
“Sepertinya ini tidak semudah apa yang kubayangkan.”
Suasana yang kembali mulai menegang pada saat itu juga mengharuskan Ryan, Elen dan Party yang lainnya berpikir keras.
Bagaimana cara mengalahkan Golem itu sementara ia tidak bisa dilukai begitu saja dengan mudahnya. Ditambah dengan daya regenarasinya yang sangat cepat, serangan kecil ataupun menengah pasti tidak akan berdampak.
Untuk para pemula di lantai satu ini sangat lah mustahil untuk mengalahkan Monster seperti itu. Di tambah dengan status yang sama sekali tidak bisa di tebak bahkan tidak bisa diterka.
Di saat itulah Andre memberikan sinyal kepada anggota Partynya untuk melakukan serangan koordinasi dengan cara menepukkan tangannya beberapa kali.
Selintas sebuah anggukan dari masing-masing anggota Party terlihat.
“Kalau begitu... ayo kita lakukan!”
Seruan terdengar riang muncul dari Andre, Sera, Rokh dan juga Elesis.
Elen yang sempat kesakitan karena kepalanya yang berharga diremas oleh tangan jahat Ryan melangkah maju. Kini ia tepat berada di samping Sang pencengkeram tersebut.
“Kak, coba perhatikan mereka.“
Nadanya yang sudah tenang membuat Ryan sedikit terkejut. Pasalnya sikap yang kekanak-kanakan tadi menghilang dan kini berganti menjadi sikap profesional yang sebenarnya.
Namun, ada satu hal yang mengganjal pikiran Ryan saat ini. Itu adalah sebuah kalimat aneh yang terukir di atas kepala Golem itu sendiri—EMETH.
Itu adalah kalimat yang aneh, Ryan sendiri tidak bisa menebak kalimat itu berasal dari bahasa apa. Apakah hanya dirinya seorang yang menyadarinya kalimat itu ataukah Elen dan yang lainnya sama sekali tidak menyadarinya.
Ada yang aneh dengannya, tetapi keanehan apa itu?
Andre adalah Party Leader, ia mulai maju menghadapi Golem itu sebagai Knight. Baju zirah perak dan pedang sedangnya mulai berderik meminta untuk segera bertempur.
Setiap kali ia melangkahkan kakinya, debumam kecil di barengi suara metal yang sedikit berdecing terdengar.
Di belakangnya Rokh dan Sera ikut berlari. Sedangkan Elesis yang memiliki Job sebagai Bard diam di garis pertahanan. Jika saja salah satu teman Partynya terluka atau kelelahan ia akan membantu mereka dengan sihir-sihir Support cepat.
Lalu sebuah suara muncul....
“Sangat merdu sekali ... sebuah nyanyian!?”
Ketika Ryan menengok ke arah Elesis. Ia tidak percaya bahwa dia memiliki suara seindah itu. Ditambah lagi dengan wajah putih dan matanya yang lentik. Memiliki pesona seperti seorang Succubus.
Apalagi dengan rambut putih keperakannya yang digerai menambah atmosfer di sekelilingnya berubah drastis. Selagi Ryan termenung melihatnya, Elesis hanya bisa tersenyum sambil sedikit menggoyangkan tubuhnya.
Kecantikannya benar-benar berbeda di bandingkan saat pertama kali pertemuannya dengan Ryan.
Sebuah aura muncul di sekitarnya, berwarna biru cerah.
“Oooo... terima kasih, Elesis. Seperti biasa Skill Haste-mu selalu luar biasa!”
Sera mulai terlihat lebih lincah di bandingkan saat pertama kali ia melepaskan anak panahnya. Tubuhnya yang ramping itu bergerak seperti mengikuti arus angin berada.
Busur panjangnya telah siap, dua jari tangan kanannya mengambil sebuah anak panah yang berada di punggungnya. Tersimpan pada quiver berwarna cokelat yang tertutupi oleh sebuah Armor baja ringan keperakan.
