
Setelah mereka memasuki hutan bambu yang tinggi seperti teralis besi penjara. Akhirnya mereka berdua sampai di tempat itu. Tepat di samping sungai kecil terdapat rumah dengan gaya tradisional yang cukup elegan.
Rumah itu menggunakan jerami sebagai atap, cerobong asap berbentuk kotak pada belakang rumahnya. Memiliki pagar dengan bahan dasar bambu yang membentang di sekeliling rumahnya.
Jalanan dari mulai depan pagar itu sudah berubah menjadi bebatuan kerikil dengan rerumputan yang minim. Jendela sebelah kanannya terbuka tanpa penghalang sedangkan sebelah kirinya di tutup oleh lembaran kertas seperti karton putih.
Asap mengepul dari atas cerobong asap itu, berwara putih tebal. Membumbung tinggi ke langit di mana cuaca kali ini cukup cerah. Berhubung masih pagi, angin yang berhembus lebih dingin di banding saat berada di rumah Lesta.
Suasana sekitar berpadu dengan suara aliran air sungai yang mengalir benar-benar tenang. Suara air terjun yang sedikit samar juga terdengar di ujung sana. Ketika Ryan melihatnya dengan kedua matanya sendiri, ada sebuah gunung dan air terjun yang tampak kecil.
Tetapi jika melihatnya langsung secara dekat mungkin saja bukan kecil melainkan sebaliknya. Namun saat mereka sudah sampai tepat di depan rumah itu, suara yang mirip sekali dengan dentingan baja saling beradu seperti di timpa terdengar beberapa kali.
“Lesta?”
“Hmmm?”
“Apakah temanmu seorang Blacksmith?”
“Bingo~ tepat sekali, tunggu biar kupanggil dulu orangnya. Windy apakah kau ada di dalam?”
Lesta sesekali berteriak memanggil namanya, sambil mengetuk pintu depan rumahnya. Suara setapak kaki terdengar, pintu pun terbuka dengan pelan menampakkan sepasang mata yang mengeluarkan aura intimidasi menatap Lesta dengan tatapan kecurigaan.
“Huayyy Windy~.”
Lesta langsung membuka pintu itu lebar-lebar, tapi tiba-tiba saja sebuah pukulan mendarat tepat di wajahnya dengan telak. Ia langsung ambruk, terlentang di depan pintu. Beberapa saat kemudian seorang perempuan keluar dari balik pintu itu.
Wajahnya cukup oval dengan dua buah mata hijau zamrud dan pupil hijau terang. Alisnya agak sedikit tipis, wajahnya putih dengan hidung mancung dan bibir merah muda yang tampak lembut untuk di santap.
Tingginya tidak jauh dari Ryan, tapi sedikit pendek dengan bentuk tubuh yang ramping. Menggunakan tanktop putih, di beberapa bagian terdapat noda hitam dan juga cokelat, dadanya sedikit besar. Mungkin C-cup.
Sebuah Google Glass terpasang di atas kepalanya, rambutnya cokelat muda panjang dan agak sedikit pirang di bagian poni depannya yang tersisir ke samping kiri tertahan oleh sebuah jepitan rambut berbentuk pedang kecil.
Jaket biru cyan terikat di pinggulnya, ia juga mengenakan celana panjang yang sedikit mengembang. Saku-saku menempel di sisinya. Ia tidak mengenakan alas kaki sama sekali pun.
“LESTAAAA!!! Sekali lagi kau ingin memelukku aku akan menghajarmu dasar Playboy!”
“S-seperti biasa tinjuanmu sangatlah hebat, Windy.”
Ketika sebuah benda ingin menghantam Lesta, Windy baru tersadar bahwa ada satu orang lagi yang menemaninya kali ini. Sehingga ia tidak melayangkan palu kecil ke arah perutnya yang terbuka lebar.
“Ahh. Maaf aku tidak menyadari bahwa ada seseorang selain lelaki bejat ini, kalau boleh tau siapa namamu?”
“Tidak apa-apa, kejadian seperti itu hampir sering terjadi menimpa kepadaku. Namaku Ryan seorang pengelana”
“Wahhh. Tumben sekali lelaki bejat ini membawa seorang pengelana, tampan lagi... hahaha.”
Ryan tersenyum kecil lalu mengulurkan tangannya untuk Lesta yang masih terbaring tepat di depannya.
