
itulah Ryan melancarkan kemampuan spesialnya... yaitu Assassinate. Sebuah tebasan horizontal menyamping berhasil melenyapkan Hobgoblin yang paling kanan.
Setelah itu Ryan berputar dengan cepat, berguling ke samping kiri dimana Hobgoblin yang paling dekat sedang panik. Sosoknya yang bagai bayangan itu kini berada di belakangnya. Sebuah tikaman kuat berhasil Ryan luncurkan tepat di punggungnya.
Kemampuan Backstab yang ia miliki memungkinkannya mendapatkan sebuah daya serang tambahan yang dikalikan 3.25x. Sehingga serangan dasarnya yang kecil itu bertambah hingga berkali-kali lipat.
Di saat sasaran kedua musnah hancur berkeping-keping menjadi pecahan data Virtual. Tersisa satu Hobgoblin lagi. Ia tidak lagi lengah mau pun terkejut, kini status yang ia miliki adalah waspada.
“Kau ingin bermain satu lawan satu? Majulah!”
Hobgoblin itu langsung menggeram dan berlari ke arah Ryan sambil membawa belati.
“Groarr... groammm”
“C’mon!”
Ketika Hobgoblin itu menusukkan belatinya ke arah Ryan. Ryan pun langsung memutarkan tubuhnya 90 derajat ke samping kiri, kemudian ia melayangkan sebuah tendangan menyamping yang keras hingga membuat Hobgoblin itu terhempas cukup jauh.
Cairan hijau keluar dari mulutnya. Giginya mulai bergemulutuk dan tampak marah.
Dua matanya yang merah pucat itu menatap Ryan dengan tatapan sinis. Godam di tangan kanannya ia ayun-ayunkan seperti sedang pemanasan.
Ryan pun hanya melihatnya dengan tenang.
“Apakah kau sudah selesai?”
Dengan dibarengi oleh nada datarnya, raut wajahnya kini tampak sedang kegirangan.
Hobgoblin itu menggeram kembali dengan urat-urat yang keluar dari atas kepalanya. Tampak terlihat jelas dan matanya pun mulai bersinar kemerahan, lebih terang dari sebelumnya.
Ia pun kembali berlari namun dengan satu lontaran dari entakkan kakinya. Ia seperti meluncur bagai misil jarak jauh.
Belati teracungkan ke depan.
Seperti patung selamat datang Kota Jakarta, pikir Ryan.
Namun, dugaan Ryan salah. Godam itu bukan akan dihantamkan kembali, tapi sesampainya di dekat Ryan. Hobgoblin dengan ukuran tubuh yang hampir sama sepertinya itu terhenti dengan kaki kanan yang menyentak tanah.
Godamnya ia turunkan dan sebuah pukulan berat menghantam dada Ryan. Ryan pun sedikit terpental dan luka merah muncul di dadanya.
“Guhh! ... Hehh, boleh juga.”
Kini bar HP Ryan berkurang lumayan banyak. Karena serangan itu berhasil memukul dada Ryan cukup dalam.
Cuaca yang berawan dan menyembunyikan matahari di belakangnya itu mengeluarkan bayang-bayang kecil. Bentuknya yang seperti kapas mulai bergerak pelan di atas sana.
Setelah angin berhembus cukup kuat dan keheningan berlangsung sesaat. Ryan dan Hobgoblin itu saling menerjang satu sama lain. Ketika ia melesatkan dua buah serangan ganda, Hobgoblin itu menunduk.
Namun, sebuah tendangan keras berhasil menyentak dagunya, ia menggeram kesakitan dan berguling-guling. Di saat itulah Ryan melompat tinggi dan melancarkan serangan penghabisan.
Belati yang di pegangnya telah menancap tepat di ulu hati sang Hobgoblin, mulutnya menganga sambil memekik lalu tubuhnya hancur menjadi serpihan data.
Ryan berhenti sesaat sambil terduduk.
“Huhh hahh ... tak kusangka sensasi ini bukan lah khayalan semata. Bahkan staminaku pun dapat terkuras dan mirip seperti di dalam dunia nyata.”
[Level Up!]
[Level Up!]
[Level Up!]
