
[Kau....]
Ryan pun tersentak dan ia pun mencari asal suara itu. Ia tidak bisa melihat apa-apa karena sekarang di sekelilingnya hanya terdapat kegelapan.
“Siapa kau? Tunjukan dirimu?”
Suara yang dihasilkan lagi-lagi bergema seperti di lorong yang kosong.
[Aku? Huh ... jangan bercanda kau manusia rendahan]
“Rendahan dengkulmu?”
[Ya... rendahan, lihat saja dirimu. Kau tidak menggunakan apa-apa selain menutup bagian sensitif dengan tanganmu itu!]
“Kau pikir ini gara-gara siapa, bodoh!”
[Uhmm .. emmm ... ah!]
Suara itu terdengar seperti menyadari bahwa itu adalah kesalahan dirinya sendiri.
“Kau sadar sekarang?”
Dari nada dan juga intensitas suara yang dikeluarkan. Suara itu seperti suara seorang laki-laki.
“Apakah kau manusia!?”
[Sudah kubilang aku tidak serendah ras kalian!]
“Ahhh... kalau begitu kau serendah semut, “ sahut Ryan dengan nada sarkasme.
[Grghhhhh! Dasar tidak tahu diri!]
Tiba-tiba saja muncul sebuah makhluk yang mirip seperti seekor burung.
[Kau akan mengerti setelah melihat sosokku ini, dasar rendaha—]
“Tidak usah banyak bicara, jelaskan saja siapa kau ini!”
Karena sosoknya sudah terlihat, Ryan pun meremasnya seperti sebuah bola tenis.
[Argh! Argh! Argh! Hentikan itu atau—]
“Atau apa!? Kau ingin merasakan yang lebih sakit lagi?”
Wajahnya yang telah menyerupai sesosok iblis itu menciutkan nyali sosok burung misterius di cengkeramannya, sehingga ia pun mulai patuh dan tidak berkata arogan lagi.
[Uhmm... anu... baiklah, aku menyerah]
Ryan mendesah pelan lalu melepaskan cengkeramannya.
“Sebaiknya kau bisa menjelaskan kondisi saat ini atau tidak aku akan meremasmu lebih kencang lagi!”
[Baiklah ....]
Setelah itu Ryan di bawa pada sebuah potongan memori yang ia tidak kenal sama sekali.
“Apa....”
Tepat di depannya sekarang, ia tengah berdiri tepat di tengah-tengah kerumunan orang-orang. Namun, yang anehnya lagi mereka tidak menyadarinya sama sekali bahwa ia berada di tengah-tengah mereka.
[Namaku adalah Azra Vin Theos D. Vlad... kau bisa menyebutku Vlad]
Sosoknya mungkin mungil seperti burung gempal, tetapi namanya sangar seperti preman jalanan.
“Apa aku tidak salah dengar? Vlad... dengan tubuhmu yang seperti itu?”
[Hyahhh!!]
Vlad tiba-tiba saja menyerang kepala Ryan dengan paruh kecil tajam miliknya.
“Aw! Aw! Aw!... baiklah kutarik kata-kataku”
[Seharusnya kau tidak berkata seperti itu, anak muda]
“Anak muda? Jadi kau....”
Vlad pun terbang dengan memunggungi Ryan.
[Ya... bisa kau lihat dengan bentukku yang sekarang. Aku telah mati dan umurku jauh dari apa yang sedang kau bayangkan]
“Bagaimana itu bisa terjadi? Jangan-jangan tempat kita berada sekarang!?”
[Kau tajam juga dalam menganalisis situasimu, anak muda]
Vlad pun terbang merendah dan ia pun mendarat di bahu kanan Ryan.
[Ini adalah 300 tahun yang lalu, sebelum dunia ini berubah. Tepatnya sebelum Raja Vampir dikalahkan oleh umat manusia]
“Apakah itu kau, Vlad?”
[Hahahaha ... seperti yang kau duga, itu adalah aku sendiri]
“Lalu untuk apa kau memperlihatkan masa lalumu?”
[Aku ingin kau mengetahui kebenaran dari kejamnya dunia ini. Aku belum mengetahui siapa namamu?]
Dalam diam, tapi ia tersenyum kecil, matanya mulai menutup dan kembali terbuka. Sambil menghela dan mengeluarkannya lagi, mulutnya terbuka pelan-pelan.
“Ryan Angga Baskara... kau bisa memanggilku Ryan”
[Hmm... nama yang bagus. Kalau begitu Ryan, apakah kau siap untuk melihat masa kegelapan?]
