
Akar-akar bermunculan dan dari kumpulan akar tersebut munculah sebuah monster berbentuk manusia—atau lebih dikenal sebagai bentuk humanoid. Berwarna cokelat dan metalik, dengan dua unsur yang berbeda, sendi-sendi mereka mengeluarkan bunyi ngilu.
Fion dan Fiona yang telah siap dengan skenario terburuk pun tidak diam saja. Sang Kakak segera melepaskan sihir tanah yang mengguncangkan kumpulan makhluk tersebut dengan satu hentakkan tongkat.
Di sisi lain Fiona menjaga bagian depan, ia masih belum pasti dengan status semua monster tersebut. Itu semua karena indikator serta informasi makhluk di depannya ditutupi oleh glitch dan tanda tanya,
Bahkan levelnya saja tidak ada. Apa yang tampak di sana hanya sekumpulan makhluk astral tanpa jiwa, bergerak melalui ego Sang Endymion, dan mereka mengaku sebagai anak dari entitas mengerikan tersebut.
Dengan suara seperti boneka rusak, terbata-bata, dan terpotong-potong. Tawa yang dikeluarkan oleh mereka seakan paduan suara tanpa arah.
Serangan yang telah Fion keluarkan seakan tidak berdampak apa pun karena ketika tubuh mereka hancur. Bagian tubuh mereka yang berserakan bergerak pelan dan kembali menyatu.
“Regenerasi ... huh? Ini membuatku pusing,” ucap Fion sembari memperbaiki kacamatanya. “Coba kamu eksekusi mereka, Fiona. Mungkin dengan karakteristik senjata unikmu bisa menghancurkan kemampuan regenerasi mereka”
“Baiklah,” jawab singkat Fiona sambil mengangguk mantap.
Mempercayai perkataan Kakaknya, Fiona pun mengentak tanah kemudian melesat cepat menerjang ke arah pasukan makhluk humanoid tersebut.
Begitu jarak mereka telah dekat, Sang Algojo tersebut mengangkat sabit lalu mengayunkannya sekuat mungkin. Serangan itu awalnya dapat ditahan dengan baik oleh makhluk yang mengaku sebagai anak dari Endymion, tapi ketika percikan aura kegelapan muncul, tajamnya mata sabit itu menembus semua barikade pertahanan dengan telak.
Tak menyisakan apa pun dan siapa pun. Membelah mereka semua menjadi dua bagian yang kemudian jatuh tergeletak.
Bagian tubuh yang semula dapat bergerak kini benar-benar telah tak bernyawa. Makhluk humanoid yang tersisa dan melihat kejadian itu hanya keheranan. Tanpa adanya bagian tubuh yang ditujukan sebagai perasa, kepala mereka hanya memiring tanpa ekspresi.
Sepertinya dugaanku benar. Efek atribut khusus dari senjata miliki Fiona bisa merangsang sel mati lebih cepat sehingga menyebabkan pembusukan organ senyawa dengan merata. Alhasil organ dalam makhluk itu tidak akan bisa hidup lagi, pikir Fion.
“Menyingkir dari sana, Fiona!”
Mendengar teriakan Sang Kakak, ia pun segera melompat mundur secepat mungkin.
“Mengamuklah kekuatan sihirku, [Void Rage]!”
Sebuah lingkaran sihir abu muncul di bawah kaki Fion kemudian ia memutar tongkatnya sekali. Putaran itu menyerap semua partikel Mana dan energi yang ada di sekitarnya lalu ayunkan ke arah Endymion dan sisa makhluk humanoid yang tidak terjangkau oleh serangan Fiona.
Sebagai kelas Grand Mage, Fion tak perlu merapalkan mantra atau membuat Rune yang lama. Karena apa yang ia perlukan hanya mengucapkan inti dari kekuatan sihir tersebut dengan lugas serta tegas.
Karena letak kekuatan sihirnya bukan saja berasal dari seberapa besar Mana yang terkonsumsi, tetapi juga penguatan emosi, serta pemahaman akan sihir itu sendiri.
__ADS_1
Memang benar platform yang mendukungnya adalah berasal dari gim MMORPG, tapi bukan berarti ia harus mematuhi sistem itu sendiri. Karena gelarnya sebagai Player unik, ia memiliki satu aturan khusus yang memungkinkan dirinya untuk membengkokkan logika dunia—Taman Kecil.
Dengan catatan kekuatan itu sendiri mampu ia kendalikan dengan baik dan tanpa melanggar pantangan tertentu.
Begitu kata itu keluar dari mulutnya. Sebuah bola-bola magnet mengapung cepat ke arah Endymion sebelum akhirnya hancur bersamaan dengan percikan listrik. Membengkokkan daerah sekitarnya sekaligus menyedot paksa setiap objek yang berada di dekatnya.
“Hancurkan semuanya!” ucap Fion keras sambil meremas tangan kanannya dengan kuat. “[Biforst Bizantium]!”
Setelah ledakan magnet listrik perlahan-lahan mulai sirna, kini giliran Sang Raksasa es muncul lalu menghantam Endymion serta anak buahnya dengan dua kepalan tangan es besar berduri.
“Uaghh—Kakak!—“
“Pegang tanganku, Fiona!”
