Nameless Crown

Nameless Crown
Chapter 34 - Permainan Endymion I


__ADS_3

Benua Cirrus, Ibu Kota Exalos, Kerajaan Sirotia


Di sebuah ruangan tertutup, pintu menuju beranda terbuka lebar lengkap bersama dengan kibaran helai gorden yang diterpa angin. Seorang perempuan elegan sedang duduk di atas kursi menghadap keluar sembari melihat keluar.


Ia mengenakan pakaian kerajaan, gaun indah, jubah kebesaran, dan mahkota pertanda bahwa dirinya adalah anggota kerajaan. Dengan perwujudan bak bidadari yang tak dapat dijangkau oleh siapa pun.


Penampilannya seperti cahaya di siang hari. Rambut putih pasi sedingin langit biru dan dua mata violet seharum taman di pagi hari. Dalam dekapan tangan kirinya terhampar sebuah buku harian dan di tangan kirinya sebuah pensil sedang beristirahat.


Ia adalah Elesis, Putri Mahkota Kerajaan Sirotia. Sebagai kandidat penguasa masa depan, dirinya tengah mencatat aktivitas, dan juga fenomena yang terjadi di sekitar dirinya. Baik itu buruk maupun baik.


Tidak lama setelah itu, ia menyingkap sampul buku tersebut kemudian meletakkannya di atas meja yang berada di samping kanan.


“Sepertinya perubahan ini tidak akan bisa dihindari lagi. Namun, aku yakin Ash pasti bisa melaluinya,” ucapnya dengan penuh perasaan.


“Yang mulia, sebentar lagi kita akan segera pergi menemui perwakilan dari Kerajaan Garnias, dan Kekaisaran Krodia.”


Mendengar itu, Elesis pun tersenyum tipis kemudian melirik ke arah sumber suara tersebut. Kini tepat di depan matanya berdiri seorang kesatria gagah berzirah lengkap.


Ekspresinya tenang dan datar. Tidak memperlihatkan kelemahan sedikit pun, meski begitu ia berdiri sembari memposisikan diri cukup dekat dengan Sang Putri.


Berbeda sekali dengan penampilannya yang genit dan terbilang sangat ingin diperhatikan. Kini dirinya sangat rapi, tegap, dan mengeluarkan aura kewibawaan yang cukup tinggi.


Tatapannya tenang dengan mata sayu tipuan, ia pun menarik napas lalu dengan halus mengingatkan Elesis sekali lagi.


“Yang mulia, apakah Anda ingin melewatkan jadwal resmi ini? Ataukah saya perlu mengubah jadwal tersebut sesuai dengan kebutuhan Anda?”


Elesis pun tertawa geli, dengan raut ramah nan menyegarkannya itu, kini gilirannya lah untuk membalas tawaran tersebut.


“Tentu saja tidak, Kapten Divisi Pertama, Lesta. Aku akan segera ke sana, jadi tolong tunggu di luar sebentar”


“Baiklah.” Lesta membungkuk kecil lalu berbalik kemudian beranjak pergi menuju ke luar kamar.


“Hahhh. Seandainya saja Ash melihat sisimu yang seperti ini, mungkin aku bisa melihat ekspresi puasnya tanpa perlu memperhatikan statusku ini,” gumam Elesis sembari menghela napas.


Sang Putri pun bangkit lalu berjalan pelan ke arah beranda yang terbuka lebar. Kilauan mata miliknya memantulkan pemandangan langit biru cerah. Untuk beberapa saat itu, ia hanya memandangi langit tanpa mengatakan sepatah kata apa pun.


Namun, jauh di dalam hati kecilnya, ia sedang mendoakan keselamatan Ash. Sebagai seorang perempuan sekaligus sosok terpenting dalam hidupnya.


***


15 menit sebelum kemunculan Endymion of Astrea, The Agravidas ein Licinas.


Jauh di tempat yang berbeda, dua orang bersaudara sedang kesulitan menghadapi sosok misterius di dalam Dungeon. Mereka adalah Fion dan Fiona, dua orang bersaudara yang masuk ke dalam Dungeon rahasia setelah Ash dan Lilith.


Apa yang mereka temukan setelah menyusuri tempat tersebut adalah munculnya sosok monster aneh yang dapat dikategorikan sebagai monster unik.

