
Kemampuan unik adalah suatu kemampuan yang dapat digunakan dalam keadaan tertentu. Sang Pengguna hanya bisa memakainya dalam kondisi, waktu, serta tempat yang tepat.
Ada pun persyaratan yang harus dipenuhi oleh Sang Pengguna agar dapat memastikan jika kemampuan unik benar-benar aktif. Mereka yang memiliki kemampuan ini dikategorikan sebagai Player unik.
Menurut Elesis terdapat delapan Player unik yang dapat menggunakannya, tetapi mereka adalah Player unik yang sangat mencolok hingga berhasil mencuri perhatian Taman Kecil itu sendiri.
Dengan kata lain mereka berbeda, langka, dan sangat kuat jika dibandingkan dengan Player unik lainnya.
Ketika berhadapan dengan Endymion, baik Fion dan Fiona sama sekali tak berkutik karena perbedaan level yang sangat jauh. Selain itu mereka juga tidak bisa menggunakan kemampuan unik mereka dikarenakan belum memenuhi syarat.
Dengan sedikit bumbu pedas yaitu, tempat pertarungan mereka adalah daerah khusus Sang Penjaga. Di mana setiap makhluk maupun mereka yang datang ke tempat itu status mereka akan dikurangi beberapa persen hingga ke titik tertentu.
Fion yang memiliki job sebagai Grand Mage sangat tertekan oleh efek minus tersebut. Apalagi Adiknya, Fiona, ia bahkan sama sekali tidak memberikan dampak sama sekali ke Endymion malah makhluk itulah yang melihat sosok Fiona sebagai makanan ringan.
Namun hal itu tidak berlaku untuk Ash, karena semua kondisi yang diperlukan olehnya telah terpenuhi. Sehingga tidak ada kata untuk tidak menerima kemampuan unik itu.
Ini akan sangat merepotkan jika mereka mengetahuinya, aku harus mencari cara agar bisa membuat mereka tidak melihat hal ini, batin Ash.
Kemampuan unik milik Ash bukan saja kuat, tapi bisa dikatakan rusak. Jika sampai kemampuan itu diketahui oleh orang lain, terutama mereka Player unik. Fakta bahwa Ash memiliki sesuatu yang sangat kuat seperti itu saja sudah membuatnya kerepotan.
Ia ingin tetap berada di bawah—tidak ingin menjadi pusat perhatian apalagi dengan semua teka-teki serta misi khusus yang diterima olehnya setelah mengalahkan Vlad.
“Memang tidak ada jalan lain,” gumam Ash sembari menggigit bawah bibirnya kecut.
Sementara Nardhal tampak masih mempersiapkan serangan selanjutnya. Sera dan Fion melepaskan serangan gabungan kembali.
“Ini adalah sihir terakhirku. Gunakan dengan sebaik mungkin, [Full Dive]!”
Dengan satu jentikan jari, sebuah gelombang kebiruan merambat cepat. Setelah itu merayap ke seluruh Player yang ada depannya—Sera, Elen, Rokh, Andre, dan tentu saja Ash.
Sera pun mengangguk mantap dan tanpa basa-basi lagi ia segera melepaskan tiga anak panah berkecepatan suara yang mana proyektil tersebut disusul oleh gerakan cepat Elen.
Di belakang gadis kecil itu Andre mengikutinya bersama Rokh.
“Sisanya ... serahkan saja kepada kami,” ucap Sera spontan.
Awalnya Fion merasa ragu, tapi perlahan-lahan mulutnya menyeringai tipis. Sebuah senyum lega dan ia pun akhirnya tumbang tak kuat menahan segala efek negatif dari pertarungan sebelumnya.
Melihat Sang Grand Mage tumbang, Ash pun menghitung satu di dalam batinnya kemudian ia memperhatikan sekitar sembari mencari celah untuk melancarkan serangan.
Berbeda dengan ketiga Player yang telah mendahuluinya, Ash perlu memastikan jalan masuk serta keluarnya dengan tepat. Jika tidak, maka kemungkinan besar ia akan terkena serangan paling keras dari Nardhal.
__ADS_1
Ketiga anak panah melesat bagai semilir angin di pagi hari—cepat, dingin, halus, dan tanpa suara. Namun, meski begitu Nardhal hanya perlu mengibaskan tangan kanannya dan semua anak panah tersebut hancur berkeping-keping.
Padahal sihir pendukung yang diaktifkan oleh Fion sebelum tumbang adalah sihir penguat yang sangat kuat. Bukan saja dapat mendorong kekuatan efek positif seperti bertambahnya kecepatan, ketangkasan, kolam Mana, ketangkasan, serta pelindung tak terlihat yang berlangsung selama lima menit.
Dari semua efek tersebut kekuatan serangan Sera yang berada jauh di bawah level sama sekali tak berdampak apapun alias nihil. Sementara Elen yang datang menerjang dengan Halbert besar yang diikuti oleh kedua rekannya masuk dengan cepat.
“[Skull Crush]!” teriak Elen.
“[Dymanite Entry]!” timpal Rokh.
“[Blasting Slash]!” pungkas Andre.
Kemampuan serangan Elen adalah serangan brutal yang melepaskan tiga buah hantaman kuat ke arah kepala. Halbert miliknya mengeluarkan aura merah pekat dengan intensitas kuat yang langsung menukik cepat ke arah Nardhal.
Di sisi lain Rokh merendahkan tubuhnya sehingga sejajar dengan lutut. Mengumpulkan seluruh kekuatan di kedua kaki, gravitasi yang ada di sekitarnya pun ikut menebal. Begitu sebuah ledakan keluar, ia pun melesat cepat bagai roket berkecepatan tinggi.
