
”Terbenamlah, [Shadow Arcane],” bisik Ash.
Gumpalan bulir merah-kehitaman bermunculan di tempat mereka berdiri. Baik Ash maupun Nardhal kini diikuti oleh sebuah genangan bulir abstrak. Begitu Sang Raja Astralis itu mencengkeram tangan kanannya, sebuah tangan raksasa muncul dari bawah genangan itu lalu meremas Nardhal.
Disusul oleh berbagai hunjaman pilar tajam yang bermunculan satu-persatu, mengikuti tangan hitam tersebut. Namun, Nardhal tidak bergeming. Perwujudan penjaga itu dapat menghancurkan serangan Ash hanya dengan mengangkat jari telunjuknya.
Bagai bunga mekar yang kemudian layu, satu-persatu jari tangan hitam yang mencoba mengunci tubuhnya pun layu.
“Lumayan. Lalu bagaimana dengan ini?”
Kini giliran Sang Gemini lah yang datang menyerang. Sosoknya menghilang sebelum Ash sempat mengedipkan mata, tapi dengan penguatan diri yang disuplai oleh Lilith. Ia dapat melihat ke mana sosok penjaga itu pergi.
Memang cepat, tapi tidak secepat intuisi Lilith, dan juga instingku, batin Ash.
“[Binomunal Abstraction]!”
Tiba-tiba saja Nardhal muncul tepat di hadapan Ash—hidung mereka hampir saja bersentuhan jika saja Ash tidak melompat ke belakang dengan refleksnya yang cepat.
“Guhh!—“
Namun, meski ia sudah berusaha menghindar, getaran abnormal yang meledak di udara membuat tubuhnya terjungkir balik. Di susul oleh ledakan bola-bola plasma hitam dengan tegangan listrik ungu, Ash pun terhempas sangat jauh ke belakang hingga menghancurkan tujuh buah pilar sekaligus.
“Tidak ada kata istirahat. Bagimu!”
Nardhal kembali bergerak, bagai angin lalu tak kasat mata. Sosoknya kembali muncul di hadapan Ash. Lengan kirinya terangkat ingin menebas makhluk yang kini masih jatuh terduduk menatapnya lekat tak percaya.
“Tidak akan kubiarkan.”
Sayangnya serangan itu ditahan oleh asap hitam-kemerahan yang membentuk sebuah sulur air. Kedua serangan itu saling terbentur dan bunyi debuman kuat meluluh lantahkan sekitar mereka dalam jeda sekian detik.
Terus berdebum layaknya aliran tegangan knot pada parameter listrik. Dum. Dum. Dum. Dum .... dan terus berbunyi keras.
Tubuh Ash terus ditekan sementara Nardhal yang mendominasi tak henti-henti menyalurkan energi astral ke dalam serangannya. Semakin pekat aura yang mengelilingi senjata, maka semakin kuat juga ketahanan serta daya rusak benda tersebut.
Namun, Sang Astralis tidak berhenti berpikir.
Sepertinya memang benar kekuatan kita sangat berbeda jauh, jika saja Lilith tidak membantuku. Mungkin aku sudah tiada, batin Ash.
Tiba-tiba saja jauh dari kenyataan tepat di dalam kesadaran imajinasi Ash. Sosok Lilith muncul sembari mengelus pipi kanannya pelan-pelan.
“Tenang ... semuanya pasti baik-baik saja. Aku tahu kami pasti bisa, jadi jangan menyerah hanya karena ini. Sama seperti ketika kamu menyelamatkanku, aku tahu semuanya akan berjalan sesuai kehendak takdir,” tuturnya lembut.
“Lilith ....”
Ash berusaha menggapai sosok roh Lilith, tapi dengan wujudnya sebagai bentuk tak kasat mata. Apa yang bisa dilakukannya adalah meraba menggunakan indra perasa serta pikiran.
__ADS_1
Nyata, tapi tak terlihat. Aroma lembut nan memikat. Dengan perpaduan ikatan yang tak pernah lekat dari sudut pandang seorang pemikat, sosok Lilith memberikan semangat dengan penuh keyakinan kokoh.
Menyemangati dengan cara seperti, kah? Baiklah. Jika itu maumu, maka aku akan kukabulkan dengan sekuat tenaga, batin Ash.
“Jangan khawatir karena sekarang aku ada di sisimu.”
Kata-kata itu keluar sangat natural bahkan Ash pun sedikit terkejut mendengarnya. Ia tahu jika sifat Lilith memang sangat bebas setelah ia lepas dari belenggu Vlad [Palsu], tapi tetap saja ketika melihat ekspresinya, ia sama sekali tak bisa mengalihkan perhatian.
Dengan kata lain, suara, ekspresi, dan bagaimana Lilith menyampaikannya sudah bukan seperti dirinya lagi. Itu adalah sosok yang berbeda dari Lilith yang ia kenal, tapi walaupun begitu Ash akan mempercayai kata-kata itu tanpa ada keraguan sedikit pun.
“Menyerah? Sudahlah. Percuma. Kau bukan apa-apa—hmmph?!—“
Dalam sekali lihat mungkin Ash masih dipojokkan oleh kekuatan Nardhal, tapi meski sedikit dorongan daya rusak senjata Sang Gemini itu mulai terdorong.
“Jangan berharap,” ucap Ash.
