Nameless Crown

Nameless Crown
Chapter 42 - Gemini Vs. Astralis II


__ADS_3

“Hehhhh~ kalau begitu tunjukkan natural itu kepadaku?~”


“Mungkin memang sudah waktunya ....”


Sedari awal Ash sebenarnya sedang meraba-raba kekuatan barunya. Terlepas dari batasan dan minimnya pengetahuan yang bisa ia pahami, Ash tetap maju tanpa mengenal rasa takut.


Ia tidak tahu konsekuensi seperti apa yang akan ia dapatkan ketika ajal menjemputnya. Meski begitu, dirinya tetap memiliki pandangan tersendiri mengenai Event kali ini. Baik sosok Lilith yang sedang menjaga tubuhnya ataupun Nardhal yang kini menjadi Boss kejutan, Ash sama sekali tidak goyah.


Keningnya mulai sedikit mengerut, Sang Astralis pun dalam sekejap menghilang dalam kumpulan kelelawar hitam. Alhasil semua serangan Nardhal meleset dan tidak ada satu pun serangan tambahan yang mengenai Ash.


Kecepatan ... itulah kata kunci yang sedang digunakan olehnya. Bergerak menggunakan insting sebagai pemburu malam hari dan algojo di saat bulan purnama, aura hitam pekat yang menyerbak keluar dari tubuh Ash mulai menampakkan wujud sesungguhnya.


“Apa?!—ini mustahil—“


“Tidak ada yang mustahil sebelum kau mencobanya,” bisik Ash di telinga kiri Nardhal.


Sontak Sang Gemini pun menyibak lengannya sekuat mungkin. Tanah kembali bergetar akibat bunyi dengungan yang keluar dari letupan energi. Begitu juga dengan aura yang mengamuk, tak henti berkoar mencari mangsanya.


Namun, Ash berhasil menghindar, menyelinap melalui sela dimensi bayangan. Ia pun melepaskan sebuah tebasan diagonal ke arah punggung Nardhal dengan sangat cepat.


Belati dengan pemberian nama Juggernaut Dagger itu layaknya sebuah sabit dewa kematian. Saking banyaknya energi kegelapan darah yang dilapisi oleh aliran Mana konstan, menjadikan serangan itu seperti serangan penghabisan.


“Jatuh,” ucap Ash dingin.


Bahkan pelindung tak terlihat milik Nardhal sekalipun tak bisa menahan serangan tersebut. Retak dan berdebum hebat. Hancur lalu terhempas jauh ke bawah bagai ledakan rudal penghancur.


Akhirnya ia yang disebut sebagai Sang Gemini—penjaga mutlak dari dungeon rahasia jatuh ke tanah dengan posisi memalukan.


Namun, disela serangan tersebut, efek khusus dari Sang Juggernaut tampak tak aktif atau tepatnya sama sekali tidak memberikan dampak. Itu karena Nardhal memiliki kemampuan pasif yang akan meniadakan semua efek status negatif terkecuali serangan murni.

__ADS_1


“GRAHHHH!—“


Nardhal pun bangkit sembari berteriak kesal. Satu bar HP-nya pecah dan kini menyisakan empat bar lagi.


Di depannya, Ash sedang berdiri, memperhatikan sosok Nardhal yang geram dengan ekspresi kecut nan abstrak. Suaranya masih sama bergema dan memikul dua nada, tapi niat, dan penyampaiannya tidak berubah,


Meski kesal dengan wajah mengerut, Nardhal hanya berdiri menatap tajam Ash begitu pun sebaliknya. Begitu sebuah kerikil mengambang jatuh, kedua sosok itu pun lenyap, dan meninggalkan bekas tebasan di mana-mana.


Baik Nardhal dan Ash saling menyerang satu sama lain. Bertahan menggunakan berbagai metode kemudian menyerang balik, meninggalkan bunyi pantulan bertubi-tubi yang tak terhitung jumlahnya.


BAMM! STANGG! STINGG! STUNGG! BHUAMMS!


“Tinggal lah di dalam bayang kabut, [Blood Phantasmal],” gumam Ash.


[Blood Phantasmal] adalah kemampuan untuk mengembangkan serta meningkatkan segala potensi yang dimiliki oleh Sang Pengguna. Dengan statusnya yang telah ditingkatkan oleh [Continuity Evolutin] dan kekuatan Lilith, setelah menggunakan kemampuan itu Ash semakin bertambah kuat—dengan tambahan catatan.


Kekuatan itu hanya akan aktif apabila semua kondisi telah terpenuhi layaknya kemampuan unik dan salah satunya adalah ketika Ash berada dalam efek [Continuity Evolution].


