Nameless Crown

Nameless Crown
Chapter 32 - Ia, Sang Pembawa Kunci Alignma II


__ADS_3

Di sisi lain Ash masih tenang dan tidak terkejut dengan perubahan mendadak yang terjadi di sekitarnya. Ia merasa hal seperti itu pasti akan terjadi mengingat dunia yang kini ia tinggali bukan lagi dunia nyata.


Namun, perasaannya ketika bertemu dengan Nardhal [Perempuan] membuatnya sedikit tidak nyaman.


Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di sini, tapi hanya melihatnya saja membuatku sedikit pusing, batinnya.


Berbeda dengan bentuk laki-lakinya, sosoknya yang saat ini ia perlihatkan kepada Ash hanyalah seorang gadis kecil berambut panjang dengan pakaian sederhana.


Walau warna seluruh tubuhnya pucat, tapi Ash sama sekali tidak bereaksi yang aneh-aneh, sangat terbalik dengan reaksi Liltih yang jengkel.


“Aku yakin kamu pasti ingin menyampaikan sesuatu, bukan?”


Nardhal [Perempuan] pun tersenyum, tidak seperti senyum jahil atau memiliki niat tertentu. Itu adalah sebuah senyuman tulus yang ia berikan kepada Ash. Dengan mata yang berbinar dan pupil mata lebar, keberadaannya bukanlah pertanda sosok misterius melainkan sesosok gadis kecil yang tidak berbahaya.


“Ternyata kau mau menggunakannya-Aku tak percaya-Tebakan”nya” kali ini-Meleset”


“Begitu? Syukurlah kalau memang bencana yang kamu perkirakan tidak akan terjadi, tapi caramu berbicara sedikit ... eumm, bagaimana aku mengatakannya?”


“Ini adalah program-Aku tidak bisa-Mengabaikannya begitu saja-Apalagi saat ini-Sosokku diberikan tugas-Misi yang penting”


“Sepertinya memang percuma, kah? Jadi bisa langsung ke intinya saja? Atau tidak rekan perempuanku di sebelah akan benar-benar lepas kendali.”


Nardhal [Perempuan] tertawa kecil sembari menutup mulutnya dengan punggung telapak tangan. Benar-benar mencerminkan sosok gadis kecil biasa tanpa embel-embel penjaga atau Boss lantai.


Walaupun demikian, Ash sama sekali tidak merendahkan penjagaannya. Ia masih waspada terhadap sosok gadis yang berada di depan sana—berdiri, terdiam dengan senyum misterius.


“Itu-Memang benar-Tapi belum saatnya-Kebenaran terungkap-Dari balik bayang-Dunia ini.”


Apa yang ia maksud adalah tentang Sandi Peri itu? batin Ash.


“Tidak peduli berapa-Banyaknya pendatang kemari-Sebelum mereka layak-Tidak ada kata-Yang dapat menggambarkan-Tragedi dunia ini”


“Aku memang sangat ingin mendengarkan ceritamu, tapi telingaku sedikit berdengung, dan lagi perempuan di seberang sana semakin mengganas. Apa kamu yakin dirimu yang lain akan baik-baik saja”


“Hmm?-Sangat jarang-Sanga jarang-Ada pendatang-Yang mau mengkhawatirkan kami-Ini menarik-Semakin aku menggali-Semakin waktu terasa melambat”


“Terasa lambat?—hmm?!”


“Apa sekarang kau-Menyadarinya?”


Ash yang sempat menengok ke arah dinding pembatas tiba-tiba saja tersentak kaget. Ia tak mengira jika derik debu yang jatuh melintas di hadapannya bergerak sangat lambat.


Kontur serta atmosfer juga menjadi berbeda dari sebelumnya. Ia tidak tahu apa yang terjadi, tapi satu hal yang pasti ialah semua hal itu pasti ada sangkut pautnya dengan Nardhal [Perempuan].


Sebagai penjaga dan juga entitas misterius yang datang secara tiba-tiba, tentunya keanehan itu mulai menjadi masuk akal. Ia juga bahkan tidak menyerang Ash sama sekali, malah lebih terkesan seperti teman berbincang-bincang.


