Nameless Crown

Nameless Crown
Chapter 18 - Pangeran Kuno


__ADS_3

Suara itu pelan sekali bahkan tidak bisa di dengar oleh Elesis atau pun Elen yang berada di belakangnya. Namun, Skeleton King itu bereaksi dan mulai berlari sambil membuka kedua mulut tulangnya.


Berdebum-debum, ruangan itu sedikit bergemuruh akibat reaksi dari Skeleton King. Namun, Ryan tidak takut, dan langsung menggunakan Shadow Dash bersamaan Sillent Step, membuatnya tak terlihat seperti angin dan menghilang secepat kabut.


Ketika Skeleton King itu kehilangan keberadaan Ryan, tiba-tiba saja sebuah bayangan cepat telah berada di depannya. Dua buah tebasan berputar melesat ke atas, menebas dada hingga dagu Skeleton King dalam sekejap.


Bayangan itu pun kini berada di atas, memunculkan Ryan yang bersiap kembali terjun dan melesatkan serangan kombinasi dari belatinya.


Skeleton King berteriak, saking teriakannya tidak jelas Ryan menghiraukannya dan langsung menerjang dari atas. Makhluk Penguasa itu tidak diam saja ia juga melesatkan sebuah tusukan cepat ke arah Ryan.


Namun, dengan mudahnya Ryan bermanuver di langit-langit, menggunakan belati miliknya untuk membuat jalur lesat pedang Skeleton King berubah dan membuatnya tanpa penjagaan.


Setelah itu Ryan mendapatkan sebuah notifikasi singkat di sebelah kanannya. Panel biru transparan muncul dan di permukaannya terdapat tulisan—


[Use Combined Shadow Slash? Yes/No]


Ryan mengangguk pelan dan menggeser panel bertulisan Yes ke samping kanan. Seketika itu tubuhnya terselubung oleh aura hitam kemerahan yang samar. Hanya dalam sekejap saja sebelas tebasan acak yang cepat berhasil membuat Skeleton King itu tumbang dan terhempas belasan meter ke belakang.


Ketika tubuhnya membentur tembok keras sekali. Ryan tidak berhenti dan kembali menerjang Skeleton King itu dengan agresif. Makhluk penguasa yang kini terbaring di tembok itu mulai memudar dan mahkota dengan permata merah di tengahnya mulai bersinar.


Hanya dalam hitungan detik saja permata merah itu mengeluarkan sinar merah yang langsung menyerang Ryan. Namun, Ryan menunduk dan menggunakan bagian pipih belatinya untuk memantul kan sinar merah itu kembali pada Skeleton King.


Ia meringis dengan mulut yang terbuka lebar ketika sinar merah itu menyerang Ryan, tetapi malah kembali pada dirinya sendiri. Sinar merah itu bukanlah sebuah serangan laser, tetapi seperti sihir dengan efek Buff. Skeleton King tidak bisa bergerak dan di atas kepalanya muncul sebuah simbol seperti petir merah.


Ia terkena sebuah Stun yang cukup lama berkat serangannya sendiri. Kini Ryan telah berada tepat di depannya. Ia kencangkan kuda-kudanya, menarik tangannya erat-erat dari atas ke bawah dan akhirnya ia lesatkan sebuah tebasan diagonal yang berat.


Skeleton King itu berteriak. Mulutnya menganga lebar sekali, hingga pada suatu saat sebuah roh keluar dari dalamnya dan mengucapkan terima kasih.


Ryan tersenyum senang dan kemudian berbalik meninggalkan Skeleton King itu menjadi data-data Virtual.


—[Acquired Skeleton King Crown x1]


—[Acquired Skeleton King Sword x1]


Pada saat itu pula Ryan mendapatkan dua buah Item yang cukup hebat. Ketika ia melihat bagian status Itemnya berupa Rare ia kembali tersenyum dalam kebahagiaan.


[Level Up!]


[Level Up!]


[Level Up!]


[Level Up!]


[Level Up!]


[Level Up!]


[Level Up!]


[Level Up!]


Di tambah dengan banyaknya notifikasi level up membuat levelnya meningkat pesat. Setelah itu ia pun menghampiri Elen dan Elesis.


Ketika ia telah sampai di sana, Elen masih di sembuhkan oleh Elesis dan nyanyian Elesis telah berhenti.


“Terima kasih atas bantuanmu, Elesis.”


