Nameless Crown

Nameless Crown
Chapter 13 - Persiapan Dalam Keterasingan


__ADS_3

Akhirnya Oz pun memasuki hutan itu dengan langkah yang ringan. Sesekali beberapa pasang mata merah berusaha mengintip dari balik pepohonan mati.


Tanpa di duga olehnya, sepasang Gargoyle melayang di atasnya. Tidak lama kemudian mereka melesat ke arah Oz untuk menyerangnya. Tetapi Oz hanya tersenyum licik.


Ketika mereka mengeluarkan kuku tajamnya dengan cepat. Oz melompat dan bermanuver di udara, pedangnya ia keluarkan dan saat itu juga dengan tebasan ganda yang cepat kedua Gargoyle itu melebur menjadi debu hitam.


Namun, itu bukanlah satu-satunya gangguan. Selain Gargoyle, muncul beberapa Skeleton Soldier dan juga Warlock yang tampaknya penghuni hutan itu.


Apakah mereka terganggu dengan kedatangan Oz ke tempat mereka. Sehingga mereka datang menemui Oz dengan niat yang tidak baik. Kini di tangan mereka, sebuah garpu jerami tajam siap untuk segera di tusukan.


Oz hanya menyapa mereka dengan sedikit lambaian dan senyum yang menyiratkan pembantaian.


Hanya dalam beberapa menit saja, ia telah memusnahkan mereka. Setelah semua aksi itu, napasnya mulai terengah-engah. Ia juga merebahkan diri di tanah dingin. Sementara di sekelilingnya terdapat tulang-belulang dan juga debu hitam yang menumpuk.


“Terima kasih untuk pemanasan yang sungguh ‘hangat’ itu... kawan-kawan.”


Setelah cukup mengambil waktu istirahat, Oz memulai kembali perjalanannya.


Sebaris pepohonan mati yang membentuk pagar ayu, menghalangi jalan Oz. Sehingga ia tidak memiliki pilihan untuk menumbangkannya dengan paksa.


Pedang peraknya mengkilap dan dalam satu tebasan diagonal yang cepat dan juga kuat. Pepohonan mati yang membentuk pagar ayu itu langsung terbelah dua dan akhirnya hancur berserakan.


Oz tersenyum kecut. Kini di depannya terbentang sebuah kastel raksasa dengan jembatan batu tua yang menghubungkannya.


(Bukankah itu....)


Kini wajah Ryan tampak seperti orang bodoh yang baru saja mendapati sesuatu yang luar biasa.


[Ya... itu adalah tempatmu sekarang berada, tetapi kau menyebutnya Dungeon, benar?]


(Tentu saja... lagi pula aku berada di sebuah gim)


[Gim? Maksudmu, permainan?]


Ryan mendesah tipis. Apakah selama ini Vlad tidak mengetahui bahwa tempat dirinya bertemu dengan lelaki yang ia panggil Ryan itu adalah sebuah permainan belaka?


Namun, mungkin dengan melihat masa lalu seperti ini, ia dapat menemukan jawaban mengapa Elesis memanggilnya ke dunia yang ia ciptakan dengan kata lain adalah sebuah gim yang menghubungkan sesuatu.


(Huhh... apakah ada yang lain?)


[Aku tidak menyangkanya... apakah kau tahu, dunia yang kau lihat sekarang adalah nyata, Ryan]


(Jadi maksudmu pemuda yang bernama Oz itu adalah nyata dan itu benar-benar ada 300 tahun yang lalu?)


Vlad kemudian mengepakkan sayap kecilnya untuk terbang. Kini ia terbang tepat di depan wajah Ryan dengan raut meyakinkan. Walaupun apa yang dilihat Ryan hanyalah burung kecil yang memiliki paruh mungil dan dua buah mata yang mengerut.


(Baiklah, untuk sekarang aku akan mempercayai perkataanmu)


[Namun, aku tahu kau akan mengatakan hal itu, Ryan]


(Pastinya kata itu tidak akan tertinggal, tetapi aku masih tidak mengerti dengan semua ini. Pertama adalah mengapa ia mengundangku untuk datang ke dunia yang ia ciptakan dan dunia itu berbasis MMORPG. Dua, terlebih lagi setelah mendengar penjelasanmu... otakku menjadi sedikit kacau, apakah kau mengira bahwa dunia gim buatannya dan juga masa lalu yang kini kau perlihatkan merupakan kesinambungan antara dunia nyata dan dunia paralel?)


[Aku tidak terlalu paham apa maksudmu... dari yang aku pahami, kau menyebut bahwa dunia tempatmu berada sekarang adalah sebuah ‘gim’ benar, ‘kan?]


Ryan mengangguk pelan.


[ Jadi dari apa yang bisa kusimpulkan dari penjelasanmu, Ryan. Aku tahu pasti ada yang aneh dengan duniamu dan juga dunia tempatku berada. Jika aku berkata bahwa duniamu dan duniaku saling menyatu, apakah kau akan mempercayainya?]

