
Beberapa monster datang berbaris membawa tombak berkarat. Memakai zirah rusak yang tampaknya sudah tak dapat tertolong. Hawa di sekitar mereka mengindikasikan aura kehausan, liur menetes dengan dua pupil mata tajam mengintip dari balik gelapnya gua.
Namun, Fiona tak gentar. Gadis kecil berhoodie kelinci merah muda itu mengayunkan sabit besarnya seperti seorang petani yang sedang membabat rumput liar. Semua monster yang datang menyerang langsung terbelah menjadi dua bagian.
Tergeletak tak berdaya lalu hancur menjadi kepingan data virtual. Ia tak takut dengan semua monster itu karena Fion yang berada di belakangnya selalu siap membantu. Baik dengan serangan sihir jarak jauh ataupun sihir pendukung.
“[Aerial Detection].”
Fion menjentikkan jarinya, gelombang suara seketika itu langsung membaur dengan udara. Memantul jauh masuk ke dalam gua kemudian pecah menjadi getaran ringan yang menyalurkan pesan singkat ke indra penglihatan Sang Perapal.
“Tidak ada sesuatu yang aneh. Sama seperti biasa”
“Hahhh. Aku bosan dengan keroco-keroco ini, Kak. Apa Kakak yakin tidak ada yang lebih wah begitu?”
Sang Kakak hanya bisa menggaruk pipinya dengan jari telunjuk.
“Bukankah aku sudah mengatakannya sejak kemarin?”
“T-t-tapi aku kira bakal banyak monster kuat di sini, soalnya ‘kan ini Dungeon Rahasia”
“Memang rahasia, tapi itu belum menjamin monster-monster di sini kuat. Apalagi mengingat status kita yang sedikit ‘berbeda’ dari Player lain”
“Ihhh! Itu lagi, itu lagi, aku sudah bosan mendengarnya. Apa hebatnya sih punya status ini?”
Mendengar itu Fion langsung mengingat kejadian misterius yang menimpa mereka saat berada di rumah sakit. Fenomena yang mengubah sekaligus mereka ulang nasib mereka berdua.
Entah itu adalah utusan dari atas atau makhluk luar nalar, pemikiran Fion saat itu hanya terpaku pada satu hal. Itu adalah kesembuhan Adik semata wayangnya.
“Hei, Kak! Apa Kakak mendengarkanku?”
“O-oh ... maaf. Kakak tadi sempat melamun”
“Hahhh ... jangan sampai terkena serangan monster, lho.”
Seketika itu juga Fion tertawa canggung lalu mengelus kepala Adiknya dengan lembut.
“Tentu saja. Omong-omong ini sudah ke berapa kalinya kita berpapasan dengan monster?”
“Uhh. Eumm ... kalau nggak salah, termasuk yang tadi ... ini sudah yang kelima”
“Hmm. Lima? Sepertinya kita sudah jauh masuk ke dalam, tapi aneh.”
Fion berjalan ke samping kemudian menyentuh dinding gua yang sedikit lembab.
“Aku sama sekali tidak merasakan adanya Player lain selain kita berdua. Selain itu aku juga cukup percaya diri dengan Skill deteksi karena itu adalah satu dari tiga keahlian yang kubanggakan”
“Kalau sampai Kakak berkata seperti itu, mungkin tempat ini nggak hanya sebatas namanya saja rahasia”
__ADS_1
“Oh? Maksudmu mekanismenya juga berbeda?”
Fiona mengangguk, ia mengangkat sabit kemudian membenturkan ujung tumpulnya ke dinding gua.
“Tempat ini memang luas karena bisa membaut sabitku bergerak bebas, tapi anehnya karakteristik dari senjata kesayanganku ini tidak aktif. Ini seperti ada sesuatu yang menyegelnya”
“Segel? Tunggu sebentar ....”
Alis kanan Sang Kakak terangkat sedikit, setelah itu ia memejamkan matanya sejenak kemudian membukanya kembali.