__ADS_1
“Seperti Dark Age yang terjadi pada masa pertengahan Eropa?”
[Mungkin. Aku sendiri tak tahu Eropa apa yang kau maksud?]
“Ah... uhmm... pasti.”
Betapa bodohnya ia menanyakan hal yang sudah jelas Vlad tidak mengetahuinya.
“Kalau begitu aku siap”
[Bagus. Sebentar lagi hal itu akan terjadi, aku yakin kau pasti akan menyukanya]
“Hal itu?”
Tubuh Ryan yang sama sekali tak berdampak pada dunia yang di ciptakan oleh Vlad mulai terasa dingin. Ia pun berusaha mengelus-ngelus tubuhnya dengan tangan kanan selagi tangan kirinya menutupi tempat yang paling sensitif.
[Mengapa kau masih menutupi itu? Buka saja, lagi pula saat ini hanya tubuh bagian atasmu sajalah yang terlihat]
“Benarkah?”
Ryan pun membukanya dan benar saja, bagian tubuh bawahnya hampir menyerupai seperti kabut putih.
Ia pun bernapas lega.
“Lalu apa maksudmu akan terjadi?”
[Kau akan segera melihatnya]
Tiba-tiba saja sebuah lonceng berdentang dan membuat semua aktivitas di desa itu terhenti. Sebuah lolongan terdengar dan membuat penduduk desa ketakutan lari terkocar-kacir.
Lalu seekor makhluk berbulu yang sangat kelam muncul di tengah-tengah desa itu.
“I-i-itu Werewolf!?”
[Benar itu adalah Werewolf]
Vlad pun menuntun Ryan untuk melihatnya lebih dekat lagi. Ia menjelaskan bahwa Werewolf itu tidak akan menyadari keberadaan mereka meskipun keduanya sangat dekat dengannya.
Namun, Werewolf itu tiba-tiba menoleh dan menatap Ryan dengan tatapan haus darah. Mulutnya menggeram. Ketika Ryan kaget, sebuah suara setapak kaki mulai mendekat.
Akhirnya Ryan pun berbalik dan mendapati seorang pemuda sedang berdiri tidak jauh darinya. Ia sedang menggenggam pedang di tangan kanannya sedangkan kepalanya tertutupi oleh jubah berhoodie.
Ketika ia membuka hoodienya. Sosoknya dapat dikatakan sebagai lelaki yang menarik, ia juga memiliki rambut hitam dengan garis-garis cahaya biru.
Namun, apa yang membuat Ryan kaget adalah ketika mengetahui bahwa pemuda itu adalah dirinya sendiri.
“A-a-aku!?”
Pemuda itu tersenyum kecut dengan menatap Werewolf dengan tatapan dingin.
Dengan cepatnya pemuda itu langsung berlari menghadapi Werewolf yang berada di hadapannya.
Pedang yang ia bawa telah ditanggalkan dari sabuk. Werewolf itu pun tak tinggal diam, ia segera menerjang pemuda itu dengan taring dan kuku tajam miliknya.
Werewolf itu terhempas cukup jauh, tubuhnya melayang dan menghantam sebuah sumur tua yang berada tepat di tengah-tengah alun-alun desa.
[Bagaimana apakah ia mirip sepertimu, Ryan?]
(Aku tak percaya, dia memang mirip denganku)
[Apakah kau ingin tahu siapa dia?]
Ryan terdiam sesaat, kemudian ia pun melihat ke sekelilingnya. Walau tubuhnya tak terlihat oleh orang-orang di dunia itu. Namun, ia bisa merasakan sensasi nyata ketika berada di sana.
Rumah-rumah yang sederhana, dengan sumber air berupa sumur tua. Katrolnya sedikit berkarat, gerobak-gerobak jerami terlihat di pojok kanan sana. Lengkap dengan kuda yang sedang meringkik ketakutan.
Akhirnya tidak lama kemudian kuda itu tenang ketika pemuda yang mirip seperti Ryan itu mengelusnya pelan-pelan.
“Sudah-sudah ... jangan takut,” ucapnya sambil tersenyum kecil.
Werewolf itu bangkit kembali sambil melolong dan lolongannya itu kembali membuat kuda di samping pemuda berambut hitam kebiruan kembali ketakutan.
Dengan sedikit sentakan dari telapak tangan, akhirnya ia pun kembali tenang dan tampaknya kuda itu juga mendapatkan kembali ritme detak jantungnya.
“Kau sebaiknya tidak membuat orang-orang ketakutan, serigala jadi-jadian!”