“Hahaha ... kau baik sekali, Ryan. Kalau begitu kuterima bantuanmu.”
Lesta mulai meraih tangan Ryan yang ingin membantunya untuk bangun. Namun, Ryan tiba-tiba melepaskan uluran tangannya dan membuatnya kembali terjatuh dengan kepala yang terlebih dahulu membentur tanah.
Lesta mengerang kesakitan lalu ketika ia melihat wajahnya Ryan, ia cukup kaget.
“Aku lupa bahwa kau seorang lelaki bejat dan aku tidak ingin tertular oleh itu”
“Jahatnyaaa....”
Windy tertawa kecil mendengar perkataan Ryan lalu ia pun mulai menghampirinya. Tubuhnya melengkung dengan wajah yang seperti sedang mengamati benda berharga.
“Hmmm ... bagus juga tubuhmu, Ryan. Kau akan menjadi seorang lelaki yang tangguh... heii Lesta sampai kapan kau akan tidur di situ”
“Hueee... Windy, Ryan jahat. Bukannya membantuku, tetapi ia malah memberikan luka ekstra pada kepalaku.”
Tubuhnya kini berguling-guling seperti bola yang tak bisa diam. Windy menghela lalu mengeluarkannya lagi, Lesta benar-benar seperti anak kecil jika berurusan dengan seorang perempuan.
“Kau ini seorang Kapten Divisi dari Kerajaan, tetapi sikapmu seperti in ... lalu apa-apaan dengan penampilanmu itu.”
Wajah Lesta kini suram dan menampakkan tatapan kecewa.
“Eh? Apakah aku salah ya?”
“Tidak, kau tidak salah, Windy. Hanya saja kau mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya kau katakan”
“Ehhhh!!!”
Ryan hanya teridam dengan melayangkan tatapan tidak menyenangkan ke arah Lesta. Lesta yang merasakannya seperti di timpa oleh sesuatu yang berat sekali. Ia harus melepaskannya atau tidak ia akan kembali di sakiti oleh Ryan.
“Baiklah... aku akan menjelaskannya”
“Jangan-jangan ... Ryan, apakah kau belum tau identitas Lesta yang sebenarnya?”
Ryan mengangguk kecil, Windy tidak mengira bahwa ia mengatakan sesuatu yang sangat rahasia. Apalagi mengetahui bahwa Ryan belum sepenuhnya mengenal identitas asli dari lelaki yang bernama Lesta itu, saking kagetnya Windy lalu meminta maaf dengan panik.
Lesta menghela lalu bangkit sambil menepuk-nepuk pantat.
“Tidak apa-apa, lagi pula cepat atau lambat pasti akan terbongkar.”
Kemudian ia pun langsung melepaskan penyamarannya. Tidak hanya dari pakaian bahkan hingga wajahnya pun ia ikut samarkan. Ketika semua penyamarannya terbongkar, Ryan cukup kaget dengan penampilan Lesta kali ini.
__ADS_1
Saat ia pertama kali bertemu dengannya, ia menganggap Lesta adalah seorang penduduk desa biasa. Tetapi, saat ini jika di bandingkan dengan penduduk desa, kali ini ia lebih terlihat seperti anak bangsawan.
Ryan bersiul pelan.
“Wew... lihatlah penampilanmu kali ini, dasar badut.”
Lesta hanya bisa mendesah pasrah dengan cemoohan yang diberikan Ryan untuknya. Karena penampilannya yang berbeda. Wajahnya benar-benar kelas atas, dengan mata biru cerah, serta kulit putih berhidung mancung, lengkap bersama dengan rambut pirang panjang seperti perempuan.
“Hehehe... badut? Aku?”
“Tentu saja siapa lagi, pertama kau merahasiakan sesuatu tentang statusku padahal kau mengetahuinya. Kau juga merahasiakan identitasmu bahkan hingga wajah.”
Kali ini Ryan lah yang mendesah, kini ia ingin meminta penjelasan lebih dalam lagi dari Lesta tentang semua ini.
“Dan satu lagi, kau memiliki wajah setampan itu pantas saja Windy menyebutmu Playboy.”
Windy tertawa kecil sedangkan wajah Lesta kini tersenyum genit ke arah Windy. Ryan pun langsung menjitaknya hingga akhirnya ia kembali normal.