__ADS_1


Dengan kepercayaan diri sebagai seorang Player unik itu sendiri, Fiona langsung menggempur monster tersebut tanpa rasa takut sedikit pun. Hal itu juga didorong oleh dukungan Sang Kakak, yang tidak lain adalah seorang Grand Mage.


“Arah titik yang telah aku tandai, Fiona!”


“Baiklah, Kak!”


Tubuh kecil berhoodie kelinci itu bergerak cepat di antara serangan duri batu yang bermunculan dari berbagai sisi. Menghindari semua serangan dengan sempurna lalu mencari posisi tepat sebelum akhirnya melompat tinggi sembari mengayunkan sabit penghakiman.


Sebuah ayunan cepat nan kuat melambai halus, menyabit Sang Endymion yang terduduk sembari menekuk lututnya. Makhluk tersebut dengan refleksnya yang cepat menepis serangan Fiona.


Alhasil tubuh gadis kecil itu terlempar jauh ke belakang karena tidak kuat menahan tekanan tangan Endymion.


“Gahh!—“


“[Aerial Glasial]!”


Namun, Sang Kakak juga tidak diam saja. Dengan cekatannya Fion langsung melepaskan sihir pelindung ke arah Fiona. Sihir itu melindungi Sang Adik dengan bola angin kemudian menurunkannya perlahan-lahan ke atas tanah.


“[Burst Storm]!”


Begitu Fiona berhasil selamat mendarat, Fion pun mengeluarkan sihir kedua. Petir-petir menjerit di sekitar pergelangan tangan kanannya sementara gelombang kejut meledak-ledak melapisi Sang Petir.


Ketika ia menjentikkan jarinya, semua fenomena mutasi itu menghilang lalu muncul di bawah Endymion. Melejit keras bagai hentakkan gempa bumi, semua atribut sihir itu meledak-ledak membentuk pusaran angin guntur.


Bahkan ekspresi serius Fiona yang tadi sempat percaya jika sihir besar tersebut dapat melukainya kini menjadi pucat pasi. Ia tidak bisa mengekspresikan keterkejutannya itu dengan kata-kata.


Ia hanya bisa menguburnya dengan mulut yang gemetar. Tanpa bisa memprediksi apa yang akan terjadi selanjutnya, Fiona mengambil langkah pasif, dan bersiap dengan segala kemungkinan terburuk.


Namun, nyatanya makhluk tersebut hanya tertawa dengan suara statis yang terhenti-henti. Bentuk wajah scream ... hanya orang awam saja yang tidak mengetahui seperti apa keseraman dari bentuk intimidasi topeng horor nan mengejutkan tersebut.


Indikator yang awalnya ungu pun kini berubah menjadi merah lalu limar bar hijau muncul disertai satu jeruji pada bagian terakhir bar tersebut. Dan setelah itu warna nama yang muncul di atas kepala beserta level pun ikut berubah.


[Endymion of Tranquila Lv.120]


“A-apa?! Ini tidak mungkin!”


“Seekor monster berlevel tiga digit di lantai pertama? Apa gim ini mempermainkanku?”


Baik Fiona maupun Fion sama-sama terkejut. Mereka hanya bisa mengeratkan pegangan pada senjata masing-masing. Dengan anggapan tidak lama lagi mereka akan dihabisi oleh monster tersebut.


“Bersiaplah Fiona, firasatku buruk tentang ini”


“Aku mengerti, Kak.”


Kepercayaan diri Sang Adik pun seketika luntur begitu mendengar peringat Sang Kakak. Terlepas dari status mereka sebagai Player unik, tapi ketika dihadapkan pada ketidakpastian serta krisis yang tiba-tiba saja muncul. Ia pun tidak dapat menyangkalnya lagi jika isi pikirannya saat ini dipenuhi oleh keraguan.

__ADS_1


“Jangan gegabah! Kita harus memastikannya dulu apakah monster ini masih berada dalam jangkauan kita atau tidak, kamu mengerti, ‘kan, Fiona?”


“Y-ya!—“


Dengan sihir angin dari hentakkan kecil tongkat, Fion segera mendekati Adiknya kemudian menepuk punggungnya beberapa kali. “Tenang ... aku masih ada di sini.”