Sambil mendesah, ia kembali berjalan pelan dan kilat pedang peraknya terlihat memantulkan bayang-bayang semu dari Werewolf di hadapannya.
Werewolf itu menggeram dan mulai menerjang pemuda berambut hitam kebiruan sambil meneteskan air liurnya.
“Hahhh. Gara-gara kau, aku jadi harus menghadapimu seperti ini, sangat dan sangat merepotkan tahu—”
Ketika Werewolf itu melompat, pemuda berambut hitam kebiruan itu memutarkan pedang perak di tangan kanannya dengan mudah.
Ia melesat lincah dan sebuah tebasan menyamping berhasil membelah Werewolf itu menjadi dua.
[Dia adalah Oz sang pemburu Iblis]
“—Walaupun aku adalah seorang Priest.”
Dan Werewolf itu langsung berubah menjadi debu hitam yang lenyap hanya beberapa detik.
Seketika itu juga suasana di desa itu mengalami keheningan beberapa saat.
(Oz!? Dia?)
[Kau tidak percaya? Ya ... itu terserah padamu, Ryan. Apakah kau mempercayaiku atau tidak]
Kemudian penduduk desa langsung keluar dari tempat persembunyian mereka ketika Werewolf itu telah di musnahkan. Oz yang berdiri tegap di tengah alun-alun itu langsung menyarungkan pedangnya kembali.
Teriakan penuh antusias terdengar dengan meriah.
__ADS_1
“Whooaa! Tuan Priest terima kasih karena telah menyelamatkan desa ini”
“Kyaaaa! Kerennya.”
“Anda adalah pahlawan negara ini.”
Namun, menganggapi semua itu Oz hanya bisa menghela . Ia pun menghampiri seorang pria tua yang tampaknya adalah kepala desa itu.
“Tuan Priest, apa yang bisa kami berikan untuk membalas kebaikanmu?”
“Uhmm. Bagaimana jika kau memberitahukanku letak dari tempat ini?”
Oz memperlihatkan sebuah peta cokelat usang yang lebar. Tepat di samping kirinya terdapat sebuah gambar kastel kuno yang telah di tandai. Sementara di sebelah kanannya adalah beberapa tempat yang telah ia kunjungi sebelumnya.
“Apakah A-Anda yakin?”
Terdapat sedikit kegelisahan dari kepala desa itu. Namun, Oz hanya memberi anggukan mantap.
“Baiklah kalau begitu ....”
Kepala desa itu memberitahukan Oz letak tempat yang ia ingin tuju. Letak kastel itu berada di sebelah barat dari desa tempatnya berada. Menurutnya juga, jalan yang akan dilalui Oz terdapat beberapa Monster yang akan menghadangnya.
Terlebih lagi mereka adalah anak buah dari Sang Raja Abadi. Tetapi Oz menghiraukannya dan sesekali menguap karena kelelahan. Kepala desa menawarkan tempat untuk menginap dan lagi-lagi Oz menolak penawarannya.
Akhirnya ia pun pergi, sebelumnya Oz memberikan sebuah perak mengilat dan memberitahukan kepala desa untuk segera meleburkannya dan menyatukannya dengan sumber air yang tidak di pakai untuk minum.
Saat kepala desa itu bertanya, Oz hanya menjawabnya dengan mudah.
“Untuk membunuh makhluk seperti itu.”
Kini ia telah berada di luar desa itu dan kembali meneruskan perjalanannya.
[Apa kau mengerti sekarang, Ryan?]
(Aku paham, tetapi ada yang sedikit mengganjal pikiranku saat mengetahui dia adalah seorang Priest)
[Hahahaha. Bukankah itu sama saja tidak mengerti]
(Itu berbeda. Tidak mengerti dan mengganjal itu beda kata)
[Kau memang aneh]
Pembicaraan itu berlangsung dengan Vlad yang terus saja tertawa sedangkan Ryan hanya dapat kebingungan di buatnya.
Setelah beberapa saat, Oz telah memasuki sebuah gua untuk beristirahat. Ia juga membawa sebuah tas gantel kecil yang kumuh yang terbuat dari kulit dan telah lapuk tergantung di pinggul samping kanannya.
Dari situ ia mengeluarkan sebuah lilin. Pemantik api ia keluarkan dari saku sebelah kiri jubah hitamnya. Kemudian ia pun menyalakannya dan mendekatkannya ke lilin. Akhirnya lilin pun menyala dan keadaan gua gelap itu menjadi sedikit terang.