Satu tarikan dari apitan kedua jarinya itu membuat tali busur tertarik dan ketika di lepaskan. Daya kejut yang ditimbulkan membuat anak panah yang berada di depannya melesat cepat sekali.
Sedangkan untuk Rokh, ia berlari seperti seorang elit yang sangat andal memainkan tombaknya. Ketika ia sampai di depan Golem itu bersama dengan Andre.
Mereka berdua sama-sama memainkan senjata mereka begitu cepat. Dengan bantuan dari Elesis yang memberikan keahlian pendukung mempercepat gerakan mereka. Sehingga saat mereka berlari atau bermanuver dengan senjata mereka. Kecepatan yang dikeluarkan menjadi lebih cepat dibandingkan kecepatan normal.
Kali ini beberapa tebasan ganda yang berupa tiga buah Hit dan di kalikan dua menjadi enam buah Hit di tambah dengan sebuah serangan jarak jauh dari Sera.
Tujuh buah hit yang langsung mengenai Golem itu berhasil merobohkannya. Namun, setiap kali serangan berhasil dilancarkan, sang monster besar itu sama sekali tidak mengalami kerusakan.
Tubuhnya yang hancur karena terkikis oleh kombinasi serangan Andre, Rokh, Sera dan bantuan Elesis. Secara cepat kembali menyatu seperti sedia kala. Setiap serpihan maupun kepingan tubuhnya yang terbuat dari batu itu lepas dari tubuhnya.
Seperti magnet yang kuat, semua itu kembali menempel pada tubuhnya lagi.
Golem yang sempat roboh itu mulai kembali bangkit dengan kedua kaki besarnya yang kokoh. Tanah pun kembali berguncang.
“APA!? Seharusnya ini tidak mungkin terjadi!”
Andre yang tak tahu harus membuat ekspresi apa kini mematung. Sementara Rokh entah mengapa tiba-tiba saja terhempas jauh dan menubruk Sera hingga belasan meter ke belakang.
“Rokh! Sera!”
Elesis tak diam saja ketika itu terjadi, ia pun segera kembali bernyanyi dan membuat sebuah Healing Magic untuk segera membantu Rokh dan Sera yang kini dalam kondisi kritis.
Status parameter mereka menunjukkan bar HP yang merah.
Andre yang kesal tak bisa berpikir jernih dan langsung melepaskan tiga buah tebasan acak. Kaki kanan Golem itu terkikis, tapi sayangnya kembali menyatu.
Ia tak tahu harus bagaimana lagi. Di saat itu pula ia mematung dengan menunjukkan ekspresi keputusasaan. Ia juga ikut terhempas akibat serangan keras Golem yang melemparnya ke langit.
Tubuhnya melayang begitu saja, kemudian jatuh dengan keras menghantam tanah di bawahnya. Ia pun terbatuk-batuk. Sementara Elesis masih bernyanyi untuk menyembuhkan Rokh dan Sera.
Ia tidak bisa fokus karena melihat Andre yang jatuh dan kini tidak bisa merespons.
Tangan kanannya yang berusaha menggapai kedua teman Partynya itu kini di bekukan oleh sebuah bayangan besar yang berada di atasnya.
“SIALLLL!!! Kenapa menjadi seperti ini!!!”
Ternyata itu adalah kaki sang Golem yang tengah terangkat tinggi sekali. Ketika kaki itu mulai jatuh dan akan menimpa Andre.
Elesis yang sedang menyembuhkan Sera dan Rokh pun tak bisa menahannya lagi. Sihirnya pun pecah dan kini ia mulai meneriakkan nama Andre keras sekali. Namun ....
“Elen ....”
“Aku mengerti, Kak.”
Pada saat itulah sebuah senyum yang menyiratkan harapan muncul.
Ryan dan Elen tiba-tiba muncul di hadapan Sang Golem. Menahan serangan penghabisan miliknya yang akan meratakan Andre sepenuhnya.
“Maaf kami hanya menonton saja”
“Ryan!?”