Fiona menundukkan kepala lalu menarik ujung hoodie ke bawah. Ia berusaha menutupi ekspresi kecut dan ketidakberdayaan itu dari Sang Kakak, tapi setelah Fion menepuk punggungnya. Perasaan gundahnya pun seketika itu sirna tanpa bekas.


Adapun fakta mengenai seberapa ganas serangannya dalam membantai monster di lantai pertama. Namun, serangan tersebut sama sekali tidak berdampak pada Endymion, dan berkat itulah Fiona merasa dirinya sedikit tidak berguna.


Untungnya Fion segera memberi dukungan moral kepada Adiknya tersebut. Jika tidak, maka mungkin saja formasi mereka akan hancur, dan pertarungan menjadi lebih sulit.


Selain fakta bahwa lawan yang mereka hadapi saat ini sudah berada jauh dari kata normal. Namun, sebagai Player unik, hal itu sama sekali tidak membuat mereka mundur, justru berkat itulah kelayakan mereka diuji saat ini.


Fiona yang telah memantapkan hati serta menenangkan dirinya kini berdiri sejajar dengan Sang Kakak.


“Apa kita masih punya kesempatan?” tanyanya sembari mengeratkan genggamannya pada gagang sabit.


“Setelah aku melakukan analisa cepat dan penilaian secara menyeluruh. Sepertinya kita hanya memiliki 0,7% kesempatan untuk menang,” balas Fion sembari memperbaiki kacamata dengan jari telunjuk. “Meski begitu, apa kamu masih ingin melanjutkannya ... Fiona?”


“Kalau ini adalah dunia asli, mungkin aku sudah menangis karena ketakutan, tapi di sini ... di “dunia” ini. Aku sama sekali tidak takut.”


Fion pun langsung menutup mulutnya dengan punggung tangan. Ia mencoba menyembunyikan tawa sontaknya, tapi sayang Fiona mengetahui hal itu, dan langsung membuang wajah.


“Perkataan itu berasal dari seorang gadis kecil yang tadi gemetaran setelah serangannya gagal. Aku takjub dengan hal yang kamu sebut sebagai harga diri itu, Fiona. Namun, yang lalu biarlah berlalu ... sekali lagi ... apa kamu yakin?”


Fiona mendecakan lidahnya. “Terkadang perkataan Kakak lebih menyakitkan dari pisau tajam, huh?” Setelah itu ia memasang kuda-kuda siap sembari mengarahkan tatapannya pada Endymion. “Apa dengan ini Kakak percaya?”


Mata Fion sedikit melebar lalu ia meremas dadanya yang mana tepat di dalam pakaian kebesaran Grand Mage itu terdapat sebuah liontin. Benda peninggalan yang ia tidak tahu bagaimana bisa berada di dalam kepemilikannya meski telah berpindah “Dunia”.


Sosok Adik manja dan cengeng itu kini telah besar, berdiri sejajar dengannya di atas medan pertarungan. Selayaknya rekan seperjuangan hidup, Fion memejamkan matanya untuk beberapa saat.


Dalam gelapnya penglihatan, ia masih bisa melihat sesosok gadis kecil yang duduk di atas kursi roda. Tangan kanannya terangkat ke atas seakan ingin menggapai langit. Dengan senyum secerah langit biru, ia sama sekali tidak memperlihatkan kelemahan sedikit pun kepadanya.


Setelah itu Fion menarik napas kemudian mengeluarkannya lagi perlahan-lahan. Ketika matanya kembali terbuka, terlihat sangat jelas jika saat ini semua kegundahan, keraguan serta kelemahan pada dirinya menghilang.


Ia pun melepas cengkeramannya kemudian menatap tajam ke arah Endymion.


“Ini bukanlah akhir dari perjalanan kami,” tegasnya kuat.


Fion yang menyaksikan langsung perubahan ekspresi Kakaknya itu sedikit terhenyak, tapi setelah itu mulutnya bergemetar, dan akhirnya segurat senyum lega terhias di wajahnya.


“Benar,” timpal Fiona sembari mengangguk setuju. “Ini bukanlah akhir dari perjalanan kami!”


Namun, Endymion hanya terdiam sebelum mulutnya merekah lebar. Menampakkan senyum puas yang tak pernah dikira oleh kedua bersaudara tersebut.

__ADS_1


__ADS_2