
“Teka-tekinya adalah ... ada seseorang yang berjalan di tepi pantai tanpa memecahkan air. Ketika ia menoleh ke belakang, ia tidak melihat jejak kakinya. Mengapa?”
“I-i-itu karena ... “
“Hmm? Karena ... “
“Orang itu terbang!”
“Terbang? Sungguh jawaban yang menakjubkan gadis kecil, tapi sayang. Jawabanmu salah total.”
Saat itulah wajah Nardhal [Perempuan] terdistorsi. Raut yang awalnya ramah dan tak berbahaya berubah gelap. Kedua matanya menyipit dengan urat-urat keluar dari sisi-sisi, rona kulit pun menggelap bak bayang dalam cermin tak bercahaya.
“Tak berguna!-Berani sekali kau-Ingin mempermainkanku-Jangan harap selamat!”
“Lihat? Sebenarnya ini tidaklah sulit. Kamu hanya memerlukan ini,” balas Ash sembari menunjuk kepalanya. “Otak! Hanya otak yang kamu perlukan dan juga sedikit kesabaran.”
Nardhal [Perempuan] pun menggeram, atmosfer di sekitarnya menjadi ketat. Seakan segala sesuatu yang berusaha mendekatinya disedot oleh kekuatan tak kasat mata.
Bulir-bulir hitam mencuat dari dalam tanah, mengambang lalu mengitarinya seperti sebuah pelindung. Ash pun kembali bertanya-tanya tentang kewarasan entitas penjaga tempat ini.
Mereka memiliki kekuatan dan juga kepintaran, tapi entah mengapa sosok tersebut sama sekali enggan untuk menggunakannya. Apa jangan-jangan sosok ini tidak pernah menanggap pendatang sepertiku sebagai suatu ancaman? Pikir Ash.
“Aku tidak bermaksud untuk menghinamu, tapi jika menyudutkan akan menyelesaikan masalah ini lebih cepat, kenapa tidak?”
Tubuh Nardhal [Perempuan] perlahan-lahan ikut terangkat seiring bulir hitam bagai noda bercak mengambang. Jika disandingkan dengan bulir pasir, maka bulir hitam ini lebih kasar, dan padat.
Selain itu kerak-kerak dinding terkelupas kemudian hancur menjadi remah-remah kecil. Ash hanya terdiam sembari mendengus, ia tidak mengira sosok yang mengaku sebagai penjaga Dungeon rahasia ini tidak lebih dari sekedar gadis yang belum dewasa.
Ia tahu betul bagaimana mengatasi hal seperti ini. Seingatnya dulu, ia juga pernah berhadapan dengan gadis ingusan yang tidak tahu diri. Persis seperti Nardhal [Perempuan] yang kini sedang marah karena gagal menjawab tiga teka-teki miliknya.
Apa yang sedang dilakukan oleh entitas tersebut tidak lebih dari sekedar bentuk pemberontakan. Jika seandainya ia mau mengaku kalah, maka kemungkinan besar urusan mereka akan berakhir dengan tenang.
Tidak ada kekerasan ataupun pertarungan. Itulah yang diinginkan oleh Ash sejak permainan teka-teki itu dimulai, tapi pada kenyataannya berbeda jauh.
Mau bagaimanapun ia melihatnya, tidak ada jalan lain selain menuntaskannya dengan pertarungan. Ash pun membuang napasnya dan menatap pasrah keadaan yang sedang ia hadapi sekarang.
“Setidaknya aku cukup tenang jika berhadapan dengan orang lain, tapi kenapa aku tidak bisa melakukannya ketika berada di depan Lilith, huh?” tanya Ash kepada dirinya sendiri sembari menundukkan kepala.
“Rasakan ini!”
“[Shadow Stalker] ....”
Dengan ekspresi murka nan gelapnya, Nardhal [Perempuan] melepaskan sebuah ombak pasir hitam ke arah Ash. Namun, Ash dengan cepat melakukan dua lompatan ganda yang dibantu oleh Familiar bayangan miliknya.
Ia hanya perlu melompat sekali dan Familiar miliknya melempar Ash lebih tinggi ke atas. Ketika majikannya selamat dari serangan ganas nan besar, ia sendiri justru dilumat masuk menjadi makanan ombak besar tersebut.