Sebuah notifikasi muncul sesaat ia ingin merebahkan tubuhnya. Ryan hanya tersenyum kegirangan, beberapa poin ia dapatkan.
Saat itulah Ryan membuka panel statusnya dan menambahkannya ke beberapa keahlian yang ia miliki.
Keahlian Back Stab yang ia gunakan pasif sehingga tak bisa di tingkatkan lagi. Ia pun melihat statusnya dari mulai Vitality, Strenght, Agility, Intelegence, Luck dan juga Atk serta Def-nya bertambah.
Beberapa slot dapat ia lihat kosong, ada sekitar lima buah slot yang kosong. Namun, satu telah terisi oleh keahlian Backstab.
Ketika ia menggeser dan mengubahnya menjadi panel Skill Tree. Ia lihat begitu banyak sekali, tapi saat di pertengahan terhenti oleh sebuah kalimat.
“ ‘Required Next Jobs’ ,kah? Itu artinya Job-ku bisa ditingkatkan lagi.”
Ryan sedikit kecewa, tapi apa boleh buat. Gim seperti ini memang akan selalu seperti itu.
“Skill yang kubutuhkan tidak terlalu banyak, tapi aku membutuhkan beberapa yang bisa membantuku di saat terdesak.”
Mata Ryan pun mengarungi keahlian Tree itu dan ia melihat sebuah keahlian yang menarik perhatiannya.
“Shadow Dash? Skill ini meningkatkan kekuatan Agility 1.5x, dapat dipasangkan dengan Backstab hingga memungkin kan 20% terjadi Link dan menimbulkan Shadow Slash.”
Ryan terperangah melihatnya, kemudian di sampingnya tertera [Required Lv.7]tanda dan kebetulan sekali kali ini level Ryan telah meningkat menjadi level 7.
Setelah itu ketika ia akan memilihnya, tepat di samping kirinya terdapat keahlian yang bukan main kemampuannya.
“[Hidden Pressence]—keahlian ini dapat menghilangkan hawa keberadaanku. Dapat di aktifkan dan mengorbankan 20 MP saat pemakaiannya, lumayan juga,” gumam Ryan.
Ketika melihat poin penambahan status lima, Ryan pun menambahkannya ke kedua keahlian itu. Berbanding 3:2, tiga untuk Shadow Dash dan dua untuk Hidden Presence.
Entah mengapa sekarang di hatinya itu, rasa yang aneh dapat ia rasakan ketika berhasil mendapatkan kedua keahlian itu. Sambil merebahkan kembali tubuhnya, Ryan pun menyentuh sebuah kolom Status.
Name : Ryan Angga Baskara
Race : Human
Job : Assassin Lv 7
Vitality: 319
Str : 16 Psy Atk : 17
Agi : 20 Psy Def : 13
Int : 12 Mag Atk : 11
Luck : 11 Mag Def : 10
【Skill】
【Active】
—Hiden Presence
【Pasive】
—Back Stab
—Shadow Dash
__ADS_1
—Counter Attack
【Tittle】
None
【Unique Skill】
Unknown
Saat Ryan melihat statusnya itu, ia seperti sedang mengamati sekumpulan buku yang di tumpuk berantakan. Penuh kedetailan.
“Lumayan juga... tetapi Tittle? Unique Skill? Tampaknya perjalananku masih panjang.”
Di saat itulah ia pun langsung bangkit, panel statusnya yang masih muncul di hadapannya ia tutup.
Tanpa di duga ia mendengar sebuah suara tepuk tangan.
“Woaww ... kakak, kau lumayan juga.”
Seketika itu pulalah Ryan langsung berbalik, dari nada suaranya saja sudah terdengar seperti perempuan. Tetapi bukanya perempuan seumurannya melainkan seorang gadis kecil gotik yang membawa senjata besar.
Gadis kecil itu berpakaian serba hitam. Dari ujung rambut hingga bawahannya hitam semua. Kecuali warna rambut dan juga senjatanya yang mengerikan.
Wajahnya sedikit oval dengan dua buah mata biru pudar. Karena bibir mungilnya yang di lapisi warna muda, ia tampak seperti seorang putri. Sayangnya pakaiannya menunjukkan kebalikan dari itu semua.
