama setelah itu dari balik punggung kokohnya keluar sebuah aura hitam kemerahan yang begitu pekat.


—Hmm. Hahhhh... sebaiknya saat ini kau harus menentukan pilihan dan menguatkan resolusimu sebelum semuanya terlambat.


Tangan kanan Oz terangkat.


—Apakah perlu kubantu?


Itulah bantuan yang ditawarkan oleh Oz meskipun nadanya begitu dingin, dengan ekspresi yang datar seperti tak bernyawa, teka-teki baru mulai terangkat menuju cahaya.


—Hmmm... apa? Aku tak bisa mendengarnya sama sekali.


Saat Oz menyeringai lebar menampakkan jajaran giginya. Tangan kanannya terayun dan menebas perut Ryan. Kini ekspresi wajah Ryan mengeras dan pucat. Ketika perutnya terbelah dan terbuka lebar.


Oz memasukkan tangan kanannya secara brutal. Kemudian ia menarik kembali tangannya dan membawa sebuah jam waker dari dalam perut Ryan.


—Hmmm... jadi ini yang selama ini membuatmu tertidur wahai “diriku”, bagaimana jika kita hancurkan barang ini?


Oz kembali tersenyum. Genggaman tangan kanannya mulai menguat lalu menghancurkan jam waker itu menjadi kepingan kecil.


Ia mulai tertawa ketika melihat bagaimana reaksi kesakitan Ryan yang begitu perih. Tak lama kemudian luka di perut Ryan kembali menutup dan kembali seperti semula tanpa ada bekas luka robek ataupun sayatan.


—Bagaimana... apakah kau bisa mengingatnya? Siapa kau sebenarnya? Dimana kau tinggal? Dan apakah mereka layak kau sebut teman? Selama ini kau hanyalah sebuah boneka yang tertidur di dalam kurungan waktu wahai “diriku”.


Lalu saat itulah Ryan mengingat semuanya. Anna dan Fajar sebenarnya bukanlah teman dirinya. Mereka selama ini tidak pernah ada dan sama sekali tidak pernah ada sejak pertama kali.


Walaupun rumah yang ia tinggali nyata tetapi semua kenangan itu hanyalah sebuah ciptaan. Seseorang mengutak-atik ingatannya, mengubahnya menjadi kenyataan dan Elesis... dia....


Dengan pelan Ryan menutup kedua matanya. Mulutnya tampak sedikit bergerak di dalam kurungan waktu itu, membuat Oz mengangkat alis mata kanannya.


—Hmm... tampaknya waktuku habis dan sepertinya kau menemukan resolusimu wahai “diriku”. Kalau begitu selamat tinggal semoga kita dapat berbincang-bincang lagi seperti ini.


Oz pun menghilang dan menjadi kepingan angka yang memudar di kurungan waktu yang membeku. Atmosfer mulai pecah dan Ryan kembali pada kesadarannya semula.


Detik demi detik telah berlalu. Menit demi menit telah terlewati. Hari demi hari telah mereka rasakan. Tahun demi tahun telah mereka rayakan dan sekaranglah waktu itu kembali mencair menjadi kenangan hangat.


“LILITHHHH!”


Dari ketinggian itu Ryan berteriak penuh dengan rasa yang ia selalu cari-cari.


“RYANNN!!!”


Benar mereka adalah nama yang terlupakan dan sekali lagi mereka bertemu di waktu yang telah di tentukan.


Apapun hasil yang akan mereka peroleh, apapun kenangan yang mereka akan jalani bersama ... dan saat itulah mereka akan bersatu untuk menghancurkan segala keraguan yang ada di dalam diri mereka masing-masing.


Elesis—Lilith yang mencoba untuk keluar dari pelukan Vlad akhirnya kembali pada dirinya yang dulu. Rambut putih panjang yang indah terkibas, mata merah yang padam begitu indah seperti batu rubi.


Ia meronta dan akhirnya berhasil keluar dari pelukan Vlad. Ia pun berlari, tetapi Vlad menarik lengannya dengan paksa. Lilith berteriak kesakitan dan memanggil-manggil nama Ryan terus menerus.


Di saat itulah Ryan berubah menjadi sekumpulan bayang-bayang hitam.