Mendengar suara itu Elesis pun hanya menatap Ryan dengan wajah yang merona dan mata yang berbinar.


“Elesis?”


Sekali lagi dan akhirnya Elesis tersadar, ketika ia memalingkan wajahnya ke arah Elen. Elen hanya tersenyum usil sambil tertawa seperti kakek tua yang menangkap basah seorang gadis yang diam-diam menyukai seseorang.


“Eu-e-emm. I-ini ti-tidak seperti y-yang k-k-kau pikirkan, Elen!”


“Hooo~ khakhakha.”


Hanya Ryanlah satu-satunya yang kebingungan dengan tingkah laku kedua perempuan yang saat ini bersamanya.

__ADS_1


“Kalau begitu aku akan memberikan Item ini untukmu, Elen.”


Membuka panel Itemnya, Ryan pun langsung mengirimkan Skeleton King Sword untuk Elen.


“Apakah tidak apa-apa? Bukankah Kakak yang mengalahkannya sendiri?”


“Lagi pula kita ke sini bukannya untuk mengalahkan Boss lantai pertama, ‘kan?”


Ryan hanya tersenyum tipis ambil menyilangkan kedua lengannya. Ekspresi Elen pun melembut dan ia juga ikut tersenyum kecil lalu akhirnya tertawa terbahak-bahak.


“Hahahaha! Kakak memang berbeda dari Player-player lain yang pernah kutemui, kalau begitu akan kuterima Item ini.”


Setelah itu Elen bangkit dan ia membisikan sesuatu ke telinga Elesis yang berada di sampingnya. Tiba-tiba saja wajahnya menjadi merah padam.


Ryan masih bingung dengan apa yang membuat Elesis seperti itu, tetapi waktu sangat berharga sehingga ia pun menghiraukannya dan langsung pergi menuju ke tempat Boss berada.


Kali ini mereka melewati jembatan penghubung kastil bagian pertama dan kedua. Dari masa lalu yang ditunjukkan oleh Vlad seharusnya mereka menghadapi seekor Wyvern Vampir di sana.


Namun, tidak ada apa-apa, tidak ada kekhawatiran yang terlalu berlebihan dan dengan itu Ryan, Elesis dan Elen meneruskan kembali perjalanan mereka menuju ruangan Boss.


Beberapa Skeleton Warrior dan juga Zombie muncul dan menghalangi jalan mereka. Namun dengan mudah mereka lewati dan kalahkan. Hingga beberapa kejadian seperti itu terulang dan kini mereka telah sampai di pintu raksasa.


Di pintu itu tertera sebuah nama yang tidak asing bagi Ryan [Chamber of Agony].


Ketika Ryan membuka pintu itu, Elen dan Elesis segera menggunakan keahlian pendukung pada masing-masing tubuhnya. Suara parau pintu itu ketika terbuka membuat suasana semakin kelam.


Siapa sangka hal itu terjadi dan Ryan tidak menduganya. Bunyi Grand Instrumen terdengar keras. Elen cukup terkejut dan mengeluarkan jerit kecil yang lucu.


Bagi Ryan yang telah mengetahui siapa dan apa yang akan ia hadapi saat itu. Ia pun segera berlari cepat menggunakan Sillent Step dan juga Shadow Dash di saat yang bersamaan. Belatinya mulai melengkung di udara.


Tebasan cepat itu di tahan oleh tangan miliknya. Tangan seorang lelaki berambut putih panjang yang mengenakan jubah kebesaran.


Ryan mendesah pelan dan kembali mundur. Lelaki itu sangat tidak asing baginya. Lagi pula mengapa kehidupan yang begitu nyata terekam kembali di dunia gim. Apalagi sekarang semua itu seperti reka ulang yang sama sekali percis dan tidak ada perubahan.


Kemudian lelaki itu berdiri, sebuah status parameter muncul di atas kepalanya. Lelaki itu memiliki tujuh buah bar HP hijau cerah. Kemudian namanya muncul bersamaan saat ia selesai memainkan Grand Instrumen.


“[Vlad, The King of Monochrome]... tampaknya akan sulit mengalahkannya.”


Namun, kali ini Boss itu adalah sesosok entitas yang luar biasa. Sebuah Event yang tak terduga terjadi di sana. Apakah Vlad di depannya adalah Boss lantai pertama ataukah Boss rahasia bahkan Boss di lantai yang lebih tinggi.