Sebuah kemeja berenda dari samping bahu kiri hingga ke kanan bahu. Polanya kotak-kotak putih dengan sebuah rok yang sedikit mengembang. Bergaris hitam-putih. Sepatunya adalah sepasang sepatu tinggi, tali pengikatnya di simpul mati.
Kemudian bagan lengannya bolong. Untuk bagian bawah lengannya ia menggunakan dua buah kain pelindung. Rambut pirang di kucir menyamping, seperti Ponytail.
Lalu dengan ukuran senjatanya yang bukan main itu, Ryan menganga. Sebuah Halbert berwarna merah pucat. Bagian depannya berupa tombak bercabang sedangkan bagian belakangnya adalah sabit yang tajam.
Tingginya kira-kira sekitar dua meter, berbanding terbalik dengan tingginya sendiri yang hanya sekitar 150cm.
“Etoo... kau siapa, ya?”
Ryan pun menutup mulutnya kembali yang sempat menganga dan kembali menuju dunia nyata.
Gadis kecil di hadapannya itu sedikit demi sedikit melangkah maju. Anehnya senjata yang ia miliki tampak lebih berbahaya di bandingkan dengan senjata yang di miliki oleh Ryan sendiri.
“Hmmm... namaku Elen.”
Bahkan suaranya pun seperti para pengisi suara di film animasi Jepang.
“Elen?... lalu apa yang kau lakukan di sini, apakah kau sedang menjalankan sebuah misi?”
“Tidak”
“Lalu?”
Ada beberapa kemungkinan bagi seorang Player sepertinya yang berada di sini.
Satu ia tidak tahu jalan alias buta arah, dua ia memang sedang menjalankan sebuah misi tetapi tidak tahu tempatnya... mungkin yang ketiga adalah ia sedang jalan-jalan dan kebetulan melihat Ryan yang sedang melawan Hobgoblin sendirian.
Namun, itu menjadikannya tiga?
“Aku sedang jalan-jalan dan kebetulan melihat kakak di sini,” ucapnya sambil tersenyum kecil.
Mungkinkah? pikir Ryan.
Tidak lama setelah itu, mereka pun meneruskan perjalanan kembali. Elen memutuskan untuk mengikuti Ryan yang sedang menjalan kan sebuah misi peningkatan senjata.
“Elen?”
“Hmm?’
“Apakah kau seorang putri?”
Tanpa di duga oleh Ryan, Elen pun menundukan kepalanya dan ia tampak sedang murung.
“A-a-ahh... kalau kau tidak ingin membicarakannya, kau tidak usah memaksakan diri.”
Ryan sepertinya telah mengibarkan bendera yang salah.
“Tidak, tidak... hanya saja itu sudah lama sekali tidak ada yang menanyakanku seperti itu. Terlebih lagi dengan hobi anehku ini yang sangat kugemari....”
Ryan mendesah pelan, tapi raut wajahnya tampak tidak menyesal.
“Biar kutebak... kau seorang putri bangsawan, tapi karena kau memiliki hobi seperti itu—“
Kedua mata Ryan langsung menatap pakaian Elen yang begitu gotik.
“—kau di asingkan oleh keluargamu sendiri,” lanjutnya.
Elen terkejut mendengar tebakan Ryan, tapi ia tidak menyangka hanya dari kata “Hobi” ia dapat mengetahuinya hingga sedetail itu.
“Whoaaa... Kakak jago menebak, ya”
“Tidak, hanya asal menebak kok... ngomong-omong, senjata yang kau punya benar-benar kontras.”
Senyum canggung menghias wajah Ryan kali ini.
“Ohhh... tentang ini....”
Syukurlah dia tidak murung lagi, membuat seorang gadis kecil menangis itu bukanlah hal yang baik, pikir Ryan.
“Karena Jobku yang cukup unik, sebagai bonusnya adalah senjata ini, Finisher Halbert.”
Kali ini raut wajahnya tampak gembira dan Ryan pun lega karena ia tidak jadi membuat seorang gadis kecil murung.
“Job unik?”
“ Hmmm....”
Elen mengangguk semangat.