Saking kuat serangan tersebut, Fiona yang telah mengambil jarak pun hampir terbawa melayang ke belakang jika saja Sang Kakak tidak menggenggam tangannya.
Getaran tanah pun berhenti dan seisi tempat itu kembali hening, menyisakan kepulan debu pendiam yang kini mengeluarkan tawa ejekan.
“Ha ... ha ... ha ... ha. Kekuatan ... mu ... sangat ... lemah ... “
Namun, apa yang ditakuti oleh Fion menjadi kenyataan. Memang benar semua kroco telah musnah tanpa sisa, sayangnya bos terakhir terlihat sehat tanpa meninggalkan bekas daya serang yang kuat.
Lima HP bar miliknya masih menyisakan tiga setengah lagi. Selain itu ekspresi serta tingkah lakunya mulai berubah, yang awalnya pendiam kini terlihat kegirangan. Seolah-olah apa yang dilakukan oleh Fion hanya sebuah pertunjukan khusus yang ditujukan sebagai hiburan semata.
Endymion masih tertawa patah-patah dibarengi oleh glitch dan bunyi retakan. Indikatornya pun kali ini benar-benar berubah menjadi merah gelap.
“Pertunjukan ... mu ... bagus. Aku ... suka ... sekali ..., tapi ... kurang ... memuaskan”
“T-tidak mungkin. S-s-serangan Kakak tidak membuatnya hancur?”
Inilah apa takutkan. Statusnya sebagai monster dengan tiga digit level ternyata bukan hiasan semata, aku sangat ceroboh karena tidak memperhitungkannya, batin Fion.
Kedua serangan itu adalah sihir tingkat tinggi yang mampu meratakan sarang monster dalam sekali serang. Sayangnya sihir kebanggaan miliknya sama sekali tidak menimbulkan dampak yang signifikan.
Memang benar HP Endymion berkurang hingga satu setengah bar. Namun, jika ditelaah kembali bar keempat HP milik monster tersebut sedikit demi sedikit mulai beregenerasi.
Itu artinya mau seperti apa pun serangan yang dilancarkan kepada makhluk penjaga tempat itu, selama bukan serangan mutlak yang dapat langsung menghabisi satu bar HP-nya. Bar HP miliknya akan beregenerasi, dengan kata lain sia-sia saja Fion melepaskan dua sihir tingkat tinggi itu.
__ADS_1
Perhatiannya pun kini langsung beralih menuju Fiona. Sang Adik terdiam dengan wajah pucat. Syok karena serangan Kakaknya tidak mempan, apalagi serangan sebelumnya yang pernah ia lancarkan sama sekali tidak mempan. Padahal efek khusus dari senjata unik yang ia miliki bisa menjadi jawaban pasti dari akar permasalahan mereka.
Namun, ia tidak bisa mendekati Endymion sama seperti ketika ia berhadapan dengan monster ataupun bos lapangan biasa.
I-i-itu tidak mungkin. Serangan K-K-K-Kakak cuman ngurangin segitu aja, padahal serangan itu bisa menghancurkan bos lapangan biasa. Memang benar sih level monster itu tinggi, t-t-tapi bukan kayak gini juga, batin Fiona panik.
“Mari ... bermain ... ha ... ha ... ha ... ha!”
Endymion pun berdiri tegak kemudian mengentak tanah hingga membuat sebuah guncangan dahsyat. Pilar-pilar batu bermunculan dan berjatuhan saling menimpa satu-sama lain.
Seperti getaran vibrato pada penguat alat rekaman musik. Endymion tak henti-hentinya mengentak tanah terus-menerus, alhasil seluruh tempat itu berguncang hebat, dan langit-langit batu pun berguguran ke bawah.
“[Flow Shield]!”
Fion langsung mengeluarkan sihir pelindung ke arah dirinya dan juga Fiona. Sebuah energi tak kasat mata melindungi tubuh mereka berdua.
“[Amplify]!”
Pelindung itu terus bertambah satu lapis, dua lapis, tiga lapis hingga lima lapis. Karena begitu lapisan kelima muncul tubuh mereka diterbangkan oleh pilar batu yang muncul secara ajaib dari bawah mereka.
“Kyahhhhh!—“
“Ughhh—“
Memantul dan terbentur. Menghantam dan mengapung. Mereka berdua dipermainkan oleh Endymion dengan sangat mudah, tanpa usaha lebih, dan sederhana.
Jika dilihat secara sekilas, Fion dan Fiona seperti sebuah bola yang dipantulkan ke atas-bawah. Meski pelindung milik Fion masih terpasang, tapi bunyi retakan pada lapisan kelima mulai terdengar.
HP mereka berdua pun ikut terkikis sedikit demi sedikit seiring hantaman serta benturan membanting tubuh keduanya.
Tidak lama kemudian semua benturan batu yang mereka alami pun mereda. Langit-langit tempat itu runtuh, tapi bukannya selamat kedua saudara itu terkapar tak berdaya dengan geraman lemah.
Tertindih oleh bebatuan dan reruntuhan yang menimpa mereka, seakan mayat dalam tanah. baik Fion maupun Fiona benar-benar tak berdaya dengan HP mereka yang kini menyentuh warna kuning.
“He ... he ... he ... he~ Main ... lagi?”
Dengan senyuman mengerikan yang merekah lebar, Endymion memiringkan kepalanya dengan gembira.
__ADS_1