Kedua tangan rampingnya bergetar, menahan diringan energi Nardhal yang kuat.
Benar. Ramping dan kurus, tapi terdapat sesuatu yang tidak bisa dijelaskan di dalamnya. Seperti sebuah kekuatan tak kasat mata yang terus masuk mengisi kekosongan kondisi lengannya.
“Mustahil. Kekuatan ini. Sebenarnya. Siapa dirimu?” tanya Nardhal terkejut.
Sebagai penjaga kunci kebenaran sekaligus penjaga, Nardhal tentu memiliki kekuatan absolut, dan hak akan limpahan kekuatan yang ada di singgasana putihnya. Namun, ia tidak menyangka akan ada faktor lain yang membuatnya harus memikirkan kembali apakah itu benar atau tidak.
Karena saat ini sosok yang dilihatnya sama sekali tidak seperti seseorang yang terdesak malah sebaliknya. Sosok itu terlihat sangat damai, tenang, dan stabil.
“[Binomunal Abstraction]!”
“Terima kasih, Lilith”
“Sama-sama~”
Ledakan demi ledakan Ash hindari tanpa kesulitan, getaran pilar yang bermunculan menghalangi jalannya pun ia belah menjadi dua. Ketika plasma yang muncul dari jari Nardhal keluar, Ash pun menghentikannya dengan kekuatan lima buah tembok darah.
Satu persatu tembok itu ditembus, tapi begitu tembok kelima akan hancur. Ash mengimbuhi kepalan tangan kanannya kemudian ia memukul plasma itu dengan kekuatan energi darah-kegelapan.
Alhasil plasma tersebut lenyap menjadi hujan darah.
“Beraninya kau! Musnahlah!”
Nardhal pun menjentikkan jari kirinya kemudian berpuluh-puluh bulir hitam bermunculan di sekitar Ash—mengambang pelan sebelum akhirnya mengeluarkan jarum.
“Sangat menyebalkan ... “
“Menarilah! Menarilah! Hingga kakimu putus. Hancur. ***** seperti daging cincang!”
__ADS_1
Dimulai dari bola kecil dengan dua jarum menuju tiga jarum kemudian hingga 10 jarum berturut-turut muncul dari dalam benda mungil tersebut. Mencoba menusuk Ash dari berbagai arah.
Sang Astralis pun mencoba menghindari semua serangan itu, tapi sedikit demi sedikit darahnya mulai terkikis. Warna HP-nya pun ikut menggelap—dari hijau tua kini menjadi kuning terang.
“Guh!—“
“Menarilah!” teriak Nardhal sembari meremas kepalan tangan kanan.
Ketika Ash sedang disibukkan oleh gempuran jarum magis yang menyerangnya dari segala arah. Sang Gemini kembali berulah dengan ledakan gelombang astral yang meluap cepat dari bawah tanah.
Kini takhta putih tempat singgasana miliknya pun luluh lantah oleh serangan dahsyat tersebut. Meski diserang dari berbagai arah dan tiada henti, Ash tetap tenang, matanya menerawang—melihat sekitar mencari celah untuk membalikkan keadaan.
“Hancur. [Destructo ain Vinerbal]!”
Ledakan tersebut menjadi sebuah badai tornado yang mengguncang seisi ruangan.
“Sial.”
Ash pun langsung melompat mundur lalu melirik ke arah Party Fion dan Elen. Mereka masih tidak sadarkan diri terkecuali Elen sendiri, Sang Gadis kecil itu masih duduk bersandar pada pilar yang hampir roboh.
Mengetahui kondisi mereka seperti itu, Ash pun meminta Lilith untuk menggerakkan kekuatannya. Sang Permaisuri Pemikat pun mengerti dan ia segera melepaskan beberapa sulur hitamnya ke arah mereka.
Sulur-sulur tersebut membelah, menjadi dua, tiga, empat, lima hingga tujuh bagian yang saling mengait satu-sama lain. Membawa semua Player itu ke tempat itu kemudian menutupi mereka dengan kubah sulur lengkap dengan aura magis dari sedikit kekuatan Ash.
“Apa dengan ini bisa membuatmu tenang, Ash?”
“Ya,” balas Ash dengan senyum tipis.
“Sepertinya ini menjadi semakin merepotkan, ya?”
“Kamu bisa melihatnya sendiri. Tempat ini akan segera hancur”
“Hahahaha. Sayangnya perkiraanmu itu salah, coba lihat itu,” balas Lilith sembari mengarahkan pandangannya ke titik tertentu.
“Hmm?”
Ash pun sontak mengikuti arah mata Lilith dan menemukan bahwa bagian takhta yang hancur mulai memperbaiki dirinya sendiri.
“Sekarang kamu percaya, ‘kan? Lalu tunggu apa lagi? Kenapa masih bermain-main, Ash?”
Sang Astralis kini tersenyum walau samar, tapi Lilith bisa melihatnya sekilas.
“Bukan menunggu, tapi membiasakan diri. Kekuatan ini masih asing untukku. Masih banyak yang perlu dipelajari dan dipahami, memang benar aku bisa meminta bantuanmu, tapi untuk sampai ke titik tertentu ... aku menginginkannya secara natural,” jelas Ash.
“Hehhhh~ kalau begitu tunjukkan natural itu kepadaku?~”
__ADS_1
“Mungkin memang sudah waktunya ....”