
Ash terus menerus menghindar sembari membaca pola serangan para Blasmyion. Dengan kecepatan langkah kaki dan refleks cepat miliknya, ia berhasil menghindari hampir semua serangan makhluk-makhluk tersebut.
Terkadang ia kesulitan untuk mengikuti pola serang Blasmyion yang terus berubah-ubah. Baik serangan darat maupun udara—lompatan terjang ganas mereka tidak mengenal ampun sama sekali.
Namun, apa yang membuatnya geram adalah fakta bahwa salah satu dari mereka memiliki kemampuan untuk mengembalikan HP kawannya yang berkurang. Ditambah dengan ekspresi puas Nardhal yang mengganggu pikirannya, Ash mau tak mau harus memaksa ego dirinya agar tetap tenang.
“Arah jam tiga!”
“Baik—“
“Setelahnya arah jam tujuh!”
“Umm—“
“Awas dari arah jam 12!”
Semua itu juga tidak lepas dari kemampuan pengamatan Lilith yang cepat. Dengan mengandalkan kemampuan mata magis miliknya, Sang Permaisuri Pemikat memberi koordinat kepada Ash di mana, dan kapan makhluk itu akan menyerang.
“Selanjutnya, ambil langkah mundur. Dari arah jam satu!”
Meski semua arahan Lilith terdengar seperti seorang komandan yang mengarahkan bawahannya. Namun, hal itu ternyata membuat kepekaan Ash semakin meningkat. Pasalnya dengan menggunakan kode detail, ia jadi lebih mengerti, dan tahu langkah selanjutnya yang akan diambil
Penempatan posisi kaki, refleks, dan perhatiannya menjadi kunci untuk menghindari semua serangan Blasmyion yang terstruktur. Karena itulah Ash tidak mengambil langkah yang terburu-buru.
Dengan kalkulasi yang diberikan oleh Lilith sebagai pendukung dan ketajaman refleks milik Ash. Semua serangan Blasmyion seperti angin lalu. Sama sekali tak memberikan efek apa pun.
Namun, Nardhal tak berdiam diri setelah melihat hal itu. Ia juga memberikan rintangan berupa penghalang, pengekang, dan beberapa debuff yang melambatkan pergerakan Ash.
Sayangnya usaha Nardhal tersebut selalu digagalkan oleh Lilith. Sang Permaisuri Pemikat yang berada di sisi Ash selalu menetralkan gangguan yang diberikan kepada kekasihnya sehingga pergerakan Ash sama sekali tidak berubah malah justru sebaliknya.
Akselerasi, insting, dan daya tahan serta ketangkasannya meningkat pesat. Setiap entakkan kaki yang ditinggalkan Ash selalu mengeluarkan aura darah—merah pekat dengan balutan hitam tak beraroma.
__ADS_1
Samar, tapi pasti. Bukanlah ilusi melainkan peringatan. Terlihat remeh sayangnya mendukung. Itulah efek aura yang ditinggalkan oleh Ash setiap kali ia menghindar dan melakukan serangan balik terhadap Blasmyion.
Setiap kali aura itu keluar mengentak tanah, di saat itu pula Sang Astralis menyebarkan zona khususnya. Zona di mana setiap debuff yang datang menyerangnya akan diserap lalu ia jadikan nutrisi.
“Jatuhlah. Enyah! Menyingkir dari hadapanku!”
Dengan mata tajam dan serangan presisi yang tak pernah meleset. Ash berhasil menanggalkan beberapa bagian tubuh Blasmyion seperti lengan kanan, kedua kaki, bahkan menumbangkan jenis iregular yang selalu memulihkan sesamanya.
Begitu ia melompat tinggi, dua buah mata tak terlihat muncul dari belakangnya. Memaksa setiap Blasmyion tertunduk dalam kondisi tak berdaya. Sepasang mata itu tidak lain adalah perwujudan dari zona aura milik Ash.
Memanfaat momentum tersebut, Ash pun langsung melompat menggunakan pijakan astral yang ia buat dari aura darah. Namun, Nardhal pun merespons skenario itu dengan baik.
Sang Gemini langsung memberikan dorongan stimulus kepada anak-anaknya. Alhasil semua Blasmyion yang tadinya tidak berdaya kini masuk ke dalam mode amarah. Mereka semua kini berhasil keluar dari kurungan debuff milik Ash dan berteriak layaknya orang gila.
“Hahahahaha! Tidak semuda itu. Makhluk. Fana. Hancurkan!”
GROARRHHHHH!
Walaupun mereka semua telah diberi buff oleh penciptanya. Ada efek negatif yang berangsur-angsur menggerogoti tubuh mereka dan itu adalah menurunnya imunitas serta daya tahan tubuh.
