Nameless Crown

Nameless Crown
Chapter 20 - Pengakuan Atas Kebenaran


__ADS_3

Setelah Lilith mengangguk pelan, Ryan pun segera pergi dari kastel itu. Tetapi, ia juga harus membawa Elen yang tak sadarkan diri di bawah sana. Akhirnya Ryan melepaskan Shadow Stalker dan mengembalikan penampilannya seperti semula.


Kini Shadow Stalker berbentuk naga itu membawa Elen ke dalam lilitannya. Setelah semua terkendali, mula lah Ryan dan Lilith pergi dari kastel itu bersamaan Elen yang sedang di bawa oleh Shadow Stalker.


Kastel—Dungeon Castle of Monochrome mulai bergemuruh dan perlahan-lahan runtuh. Seluruh Player yang bertarung di sana pun melarikan diri dari hancurnya Dungeon itu. Bersamaan dengan Dungeon itu, kerajaan di sana pun mulai mengalami kehancuran yang sama.


Tanah bergetar, rumah-rumah hancur, bahkan seluruh areal sepanjang mata memandang perlahan-lahan mulai menghilang.


Di saat itulah semua Player yang berpartisipasi dalam penyerangan Castle of Monochrome mendapatkan Exp tambahan beserta beberapa Rare Item. Sementara untuk Ryan yang mengalah kan Vlad.


Ia mendapatkan material untuk memperkuat senjatanya. Semenjak hancurnya Dungeon itu, isu-isu tentang pengendara malam menjadi heboh. Karena seorang Player tidak sengaja melihat seorang lelaki yang terbang di malam hari sedang menggendong seorang wanita cantik yang belum pernah terlihat.


Karena isu-isu itu telah menyebar luas. Player-palyer unik memulai aksi mereka. Jika Elen adalah Player 05 maka sisanya adalah 01, 02, 03, 04, 06 dan tentunya 07.


Ryan membawa Elen ke tempat yang aman dan menyerahkan beberapa Item karena telah membantunya. Ia mungkin kaget jika mengetahu ras milik Ryan telah berubah menjadi [Half-Vampire].


Namun, Ryan sangat senang dapat mengenal Elen. Player yang menjadi teman pertama Ryan, akhirnya Ryan pun mengirim permintaan teman untuknya. Selagi ia tertidur, kemudian ia meninggalkan tempat itu dengan cepat.


Saat ia pergi, sebuah tangan merangkul tubuhnya dari belakang. kelembutan kulit, aroma tubuhnya, pesona miliknya serta wajah penuh kasih sayang itu muncul di samping kanan wajah Ryan.


“Ada apa Lilith?”


“Bukankah untuk sekarang kita juga harus mencari sebuah penginapan~”


Ryan meneguk ludahnya sendiri. Menurut pandangannya, wanita seperti ini sangatlah agresif bahkan dapat dikategorikan sebagai Psycho. Namun, itu tidak masalah jika ia tidak menimbulkan masalah bagi dirinya dan juga sekitarnya.


“Huhh... baiklah”


“Fufufufu... akhirnya aku juga bisa menggosok punggungmu~”


“Apakah pikiranmu selalu seperti itu?”


“Tentu saja. Setiap kali kita mandi bersama, aku selalu menggosok punggungmu dengan penuh kasih sayang~”


Ryan dapat membayangkan dirinya yang dulu seperti apa. Seorang perempuan setengah telanjang menggosok punggung lelaki mungkin itu adalah kenikmatan, tetapi baginya itu adalah sebuah siksaan.


Karena mungkin saja ia tidak sengaja menyerangnya dan melakukannya di malam pertama.


Pada akhirnya Ryan harus memperketat penjagaannya. Jika tidak itu sangat berbahaya sekali. Lilith mungkin wanita yang paling cantik yang pernah ia temui selama ini, tetapi itu tidak membuat hatinya tenang.


Masih ada sedikit keraguan mengapa Ryan menjadi sedikit dingin kepadanya. Apapun itu mungkin saja Ryan masih mencari jawaban yang sebenarnya. Walau menyakitkan ia akan menerimanya.


“Seandainya aku menyuruhmu telanjang apakah kau akan melakukannya?”