“Lebih baik kau jelaskan kenapa kau ingin mengajakku ke rumah Windy, Lesta?”
“Ehmmm... aku ingin Windy membuatkanmu sebuah senjata setidaknya hingga tipe Rare”
“Hooo... jadi sebab itu kau mengajak Ryan datang ke rumahku. Kukira kau akan memberikan persediaan bahan logam dan juga beberapa material lainnya.”
Akhirnya Windy mengajak mereka berdua masuk ke dalam rumah. Ketika Ryan masuk ke dalam rumah Windy untuk pertama kalinya ia cukup kaget karena dekorasinya sangat mirip sekali dengan rumah yang ada di desanya—tepatnya desa dunia nyata.
Dengan meja persegi panjang yang berhadapan dengan sofa yang sudah sedikit kusam dan ada beberapa gabus yang muncul dari dalamnya. Beberapa kaligrafi dengan bahasa dari dunia ini, satu buah bunga yang menggantung di pot kecil dekat dengan pintu yang menghubungkan ruangan yang sekarang Ryan tempati dengan ruangan tempat pembuatan senjata.
Sementara itu Lesta pergi ke ruangan belakang yang tampaknya panas sekali.
Hawanya cukup panas karena tadi Windy sepertinya sedang membuat atau memperkuat senjata. Lalu tidak lama kemudian Windy membawakan beberapa ubi kukus dan dua buah cangkir air putih yang di sajikan di atas nampan
“Silahkan di makan terlebih dahulu”
“Wow... aku tidak menyangka di sini ada ubi rebus juga.”
Ryan pun memindai ubi rebus itu lalu muncul sebuah nama tepat di atasnya ‘Steamed Sweat Tuber’. Setelah itu menyentuhnya... muncul beberapa penjelasan yang tampaknya cukup berguna bagi dirinya. Ryan langsung duduk dengan tangan kanan yang sudah terangkat.
“Kalau begitu aku tak segan-segan, selamat makan.”
Ryan pun langsung mengambil ubi kukus itu tanpa basa-basi, untungnya tidak terlalu panas. Saat gigitan pertama wajahnya berubah langsung menjadi anak berusia 6 tahun. Begitu damai dan juga merona, mulutnya tersenyum lebar.
“Whoaa!! Manisnya~”
Windy tersenyum ketika mendengar tanggapan Ryan tentang makanan yang baru saja ia berikan kepadanya. Lalu tiba-tiba saja Lesta datang dan duduk di samping Windy, Windy yang jengkel lalu mencubit samping tubuh Lesta dengan keras.
Wajah Lesta seperti kesambet sesuatu, mengembang sambil menahan mulutnya sendiri. Ryan tak peduli dengan itu, ia masih menikmati makanan khas dunia nyatanya itu.
“Hehehe~ jangan bilang kayak gitu dong, masa lelaki bejat. Tampan sesekali lah~ tentunya bukan sesuatu yang biasa.”
Lesta pun langsung mengalihkan pandangannya kepada Ryan yang sedang menikmati makanannya sendiri. Kemudian ia tersenyum kembali dengan tatapan yang bercahaya dan mengeluarkan suara cringg seperti di film-film animasi.
“Tentunya senjata yang bukan biasa.”
Lalu ia pun bangkit dan langsung menghampiri Ryan yang sedang menikmati dunia buatannya sendiri. Kemudian duduk di sebelahnya sambil mendekatkan wajahnya ke samping wajah Ryan.
“Ayo keluarkan barang itu, Ryan~”
Namun, bukannya dikeluarkan, malah sebuah dorongan dari telapak tangannya mendarat di pipi Lesta dengan cepat dan juga kuat. Hingga ia terdorong lalu terjatuh lagi hingga membentur lantai.
“Aku tahu itu, tetapi jangan seperti itu juga kali. Aku seram melihatnya.”
Ryan pun menyentuh panel tersembunyi. Lalu setelah keluar, ia memilih opsi Inventory. Ia pun langsung mengeluarkan barang yang di dapatnya dari Big Rabbit, yaitu Steel Horn.
Kedua mata Windy melebar, ia tidak percaya ada material langka tepat di depan matanya sendiri. Bagi seorang Blacksmith seperti Windy, material seperti ini sangatlah susah karena material itu sendiri adalah drop item.