Saat Ryan mengalahkan Big Rabbit saja Lesta tidak percaya karena itu adalah seekor Mini Boss. Apalagi dengan Vlad yang begitu ia melihat Ryan dengan pakaian baru miliknya mulai menyeringai.


Sebuah senyum haus darah terlihat dan mulutnya terbuka.


“Selamat datang di kastel tercintaku, Oz sang pemburu iblis.”


Begitu ia selesai berbicara ia pun merendahkan tubuhnya seperti menyambut seorang tamu ke dalam rumah miliknya sendiri.


Namun, ada dua hal yang mengganjal pikiran Ryan saat itu. Pertama mengapa Vlad dalam wujud manusianya mengasumsikan bahwa Ryan adalah  Oz. Kedua, apakah Elen dan Elesis mengetahui siapa orang yang sedang disebutkan oleh Vlad.


Tentunya jawabannya tidak, tetapi saat Ryan menolehkan kepalanya untuk melihat mereka berdua. Ia terkejut begitu melihat Elesis menitihkan air mata. Apakah yang sebenarnya terjadi, bukankah Oz telah lama mati, lalu mengapa Vlad memanggil Ryan sebagai Oz?


Semua akan terjawab dengan pertarungan yang akan mereka lakukan.


“Mengapa kau memanggilku Oz!? Bukankah kau hanya sekedar NPC?”


Elen pun setuju dengan pertanyaan Ryan, tetapi ia juga sedang menenangkan kondisi Elesis yang kurang stabil.


“Tentu saja... bukankah ini sudah 1000 tahun kita tidak bertemu?”


Di dalam hatinya, Ryan bertanya-tanya ‘1000 tahun? Bukankah seharusnya 300 tahun?’


“Mengapa kau bertingkah laku seperti itu!?—


Namun, siapa sangka sosok Vlad menghilang dan tiba-tiba berada di hadapan Elen. Begitu Elen menyadari sosok tinggi dan beraura gelap itu sedang menatapnya dengan intens.


Ia sama sekali tidak bisa bergerak dan kembali pingsan akibat pukulan hebat yang mendarat tepat di ulu hatinya. Bar HPnya pun memerah dan ada sebuah efek Sleep muncul di atas kepalanya.


Ryan mendecak dan langsung menyerang Vlad saat itu juga. Dua buah, tiga buah hingga akhirnya lima buah tebasan kuat yang cepat terus-menerus menebas Vlad.

__ADS_1


Namun, Vlad sama sekali tidak menahannya, bar HPnya pun berkurang hingga tersisa tiga buah bar lagi.


Vlad berbalik dan kini berhadapan dengan Ryan.


“Mengapa kau memiliki stok makananku!?”


“Tchh... itu bukan urusanmu lagi, kau hanyalah kenangan yang seharusnya tenggelam di dasar ingatan!”


“Hahahaha! Menarik, kalau begitu akan kutunjukan apa itu yang namanya kekuatan!”


Pertarungan jarak dekat pun tak bisa dihindari lagi. Ryan menggunakan belatinya dan Vlad menggunakan tangan kanan sekeras baja miliknya.


Bunyi benturan serangan mereka sangat dahsyat sehingga ruangan itu bergemuruh. Sementara Elesis masih jatuh bertekuk lutut sambil menutupi kedua telinganya rapat-rapat. Bibirnya bergetar hebat selagi ia tidak bisa menahan air matanya jatuh.


Apa yang ia pikirkan? Apa yang ia ingat pada saat itu terjadi? Apa yang membuatnya menangis? Apakah itu semua tertuju pada sebuah nama? Nama yang sangat tidak asing bagi dirinya?


Mungkinkah ia mengingat masa-masa indah bersama laki-laki itu. Namun, itu tidak mungkin karena ia adalah Elesis dan perempuan itu adalah Lilith. Mana mungkin mereka memiliki kenangan yang sama, tetapi—


Semua itu bergulir di pikiran Ryan yang tak henti-hentinya terus berpikir dengan kondisi Elesis yang sekarang dilihatnya. Ia adalah seorang manusia yang bisa menggunakan sihir pemulihan, bukan seorang perempuan yang di tuduh memiliki kehidupan yang abadi.


Apa yang harus dilakukan dan apa yang harus tidak dilakukan semua tergantung pada Ryan sekarang. Ia yang telah dipercaya untuk mengemban kekuatan milik Vlad si burung kecil yang entah apakah ia adalah yang asli atau tidak.