“Hmmm. Hehehe... ya, apakah kau ingin kita melakukannya di sini? Sekarang juga?~”


Nadanya yang genit dan menggoda itu membuat Ryan menempelkan telapak tangan miliknya ke wajahnya sendiri. Benar-benar di luar dugaan.


Ryan mendesah karena ia khawatir bagaimana jadinya jika Lilith jatuh ke tangan orang yang salah.

__ADS_1


Sementara itu Lilith merangkul leher Ryan dan menempelkan tubuhnya ke tubuh Ryan.


“ Jadi bagaimana?~ ingin melakukannya di sini?”


Tangan kanan Ryan terangkat. Lalu sebuah sentilan kuat mendarat di kening Lilith. Lilith pun tersentak dan menjauh beberapa saat. Namun, ketika kembali seperti semula ia pun memendamkan wajahnya di dada bidang milik Ryan.


“Tolong jangan tinggalkan aku untuk kedua kalinya... Ash.”


Nadanya yang genit telah menghilang dan berubah menjadi serius. Ryan—Ash pun membalasnya dengan sebuah pelukan hangat sehingga Lilith lebih dekat dengannya.


Di malam itu mereka berdua tertidur di balik pohon raksasa di hutan yang tak pernah bisa di jangkau oleh Player biasa. Dan pada saat itulah status Ryan—Ash kembali berubah, di mana nama sebelumnya terbakar oleh api abu dan berubah menjadi nama sesungguhnya.


[Name : Ryan Angga Baskara  => Ashiel Gremory]


***


Malam yang sungguh tak terasa. Begitu menutup mata sapaan alam mulai membelai mereka berdua.


Ashlah yang pertama kali bangun. Ketika ia membuka kedua matanya, rupanya Lilith masih berada di dalam pelukannya.


Wajahnya tepat berada di samping wajah miliknya. Mata yang indah, aroma tubuh yang menggoda, pesona tiada tanding.


“Huhhh... tampaknya ini akan sulit untuk meloloskan diri dari sini.”


Gumamnya begitu ia tersadar bagaimana kabar Elen yang mereka tinggalkan di sebuah penginapan. Ia dan juga Lilith memang tidak jadi pergi ke penginapan karena tingkah laku Lilith yang sangat agresif.


Ia sama sekali tidak merasakan dingin karena sebuah pelukan hangat seorang perempuan di dekatnya. Mau tidak mau Ryan tidak bisa melepaskan Lilith begitu saja.


Kabar burung memang begitu cepat menyebar. Kabar dari hancurnya Castle of Monochrome cepat sekali berpindah-pindah telinga. Tidak hanya mendapatkan moral dan kekuatan.


Player-player di seluruh penjuru taman kecil mulai melakukan ekspansi dan menyerang dua pilar. Setelah menyelesaikannya mereka pun beralih pada bos lantai.


Ash berpikir tentang nama aslinya. Ketika Lilith membisikan nama itu di telinganya, ia tidak menyangka ternyata nama itu membuatnya tersadar, bahwa selama ini kehidupannya di dunia nyata tidak senyata yang ia pikirkan.


Bukan hanya Anna dan Fajar. Tetapi selama ini mereka hanyalah ilusi yang di ciptakan seseorang untuk membatasi pergerakan Ash selama ini. Oz, masa lalu yang menghantuinya adalah “dia” yang selama ini berada di dalam tubuhnya.


Ia juga membantu Ash untuk menemukan siapa dirinya yang sebenarnya. Ia juga tahu eksistensi Ash yang sesungguhnya bukan hanya menjalani hidup dengan normal. Namun, eksistensinya bertujuan untuk memecahkan kode peri yang tersembunyi di dalam lapisan terdalam “Taman Kecil”


“Huhh..., sandi para peri. Apakah itu yang menyebabkan keberadaanku berarti?”


Dalam pikirannya sekarang Ash terus berpikir tentang hal itu. Ia mengetahui semua itu berkat Lilith. Raut wajahnya mulai mengeras karena berpikir, lalu sebuah sentuhan halus menyentuh pipinya dengan lembut sekali.