“Tenang kami berdua akan membantu kalian.”
Di wajahnya kini, Andre tampak sedih. Namun, bukan air mata penyesalan melainkan air mata terima kasih.
Ryan tidak mengetahui bahwa sesuatu seperti ini benar-benar sangat mengerikan bagi Andre dan juga Partynya.
__ADS_1
Ryan memberikan sinyal kepada Elen untuk membantunya. Walau ia tidak pernah melakukannya, tetapi setidaknya ia mencoba.
Sebuah serangan gabungan, antara serangan miliknya dan juga Elen. Elen mengerti dan ia tersenyum lebar ke arah Ryan.
Dalam sinyalnya itu, Ryan secara cepat menyiratkan bahwa ketika Golem itu akan menyerang kembali. Elen akan menyerang kepalanya sedangkan dirinya sendiri akan pergi untuk menjauhkan Andre dari Golem itu. Setelahnya Ryan akan segera menyusul dengan serangan cepat.
Ketika Golem itu terhenti, tangannya mulai terangkat dan mulai menjatuhkan diri ke arah Elen dan Ryan. Pada saat itulah mereka mulai melancarkan rencana singkat mereka.
“Ayooo!”
Ryan segera membopong Andre dan menjauh dari tempat itu. Sedangkan Elen melompat tinggi, mendarat di atas tangan sang Golem kemudian ia kembali melompat setelah berada di bahunya.
Ia pun berputar di udara sambil memutar-mutarkan Halbert yang dipegangnya. Sebuah aura merah keluar di sekitar senjata besar itu. Seiring berjalannya waktu, Aura itupun semakin tebal. Ketika ia telah mendekati Golem itu. Akhirnya ia menghantamkannya ke kepala sang Golem dengan kuat.
“[Flame Tempest!]”
Sebuah kobaran api yang sangat dahsyat meluap begitu saja. Membanjiri Golem itu dengan api yang sangat panas. Api itu membentuk sebuah pilar yang menjulang ke langit beberapa detik.
Kini Golem itu terbakar di dalam pilar api yang sangat panas, terus-menerus hingga pilar api itu lenyap.
Sebelumnya Elen telah diberitahu oleh Ryan bagaimana cara untuk mengalahkan Golem itu. Di saat Party Andre menyerang, Ryan menjelaskannya secara detail kepada Elen.
“Apa!? Jadi seperti itu?”
Raut wajah Elen tiba-tiba saja menegang. Ia tidak menyangka bahwa Golem itu bagaimana pun caranya tidak akan bisa dikalahkan oleh serangan yang kecil ataupun besar.
“Dengar, ya... Golem itu memiliki rune di atas kepalanya. Mau bagaimanapun kita menyerangnya, mau bagaimana kita membuat rencana untuk menghancurkannya, semua itu percuma saja”
“Kenapa?”
“Karena rune yang berada di dahinya. Rune itu memiliki arti hidup, sehingga jika rune itu tidak di hancurkan maka Golem itu akan terus beregenerasi. Contohnya saja jika kau menggunakan Skill dengan tingkat yang sangat tinggi, jelas bahwa Skill itu memiliki daya dan juga kekuatan yang besar sekali. Tetapi coba pikir-pikir kembal ... mau sekuat apapun, mau besar apapun Skill yang digunakan tidak akan berpengaruh jika di gunakan secara cuma-cuma”
“Jadi maksud, Kakak—“
“Ya, kita memerlukan sebuah presisi yang sangat tinggi. Bagaimana jika begini, contohnya jika kau ingin membunuh seorang ratu, tapi kau tidak bisa mengingat wajah dan juga penampilannya. Maka yang kau bunuh bukanlah dia melainkan orang lain. Sehingga kita tidak perlu menggunakan Skill yang sia-sia ataupun serangan yang tak berarti”
“Kakak... “
“Hmm?”
“Luar biasa!”
“Huhhh... jadi apa kau mengerti apa yang kujelaskan?”
Elen menggeleng pelan sambil tersenyum akan ketertarikan.