Sementara Andre mengentakkan ujung pedangnya ke tanah, jalur-jalur retakan pun tercipta. Seluruh tubuhnya dipenuhi oleh kekuatan besar yang berderu, tidak lama kemudian ia berteriak kembali sembari melepaskan tebasan kuat vertikal bawah ke arah Nardhal.
Tiga serangan kuat dengan perpaduan campuran yang berbeda, ditambah sihir penguat milik Fion. Semua serangan itu layaknya menjadi serangan pamungkas yang tiada duanya, namun ekspektasi penuh kegembiraan itu langsung hangus begitu mengenai Sang Gemini.
Memang berdampak dan mengurangi HP milik penjaga tersebut, tapi tidak cukup untuk menghancurkan satu bar. Apa yang mereka saksikan adalah rasa horor yang sesungguhnya karena serangan mereka hanya mengurangi tiga perempat bar saja.
Kemampuan pasifnya yang dapat memungkinkan ia bertambah kuat dengan sangat cepat bisa dengan mudah melampaui setiap Player di Taman Kecil. Itu semua berkat kemampuan uniknya yang bernama Super Growth.
Perk tersebut ia dapatkan begitu menginjakkan kaki di Taman Kecil. Kecepatan dalam berkembang, bertumbuh, dan memanen EXP lima kali lebih cepat dari Player lainnya. Namun, meski begitu ia tidak percaya jika serangan serta senjata khusus di tangannya hanya berdampak kecil.
Setelah mengambil kuda-kuda kembali, Elen yang berada dalam kondisi kebimbangan hanya bisa bernapas terengah-engah. Sementara Rokh dan Andre terkapar dengan HP kritis.
Itu karena setelah mereka berhasil mengenai Nardhal, entah dari mana sesuatu yang tak kasat mata menyerang balik mereka. Hal itu berlangsung sangat cepat hingga kedua pria tersebut sama sekali tak bisa merespons.
Ada pun efek negatif yang muncul di atas indikator mereka—Fear dan Stun. Fear merupakan suatu efek yang memberikan pengaruh negatif kepada lawa, di mana status mereka akan dikurangi hingga persentase tertentu. Sementara Stun singkatnya adalah efek yang melumpuhkan lawan.
Dengan kedua efek tersebut tentu saja Andre dan Rokh tak berkutik, padahal keduanya masih memilik buff dari Fion. Namun, semua efek tambahan tersebut sama sekali bukan apa-apa jika berhadapan dengan Nardhal.
“Lemah. Tak layak. Untuk apa hidup. Hina. Pergilah. Membusuk.”
Mengolok-olok ketiga Player di hadapannya, Nardhal pun menatap rendah mereka. Dengan ekspresi kecewa yang disertai jijik, Sang Gemini kemudian mengangkat telapak tangannya ke atas.
“Gahh!—“
“Khakk!—“
__ADS_1
Tiba-tiba saja dua buah pilar batu putih muncul dari bawah dan menghantam Andre serta Rokh santa kuat. Melemparkan mereka jauh ke belakang hingga menghancurkan sebuah pilar batu lainnya yang berdiri.
Mengetahui mereka masih memiliki harapan, tapi setelah melihat itu Elen pun terhenyak sesaat sementara Sera syok, dan akhirnya jatuh terduduk sembari menutup mulutnya.
“Inilah semesta. Mutlak. Kekuatan sejati. Tak ada yang menandingi. Enyahlah!”
Nardhal mengibaskan tangan kanannya dan seketika itu juga Sera berteriak kencang ke arah kedua temannya.
“Rokh! Andre! Bangun! Cepat pergi dari sana! ... tolong ... t-t-tolong bangun!”
“Percuma. Mereka. Lenyap.”
Sontak perkataan itu membuat semangat Sera hancur dan ia pun hanya bisa menatap tak percaya ke arah teman-temannya yang tergeletak tak berdaya.
“Tidak semudah itu ....”
Gelombang angin besar yang ingin menghantam Rokh dan Andre pun hancur berkeping-keping. Sebuah lingkaran sihir merah yang berpendar muncul dari dua arah dan menetralkan serangan tersebut.
“Jangan harap makhluk sepertimu bisa berbuat seenaknya.”
Itu adalah Lilith. Ia sebelumnya terjebak di dalam reruntuhan yang dibuat Nardhal dan memisahkannya dari Ash.
“Ele ... sis?”
Samar-samar sosok Lilith terlihat seperti teman lamanya dan setelah itu Sera pun menyusul, tumbang tak sadarkan diri. Sang Permaisuri Pemikat hanya mengembuskan napas pelan.
“Elen ... kamu baik-baik saja, ‘kan?”
“Ryan? ....”
Di sisi lain Ash mendatangi Elen yang sepertinya masih bertahan dari serangan cepat Nardhal. Ia pun langsung membopongnya lalu membawa gadis kecil itu ke tempat yang terbilang cukup aman.
Sementara Lilith mengambil perhatian Sang Gemini, Ash secara diam-diam membisikan sesuatu ke telinga kiri Elen.
“Kuharap kamu bisa menjaga rahasia ini, Elen”
“H-huh? Apa yang kamu bilang, Ryan?”
Mata Ash menajam dan sekujur tubuhnya tiba-tiba saja mengeluarkan aura hitam pekat.
[Kemampuan unik “Continuity Evolution” diaktifkan]
__ADS_1