Nameless Crown

Nameless Crown
Chapter 26 - Kenampakan Tak Kasat Mata II


__ADS_3

Bara api menyala, kayu retak bergemulutuk mengeluarkan arang kecil yang kini terbang keluar. Ash dan Lilith yang sedang berkemah di dalam gua duduk bersebelahan diselimuti kain hangat.


“Ada banyak sekali cara yang bisa kita ambil, tapi saat ini kita tidak memiliki informasi tentang mereka.”


Ash menyesap secangkir teh hangat perlahan-lahan, sementara itu Lilith sedang mengunyah daging panggang kecil. Selayaknya wanita anggun, ia menutupi mulutnya yang penuh agar tidak dilihat memalukan oleh Ash.


Namun, Sang Kekasihnya itu tampak tidak peduli. Ia lebih memilih berdiam setelah merasakan nikmatnya teh alami yang ia beli dari Kota Belgana.


Meskipun seperti itu, Lilith sama sekali tidak keberatan. Sang Permaisuri Pemikat itu berpikir bahwa Ash sangat keren ketika mengacuhkan dan ia semakin terlena dengan ketampanan laki-laki di sampingnya.


“Sekarang kita hanya perlu menunggu satu atau dua hari. Setelahnya kita baru bergerak,” tutur Ash lembut sembari menyesap secangkir teh hangat.


“Dua hari?”


“Nanti juga kamu pasti tahu.”


Samar-samar mulut Ash menyungging dan setelah itu ia mengambil posisi santai, merebahkan dirinya ke atas permukaan tanah gua yang dingin. Namun, berkat aura yang dipancarkan oleh Lilith atmosfer di sana menjadi hangat. Pada akhirnya mereka terlelap dengan wajah lega.


***


Dead Zone, South West Green Plain, Abandoned House


“Semua sudah beres, Kak?”


“Sabar saja. Semuanya membutuhkan waktu. Lagi pula ini sudah dua hari berlalu sejak kejadian itu dan reaksimu selalu sama, Fiona”


Berada dalam sebuah ruangan luas yang dipenuhi oleh rak buku serta perabotan rumah terbengkalai. Fion yang kini menarik pita peta melihat ke arah Adik tercintanya dengan ekspresi memaklumi.


Namun, Fiona yang tidak sabar mengharuskannya berlapang dada. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Adiknya itu ketika kesabarannya sirna. Mungkin akan terjadi sesuatu yang buruk menimpa Player lain atau monster di sekitar tempat mereka berada.


Walaupun begitu, Fion tetap fokus pada pekerjaannya dalam merumuskan informasi yang telah mereka dapatkan dalam dua hari belakangan ini. Baik desas-desus yang menyebar di kalangan Player lain ataupun informasi singkat dari kota permulaan.


Semua itu ia rangkum dan jabarkan menjadi salinan kalimat singkat, padat, dan jelas dalam satu lebar kertas.


“Kesimpulan yang bisa kuambil, hmm? Ini terlalu sedikit. Banyak faktor-faktor lainnya yang belum bisa aku tangkap dengan jelas, tapi setidaknya informasi ini lebih dari cukup.”


Fion pun mendongak ke arah Adiknya yang sedang berbaring di atas meja sambil memainkan sabit besar. Setelah itu ia menandai beberapa bagian di peta lalu menutupnya kembali.


“Fiona?”


“Ya?” Sang Adik pun berhenti sesaat sebelum mulutnya menyunggi lebar.


“Kita memiliki pekerjaan.”


Balon permen karet yang baru saja menggembung pun pecah, Fiona pun bangkit lalu beranjak. Menghadap Kakaknya dengan ekspresi ekstasi penuh ketidaksabaran.


“Akhirnya ... akhirnya ... akhirnya aku bisa juga keluar dari rutinitas kebosanan ini!”


“Jangan sampai kesenangan itu menjadi pedang bermata ganda, Fiona”


“Aku tahu, kok. Tenang saja, Kak. Hehehehe”


“Tawa itu ... aku jadi punya firasat buruk,” balas Fion sembari menghela napas panjang.