Ia tidak bisa bertarung dengan Monster berbahaya karena itu ia selalu membuat senjata normal setiap hari, menempa dan menempa hingga menghasilkan senjata yang bagus.
“Kau mengertikan, Windy?”
Dengan cepat Lesta langsung bangun dan menunjukkan senyum liciknya kepada Windy. Windy hanya bisa meneguk ludahnya sendiri karena saking tidak percayanya bahwa material langka seperti ini akan di gunakan untuk membuat senjata.
Ia baru pertama kali menggunakan material langka seperti ini sehingga cukup sulit dan akan memakan waktu. Tetapi ia juga membutuhkan material pendukung lainnya untuk membantu proses pembentukan senjata baru.
“Tetapi aku masih memerlukan bahan material lainnya”
“Katakan, Ryan akan mendapatkannya untukmu.”
Kepercayaan Lesta begitu tinggi hingga mendengar perkataan Ryan yang tiba-tiba, langsung membuatnya jatuh dari ekspektasi yang tinggi.
“Itu merepotkan, kau saja yang mendapatkannya, Lesta, “ ucap Ryan yang masih mengunyah ubi manisnya dengan polos dan tatapan penuh penghayatan.
“”Eh!?””
Windy dan Lesta yang mendengar penolakan cuma-cuma dari Ryan langsung terlonjak kaget. Lesta yang berharap akan adanya kerja sama dengan Ryan seperti saat membasmi sekumpulan Wild Rabbit rupanya tidak semulus yang ia perkirakan.
“R-Ryan, mengapa kau menolaknya? Saat kuberi misi kau dengan senang hati menerimanya, lalu mengapa kau sekarang menolaknya?”
“Bukankah jawabannya sudah jelas? Tidak ada kejelasan dan terdengar tidak menarik bagiku, apalagi dengan imbalannya yang mungkin saja....”
__ADS_1
Lesta terdiam sambil menggigit lidahnya sendiri, ternyata Ryan—Player 00 ini mempunyai pendirian yang cukup kuat. Seperti motonya adalah Keep Calm and Safe Energy, apa yang dilakukannya harus sepadan dengan imbalan yang akan di dapatnya kelak nanti.
“Ryan, kali ini kau berhasil membuatku tertarik. Kau benar-benar orang yang tidak bertele-tele, tapi langsung menuju intinya,” ujar Windy lalu ia pun langsung mengeluarkan sebuah gulungan kertas. Kemudian ia membukanya, di situ tertulis material apa saja yang harus dibawakan oleh Ryan agar senjata berstatus Rarenya itu menjadi lebih hebat.
“Ini adalah daftar material yang harus kau bawakan untukku jika kau menginginkan senjata yang luar biasa, dibandingkan dengan Rare aku merasa tertantang untuk membuatkanmu senjata dengan status Unique”
“Kali ini sepertinya aku setuju denganmu, Windy.”
Di kala mereka berdua tampak sangat dekat, Lesta yang sedari tadi bengong karena perkataan Ryan dan Windy akhirnya tersadar dari dunia sementaranya. Ia pun langsung ikut mendekati Ryan dan melihat isi dari gulungan itu.
Dan rupanya semua yang berada di dalam gulungan itu terdapat di sebuah Dungeon yang disebut dengan—[Castle of Monochrome]—.
“Karena kulihat jobmu adalah Assassin, Ryan. Aku memutuskan akan menggunakan Steel Horn ini untuk membuat dua buah senjata yang sangat cocok dengan tipe bertarungmu. Namun, letak semua material ini berada di suatu ruangan—[Chamber of Agony]—, membutuhkan satu hari perjalanan dari sini hingga sampai di sana.”
Ryan berpikir untuk sementara waktu, karena sekarang ia akan dibuatkan setidaknya dua buah senjata khusus Jobnya.
“Aku juga akan memberikanmu sebuah peta”
“Baiklah aku terima... aku juga akan mengambil peta ini.”
Windy tersenyum kecil lalu Ryan mengambil peta itu. Ketika Ryan menyentuh peta dunia yang berada di samping kanan atas penglihatannya. Hampir seperempat dari isi peta itu telah terbuka. Terutama bagian samping kanan atas.
“Apa kau bisa melihat rumahku dari situ?”
