Nameless Crown

Nameless Crown
Chapter 30 - Dungeon Break IV


__ADS_3

Tanpa merasakan sesuatu yang aneh, Lilith dan Ash berjalan menuju ke arah sumber mata air. Kilauan cahaya sehalus kain sutra yang masuk dari atas gua seolah-olah menandakan tempat yang akan dituju oleh sepasang kekasih itu adalah tempat suci.


Udara segar melayang lembut, mengalir layaknya saluran air murni di areal gunung. Langkah yang pelan dengan perasaan lega, lengan lembut Lilith yang terus menarik tangan Ash tak kunjung berhenti mengeratkan genggamannya.


Sang Permaisuri pemikat itu tidak ingin kehilangan satu momen pun dengan Ash. Walau remeh sekali pun dan tiada makna dalam waktu itu, ia tetap tak peduli karena apa yang mendorongnya hingga sejauh itu adalah kecintaannya untuk Sang Kekasih.


Ia yang menolongnya walau dunia menentang, tak berpikir kejam dengan angan-angan aneh, menggunakan hatinya hanya untuk sekedar menolong tanpa pamrih. Di matanya sosok Ash adalah dunia itu sendiri dan tanpa dirinya, maka semuanya hanya ilusi sementara tanpa makna.


“Tenanglah, aku tidak akan pergi ke mana-mana.”


Selayaknya anak kecil yang keras kepala, Lilith sama sekali tidak merespons dengan kata-kata melainkan dengan tindakan. Perempuan itu terlihat sangat kegirangan hingga tak berpaling ataupun sekedar membalas singkat perkataan Ash.


Lagi-lagi seperti ini, kalau itu yang terjadi sepertinya aku tak punya pilihan lagi selain pasrah ... hahh. Dasar sifat kekanak-kanakannya itu kambuh lagi, batin Ash.


Bercermin pada dongeng Sang Putri yang terkurung dalam menara tertinggi di dunia. Terkekang dengan bayang-bayang indah dan kuno, ia hanya bisa membayangkan betapa indahnya dunia dari buku cerita yang tersedia di sana.


Mungkin mata berbinar karena membayangkan dunia luar dengan segala keragaman flora, fauna, cuaca, orang-orang, dan keajaiban. Namun, satu hal yang ia tidak ketahui adalah bukti jika kenyataan terkadang lebih kejam dari imajinasi semanis madu.


Itulah yang saat ini dialami oleh Lilith. Hanya dalam beberapa hari, semua ekspektasinya hancur karena melihat kenyataan itu sendiri, tapi ia tak peduli dengan itu karena semua rasa pahit serta kejamnya dunia telah terobati oleh kehadiran Ash di sisinya.


Tak peduli seberapa pahitnya kenyataan yang ia hadapi, keberadaan Ash akan langsung menghapus kenangan buruk itu dalam sekejap mata.


Belum juga mereka sampai di sana, sesosok siluet tiba-tiba saja muncul dari atas. Melayang perlahan dari langit-langit gua terbuka, persis seperti dongeng di mana entitas Malaikat dan Iblis digambarkan dalam versi yang berbeda.


Sontak Lilith pun berhenti dan Ash yang tak sempat merespons karena tidak tahu apa-apa kini menabrak Lilith. Bukannya mendapat sentakan keras dari punggung Sang Permaisuri melainkan kepalanya langsung mendarat di tengah-tengah bantalan empuk dan wangi.


“Tunjukan dirimu!” sentak Lilith sembari membekamkan wajah Ash ke buah dadanya.


“Hughuuu!—“


Sosok siluet itu hanya tertawa cekikikan. Suaranya saja bahkan terasa ganda seakan-akan makhluk itu tidak memiliki jenis kelamin sama sekali.


“Floral Garden-Ini adalah Surga-Mereka yang datang-Akan kami jamu-Dengan-Sangat-Sangat-Sangat ... Baik”


“L-Lilith ... ughhh—“


“Beraninya kau mengganggu waktu romantis kami!”


Sekali lagi sosok itu tertawa, tapi kali ini suaranya lebih condong ke arah laki-laki.


Semakin ia turun, semakin pula tampaknya tidak jelas. Itu semua bukan karena bentuknya yang menjijikkan atau aneh, justru karena sebuah glitch yang terus berganti-ganti.