Selagi hujan turun dengan intensitas besar. Suaranya terdengar dan bergema di gua tempat Oz sedang beristirahat. Ia pun menyingkap jubah dan juga pakaiannya agar tidak basah karena percikan air hujan dari luar.
Menempatkan semua perlengkapan serta peralatannya di bawah. Setelah semua di lepaskan, ia pun mulai mengasah pedangnya secara perlahan-lahan dan penuh kehati-hatian.
“Hmmm... tampaknya tidak ada yang retak.”
Dengan kondisinya yang kini tak mengenakan pakaian, ia memeriksa pedangnya itu dengan seksama.
Pedang yang sangat berbeda dari pedang lainnya. Bilah pisaunya perak, tapi lekukan garis-garisnya berwarna merah darah. Pegangannya menyerupai persegi dan memiliki lubang di tengahnya.
Sedangkan di samping kiri bawah pedang itu tergeletak sebuah pistol klasik berwarna cokelat tua dengan ukiran kayu di pinggiran pegangannya.
Bentuknya melengkung seperti belati.
“Sepertinya hujan saat ini tidak akan mereda untuk jangka waktu yang cukup panjang.”
Oz pun kembali merapikan semua perlengkapan dan juga perlatannya. Memasukkan semuanya kembali ke tempat mereka semula. Jubah dan juga pakaian yang ia lepas, ia gunakan sebagai bantalan.
“Lagi pula cuaca sudah mulai menggelap, sebaiknya aku tidur sekarang. Malamnya aku akan berburu beberapa Monster dan juga Familliar yang berkeliaran.”
Akhirnya ia pun tertidur dengan kepala yang beristirahat di tumpukan jubah dan pakaiannya.
[Apakah kau tahu bahwa Oz adalah keturunan setengah vampir, Ryan?]
(Kau mengharapkan sesuatu yang tidak-tidak... lagi pula ini baru pertama kali aku melihat seseorang yang mirip seperti diriku, terlebih lagi 300 tahun yang lalu? Apa kau bercanda, huh?)
[Tentu saja aku tidak bercanda, kau akan segera melihatnya, kenapa aku membawamu pada zaman ini. Ini hanya sebatas ingatan miliknya yang tertinggal dan aku memperlihatkannya padamu]
(Tertinggal?)
Vlad hanya terdiam dan ia pun seperti merahasiakan sesuatu dari Ryan. Namun, yang bisa dilakukan Ryan saat ini hanyalah menonton, karena saat ini keberadaannya hanyalah sebagai penonton.
Waktu yang sungguh tak terasa, hujan telah berhenti dan malam dengan bulan purnama telah muncul di langit yang penuh misteri. Oz terbangun sambil menguap lebar.
Tubuhnya yang sedikit berisi dengan dada bidang yang memiliki luka sayatan itu kini terlihat jelas. Sambil mempersiapkan segalanya, ia pun kembali memakai pakaiannya.
Senyum girang menghiasi wajahnya kala itu. Oz pun mulai melangkahkan kakinya untuk keluar dari gua tersebut. Kepalanya mendongak, kedua matanya yang mulai sedikit bercahaya menatap bulan purnama dengan takjub.
“Hehhh... bulan yang sangat indah.”
Terlepas dari senyum girang, kini senyum itu melebar dan menunjukkan rasa haus akan perburuan.
Lolongan terdengar di seluruh penjuru tempat Oz berada. Kepakkan sayap yang tidak di ketahui dari mana asalnya berkeliaran di langit-langit malam.
Beberapa kelelawar beterbangan kesana-kesini untuk mencari seekor mangsa.
Tepat di hadapan Oz terbentang hutan yang telah mati. Pepohonannya hitam dan tak memiliki daun atau buah sedikit pun. Hawa yang di keluarkannya pun sangat kelam, kabut putih seperti menyelinap dari bawahnya.
Seakan-akan berusaha menyeret kaki Oz untuk mereka lahap.
Namun, Oz hanya terdiam melihat semua itu, pemandangan yang ada di hadapannya sudah sangat sering ia lihat. Sehingga rasa mengganggu itu tidak terlalu ia pikirkan dan ia cemaskan.
Sekarang ia mengambil dan mengeluarkannya lagi berulang kali. Sampai akhirnya ia telah siap untuk menjelajah hutan di depannya. Hutan yang menjadi tembok antara dia dan juga tempat tujuannya.
__ADS_1
“Menurut kepala desa itu, letak dari tujuanku seharusnya berada di balik hutan ini.”
Akhirnya Oz pun memasuki hutan itu dengan langkah yang ringan.