[Evolve: Shadow Dash + Sillent Step —> Phantom Dusk]


Keahlian pasif milik Ryan telah berevolusi. Ketika ia menggunakannya, kecepatan terjun miliknya semakin cepat seperti sebuah kecepatan suara.


Vlad kaget melihat sosok Ryan yang telah berada di hadapannya, kedua mata miliknya penuh amarah dan dua buah taring muncul di rahang atasnya.

__ADS_1


Ketika Ryan sadar kini status ras miliknya berganti menjadi [Half-Vampire].


Sebuah tendangan kuat berhasil menghempaskan Vlad ke belakang, sementara Ryan menarik lengan Lilith yang akan terjatuh.


“SIALAN KAU... OZZZZZ!”


Selagi Vlad berteriak penuh amarah dan kesal. Kini Lilith telah berada dipelukan Ryan. Wangi tubuhnya membuat Ryan tidak bisa bertahan lebih lama lagi.


Matanya yang indah, lekuk tubuhnya yang menggoda serta wajahnya yang cantik itu membuat setiap kenangan mereka kembali.


Lilith menatap wajah Ryan yang kelelahan itu dengan mata berbinar dan wajah memerah.  Saat Vlad mulai menerjang Ryan dengan ganas. Lilith mengelus pipi kanan Ryan dengan lembut lalu membuat kembali kontrak yang pernah ia lakukan dulu.


Sebuah ciuman manis kini mendarat di bibir milik Ryan.  Kedua lengan Lilith merangkul leher laki-laki yang dicintainya itu, sedangkan Ryan mengencangkan pelukannya.


Suara jam berdentang terdengar berulang-ulang kali. Sebuah lingkaran sihir muncul di bawah mereka. Dengan warna merah darah yang begitu kelam. Petir-petir keluar dari dalamnya, menjerit-jerit meminta mangsa untuk mereka lahap.


Pada akhirnya sebuah bunga mawar putih muncul dari bawah lingkaran sihir itu. Melayang tinggi dan akhirnya mendarat di atas telinga kanan Lilith. Di saat it lah ia mengakhiri ciumannya bersama dengan Ryan.


Dengan belaiannya yang sangat lembut, bibirnya kembali terbuka.


“Akhirnya... akhirnya, aku kembali... aku mengetahui mengapa diriku dilahirkan ke dunia ini. Namaku bukanlah Elesis, melainkan Lilith, sang permaisuri. Ahhh ... wahai terkasihku, akhirnya aku kembali dalam pelukanmu lagi. Peluklah diriku, sayangilah diriku, aku akan melayanimu dengan segala yang kumiliki.”


Sambil menatap Ryan dengan tatapan gairah, Lilith kembali mengecup pipi kanan Ryan.


Langit malam yang kelam kini di terangi oleh bulan purnama yang sangat sempurna indahnya. Bintang-bintang bersinar redup dan digantikan oleh awan-awan kelam yang menyelimuti seisi tempat itu.


Ketika sang permaisuri Lilith memeluk erat Ryan. Ia menolehkan kepalanya ke arah Vlad. Kemudian menatapnya dengan dingin. Setelah itu Ryan dan Lilith terbakar oleh api putih yang membara, membentuk sebuah motif bunga indah.


Setelah mereda. Penampilan Lilith berubah seutuhnya. Kemeja, rompi serta roknya telah berubah menjadi sebuah gaun hitam yang sangat indah. Bagian bawahnya penuh renda-renda merah padam. Untuk bagian atas dadanya cukup terbuka hingga memperlihatkan belahan payudara.


Sedangkan bagian lengannya panjang, kedua bahunya terekspos. Begitu lembut dan juga halus. Sedangkan untuk Ryan, ia sama sekali tidak mengalami perubahan apapun. Hanya saja sekarang ia sedang terpejam.


Begitu ia membuka kembali kedua matanya, tatapan tajam yang sangat menindas membuat Vlad tak bisa bergerak. Karena tidak sengaja mengeluarkan panel statusnya, Ryan hanya bisa mendesah pelan.


“Ada apa, sayang?~”


Karena ******* itu, Lilith menjadi khawatir dan mendekatkan wajahnya ke arah wajah Ryan berada.