Kemudian ia menggeser peta itu ke samping kiri. Kini telah berganti menjadi peta area, tepat di paling ujungnya terdapat wajahnya sendiri berbentuk animasi. Wajah itu sedang berada di dalam sebuah rumah dengan warna dasar hijau dan juga cokelat.
Ryan pun mengangguk pelan.
“Huh ... melegakan sekali jika rumahku terlihat di dalam Map itu. Karena rumahku kecil ... kukira tidak akan tampak sama sekali”
“Itu sama sekali tidak akan menjadi masalah, Windy”
“Apa maksudmu, Lesta?”
“Tentu kau pasti akan di temui karena pekerjaanmu adalah seorang Blacksmith. Di dunia ini pekerjaanmu itu sangatlah langka, biasanya hanya di kota-kota besar saja yang menyediakan jasa sepertimu”
“Begitu, kah?”
“Apakah wajahku meragukan?”
Windy mengangguk.
“Arhhh... emangnya ada apa dengan wajahku?”
“Kau bejat, Lesta”
“Ughhh ....”
Lalu di selang itu Ryan menyembunyikan tawanya, sedangkan Windy masih meragukan perkataan Lesta. Sang kapten divisi yang sedikit kesal langsung segera berdiri dan bersiap-siap untuk pergi keluar.
“Tubuhmu besar tapi kelakuan kayak anak kecil, jangan sedih karena di tolak oleh Windy, Lesta”
“Aku tidak sedih, hanya saja waktuku sudah habis. Aku harus segera kembali menjalankan tugas lamaku, Ryan”
“Maksudmu pergi ke kerajaan?”
“Bingo~ aku heran sebenarnya berapa sih IQ-mu. Kau pandai sekali melihat siapa diriku sebenarnya”
“Hanya Player biasa”
“Huhhh... kalau begitu aku pergi dulu, semoga kau berhasil Ryan dan tolong jaga Windy saat aku tidak berada di sini.”
Windy langsung mendesah kecil.
“Aku bukan seorang anak kecil yang harus di jaga, Lesta”
“Hahahaa... kalau begitu semoga kita bertemu kembali suatu hari, Ryan.”
Setelah itu Lesta berbalik dan langsung berjalan menuju pintu keluar. Namun ketika ia hendak keluar ia menyentilkan sesuatu ke arah Ryan yang masih duduk berhadapan dengan Windy. Suaranya seperti sebuah benda padat ketika benda itu di sentil.
Benda itu mengapung, berputar di langit lalu jatuh tepat di atas meja kotak depan Ryan.
“Kalau begitu aku pergi.”
Lesta pun akhirnya menghilang. Ryan yang sedang melihat peta area langsung melihat dan sekaligus memindai benda yang disentil oleh Lesta ke arahnya. Sebuah kristal biru terang, kecil dan terlilit oleh sebuah perban putih yang tipis.
Sebuah nama muncul ketika Ryan menyentuhnya [Short Teleportation Crystal]. Rupanya sebuah kristal teleportasi apalagi jarak dekat. Tetapi ia tidak mempermasalahkannya. Ia pun langsung memasukkannya ke dalam penyimpanan.
“Ah... aku juga mempunyai sesuatu yang ingin kuberikan untukmu sebelum kau berangkat, Ryan.”
Entakkan kakinya berdentam-dentam di lantai yang terbuat dari kayu ini. Dalam beberapa menit Windy pun datang kembali setelah ia memeriksa tempat peralatannya di ruangan belakang. Setelah itu ia memberikannya langsung kepada Ryan.
“Ambilah ini”
“Ah. Terima kasih, ramuan penyembuh?”
“Yupss. Kau benar, Ryan. Semoga kau selamat dalam perjalananmu, ya,” ujar Windy sambil tersenyum lebar.
Ia pun seperti tertarik dengan kehadiran Ryan ini, seorang Player yang sangat—jarang sekali ada yang seperti dia. Rata-rata Player yang berhasil menemukan seorang NPC dengan pekerjaan sebagai Blacksmith pasti selalu memintanya untuk membuatkan senjata.
__ADS_1
Namun berbeda dengan Ryan, ia ingin harga yang setimpal. Jika ia mendapatkan sesuatu maka orang yang bekerja sama dengannya juga haruslah mendapatkan sesuatu yang setimpal dengan apa yang di perjuangkannya.
Ryan pun berpamitan dengan Windy, akhirnya ia pun segera bergegas pergi keluar rumah Windy.