Namun, Ash masih bertanya-tanya tentang perkataan Nardhal [Perempuan] mengenai kebenaran dunia ini A.K.A. Taman Kecil.


Benarkah semua itu mengacu pada Sandi Peri? Aku belum bisa memastikannya, tapi mungkin ini kesempatan yang bagus untuk menanyakan teka-teki ini, pikir Ash.


“Semua yang kulalui memang tidak masuk akal dan sulut untuk dipercaya, tapi percayalah aku juga ingin keluar dari keanehan ini secepat mungkin,” ucap Ash sembari membuang napas.

__ADS_1


“Ada banyak anomali-Begitu juga keajaiban-Tidak terhitung jumlahnya-Namun sungguh nyata-Semua hal tersebut. Tidak terbayang jumlahnya-Namun jangan salah-Karena semua itu-Mungkin saja merujuk-Pada suatu kebenaran”


“Aku tidak terlalu pandai memecahkan teka-teki, jadi jangan memaksaku untuk melakukannya, ok?”


“Huhuhuhu-Kau ini menarik-Dari semua pendatang-Ini kali pertamanya-Aku merasa terhibur”


“Terima kasih?”


“Namun waktu hanyalah waktu-Kesenangan ini-Akan berakhir dalam sekejap-Karena itulah-Aku masih menginginkan hiburan”


“Hehh, tapi tidak perlu dengan kekerasan bukan?”


“Itu pun-Tergantung suasana hatiku.”


Alis kiri Ash pun terangkat, dengan ekspresi yang mendalam, Sang Assassin mulai berpikir. Di dunia ini ada banyak masalah yang berasal dari kesalahpahaman, begitu juga dengan ketidaksengajaan yang diakibatkan oleh rasa jengkel.


Walaupun begitu, ia tidak ingin mengambil langkah terjal jika masalah yang sedang dihadapinya dapat diatasi dengan cara yang mudah. Sebagai contoh ialah percakapan sederhana penuh kejujuran dan tanpa kepalsuan.


Jika memang Nardhal [Perempuan] ini mendapat hiburan tanpa kekerasan, maka ada banyak cara yang bisa dilakukannya. Terlepas dari permainan kecil atau senda gurai, ia pasti akan memilih cara yang menurutnya sangat mudah untuk dilakukan.


“Baiklah, aku akan mengambil peran itu”


“Huhuhuhu-Kita lihat-Apakah suasana hatiku-Akan berubah?”


Nardhal [Perempuan] hanya tertawa puas dengan mata memicing. Seakan mengejek Ash yang tak tahu menahu, tapi sayangnya lelaki yang sedang ia coba ejek itu menyadarinya.


Namun, Ash tidak melampiaskan rasa kesalnya itu dengan cara yang biasa. Dengan pemikirannya yang terbilang cukup cepat, akhirnya ia pun melancarkan serangan pertama.


Benar, kita lihat siapa yang akan tertawa di akhir, batin Ash.


“Tentu.” Nardhal [Perempuan] mengapit kedua bagian gaun musim panasnya kemudian membungkuk sedikit.


“Apa huruf keempat dalam susunan kata abjad?”


“Itu mudah ... jawabannya adalah D.”


Ash hanya terdiam sebelum matanya terpejam sembari menertawakan jawaban Nardhal [Perempuan] di dalam hatinya.


“Salah”


“Hmm?-Apa kau bodoh-Tentu saja-Dalam rangkaian Abjad-Huruf Keempat-Adalah huruf D”


“Akan kuulangi lagi pertanyaannya. Apa huruf keempat dalam susunan kata “Abjad”?”


“Jawabannya adalah ... D—?!“


Kepala Nardhal [Perempuan] menunduk pelan, dengan ekspresi yang tengah syok akan jawabannya sendiri. Ash pun mengambil langkah pelan, mendekatinya secara perlahan.