“Aku seorang Vanguard!”
“HEHHHH!!!???”
Vanguard? Itu tak mungkin di miliki oleh seseorang di awal permainan. Karena Job itu adalah tingkat selanjutnya dari seorang Guardian.
“Apa aku tidak salah dengar?”
Elen hanya tersenyum lebar sambil memanggul senjata raksasanya itu.
“Huhh ... kalau begitu apa yang ingin kau lakukan saat ini, aku akan pergi ke Castle of Monochrome”
“Tentang itu aku akan ikut bersamamu, Kak. Aku belum mengetahui nama kakak”
__ADS_1
“Ryan. Cukup jelas untukmu?”
Dari pandangan Ryan, Elen adalah seorang gadis kecil yang tidak lebih berumur sekitar 13-14 tahun.
“Un ... kalau begitu cepat, aku tak sabar ingin menaklukkan Dungeon itu,” ucapnya semangat.
Hanya sebuah senyum saja lah yang menanggapi rasa semangat dari Elen. Tetapi, Ryan hanya membalasnya dengan hembusan yang pasrah.
Mau tak mau tampaknya Ryan harus menahannya. Kini bersama dengan Elen, ia pun pergi menuju Castle of Monochrome. Sebenarnya tujuannya di sana adalah untuk mendapatkan beberapa material.
Material itu digunakan untuk meningkatkan kualitas senjata yang kini ia miliki. Terlebih lagi dengan Classnya yang berada pada tingkat Inferiority.
Hanya satu buah kemampuan tambahan yang di dapat dari senjatanya itu. Satu serangan tambahan jika beberapa kondisi terpenuhi.
***
“Woahhhh ....”
Sesampainya di sana, Elen terpesona dengan tempat yang akan mereka taklukan itu. Namun, kata penaklukan itu lebih berat, sehingga Ryan hanya menggunakan khiasan berupa jalan-jalan.
“Ada apa Elen, kita—aku hanya akan berjalan-jalan saja di sini, tidak akan menaklukkannya”
“Tapi, tapi....”
Tempat sekarang yang mereka lihat sangatlah luar biasa besarnya. Tempat itu seperti kerajaan yang sangat besar. Pintu gerbangnya yang terbuat kayu telah di rambati berbagai tanaman.
Selain itu juga banyak darah yang melekat di permukaan luarnya. Warna cokelat pudarnya pun menampilkan kesan yang misterius.
“Wendy... apa kau serius membiarkan seorang Player dengan lv.7 untuk masuk ke dalam Dungeon mengerikan ini?” gumam Ryan.
“Jangan lupakan seorang gadis cantik yang menemanimu.”
Mau tidak mau Ryan dan Elen pun masuk ke dalam Dungeon itu. Saat mereka ingin membuka gerbangnya, sebuah celah dapat mereka lihat. Berarti gerbang ini telah di buka dan ada beberapa Player yang juga masuk ke dalam Dungeon ini.
Akhirnya mereka pun masuk walau level mereka tidak terlalu besar, tidak juga terlalu kecil.
Begitu Ryan melihat ke dalamnya.
“I-i-ini tidak mungkin!”
Betapa kagetnya ia melihat bahwa cuaca telah menggelap dan terlebih lagi beberapa Monster telah menyambut mereka di depan sana. Beberapa Player dapat mereka lihat sedang bertarung dengan sekumpulan Monster Slime.
Rumah-rumah yang hancur beserta bercak-bercak darah sangat antik dengan suasana kali ini.
Tepat di atas sebuah tinggi yang sebuah kastel berdiri dengan megah. Menara jam terlihat di samping kirinya dan itu mulai berdentang beberapa kali.
Dari dalam tanah tiba-tiba saja muncul Zombie dengan zirah yang lusuh. Mereka mulai menghampiri Ryan dan Elen yang baru saja tiba di sana.
“Elen!”
“Aku tahu, Kak Ryan!”
Mereka pun mulai masuk ke dalam mode bertempur. Di atas kepala Elen, Ryan dapat melihat statusnya.
Di dalam hatinya yang paling terdalam, Ryan tidak menyangka bahwa gadis kecil di sampingnya itu sudah memiliki level yang jauh lebih tinggi di bandingkan dengannya.