***


Di sepanjang mata memandang, rumput kecil menari tertiup angin. Gemuruh angin ringan yang melintas tak henti-hentinya mengelus dedaunan pohon. Kabut tipis dapat terlihat secara jelas, meski tak tebal, tetapi mengganggu jarak pandang.

__ADS_1


Tiada makhluk ternak, tiada kebebasan untuk bersantai. Suara para gembala yang terdengar sayu kini berubah menjadi ketakutan tak berujung.


Ash berjalan pelan sembari melihat sekitarnya dengan cermat, semenara Lilith yang berada di samping kirinya terlihat biasa saja meski pada kenyataannya ialah yang memiliki tingkat kewaspadaan paling tinggi.


“Saat itu kita hanya beruntung dapat menemukan pintu masuknya, tapi sekarang coba kamu pikirkan lagi”


“Jadi ini yang kamu maksud, Ash. Aku tak habis pikir bisa melewatkan hal sejelas ini”


“Karena kita bertarung melawan beberapa kawanan monster. Detail seperti ini terkadang luput dari perhatian kita”


“Uhmm. Benar, untung saja kamu memberitahuku tadi”


“Satu hal lagi yang harus kita perhatikan adalah ‘sesuatu’ di dalam kabut ini.”


Lantai pertama biasanya adalah tempat bagi pemula untuk berkembang dan mencari pengalaman ataupun koneksi. Namun, pemandangan yang mereka lihat saat ini lebih menyerupai labirin kecil tersembunyi.


Sebagai ciptaan alam yang dapat dimanfaatkan baik oleh fauna dan flora, hutan adalah tempat yang perlu diperhatikan lebih teliti lagi. Karena bisa saja jejak masa lalu akan luput dari ingatan sehingga mudah sekali menyesatkan para pencari jejak yang memasukinya.


Apalagi dengan munculnya kabut yang menyelimuti seisi hutan. Jika saja mereka memaksakan diri untuk memasuki tempat itu esok hari, mungkin saja mereka akan tertangkap lagi oleh Player lainnya.


Namun, mengingat kondisi saat ini dapat diatasi oleh Ash dengan mudah. Ia ingin memanfaatkan kondisi hutan yang abnormal untuk menghindari perhatian Player lain.


“Lihat di sana.”


Sontak Lilith pun berpaling dan mengarahkan perhatiannya ke arah tempat yang ditunjuk oleh Ash.


“Whoaa, banyak juga.”


Apa yang baru saja ia lihat adalah siluet para Player yang melintas melewati mereka. Untungnya jarak para Palyer dan Ash cukup jauh sehingga hawa kehadiran mereka dapat disamarkan.


Lilith mengangguk mantap. Senyum lebar merekah di wajahnya, ia senang karena Ash memujinya. Namun, di sisi lain Ash sendiri sama sekali tidak memujinya. Ini adalah kesalahpahaman yang selalu membuat Ash takut karena setiap kali ia melontarkan kata bermakna ganda, perasaan Lilith terus memuncak.


“Sekarang yang perlu kita lakukan adalah melenyapkan makhluk-makhluk itu”


“Umm. Baik!”


Walaupun hawa kehadiran mereka hampir mendekati kehampaan, tapi bagi Sang Pengamat A.K.A. hutan itu sendiri, mereka masih dapat dideteksi dengan sangat baik.


Alhasil beberapa monster datang menyambut mereka dengan kawanannya masing-masing.  Baik itu serigala hutan, Goblin, Hobgoblin, Kobold, bahkan sekelas Ogre pun tak ingin ketinggalan menyerbu Ash dan Lilith.


“[Wolfang lv.8], [Goblin lv.5], [Hobgoblin lv.9], dan [Ogre lv.14] ... sepertinya kita disambut dengan meriah, Ash~”


“Ini bukan akibat dari pesonamu, ‘kan?”


“Fufufufu~ siapa yang tahu?~”


“Ughh. Aku benci mengatakannya, tapi nada itu selalu membuatku merinding tahu”


“Biasakanlah, sayangku. Ini akan lebih intens lagi kalau kita bergulat di ranjang~”


“Siapa yang ingin melakukannya?!”


Lilith tertawa kecil, sementara Ash mengeluarkan belati sembari menggerutu dengan wajah masam.