Melawan Vlad versi manusia dengan Ras yang tidak diketahui. Memanggil nama seseorang yang telah menghilang dari ingatan seorang perempuan dan kembali menyebutkannya bukanlah sesuatu yang mudah.


Namun, Vlad mengucapkannya dengan mudah. Ia juga sekarang sedang melawan Ryan dengan agresif, terus dan terus bertanya mengapa Ryan yang ia sebut Oz memiliki stok makanannya.


“DASAR BODOH! BUKANKAH KAU SENDIRI YANG MEMINTANYA!?”


Teriakan itu berhasil membuat penjagaan Vlad mengendur, Ryan tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dengan cepat ia menikam Vlad dari depan tepat di jantungnya. Vlad memuntahkan darah dari mulutnya, tapi ia tersenyum lebar seperti orang gila.


“AHAHAHAHA! JANGAN BERCANDA KAU MANUSIA RENDAHAN!”


Tampaknya Vlad tidak mempercayainya. Itu berarti Vlad yang satu ini adalah palsu. Serangkaian ingatan dan masa lalu yang Ryan lihat tidak memperlihatkan Vlad yang seperti ini. Vlad pada saat itu lebih jujur dan sangat dewasa.


Berbeda dengan yang sekarang ia hadapi.


Ketika tikaman itu mengurangi bar HP milik Vlad sangat banyak. Ia sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan ataupun panik.


Sepertinya memang benar....


Ryan pun hanya dapat bergumam dengan nada yang kecewa.


“Elesis ... dunia yang kau ciptakan ini sepertinya palsu.”


Rasa kekecewaan itu bukan ia arahkan pada seorang perempuan yang kini jatuh bertekuk lutut sambil menangis. Melainkan pada seorang perempuan yang mengajaknya datang kemari dengan paksaan.


Sebenarnya apa yang kau incar? Apa yang kau harapkan dari seorang lelaki bernama Ryan ini? Apakah kau sudah bosan dengan kehidupan yang kau jalani? Jika kau merasa seperti itu maka raihlah dengan tanganmu sendiri! Bukannya menggunakan orang lain!


Sekali lagi pikiran Ryan berputar demi mendapatkan jawaban yang jelas dan tentunya juga memuaskan.


Ryan yang telah mendapatkan kekuatan baru pun sama sekali belum bisa mengimbangi kekuatan yang di miliki Vlad palsu itu.


“Apa yang harus kulakukan sekarang!?”


Kini Ryan di pojokkan oleh serangan-serangan berat milik Vlad. Ia tidak menyangka bahwa kekuatannya sebesar ini. Lagi pula ia baru menyadarinya mengapa Oz saat itu juga tidak berkutik melawannya.


“Ahkkk!—“


Tubuh Oz terbanting kuat sekali hingga menghancurkan langit-langit ruangan itu. Elesis menjerit, meneriakkan nama Ryan berulang kali dengan begitu khawatir.


Ryan kini mengapung di udara, ia tidak bisa melakukan apa-apa selain menerima takdir yang akan ia hadapi kali itu. Apapun hasilnya itu adalah usaha terbaik yang bisa ia lakukan untuk saat-saat kritis.


Bar HPnya pun mulai menipis, walau saat ia mendapati keahlian pasif miliknya yang dapat menyedot HP milik lawannya. Namun, tetap saja orang yang di lawannya adalah Vlad sendiri. [Vlad The King of Monochrome] bukanlah julukan yang hanya sebuah lelucon belaka.


Kekuatannya begitu nyata dan sangat sulit untuk ditandingi. Terlebih lagi ia masih belum mengeluarkan kekuatan penuhnya. Di saat Ryan terjun bebas di langit dan bersiap menghadapi segala kemungkinan yang ada.


Vlad di bawah sana mulai menyeret Elesis ke dalam pelukannya. Namun, Elesis menjerit-jerit dan menolaknya terus-menerus. Memukul, menendang bahkan berteriak tidak mau.


Namun, akibat perbedaan kekuatan di antara mereka berdua. Elesis tidak bisa berbuat apa-apa dan kini Vlad bersiap menghisap darah suci miliknya. Elesis memasang wajah masam dan air matanya tidak berhenti mengalir.

__ADS_1


Apakah keputusanku salah, pikirnya.


__ADS_2