Glitch yang mengubah penampilan sosok itu setiap saat. Di satu waktu adalah seorang anak laki-laki dengan pakaian kasual dan di waktu yang berbeda adalah seorang gadis kecil dengan gaun formal.


Wajahnya tak berbentuk karena dikerubungi oleh glich. Seakan dirayapi oleh satu pasukan semut tak berakal.

__ADS_1


“Kami adalah Nardhal-Penjaga tempat ini-Dua kesatuan-Saling menyatu-Tidak pernah berpisah-Meski hukum Dunia berkata lain. Kalian adalah sebagian-Dari mereka-Makhluk asing-Yang haus akan-Pengetahuan.”


Ash yang sudah tak sanggup dengan perlakuan Lilith akhirnya meledak. Ia dengan sigap menyentil jidat Sang Permaisuri pemikat, setelah penjagaan Lilith longgar, ia pun melompat ke belakang sembari mengambil napas.


“Aww!—“


Wajahnya pucat bak buah basi, seakan berada di ambang kematian, Ash pun terus mengambil napas dan mengeluarkannya berkali-kali.


“Aku tak berpikir akan mati dari bekaman mengerikan itu. Kukira hanya monster saja  yang dapat membunuh Player, sepertinya perkiraanku terlalu dangkal,” ucapnya dengan napas terengah-engah.


Bagi sebagian laki-laki hal itu adalah kenikmatan tiada tara, tapi bagi Ash itu adalah tempat terburuk untuk mati. Bukan saja ia kalah oleh bantalan empuk bertulang lunak, tapi ia juga tak ingin mati karena hal konyol apalagi karena hanya disasar oleh dua buah persik majestik.


Untuk beberapa saat itu Ash terbatuk-batuk sementara Lilith yang terlihat senang kembali mengalihkan perhatiannya ke arah Nardhal. Sosok itu terkadang bersuara laki-laki, tapi juga bersuara perempuan.


“Ini adalah tempat-Tak berbatas-Bukan sebagai lantai pertama-Ini bisa saja lantai 10 atau 27”


“Lantai 10 katamu?!” tanya Ash kaget sembari mengelus lehernya.


“Benar. Kau yang mencari-Pengetahuan-Kau yang mencari-Pembalasan-Kenalilah sosok kami sebagai Animos!”


Nardhal pun akhirnya tiba di permukaan tanah, tapi kakinya sama sekali tidak menyentuh melainkan mengambang beberapa sentimeter di atas permukaan tanah itu sendiri.


Lilith yang berjaga hanya dapat memiringkan kepalanya karena kebingungan. Ia tak bisa memilih apakah Nardhal seorang laki-laki atau perempuan, bukan saja karena suaranya yang terus berganti, tapi juga beresonansi dengan tempat sekitarnya.


Sebuah gelombang halus nan samar menyerbak, layaknya aroma Bunga Dandelion di siang hari. Butir-butir putih yang halus beterbangan di sekitar Nardhal begitu ia tiba di bawah.


Ash yang masih mencoba memasang setiap keping logika yang ada pun terenyak sesaat. Ia tidak melihat adanya indikator merah di atas kepala makhluk itu, hal ini menandakan jika ia bukanlah seorang musuh.


“Alignma?”


“Sosok mereka dinyatakan punah sejak lama dan meski sudah banyak para pakar sejarah yang mencoba untuk menggali misteri ini, pada akhirnya mereka semua gagal,” jawab Lilith cepat.


“Dengan kata lain mitologi hidup?”


Sang Permaisuri pemikat pun mengangguk. “Selain itu aku juga tidak mengira jika Alignma yang tersisa, mungkin? Akan muncul di tempat seperti ini, seakan-akan mereka telah menunggu kita”


“Benar-Tampaknya kau juga-Sama. Namun, kesampingkan hal itu-Apa yang kami inginkan-Adalah jawaban-Untuk apa kalian-Datang-Ke tempat ini?”


Ash dan Lilith saling melirik, mereka datang ke tempat itu tentu dengan tujuan yang telah mereka sepakati. Namun, untuk sesaat ekspresi Lilith tampak memperlihatkan keengganan yang menandakan bahwa bisa saja mereka mendapat bahaya.