“Maka kali ini aku akan membalasnya, benarkan Nardhal [Perempuan]? Siapa yang kamu bilang “Bodoh”?”


Apa yang Ash maksud dalam teka-tekinya ialah “Dalam” bukan “Pada”. Jika Ash menggunakan kata “Pada”, maka jawaban Nardhal [Perempuan] 100% benar, tapi sayangnya itu bukanlah pertanyaan yang Ash lontarkan.

__ADS_1


“Jawaban yang tepat adalah “A” wahai makhluk pintar, Nardhal [Perempuan],” tutur Ash sembari menatap dingin ke arah Nardhal [Perempuan] yang tengah tertunduk.


Mendengar nada dingin dan menyengat itu, Nardhal [Perempuan] langsung melompat mundur seolah-olah kekalahannya itu tidak dihitung sebagai jawaban mutlak.


“Oya? Kenapa kamu malah mundur? Apa dengan ini kamu mengaku kalah?”


Semakin Ash berbicara, semakin banyak juga jenis-jenis senjata transparan yang menyudutkan Nardhal [Perempuan]. Mengambang tak terlihat, mengitarinya bagai hewan ternak dalam sangkar anomali.


“Siap untuk yang kedua? Gadis kecil?” tanya Ash dengan ekspresi datar.


“U-ughh-Aku tidak akan kalah-Aku tidak akan kalah-Kalah adalah penghinaan terberat”


“Begitu? Baiklah.”


Ash berdeham pelan sebelum ia menarik napas kemudian membuangnya kembali perlahan-lahan.


“Jika satu kilo batu besar dan satu balok kayu besar dijatuhkan ke atas kaki kita, apa yang lebih sakit?”


“Jawabannya batu!-Aku yakin kali ini-Kali ini pasti benar!—“


“Salah,” potong Ash datar.


“Huh?!-Lagi?!”


“Masih ingin lanjut?”


Nardhal [Perempuan] hanya menggeram sebelum ia menatap tajam Ash dengan dahi mengerut dan ekspresi masam tak karuan. Ash sendiri bahkan terkejut dengan fenomena baru saja ia lihat.


Ia tidak mengira jika sebuah entitas yang sebelumnya bertingkat layaknya dewa kini jatuh menjadi sosok menyedihkan. Apalagi setelah gagal menjawab dua teka-teki singkat nan mudah miliknya.


Ada pun pemikiran sepintas yang membuat Ash bertanya-tanya. Apakah mereka yang dinamakan Alignma adalah sosok penghuni awal Taman Kecil ini? Atau pilar-pilar penopang Taman Kecil?


Pertanyaan-pertanyaan seperti itu terus bermunculan satu-persatu. Baik ketika ia sedang memikirkan teka-teki selanjutnya ataupun di saat ia berbicara dengan Nardhal [Perempuan].


Semua kemungkinan itu bisa saja menjadi kenyataan, tapi kali ini Ash lebih memilih untuk fokus dengan apa yang sedang dikerjakannya. Ia pun membuang napas sekaligus menyingkirkan semua pertanyaan itu sebelum pekerjaannya selesai.


“Yang satu ini, aku harap kamu bisa lebih bersabar dalam menjawabnya. Siap?”


“Apa kau kira-Ketakutan akan datang?”


“Seperti itu, ya? Semoga kali ini kamu bisa menjawabnya dengan benar ... gadis kecil”


“Jangan meremehkanku—“


Benar ... tataplah aku seperti itu, sama seperti apa yang kamu lakukan kepada Lilith dengan tubuhmu yang satu lagi, batin Ash.


“Teka-tekinya adalah ... ada seseorang yang berjalan di tepi pantai tanpa memecahkan air. Ketika ia menoleh ke belakang, ia tidak melihat jejak kakinya. Mengapa?”


“I-i-itu karena ... “


“Hmm? Karena ... “

__ADS_1


“Orang itu terbang!”


“Terbang? Sungguh jawaban yang menakjubkan gadis kecil, tapi sayang. Jawabanmu salah total.”


__ADS_2