“Tidak... tidak ada, tetapi—“


Name  : Ryan Angga Baskara


Race    : Half-Vampire


Job      :【Shadow Assassin Lv 50】


Vitality: 7759


Agi       : 500    Psy Def           : 325


Int       : 201    Mag Atk          : 207


Luck    : 124    Mag Def          : 198


【Skill】


【Active】  =>


—Hidden Presence


—Shadow Stalker


—Phantom Dusk


【Passive】=>


—Counter Attack


—Back Stab


—Night Vision


—Blood Seeker’s


—Blood Art Mastery


【Tittle】


—Emperor of Bloodiast


【Unique Skill】


—Continuity Evolution


—Disdain Slave


Kali ini Ryan hanya bisa meneguk ludahnya sendiri. Ia tak menyangka semua statusnya berubah drastis. Terlebih lagi ia tak percaya bahwa semua keahliannya bertambah. Tidak hanya aktif, pasif bahkan unik, tapi Tittle pun berubah.

__ADS_1


Terutama keahlian unik Seal of Metamorph berubah menjadi Continuity Evolution. Selagi Vlad masih belum bisa menggerakkan otot-otot kakinya. Ryan mulai membaca keterangan dari Tittle baru miliknya.


Lilith melihatnya hanya dengan senyuman manis dan juga terkadang menggelitiki leher Ryan dengan ujung hidungnya.


Walau sedikit geli, tetapi Ryan menahannya dan mencoba membacanya.


“Tittle ini diberikan kepada mereka yang selalu memiliki sangkar di dalam hatinya. Semua status akan di tingkatkan hingga batas level yang wajar, ketika malam bulan purnama Unique Skill dapat digunakan dan Agility akan meningkat sangat drastis, kah.”


Kini Ryan cukup paham dengan penjelasan Tittle barunya, tetapi ia belum pernah menggunakan keahlian unik miliknya sama sekali selain dari Seal of Metamorph.


Lambang segel yang berada di dada kanannya kini kehilangan satu segi lima hitam. Namun, digantikan oleh rantai putih yang membatasinya.


Sebuah rantai hitam-kebiruan muncul di pergelangan tangan kiri Ryan dan melilit pergelangan tangan kanan Lilith. Lilith yang kaget sedikit mengerang, Ryan berusaha menenangkannya.


Namun, Vlad menggeram dengan kesal dan langsung menerjang Ryan dan Lilith saat itu juga.


Dengan refleks yang cepat Lilith dan Ryan pun saling bertukar pandang. Mereka pun ikut berlari, tetapi Ryan langsung menggendong Lilith dengan bridal style. Vlad yang kini hanya memiliki dua buah bar HP lagi langsung mengeluarkan semua kekuatannya yang tersembunyi.


Dua buah sayap gelap yang lebar keluar dari punggung kokohnya. Bulu-bulu hitam miliknya beterbangan dan hampir memenuhi ruangan kala itu. Saat ia ingin menyerang Lilith dan Ryan, ia langsung meluncur ke atas menuju balkon yang seingat Ryan memiliki lebar yang sangat luas.


Akhirnya mereka pun mengikuti Vlad. Melompat tinggi hingga sampai dia tas balkon yang luas.


“AHAHAHAHAHA!!! RASAKAN INI!!!!”


Begitu mereka sampai, ribuan bulu-bulu hitam tajam menghujani mereka dengan ganas.


Namun, Ryan dan Lilith menghindari itu seperti sedang melakukan dansa indah. Tangan kanan Ryan menempel pada pinggul Lilith sedangkan tangan kiri Lilith merangkul leher Ryan.


Mereka berdua seperti berdansa pada sebuah pesta mewah. Vlad kesal melihatnya dan memutuskan untuk menyerang mereka dengan kekuatan tangan kanannya. Aura hitam berkumpul menjadi satu, membentuk sebuah kobaran api hitam yang menyelimuti tangan Vlad.


Ketika Vlad akan melepaskannya, hanya dengan sentuhan lembut dari jari telunjuk Lilith. Kobaran api hitam itu padam, Vlad tak percaya. Mulutnya menganga dan ekspresinya menjadi kaku.


Di saat itu lah sebuah kilatan cahaya melengkung dari atas hingga ke bawah. Menebas dada serta perut Vlad dalam satu kali serangan. Bar Hpnya pun langsung berkurang drastis.