__ADS_1


(Aku tidak terlalu mempercayainya, tetapi ada kemungkinan sekitar 99% bahwa teorimu dan teoriku benar)


[Hmmm? 99%, dan satu persen yang dapat mewakilkan keseimbangan itu adalah....]


(1% itu adalah ketika Oz akan memasuki kastel itu, Vlad)


[Masuk akal juga, tetapi kita lihat saja nanti, aku tidak tahu apakah kau akan terkejut atau tidak]


Ryan hanya dapat terdiam, Vlad pun mengepakkan sayapnya dan kembali bertengger di bahu kanan Ryan.


[Kalau begitu mari kita lihat kembali ke masa lalu yang penuh teka-teki ini]


Oz mulai berjalan di atas jembatan batu tua itu dengan santainya. Sambil melihat betapa besar kastel yang menjadi tempat tujuannya selama ini. Ia menyeringai penuh kegembiraan.


Jubah hitamnya terkibar-kibar akibat hembusan angin dingin di malam hari. Bulan purnama yang memancarkan cahaya kemilaunya menerangi seluruh tempat itu dengan telak.


Walaupun mirip, tapi cukup dapat dipastikan bahwa di dalam kastel itu terdapat beberapa pergerakan yang misterius.


Lima ekor Gargoyle kembali terlihat di arah jam dua belas. Oz yang melihatnya langsung bersiap dengan tangan kirinya. Ketika kelima Gargoyle itu mulai berteriak tak jelas sambil mengeluarkan kuku-kuku tajam mereka.


Namun, lengan kiri Oz lebih cepat bertindak. Kini di dalam genggamannya terdapat sebuah pistol yang siap untuk meluncurkan peluru-peluru mematikan.


Dalam satu tarikan saja, pistol itu berdesing, pelatuknya telah di tekan dan lima buah peluru perak dalam jalur vertikal melesat dengan cepat.


Kelima peluru itu berhasil menghancurkan kelimanya dengan telak. Tak ada yang bisa menyentuh Oz di dalam jarak serangnya. Setelah kelima peluru itu di keluarkan, Oz kembali mengisinya dengan cepat.


Bunyi-bunyi selongsong kosong memantul-mantul di bawah-depan kaki Oz.


Melangkahinya tanpa memandang ke belakang. Ia pun akhirnya berhasil memasuki kastel itu tanpa terluka sedikit pun.


[Firasatmu itu sangat tepat sekali. Karena seseorang yang telah memasuki kastel ini tidak akan pernah bisa kembali jika belum mengalahkan penguasanya]


(Dan penguasanya itu adalah Sang Raja Abadi yang kau katakan, benar?)


[Hahahaha! Tepat sekali. Sepertinya di bagian ini akan menjadi menarik]


(Maksudmu pasukan Minotaur?)


[Ughh... bagaimana kau mengetahuinya)


(Tentu saja aku mengetahuinya, lagi pula siapa yang berhasil menerjunkanku dari lantai pertama kastel itu hingga berada di sebuah reruntuhan tempat kau berada?)


[Uhmm ... iya juga, ya]


(Dasar)


Ryan mendecak kecil selagi Vlad kembali mengingat-ingatnya.


Oz yang tengah berada di sebuah lorong kini telah bersiaga. Ia memiliki firasat bahwa ketika pintu di depannya terbuka, ia dapat merasakan sesuatu yang sangat berbahaya sekali.


Dan sosok itu telah menunggunya untuk datang kepada mereka.


“Heh... sepertinya aku bisa lebih bersenang-senang lagi kali ini.”


Dengan sikapnya yang meremehkan itu akhirnya ia membuka pintu di depannya perlahan-lahan. Cahaya yang menyilaukan mengintip seiring pintu itu di buka.


Suara derik dan intensitas tekanan yang tidak bisa dibayangkan mulai dapat dirasakan oleh Oz.

__ADS_1


Ketika pintu itu telah terbuka seutuhnya. Sebuah aula besar terbentang di sepanjang penglihatan Oz.


Aula itu memiliki pilar-pilar batu dengan sebuah patung yang menempel pada bagian luarnya. Menahan langit-langit dari kemungkinan runtuh ataupun hancur. Kaca-kaca transparan dengan bingkai kayu yang bersih terlihat di pinggir-pinggir.


Beberapa lukisan abstrak yang aneh, vas-vas bunga bahkan guci antik raksasa pun turut menghiasi aula itu. Sebuah lampu gantung dengan berpuluh-puluh lampu kecil di atasnya menerangi aula itu.


“Hmm... apakah hanya firasatku saja—tidak, tunggu!”


Tiba-tiba saja dua Minotaur keluar dari gelapnya bayang-bayang samping pojok aula. Mereka memiliki tanduk dan juga membawa kampak bermata dua di tangan mereka.