Ryan hanya bisa membeku karena apa yang ia jelaskan sama sekali tidak bisa dimengerti oleh Elen. Sambil meletakan telapak tangan ke wajahnya, Ryan memaparkan rencananya dengan lebih mendetail.
Ia pun mulai menjelaskan bagaimana cara mengalahkan Golem itu dengan satu kali serangan saja walaupun membutuhkan serangan pengalihan.
Perhatian mereka terpecah ketika mendengar teriakan Elesis meneriakkan nama Andre begitu keras.
“Elen! Aku tidak mempunyai banyak waktu lagi, aku akan menjelaskan rencanaku secara singkat!”
Elen mengangguk senang. Mereka berdua pun menerjang Golem yang akan meratakan tubuh Andre menjadi serpihan-serpihan data virtual.
“Setelah kita berhasil menyelamatkan Andre, aku ingin kau segera menyerang kepala Golem itu dengan serangan pengalihan. Selagi kau mengalihkan perhatiannya, aku akan menjauhkan Andre kemudian setelah itu menyusulmu secepat mungkin. Apa kau mengerti?”
Kini dirinya telah berada di hadapan Golem yang terbungkus oleh kobaran pilar api yang membara. Berdiri tegak sambil memanggul Halbert besarnya.
“Hahahaha. Bongkahan batu, apakah kau bisa keluar dari sana hidup-hidup!”
Dengan angkuhnya Elen berteriak seperti tokoh jahat dalam panggung drama.
Namun, perkataan Elen kembali di lemparkan kepadanya seperti “tentu aku pasti bisa keluar dari sini hidup-hidup”.
Sebuah bayangan besar muncul dan keluar dari pilar api itu seperti tidak terjadi apa-apa sama sekali. Bobot sosok itu lebih berat dan tampak hitam ketika sosok itu muncul dan membelah pilar api itu.
Elen sedikit kaget dan ia langsung menjaga jarak, berpikir bahwa perkataan Ryan dapat dipercaya. Elen langsung berlari, tapi ia terhenti ketika sosok itu muncul seutuhnya dengan warna yang baru.
Golem itu berhasil menghancurkan serangan Elen dan keluar hidup-hidup, tanpa luka sedikit pun, tetapi mendapatkan warna baru di permukaan tubuhnya.
“Hmmm... hebat juga tetapi–itu!?”
Ketika Elen akan menebaskan Halbertnya secara vertikal, sebuah bayangan hitam di atas kepala Golem tiba-tiba muncul. Bayangan itu semakin besar lalu menyusut, mengeluarkan sesosok laki-laki yang sangat diharapkan Elen untuk datang secepat mungkin.
“Haaaaaa!!!”
Itu adalah Ryan yang sedang bermanuver di udara dan keluar dari dalam bayang-bayang gelap. Dengan waktu yang singkat itu ia pun menyeimbangkan tubuhnya lalu melesatkan sebuah tebasan vertikal menyilang yang cepat.
Serangan itu berhasil menggores sesuatu di dahi Sang Golem.
Elesis yang melihatnya hanya berharap hal seperti ini segera berakhir. Ia juga sedang menyembuhkan Rokh, Sera dan Andre yang kritis. MP yang ia miliki mungkin tidak akan cukup untuk membuat mereka bertiga sembuh total.
Setelah Ryan berhasil mendarat, ia pun menegakkan lengan kanannya ke atas. Ia seperti sedang meraih sesuatu dan akhirnya berjalan pelan menuju Elen sambil tersenyum kecut.
“Lenyap,” gumamnya pelan sambil memasukkan kembali belati ke dalam sarungnya.
Seketika itu sebuah gemuruh dapat terdengar, Golem yang berada di belakang mereka bergetar hebat lalu tidak lama setelah itu hancur menjadi bongkahan-bongkahan batu yang berserakan.
“Mission Success ... yeahhh!”
Rasa itu tiba-tiba muncul dan Ryan begitu senang karenanya sampai-sampai ia melompat kecil.