Setelah itu di lanjutkan dengan High Kick oleh kaki kanan Lilith. Vlad pun melayang karena dagunya terbang hingga ke atas.


Ryan dan Lilith bersama-sama melompat tinggi. Ryan mengeluarkan belatinya sedangkan Lilith mengeluarkan aura merah yang membentuk pedang merah.


Di langit itu keduanya saling melancarkan serangan beruntun yang terus menerus membuat Vlad berteriak dan merintih kesakitan. Bulu-bulu hitam sayap miliknya kembali rontok dan melayang lembut di udara malam itu.


Setelah selesai dan mereka berdua mendarat dengan selamat. Ryan mengucapkan Chant yang ia pernah ia ucapkan ketika membunuh Vlad.


“[From fate until reality, i... whom wielding his sword for exterminate the evil has ended his destiny in this calamity world]... bersitirahatlah dengan tenang... Vlad [Palsu].”


Dengan tebasan yang kuat ke atas. Sebuah gelombang merah kehitaman muncul dan membentuk sebuah taring merah. Melesat cepat dan menghantam telak Vlad dengan kekuatan penuhnya.


Tubuhnya terkikis sedikit demi sedikit karena serangan itu. Hingga akhirnya ia pun berteriak keras menggemakan seisi kastel pada saat itu. Suaranya mulai memudar dan akhirnya menghilang.


Ryan mendesah pelan lalu kembali mengambil napas untuk mengeluarkannya lagi. Lilith hanya tersenyum dengan kedua pipinya yang memerah. Menatap penuh kasih sayang pada Ryan.


Ketika Ryan menoleh untuk melihat kondisi Lilith. Ia sedikit canggung karena baru pertama kali memeluk seorang perempuan—wanita cantik di pelukannya itu.


Lilith pun menempelkan hidungnya ke hidung Ryan. Ia terpejam.


“Hmm ... setidaknya aku dapat kembali merasakan kehangatan seperti ini lagi. Kuharap momen seperti ini tidak akan pernah hilang~”


Kemudian kedua tangannya menyentuh kedua pipi Ryan dengan lembut.


“Tidak peduli jika kau membenciku, aku akan selalu mencintaimu apa adanya. Terimalah aku kembali ke dalam pelukan hangat yang berhasil mencairkan perasaan dan hatiku ini,” ucapnya lembut sambil tersenyum manis ke Ryan.


Suara lembut miliknya hampir saja membuat Ryan bergeming sesaat. Jika saja ia tidak tahan, maka mungkin saja wanita cantik di dekapannya itu akan ia lahap. Namun, Ryan mengerti hal yang seharusnya tidak perlu ia katakan dan pada akhirnya ia terdiam.


Tidak peduli apa yang terjadi ia masih belum mengerti situasinya saat itu. Ingatan yang dipermainkan, teka-teki Oz dan Lilith, siapa sebenarnya Elesis dan Lesta, bahkan ia masih belum mengerti mengapa dirinya berada di dunia ini.


Ryan pun melepaskan tangan Lilith dari kedua pipinya. Saat itu juga Lilith gemetar dan ia tidak ingin kejadian seperti itu terjadi lagi. Sebelumnya ia pernah di tolak oleh Ryan[Oz], tetapi apakah hal itu akan terulang kembali.


“Jawab pertanyaanku terlebih dahulu”


“Apapun akan kujawab hanya untukmu, wahai terkasihku~”


“Mengapa kau memanggil namaku dan bukannya Oz?”


Lilith menyunggingkan senyum kecil.


“Oz itu adalah nama pemberian dan nama aslimu adalah....”


Lilith pun membisikan nama itu di telinga kanan Ryan dengan lembut.


Dari raut wajah Ryan yang kaget, Lilith sudah bisa menebak bahwa sekarang Ryan mengalami syok.


“Ini sulit kupercaya, tapi untuk sementara ini aku akan mempercayainya.”


Raut wajah Lilith mulai melembut dan memelas. Melihatnya seperti itu, Ryan merasa bersalah karena telah memanggil nama serta menciumnya.


“Sebaiknya kita segera pergi dari sini... “


“Hmmm? Apakah kau tidak ingin menyebut namaku?~”

__ADS_1


“Huhh... baiklah, baiklah aku menyerah, ayo ... Lilith”


“Unnn....”


__ADS_2