Dalam satu serangan besar nan dahsyat itu Lilith memberikan buff berupa peningkatan kesempatan serangan kritis, daya serang, efek berkesinambungan, dan terakhir adalah daya rusak serangan magis.
Tubuh Ash yang terlapisi oleh semua elemen pendukung mulai memercikkan aura darah.
“[Blood Phantasmal]!” teriak Ash.
Kabut berdarah di sekitarnya menyerbak bagai bunga mekar. Dengan tatapan tajam dari perwujudan zona kegelapan, Ash muncul dengan kecepatan tinggi menerjang semua Blasmyion dari langit.
Begitu ia mendarat mengentak-menggetarkan permukaan tanah, seketika itu juga sembilan buah mata pisau tajam yang terbuat dari darah, dan kegelapan mekar—menghancurkan, mencincang, *******, dan meledakkan semua Blasmyion dalam satu gerakan menjadi buncahan darah.
Dan dari semua kegilaan itu berdirilah seorang laki-laki yang seluruh tubuhnya dipenuhi oleh darah, tapi dalam sekejap mata semua cairan amis itu lenyap. Menguap akibat suhu aura kegelapan milik Ash.
__ADS_1
Kemudian masuk ke dalam inti kekuatan Sang Astralis, menguatkannya kembali menjadi poin experience yang bernutrisi. Dalam sekejap level Ash meningkat dan meningkatkan poin statusnya berkali-kali lipat.
Tanpa meninggalkan keraguan sama sekali, sosoknya kembali lenyap bagai kabut tipis lalu tiba-tiba saja muncul di hadapan Sang Gemini yang sedikit tercekat.
“Jatuhlah,” bisik Ash dingin.
Ash mengayunkan Juggernaut secara diagonal ke arah Nardhal, tapi makhluk tersebut dapat menahannya dengan sempurna. Alhasil sebuah gejolak ledakan meluap secepat suara menggetarkan tanah di bawah mereka.
“Jangan. Kau. Kira. Aku. Akan semudah. Itu!”
Melepaskan kekuatannya, Nardhal mementalkan Ash dengan sebuah cambukkan tangan kanan. Namun, Sang Astralis tidak terentak karena berhasil mendapat pijakkannya dengan sempurna.
Sayangnya ia tidak menyadari bahwa berbagai kristal hitam dengan ujung tajam mengambang di atasnya. Begitu Nardhal menjatuhkan jari telunjuk, semua kristal itu menghujani Ash dengan brutal.
Meskipun Ash dapat menghindari semua serangan itu dengan bantuan Lilith, tetapi fakta jika HP-nya terus berkurang akibat percikan jarum kristal tidak tergoyahkan. Kini HP miliknya menjadi merah terang.
Ash sadar betul jika kondisinya saat ini memang kurang menguntungkan, terutama kekuatannya yang dapat menyerap darah bukanlah solusi yang tepat dalam mengatasi krisisnya tersebut.
Meski dapat memulihkan kondisi HP, tetapi bukan berarti jumlah Mananya pun ikut bertambah. Semua kekuatannya saat ini adalah hasil gabungan kekuatan Lilith yang mengasimilasi dirinya ke dalam tubuh Ash dengan menjadi roh.
Ash pun mendecak lalu melemparkan berbagai gelombang sabit hitam-kemerahan ke arah Nardhal. Tentu Sang Gemini hanya tersenyum arogan melihat serangan remeh seperti itu, ia hanya perlu menjentikkan jarinya, dan semua gelombang sabit itu pun meledak akibat menghantam dinding kristal.
“Hah! Sepertinya. Kau. Sudah. Pada. Batasnya, huh?”
Dengan alis kiri yang terangkat, Nardhal tersenyum meledek ke arah Ash. Ia mengerti dengan kondisi Sang Astralis yang sedikit terpojok.
Mengetahui hal tersebut, Nardhal pun mengeluarkan 12 bola orbs yang mengitari punggungnya. Ditambah dengan percikan aura di sekitar tubuhnya, sosok makhluk transendal itu kini masuk ke dalam tahap terakhir.
Bahkan jenis gender-nya pun tidak terpisah menjadi dua bagian yang berbeda, melainkan menyatu menjadi sosok pria cantik yang mampu melebihi kecantikan wanita sejati.
Berambut panjang dan memiliki mata seindah rubi dengan lekukan tubuh menggoda, membuat Ash sedikit mual. Ia tidak mengira kali ini akan menghadapi sosok seperti itu. Untungnya sifat dari makhluk itu masih tetap seperti Nardhal [laki-laki].
__ADS_1
Jika seandainya bukan, maka kemungkinan besar, Ash pasti tidak kuat melihatnya.
“Inilah akhir dari pertunjukan penuh drama ini. Pastikan kau dapat membuatku puas,” tutur Nardhal dengan seringai lebar.