Mata merah darah, dengan hidung yang sesekali mendengus mengeluarkan asap putih samar. Otot dada yang menonjol, postur tubuh yang tegap dan juga besar merupakan ciri khas dari Minotaur. Terlebih lagi mereka mudah marah ketika diserang.


“Oh hoho! Sepertinya firasatku benar, oi bagaimana kabarmu kawan!?”


Bukannya membalas sapaan Oz, sebuah kampak berputar cepat melayang ke arahnya. Ia pun dengan refleks cepat langsung setengah berkayang dan ketika ia ingin bangkit, seekor Minotaur menerjangnya dengan kampak yang telah berada di jalur tebas leher.


“Tampaknya ini menyenangkan,” gumam Oz pelan.


Sayangnya serangan itu meleset, hanya saja ketika ia melompat salto ke belakang beberapa helai rambutnya terpotong.


Oz pun menanggalkan pedang dari sabuknya, kemudian ia arahkan tepat ke arah dua Minotaur yang tengah bersiap menyerangnya kembali.


“Mari kita menari... pion kecilku.”


Seringai lebar menghias wajah Oz. Di saat yang bersamaan kedua monster besar itu mendengus dan kembali berlari menuju dirinya. Kampak di tangan mereka berdua seakan-akan meminta untuk segera menanggalkan kepala seseorang ataupun membelah sesuatu.


Oz pun ikut berlari, kedua senjatanya yang berupa sebuah pedang dan pistol mulai memanas seakan waktu berjalan. Minotaur sebelah kanan mulai melancarkan tebasan horizontal sedangkan Minotaur sebelah kiri menggunakan otot-otot bahunya untuk menghantam Oz.


Namun, dengan lincahnya Oz berputar 180ᵒ ke samping kiri. Seperti sedang menari, kedua serangan dari monster besar itu gagal. Namun, serangan itu dapat dikembalikan dengan sempurna oleh permainan cepat dari pedang yang berada di tangan kanan Oz.


Dalam waktu yang singkat beberapa tebasan telah membekas di punggung Minotaur sebelah kiri. Diteruskan oleh bunyi ledakan yang melengking, sebuah peluru menembus paha kiri dari Minotaur itu.


Ia pun tertunduk sambil mendengus dan memekik kesakitan. Sementara Minotaur yang sama sekali belum terluka berbalik, dapat dilihat oleh Oz bahwa ia sedang marah karena seluruh otot-ototnya terlihat keluar.


Sambil kedua kakinya tengah menggaruk-garuk lantai, ia pun langsung berlari sambil menebas-nebas bahkan menghuyungkan kampak yang berada di dalam genggamannya. Oz hanya menyeringai melihatnya.


Setiap serangan itu berhasil dinetralkan oleh serangan balik dari Oz. Bunyi aduan benda metal dan juga dentangannya yang parau terdengar di sepanjang aula. Minotaur yang terluka hebat akhirnya kembali bangkit dan langsung menerjang Oz yang masih di sibukkan oleh Minotaur yang masih menyerangnya.


Namun, Oz hanya terdiam dalam seringai lebarnya.


Karena rambutnya yang cukup panjang dan juga acak-acakan itu menutupi ekspresi apa yang sedang ia tunjukan.


Ketika Sang Algojo besar yang menerjangnya melompat, kawannya yang berada di sebelahnya mengayunkannya secara vertikal dengan wajah yang memerah legam.


“Hehh, jangan meremehkan manusia, apalagi kalau orangnya memiliki darah keturunan dari raja kalian.”


Dengan sebuah tendangan menyamping yang keras sekali, serangan vertikal sebelumnya berubah arah tepat mengarah pada Minotaur yang sedang melompat menerjang Oz.


Hanya dalam sekejap saja kepala Minotaur yang melompat itu terpenggal. Cipratan darah yang sangat deras keluar dan membasahi kawan yang berada di depannya. Kini kepalanya itu hanya berupa daging tak berguna.


Kedua matanya yang merah sedang menatap Oz dengan tatapan tanpa hasrat. Minotaur yang berada di depannya kembali mendengus dengan kencang dan ia pun telah bersiap mengepalkan kedua tangannya ke atas dan membantingkannya ke arah Oz.


Namun, kepalanya lebih dulu meledak akibat serangan Oz. Sebuah asap keluar dari pistol dalam genggaman tangan kirinya.


“Dengan begitu pion pertama telah diatasi.”


Oz pun menyingkap jubahnya yang menyentuh lantai dan kembali berjalan. Melangkahi dua mayat monster yang tergeletak di hadapannya. Darah merahnya mengguyur seluruh lantai yang dapat ia jangkau. Setelah berhasil mengalahkan kedua Minotaur itu, ia telah siap menuju babak selanjutnya dari perburuan.

__ADS_1


__ADS_2