Level 40 terlebih lagi di dalam waktu yang sangat singkat. Sebenarnya ia mengambil misi apa agar untuk menjadi seperti itu?
Finisher Halbert di genggaman tangan Elen telah memanas, ia pun langsung menerjang sekumpulan Zombie di arah kiri. Hanya dalam satu kali huyungan, Halbert itu meluapkan sebuah gelombang api yang cukup dahsyat.
Api itu langsung melahap pasukan musuh dalam sekejap, menjadikannya abu dalam hitungan detik.
Namun, Ryan tidak ingin kalah. Akhirnya ia langsung berlari ke depan, sekumpulan Zombie dan juga Skeleton Warior sedang merapat. Mereka sedang mengerubungi beberapa Player yang kelelahan.
Ia pun berhenti tepat di belakang mereka, satu-dua-tiga-empat hingga lima tebasan langsung merontokkan mereka semua. Dengan adanya keahlian Back Stab dan Shadow Dash, kecepatan serangan Ryan bertambah cepat dan juga kuat.
Serangan-serangan itu layaknya sabit pencabut nyawa, seekor Monster mendekat ke arah Ryan. Elen berteriak memperingatinya, tapi Ryan telah mengetahuinya.
Ia pun mengentak kaki kanannya ke tanah. Seluruh tempat serasa melambat dari pandangan Ryan. Ia pun melakukan akselerasi manuver cepat hingga berada di belakang Monster itu dan melancarkan sebuah tebasan vertikal sambil melompat ke samping kiri.
Tebasan yang di keluarkan olehnya mengeluarkan elemen kegelapan. Elemen kegelapan itu langsung menyambar dan menghancurkan Monster itu hingga tak tersisa.
[Level Up!]
Ketika Ryan bangkit dan berdiri tegak, ia pun membuka panel status. Lalu ketika ia melihat keahlian pasifnya Shadow Dash. Ia tidak menyangka bahwa kombinasi Shadow Dash dan Backstab menampilkan Shadow Slash. Dan yang membuatnya kembali tertegun adalah ketika melihat detail dari gabungan keahlian kedua itu—Shadow Slash.
“[3% Chance of Instans Kill]... Apa!? Elesis kau benar-benar sudah kelewat batas, masa Player yang baru saja main diberikan Skill yang mengerikan seperti ini.”
Namun, ia mengingat perkataan Lesta.
Kau adalah Special Player dan yang paling unik dibandingkan dengan yang lainnya, itulah perkataan Lesta yang paling di ingat olehnya.
Maksud dari “Special” ini apakah keahlian yang ia punya dan belum memenuhi kriteria memiliki kekuatan yang luar biasa?
Namun, Ryan pun langsung menghilangkan pemikiran itu sesegera Elen tiba di sampingnya.
“Apa kau tidak apa-apa, Kak Ryan?”
“Seperti yang kau lihat sendiri”
“Tetapi tadi itu apa?”
“Apanya yang apa?”
Kepala Ryan memiring beberapa derajat ke samping kiri.
“Tadi itu seperti....”
Elen pun memeragakannya dengan sangat baik, walau bahasanya terlalu di dramatisisasi.
“Ahh ... tadi itu adalah Skill pasifku, jangan terlalu memikirkannya. Sebaiknya kita segera bergegas ke arah kastil itu”
“Unn....” Elen mengangguk semangat.
Mereka berdua pun kembali meneruskan perjalanan setelah menolong beberapa Player yang kesulitan.
Beberapa Monster seperti Zombie, Skeleton Warior, dan Slime sangat banyak sekali. Bahkan mereka tampak seperti penjaga tempat ini. Sebuah kerajaan dengan kastel kelam yang menjadi basis dari segala kekacauan.
Kastel itu semakin Ryan dan Elen dekati, semakin jauh jarak yang mereka tempuh lagi.
“Aneh....”
Elen pun berhenti saat Ryan menggumamkan sesuatu.
“Ada apa, kak?”
“Elen... apakah kau tidak menyadari sedari tadi kita berlari di tempat yang sama?”
“Eh....”
__ADS_1