“Memang benar. Aku juga merasakannya, tapi daripada segel. Mungkin lebih tepat jika kita sebut larangan.”
Memang benar bahwa Dungeon rahasia yang mereka temukan itu sama sekali belum terjemah oleh siapapun, terkecuali bagi mereka dan kelompok Ash. Namun, kelompok Ash tiba di suatu tempat yang aneh, dan hal itu membuat mereka tidak bertemu satu sama lain.
Sedangkan kelompok Fion langsung terjun ke area tengah Dungeon tersebut dan bertemu dengan monster penjaga. Naasnya lagi monster tersebut harus di hadapkan oleh monster yang lebih menakutkan dan berakhir dengan kehancuran sepihak.
Kekuatan Fiona yang diperkuat oleh sihir pendukung Fion bukanlah sesuatu yang mudah untuk diremehkan. Apalagi mereka menyandang gelar sebagai Player unik.
Dari sekian puluhan hingga ratusan juta Player dan mereka termasuk ke dalamnya. Sungguh malang bagi mereka yang menjadi musuh ataupun sasaran bagi kedua saudara tersebut.
Fiona yang menyadari akan adanya kejanggalan di Dungeon tersebut mungkin sedikit tertekan akibat larangan tempat tersebut. Namun, hal itu tidak menjamin bahwa daya tarungnya menurun layaknya burung dalam sangkar.
Meski tanpa karakteristik unik dari senjatanya yang dapat menebas benda apapun selain Ether. Ia sama sekali tidak merasa kesulitan karena senjata miliknya yang bernama [Jaeger Schythe] merupakan senjata unik sama seperti gelarnya.
Senjata tersebut termasuk senjata khusus dan satu-satunya orang yang dapat menggunakan senjata unik ini hanyalah pemilik asli dari kontrak silang antar Job. Di mana Fiona yang merupakan seorang Executioner memiliki hak penuh atas kontrak tersebut.
Namun, selama pertempuran belakangan tadi, Fiona harus mengalahkan monster hingga HP mereka benar-benar habis. Sangat berbeda dengan biasanya yang mana meski HP monster masih sepertiga atau seperempat bar, mereka otomatis akan hancur.
“Jadi ini karakter Dungeon rahasia, eh? Menarik, aku akan memasukkannya ke dalam catatanku sebentar”
“Lagi?”
“Sebentar saja. Lagi pula dengan ini kita berhasil menemukan satu dari sekian rahasia Taman Kecil”
“Ya, ya, ya. Aku seharusnya tahu kalau hal ini akan terjadi lagi.”
BAMMSSSS!
Tiba-tiba saja langit-langit gua bergemuruh dan sontak membuat kewaspadaan Fion serta Fiona meningkat. Fiona yang tadinya menguap kini menatap tajam ke arah depan dengan seringai lebar.
“Kenapa lama sekali datangnya?”
Semakin lama gemuruh itu terjadi, tanah pun ikut bergetar seperti ada sesuatu yang dapat menggerakkan seisi tempat dengan sangat mudah. Padahal tidak ada satu pun monster yang mereka lihat di depan sana.
Jangkauan penglihatan mereka dapat dikatakan sangat jauh bukan hanya karena penerangan natural di dalam gua, tapi juga berkat sihir cahaya milik Fion yang sedari tadi mengambang di atas kanan, menerangi sekitar mereka tanpa celah sedikit pun.
“Apa jangan-jangan kita hampir sampai di ruangan Boss-nya?”
__ADS_1
“Yang benar?”
Tak menahan rasa euforianya, Fiona langsung berlari menuju ke arah suara gemuruh tersebut. Di sisi lain Fion yang terhenyak sesaat langsung berlari mengejar Sang Adik yang tidak sabar.
Semakin keduanya berlari, semakin pula tanahnya berguncang hebat seakan mereka berada di dalam perut sesuatu. Namun, hal itu sama sekali tak pernah terlintas di benak mereka.