“Hmmm... jadi kak Ryan bisa kayak gitu juga, ya?”
“Apakah ada masalah?”
“Tidak”
“Kalau begitu kita harus cepat pergi ke tempat Elesis berada.”
Elen mengangguk pelan lalu mereka pun berlari ke arah Elesis yang masih terisak-isak sambil menyembuhkan ketiga Partynya itu.
Saat Ryan dan Elen telah sampai di sana, kondisi Andre, Rokh dan Sera masih sama. Entah apa itu, tetapi mereka seperti berkeringat dingin.
“Apakah kalian tidak memiliki ramuan penyembuh?”
Dengan nada yang mengkhawatirkan itu Ryan bertanya sambil merendahkan tubuhnya.
Elen yang berada di sampingnya hampir-hampir memiliki tinggi yang sama ketika Ryan merendahkan tubuhnya.
__ADS_1
Elesis menggeleng pelan, ia pun menghentikan nyanyiannya begitu ditanya oleh Ryan.
“Kami tidak memilikinya.”
Ryan cukup kaget dengan penuturan Elesis yang tampak pasrah itu. Ia sepertinya memang tidak memiliknya, terlebih lagi ia juga memaksakan dirinya untuk menyembuhkan mereka bertiga secepat mungkin.
“Kalau begitu berikan ini kepada Andre”
“Eh?”
Ryan segera membuka panel penyimpanannya, menggeser layar panel ramuan lalu mengirimkannya ke Elesis. Sebuah panel transparan muncul di hadapan Elesis yang memberitahukan apakah kau akan menerima barang itu atau tidak.
Elesis segera menekan tanda Yes lalu menyentuhnya, menggenggamnya dan memberikannya kepada mereka bertiga. Namun, satu ramuan hanya dapat diberikan kepada satu orang dan tidak lebih.
Elen cukup kagum juga ketika Ryan memberikan ramuan itu kepada Elesis yang akan di gunakan untuk menyembuhkan salah satu anggota Party Andre.
“Kak, dari mana Kakak mendapatkan ramuan penyembuh itu?”
“Hmmm... apakah ada masalah, Elen?”
“Tidak. Hanya keberadaan ramuan seperti itu di dunia seperti ini sangat langka. Hanya beberapa toko saja yang menjualnya secara khusus atau tidak seorang Player yang memiliki keahlian Pharmacy”
“Hooo! Selangka itu, kah?”
Elen mengangguk pelan.
“Apakah Kakak tidak tahu tentang itu?”
“Seperti yang kau lihat dari ekspresiku, aku sama sekali tidak mengetahuinya”
“Aneh?”
“Apanya yang aneh? Bukannya itu kau, ya?”
“Aku?”
Elen menunjuk dirinya sendiri sambil kebingungan.
“Kau memiliki level di atas tiga puluh”
“Hahaha... tentang itu rupanya.”
Senyum mengembang di wajah Elen, sambil tertawa kecil ia tak percaya Ryan menanyakan hal seperti itu. Ia kira hal yang aneh itu adalah penampilannya yang mungkin terlihat terlalu gothik di mata Ryan.
“Levelku sebesar ini adalah berkat Tittle yang kudapatkan... bukankah kakak menyadarinya sedari tadi?”
Ryan menepuk telapak tangannya sendiri.
“Ahh, itu toh. Sekarang aku mengerti kenapa kau tidak kecapean setelah mengeluarkan Skill sehebat itu!”
“Tittleku sendiri memiliki beragam efek dan salah satunya adalah mempercepat levelku. Selain itu juga ada beberapa efek Tittle ini juga yang memberikan kutukan terhadapku, apakah kakak melihatnya tadi saat aku bertarung?”
Sebuah anggukan kecil pertanda iya muncul dari Ryan.
“Apakah itu juga salah satunya, ya? Kukira itu adalah sifatmu ....”
Namun, Elen menggeleng dan perhatiannya kembali tertuju pada Elesis yang kebingungan untuk memberikan ramuan itu pada siapa.