Setelah berhasil melewati ombak hitam tersebut, Sang Entitas tidak berhenti di situ saja. Ia kembali melancarkan serangan dengan mengeluarkan puluhan jarum pasir yang mengambang di sekitarnya.
Begitu Ash berhasil mendarat, ia langsung mengambil napas tenang sebelum mengentak tanah berlari ke arah Nardhal [Perempuan] secepat bayangan menghilang.
__ADS_1
“Vinidas!”
Satu-persatu jarum pasir menghujani Ash, tetapi ia dengan tenangnya menghindari semua itu dengan gerakan kaki yang lincah. Sebagai seorang Assassins yang memiliki kelincahan tinggi, atribut menghindar sangat krusial, dan berkat itulah ia berhasil menghindari hampir semua serangan jarum milik Nardhal [Perempuan].
Meski HP-nya sedikit terkikis akibat serangan tersebut, tapi Ash sama sekali tidak kehilangan ketenangannya. Berbeda jika dibandingkan dengan pertarungannya melawan Vlad.
Pertarungan yang mempertaruhkan makna keberadaan identitas. Baik dirinya di masa lalu maupun di masa sekarang. Dan terlepas dari semua itu, Ash juga di dalam perjalanannya terus mengasah emosinya sedikit demi sedikit.
Karena itulah meski ia dilanda oleh serangan besar dan bertubi-tubi. Ia sama sekali tidak kehilangan fokus ataupun panik. Sang Assassins tersebut tidak tahu apa konsekuensinya jika HP miliknya benar-benar habis, apakah ia akan mati, dan dihidupkan kembali di tempat tertentu sama seperti dalam gim-gim lainnya atau mungkin kesunyian abadilah yang akan ia dapatkan.
Tidak ada yang tahu dan selama ini juga tidak ada pemberitahuan secara detail mengenai permasalahan tersebut. Apa yang perlu ia lakukan sekarang adalah tenang dan fokus, jangan sampai pecah lalu habis di tengah jalan.
Ash terus menghindari serangan jarum pasir sebesar lengan milik Nardhal [Perempuan] hingga akhirnya ia berhasil tiba tepat di depannya. Begitu sosok bayangan gelap itu berhenti, desir angin yang selama ini hening menjadi berdebum kencang menghantam Sang Entitas.
Setelah itu Ash melakukan manuver cepat sembari mengayunkan belatinya secara diagonal. Namun, serangannya berhasil di tahan oleh palung hitam yang secara cepat Nardhal [Perempuan] keluarkan untuk mengantisipasi serangan seperti itu.
Kini keduanya saling menekan kekuatan mereka satu sama lain. Daya serang Ash semakin meningkat seiring serangan mereka saling bergesekan.
Wajah mereka sangat dekat dan saking dekatnya, kedua individu tersebut sangat kontras. Ketika Nardhal [Perempuan] yang merupakan penjaga terlihat tenang di awal karena yakin akan kekuatannya dapat mengalahkan Ash dengan mudah, kini ia murka seperti kobaran api hitam.
Di sisi lain ekspresi Ash yang biasa kerepotan karena tingkah laku Lilith kini sangat tenang seperti permukaan danau jernih hari cerah. Sangat kontras dan berkebalikan dari sifat awal mereka.
Bunyi derik terus terdengar dan gesekan udara tajam yang lepas pun mencabik-cabik tempat sekitar mereka tanpa henti. Dikala atmosfer semakin berat, kedua individu yang saling mempertahankan tempatnya berdiri tiba-tiba saja terpental beberapa inci ke belakang.
Namun, setelah itu Ash, Sang Assassin kembali melancarkan serangannya secepat suara. Sedangkan Nardhal [Perempuan] menciptakan pilar raksasa yang ia buat menjadi tongkat lalu menjatuhkannya ke arah Ash.
Begitu kedua serangan kuat itu saling bertabrakan. Bunyi letupan gelombang padat pun tercipta dan ledakan hitam penuh kemalangan meleburkan segala sesuatu yang menghalangi jalan keluar.
“Jika kamu tadi mau mengakui kekalahan, kita bisa membicarakan ini dengan tenang”
“Tidak ada-Kata ampun-Hanya sebuah mitos!”