Apa yang mereka kira sebagai sumber utama dari fenomena aneh itu ternyata adalah sebuah bentuk humanoid raksasa tanpa busana. Berdiri di tengah-tengah ruangan besar bak aula persembahan sebuah istana besar.
Terdapat banyak sekali lilin berapi hijau menyala di sekeliling dinding. Ruangan itu dapat digambarkan seperti sebuah tempat percobaan, sangat polos berwarna putih.
Jika saja tidak ada lilin berapi hijau, Fion yang kala itu tersentak mungkin akan mengira bahwa tempatnya berada adalah ruangan bagi pasien dengan gangguan jiwa. Ia juga tak pernah menyangka akan berada di dalam tempat seperti itu.
Sedangkan Fion yang menyeringai lebar melihat makhluk tersebut segera mengentak tanah dan menerjangnya bagai hewan kelaparan. Namun, pergerakannya itu tiba-tiba saja terhenti akibat energi tak kasat mata.
Sosok yang berada di depannya itu berbalik kemudian melihat ke arahnya dengan tatapan kosong sebelum akhirnya sebuah suara menyadarkan Fion yang tengah kaget.
“Kalian ... apa ... yang ... ingin ... kalian ... lakukan.”
Suara itu sangat jelas, sejelas bunyi jam weker di pagi hari. Meski patah-patahan dan terdengar layaknya seorang pria paruh baya. Namun, berkat hal itu alarm di kepala Fion langsung bergetar hebat, ia pun mengentakkan tongkat sihirnya secepat mungkin.
“[Reverse Touch]!”
Sebuah tangan tak kasat mata meluncur ke arah Fiona yang tak bisa bergerak kemudian menarik paksa tubuh kecilnya ke arah Fion. Sontak hal itu membuatnya geram dan mempertanyakan keputusan Fion yang tiba-tiba.
“Kak! Apa yang Kakak lakukan?”
Namun, Fiona yang melihat bagaimana ekspresi ketakutan Fion seketika itu juga bungkam.
Mereka berada di lantai pertama dan meski berada di lantai paling dasar, tapi mereka belum pernah bertemu dengan sosok seperti yang ada di hadapan mereka. Besar tinggi menyerupai manusia yang tak berbusana.
Namun, terdapat sebuah indikator yang menandakan bahwa sosok itu bukanlah sesuatu seperti monster ataupun Boss. Sangat berbeda jauh, penampilannya biasa, tidak ada yang aneh, tapi bentuk wajahnya seperti topeng scream yang terkena sambaran glicth.
Selain itu ia juga dapat berbicara. Hal itu sudah dapat mengirimkan perasaan merinding luar biasa ke sekujur tubuh Fion. Ada pun fakta bahwa ia belum tahu pasti apa yang terjadi jika seorang Player lenyap di Taman Kecil.
Apakah mereka akan bernasib sama seperti manusia di dunia nyata ataukah mereka akan dihidupkan kembali di tempat antah berantah. Hal itu masih menjadi misteri dan berkat itu juga Fion tak bisa lengah sedikit pun.
“Jangan gegabah, Fiona!” teriak Fion dengan ekspresi pucat.
Melihat ekspresi Sang Kakak yang dingin dan penuh perhitungan itu sekarang pucat. Fiona pun tak bisa berbuat apa-apa selain mempercayakan sisanya kepada Fion.
“Pe ... nyu ... sup? ... keh?”
Mulut lebar sosok itu pun retak dan perlahan-lahan seringai menyeramkan merekah layaknya kulit yang terkelupas.
Sebuah indikator muncul di atas kepalanya. Indikator segitiga yang awalnya putih seketika juga luntur menjadi warna ungu. Setelah itu sebuah bar informasi muncul dan membuat keduanya tak berkutik untuk beberapa saat.
[Endymion of Tranquila Lv.???]
__ADS_1