“Apakah kau belum bisa memutuskannya?”
“Ini tidak semudah itu, Ryan.”
Dari raut wajahnya saja, Ryan dan Elen sudah bisa menebak saat ini Elesis sangatlah tidak tahu harus berbuat apa.
“Sebaiknya kau memberikan ramuan itu kepada Andre, dia adalah pemimpin Party terlebih lagi dia memiliki Job yang cocok untuk melindungi kedua anggota Partynya jika nanti terjadi penyerangan mendadak.”
Seketika itu Elen langsung melihat Ryan dengan tatapan takjub. Kemampuan analisa, kondisi bahkan risiko yang sangat cepat itu benar-benar mengagumkan. Terlebih lagi dari Jobnya yang seorang Assassin itu lah yang membuatnya spesial.
“Dia memiliki Job sebagai Knight, Job itu hampir mendekati parameter Tank tetapi lebih cocok untuk pertarungan keras seperti tadi. Dengan Equipment yang dimilikinya kupikir ia akan bertahan... lagi pula Equipment yang digunakan oleh Andre memiliki pertahanan yang lumayan besar ketimbang Rokh yang memiliki Job sebagai Lancer dan Sera sebagai Archer.”
Ryan mendesah pelan.
“Jika kau tidak tahu apa yang akan kau lakukan selanjutnya ... gunakanlah hatimu untuk bertindak, jika saranku dapat menyentuh hatimu, maka pertimbangkan lagi apakah perkataan seorang laki-laki yang baru kalian temui ini memiliki ancaman atau tidak. Sekarang semua keputusan berada di tanganmu, Elesis.”
Kedua mata Elesis membesar dan isak tangisnya hampir berhenti dikarenakan penjelasan logis dari Ryan.
“Aku memang pemalas dan sangat tidak menyukai hal seperti ini, tetapi karena itulah aku mendalaminya sehingga aku dapat menghindari hal semacam ini”
“Tetapi—“
“Tidak ada waktu lagi, Elesis. Aku tidak tahu mengapa kau memiliki ekspresi seperti itu ketika hal ini hanya berupa sebuah gim belaka, tapi jika kau mengetahui “hal” itu, maka lain cerita.”
Elesis masih mematung sambil menatap Ryan yang berdiri kini berdiri tegak di samping Elen. Dari pancaran kedua matanya, Elesis tidak tahu seperti apa sifat dari seorang Player bernama Ryan ini.
“Jadi sekarang bagaimana keputusanmu?”
Dengan mengusap kedua matanya, Elesis mengangguk penuh keyakinan.
“Bagus... akhirnya kau dapat membuat keputusanmu sendiri, kalau begitu sampai nanti.”
Ryan memberikan sesuatu kepada Elesis. Itu adalah sebuah Item yang digunakan untuk mengirim seseorang ke mana saja. Tetapi jarak tempuhnya tidak terlalu luas.
“Gunakan itu jika ingin menyusul... ingat jika ingin. Aku tidak bertanggung jawab setelahnya ... karena—hwaaaaahh”
“Hahahaha....”
Elen tertawa begitu melihat Ryan menguap cukup lebar.
“Jangan salahkan aku, lagi pula jadwalku masih berpengaruh di dunia ini.”
Ketika Ryan melihat raut wajah Elesis yang kaku, ia pun segera meninggalkannya begitu saja. sekarang ia pergi menuju Golem yang telah ia hancurkan.
“Apakah kau akan meninggalkannya, Kak? Elesis itu perempuan lhoo~”
Elen pun mengikutinya dari belakang sambil terheran-heran.
“Meskipun ia seorang perempuan, sebuah keputusan juga berlaku untuknya dan tidak semua harus bergantung pada laki-laki”
“Hmmm... jadi untuk apa kita ke tempat ini? Golemnya sudah hancur, ‘kan?”
Ryan menatap langit dan Elen pun mengikutinya.
__ADS_1