Ia tidak tahu apa itu dan dalam bentuk seperti apa. Satu hal yang ia tahu adalah bukti keberadaan Nardhal bukanlah sembarang entitas. Perkataannya yang menyatakan jika Floral Garden adalah Dungeon tanpa batas tingkat lantai berarti bisa saja syarat level untuk memasuki tempat itu palsu.


Ash juga sudah terbiasa dengan gelagat Lilith. Ia tahu persis ketika perempuan itu menampilkan kepercayaan diri ataupun keraguan di raut wajahnya. Namun, saat ini apa yang ia lihat sedikit rumit karena ekspresi Sang Permaisuri Pemikat itu benar-benar datar.


Mengetahui hal tersebut, jawaban yang sebelumnya ia miliki mulai gundah. Meski begitu ia adalah seseorang yang tidak akan terpengaruh oleh hal remeh layaknya firasat Lilit walaupun terkadang benar.

__ADS_1


Lelaki dingin dengan ekspresi tenang itu melangkahkan kaki kanannya ke depan kemudian menatap tipis ke arah Nardhal.


“Sandi Peri ....”


Alis Nardhal terangkat sebelah lalu wujudnya berubah menjadi seorang gadis cilik.


“Sandi Peri?-Sudah lama aku-Tidak mendengar-Kata itu. Artinya kalian-Seorang pencari kebenaran-Begitu?”


Setelah itu entitas tersebut tertawa sinis sembari menutupi mata dengan telapak tangan. Suaranya yang bergema dan bernada ganda membuat Ash menguatkan penjagaannya.


Di sisi lain Lilith yang berada di belakang Sang Kekasih juga ikut berjaga-jaga. Dengan rapalan senyap, ia telah melepaskan beberapa Sigil Rune di atas tanah sebagai bentuk pertahanan diri.


“Sandi Peri?-Ini menari-Ini menarik-Kalau begitu-Persiapkan diri kalian-Wahai Pencari Kebenaran.”


Dimulai dengan gemuruh kecil yang mengguncang tempat itu. Beberapa pilar mencuat keluar dari dalam tanah. Bukan saja menopang tempat itu, tapi juga meruntuhkan serta membentuk ulang langit-langit menjadi sebuah payung kristal tipis.


Cahaya yang sebelumnya seperti selendang peri yang tipis, kini berganti menjadi sebuah panggung langit berawan.


Sontak Lilith langsung menggandeng lengan Ash dan mereka berdua mempertahankan diri dari guncangan dahsyat tersebut.


Bulir-bulir air mengapung pelan, pecah, dan memenuhi seisi tempat itu dengan kabut samar. Sedangkan bijih-bijih Bunga Dandelion beterbangan tertiup angin kencang yang masuk dari langit-langit.


Tubuh kecil Sang Nardhal mengambang di dalam cahaya langit lalu terbelah menjadi dua bagian. Satu laki-laki dan satunya lagi adalah perempuan, mereka berdua tengah bergandengan tangan.


Mata mereka masih terpejam, tapi begitu terbuka semua pemandangan taman berubah menjadi takhta putih. Tidak ada warna lain selain putih itu sendiri.


Tidak lama setelah itu sebuah notifikasi muncul di depan mata Ash.


“Huh?!—“


[Nardhal, Sang Alignma Gemini telah menampakkan dirinya. Ialah Sang Penjaga Misteri Peri, salah satu dari dua belas kursi pemegang kunci kebenaran. Buktikan ketangkasan hati kalian untuk mendapatkan kebenaran yang ia sembunyikan dari penghuni Taman Kecil]


“Apa kalian siap—“


“—Wahai Pencari Kebenaran?”


“Terimalah ujian ini—“


“—Sebelum melangkah lebih jauh”


“Menuju tanah para penguasa—“


“—Dan tanah para pembohong.”


“Ughh ... ini semakin menjadi aneh,” tandas Ash dengan raut kecut.

__ADS_1


Sepertinya ekspresi Lilith mendapatkan bull eye’s, aku juga tak mengira akan menjadi seperti ini, batin Ash sembari mendesah lelah.


__ADS_2