“Begitu? Sayang, tadinya aku ingin menyelesaikan ini dengan damai, tapi sepertinya kamu memilih jalan yang berbeda”
“Baik sekarang atau nanti-Mereka para penentang-Tidak ada kompromi-Semua mati karena arogan-Hadapilah kenyataan itu-Pendatang!”
“Lagi pula apa yang kamu dapatkan dari keras kepala itu? Sebuah validitas?”
Nardhal [Perempuan] hanya terdiam lalu lengan kanannya terangkat ke atas.
“Khawatirkan dirimu sendiri-Sebelum takdir mencabut-Segala yang kau miliki”
“Sepertinya memang tidak ada jalan tengah lagi, huh?”
Tanah bergetar, udara semakin memadat, sulur-sulur serta akar tanaman merembes paksa keluar dari dalam pavling putih. Semua unsur itu seperti dicabut dari akar-akarnya dan berputar di atas Nardhal [Perempuan].
Beberapa bunyi ledakan terdengar meski ledakan itu sendiri tidak menampakkan diri. Sebuah bola transparan layaknya keheningan perlahan-lahan membesar di atas kepala Sang Entitas.
Bahkan payung transparan takhta putih pun mengeluarkan suara pecahan. Saking kuatnya energi tersebut, mulut Nardhal [Perempuan] mengeluarkan darah dari samping kirinya.
__ADS_1
“Inilah semesta-Pemegang Kunci Alignma-Pemilik kursi ke 12-Dan penuntun kebenaran-Dalam gelapnya kenyataan. Bersujudlah pada kekuatan mutlak-Engkau ... para pembangkang yang dibuang oleh dunia ini ....”
Langit pun mengeluarkan guntur-guntur ilusi. Awan suram mengambang tak pasti dan hilir angin melaju pelan dikala badai akan datang. Seperti pertanda bencana yang akan datang, tanda-tanda kebenaran pun bermunculan satu-persatu.
Dinding pemisah Ash dan Lilith pun hancur berserakan.
“Jadi waktunya telah tiba?—“
“—Benar”
“Tidak ada keraguan—“
“—Meski kenyataan hancur”
“Tidak ada penyesalan—“
“—Meski ilusi semanis madu habis”
“Tidak ada kata mundur—“
“—Ketika berhadapan melawan pahitnya dunia”
“Tidak ada ilusi—“
“—Ketika kebenaran muncul di pelupuk mata”
“Inilah dunia kami—“
“—Dunia, di mana semua kemustahilan menjadi sesuatu yang tidak mustahil”
“Agradivas—“
“—ein Licinas!”
Kedua Nardhal saling beresonansi satu sama lain. Suara mereka pun saling membalas dan bunyi statis glicth seakan mencerminkan ciri khas suatu Event spesial akan tiba.
[Selamat! Kalian adalah player pertama yang berhasil menimbulkan Event spesial pada Dungeon Floral Garden. Dunia kembali menilai kebenaran dalam tempat tersebut]
[Dungeon, Floral Garden\=>Endymion of Astrea, The Agravidas ein Licinas Lv. ???]
[Sebagai bukti bahwa kalian telah berhasil mengeluarkan Event spesial. Taman Kecil memberi kalian sebuah penghargaan berupa julukan . Apa yang telah karam suatu hari nanti pasti akan kembali muncul ke permukaan]
[Pemahaman akan misi pencari Sandi Peri meningkat beberapa persen. ]
[Pertemuanmu dengan Sang Pembawa Kunci Alingma telah membuka kemungkinan baru akan pemahaman Dunia Tanam Kecil. Kalahkan Sang Nardhal untuk mendapatkan keping kebenaran dalam Sandi Peri]
[Do you Accept this Quest? Yes/No]
Dengan seringai lebar dan ekspresi penuh adrenalin, Ash pun memilih [Yes]. Setelah itu dari dalam panel pemberitahuan miliknya muncul sebuah keterangan yang membuatnya syok.
__ADS_1
[Kill the Progenitor 0/1→Reward (Key of Truth x1)]
“Ini semakin menjadi menarik,” gumam Ash dengan tatapan dingin.