Karena kaget, Ash pun melemas dan mulai melirik Lilith yang telah terbangun. Ia sedang tersenyum kecil


“Mengapa kau membuat raut wajah seperti itu, Ash?”


“Ahh... tidak, hanya saja—“


“Apakah kau belum bisa menerima keberadaanmu sendiri, ya?”

__ADS_1


“Bukan itu... tetapi, ini terlalu tiba-tiba, dan semuanya tampak seperti mimpi. Lagi pula  mengapa harus aku yang melakukannya?”


Lilith pun bangun lalu menindihkan dirinya sendiri di pangkuan Ash. Kini mereka saling berhadapan wajah dengan wajah. Lilith perlahan-lahan mulai merangkul leher Ash kembali.


“Jika kau tidak menginginkannya, maka kau hanya tinggal menolaknya. Menghindarinya akan lebih baik daripada hanya menyakiti dirimu sendiri.”


Ash menghela kemudian mengeluarkannya kembali pelan-pelan.


“...yang sedang kupikirkan sekarang adalah mengapa kau memilih diriku?”


Lilith hanya dapat tersenyum kecil mendengarnya.


“Itu karena hanya dirimu seorang yang mau menerimaku, tidak ada yang lain. Walau orang lain melihatku seperti Monster. Namun, hanya dirimu seorang lah yang melihatku sebagai seorang wanita. Aku senang, karena pertama kalinya keberadaanku menjadi sangat penting, dan ada seseorang yang menginginkanku”


“Hanya itu?”


Lilith menggeleng pelan.


“Bukan hanya itu saja, tetapi kita juga telah terikat oleh kontrak, walau sebenarnya aku abadi. Namun, jika kau telah tiada, maka aku akan ikut bersamamu.”


Dengan lembutnya Lilith menyingkap gaun hitam berenda kemerahan gelap miliknya hingga memperlihatkan perutnya.


Terdapat sebuah lingkaran gelap. Lingkaran gelap itu adalah tanda kontrak telah berhasil dilakukan, selain itu juga. Kontrak tersebut dapat menghubungkan perasaan satu sama lain. Jika sang dominan merasakan kegundahan maka sang penerima juga akan merasakannya.


“T-tunggu ... apa yang kau lakukan, cepat tutup kembali!”


Paha putihnya terlihat jelas. Ash sempat kaget dan menutupi kedua matanya, tapi Lilith menghentikannya dan menatap Ash seolah-olah berkata “Lihat aku, hanya untukmulah aku menjadi seperti ini”.


Lalu Lilith pun merobek baju Ash dengan cepat. Di dada bidang miliknya, ia juga memiliki sebuah lingkaran hitam yang di dapatkan dari Vlad. Namun, sebenarnya itu adalah lingakaran kontrak dengan Lilith.


“Lihat? Inilah yang menyatukan kita, walaupun pada awalnya sebuah paksaan, tetapi aku senang kau menemukanku di ruangan itu, Ash~”


Ia tersenyum penuh kebahagiaan, tetapi Ash hanya terdiam mendengarkannya. Begitu ia teringat pada sesuatu, Ash pun membuka mulutnya—


“Apakah kau ‘nyata?’ atau kah ‘ilusi?’... “


Lilith termenung, pernyataan seperti itu membuat hati kecilnya sakit sekali. Namun, ia telah memutuskannya sejak pertemuan pertama mereka.


Ia kembali tersenyum tulus....


“Tentu saja aku—“


Ketika burung di pagi hari terbang menuju langit yang cerah. Di bawah pohon itu Lilith mencium Ryan. Ia tidak ingin bahwa apa yang ia lalui bersama dengannya terhapus sia-sia.


“—‘Nyata’ .... Dan aku tidak pernah bosan untuk melakukannya, Ash,” ucapnya lembut.


Note:


- Bagi kalian yang sudah membaca sampai chapter ini\, ane ucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya. Berhubung chapter 1-20 adalah tulisan lama ane yang direboot dan dengan selesainya Arc pertama\, Arc kedua akan dimulai dengan tulisan\, dan juga pembawaan yang berbeda. Hope u all enjoy it\~

__ADS_1


__ADS_2