“Lagi dan lagi, lelucon tingkat akutmu itu tak akan pernah menjadi kenyataan, Lilith”


“Mungkin keajaiban akan mengabulkannya, karena tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, Ash~”

__ADS_1


“Hahh. Kamu siap?”


“Tentu saja ....”


Ash menerjang ke depan, mengawali pertempuran dengan keahlian Phantom Dusk. Sebuah terjangan cepat nan tak terlihat, diikuti oleh aura yang muncul dari kegelapan bayang-bayang.


Bunyi tebasan beruntun dapat terdengar menggores hingga membelah beberapa bagian tubuh monster. Di sisi lain Lilith menggunakan keahlian pendukungnya untuk meningkatkan keakuratan, daya serang, kecepatan, kecakapan, hingga daya tahan Ash dalam sekali rapalan.


Bulir-bulir merah muncul dari dalam tahan dan seketika itu juga hancur mengeluarkan kabut merah pekat. Berkat ras Ash yang setengah Vampir, semua kabut itu ia serap dalam sekejap mata.


Aura merah tampak menyelimuti dirinya samar-samar. Kedua pupilnya menegang, bersamaan dengan nyala dua warna merah dalam selimut kabut. Ash tak tanggung-tanggung menjadi pembunuh masal.


Semua monster yang berada dalam jarak serangnya pun mendapatkan tekanan kuat dari aura Vampir milik Ash. Tidak ada satu pun dari mereka yang tak gentar, semuanya bergemetar hebat.


[Level up!]


[Level up!]


[Level up!]


Hanya dalam pembantaian sepihak itu Ash berhasil menaikkan levelnya sebanyak tiga tingkat. Bunyi ledakan data virtual pun ikut terdengar menyusul tubuh Ash yang mendarat mulus di atas permukaan setelah memenggal salah satu kepala Ogre.


“Seperti yang diharapkan dari Ashku tercinta. Kamu berhasil mengalahkan mereka sebelum aku mengeluarkan sihir kedua~”


Ash mengibaskan belatinya, bercak darah yang menempel pun langsung lenyap seketika. Setelah itu ia hanya menghela napas sesaat sebelum melirik ke arah Lilith.


“Sudah pasti, ‘kan? Lagi pula ada kamu di sisiku”


“Ahn~ sayang~”


“Sudah, sudah. Jangan terlalu dilebihkan. Ayo, ada tempat yang harus kita masuki sekarang”


“Umm. Aku datang~”


Lilith berlari kecil ke arah Ash, begitu ia tiba di dekatnya. Ash pun langsung merangkul pinggang Lilith dengan lembut kemudian mereka lenyap menjadi asap abu. Pergi meninggalkan tempat pembantaian tersebut tanpa jejak dalam kabut samar yang mengelilingi sekitarnya.


Di tempat lain, Fion dan Fiona mengalami hal yang sama. Namun, yang menjadi pembeda adalah tempat itu hancur luluh lantah berkat amukan Sang Penjagal bertubuh kecil, Fiona.


Sementara Kakaknya Fion hanya membaca buku sembari berjalan melewati tumpukkan mayat monster yang hancur menjadi data virtual begitu ia mengentakkan kakinya.


Fion memperbaiki kacamatanya dengan jari telunjuk, “Semuanya ... sudah beres?”


“Khahaha! Ini tidak seberapa. Pasti, tidak ada yang tersisa ... tunggu ... “


“Hmm? Ada yang tertinggal?”


“Tidak. Hanya saja aku bisa mencium bau pembantaian dari sini. Hehehe, rupanya ada orang yang setipe denganku, huh?” sahut Fiona dengan seringai lebar.


Namun, Sang Kakak menghela napasnya panjang.


“Jika ada orang kedua sepertimu, masalahku akan jadi semakin bertambah. Selain itu mungkin kepalaku tidak akan bisa menahannya lagi”


“Hahaha. Jangan khawatir, Kak. Meski begini, aku juga bisa menahan diri,” balasnya sembari memberi tanda V dengan jari telunjuk dan tengah.


“Katakan itu setelah kami membersihkan wajahmu, Fiona.”


Mereka pun akhirnya pergi meninggalkan tempat itu dengan langkah santai sambil berbincang-bincang ringan.

__ADS_1


__ADS_2