Nardhal pun sadar akan perubahan yang dialami oleh Ash, karena itulah ia terkadang menjaga jarak sembari mengamati apa yang terjadi pada Player itu.


Bulir-bulir darah mendidih, pompa adrenalin terus mengalir tak henti-henti. Kedua mata Ash semakin menggelap, jatuh tenggelam menuju zona area penuh ketamakan.


Di sisi lain Lilith sebagai penjaga Ash mencoba menstabilkan kondisi abnormal apa saja yang terjadi di dalam tubuh kekasihnya itu. Ia tak bisa beristirahat dan masuk ke dalam mode fokus demi cinta serta rasa kasih sayang terhadap subjek yang sedang ia jaga.


Alhasil kekuatan mereka terus berbenturan, di mana serangan Nardhal berhasil dipatahkan oleh Ash dan begitu juga sebaliknya.


Takhta putih pun sekali lagi berguncang hebat. Bunyi-bunyi ledakan bermunculan di mana-mana, Ash sangat teliti dengan di mana ia akan menyerang, dan bertahan karena bisa saja semua itu berdampak pada pelindung Lilith.


Pelindung Lilith yang kini mengamankan Party Fion dan Elen. Jika sampai ia salah langkah dan menyebabkan pelindung itu rusak atau mengalami penurunan daya tahan, maka hal itu akan menjadi alarm merah baginya.

__ADS_1


“Jangan sombong. Ini hanya permulaan.”


Kata itu terucap bersamaan dengan sebuah bola energi yang muncul di atas Nardhal. Tubuhnya yang jatuh kembali melayang perlahan, mengambang di udara, atmosfer di sekitarnya pun ikut berubah drastis.


Sosok penuh putih, terlihat tenang bagai danau sepi, dan elegan dikala malam melintas sesaat di atas dunia. Semua itu sirna dan wujud aslinya pun muncul seperti malapetaka yang tak dapat dihentikan.


Perlahan-lahan bola energi itu membesar, membelah, menjadi kecil, dan akhirnya meninggalkan bekas percik api kebiruan. Melayang ... mengelilingi bola energi itu seperti tali astral.


“Gawat. Cepat menjauh darinya, Ash!”


“Apa seberbahaya itu?”


Lilith mengangguk dari wujud rohnya, Ash pun mengerti, dan mulai membuat pelindung kegelapan seperti lapisan kaca tak kasat mata. jika cahaya dapat memantulkan dan meneruskan cahaya, maka pelindung Ash bersifat mengurung lalu melenyapkan setiap fraksi itu dari penglihatan.


Sementara Lilith mengurung Ash dalam pelindung yang sama seperti pada kelompok Fion dan Elen. Di sisi lain Sang Astralis itu membuat sembilan lapis pelindung kegelapan di sekitarnya, sebelum seluruh tubuh ramping berisi itu diselimuti oleh aura darah.


Nardhal hanya menyeringai. Melihat usaha Ash yang akan segera hancur dalam sekejap, Ia pun terkekeh sinis. Di dalam pikiran artifisialnya, ia berpikir bahwa kemampuan Ash tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kekuatan yang sekarang ia tampilkan.


“Hmph. Percuma. Musnahlah, [Bifraction]!”


Seketika itu juga semuanya lenyap. Hanya menyisakan amarah petir dan bunyi hancurnya berbagai material. Begitu pun dengan takhta putih milik Sang Gemini sendiri ... hancur tak menyisakan apa pun.


Semuanya berubah menjadi tanah gersang dengan bekas urat-urat api yang menggeliat di atas permukaan. Badai pasir menerpa semuanya tanpa terkecuali.


Sementara itu Sang Gemini mengambang di atas ketiadaan itu dengan seringai lebar dan ekspresi puas.


“Hahahaha. Lihatlah kekuatan ini. absolut. Tiada ampun. Mahluk kecil pun bertekuk lutut. Mereka bersujud kepada kekuatan ini ....”


Namun, dari ketiadaan itulah lahir sebuah pohon utuh. Tak berbunga maupun berdaun. Ketika batang tengah lebarnya itu robek, sosok Ash muncul dengan tampilan berantakan, bahkan warna bar HP-nya sendiri menjadi merah cerah.

__ADS_1


Di sisi lain Kelompok Fion dan Elen tidak terlihat di mana pun. Mereka seperti lenyap ditelan oleh serangan Nardhal, tapi pada kenyataannya Lilith lah yang memindahkan mereka sebelum serangan pembantai masal itu mengeluarkan taringnya.


Ini benar-benar melelahkan, statusku berkurang setengah hanya demi menyelamatkan mereka, huh? Batin Ash.


__ADS_2