Nameless Crown

Nameless Crown
Chapter 17 - Peninggalan Vlad


__ADS_3

Ketika melihat semua itu Ryan hanya dapat membeku seperti patung es. Vlad si burung kecil yang bertengger di bahu kanannya tertawa kecil.


Kini semua masa lalu itu telah hilang dan mereka berdua kembali pada tempat yang gelap sekali. Namun, sebuah cahaya dan satu-satunya cahaya menerangi mereka berdua dari atas.


“Jadi? Apa yang kau maksud dengan kejamnya kenyataan?”


“Ahh tentang itu maaf—aku tidak bisa memperlihatkannya, karena tampaknya salah satu temanmu sedang kesulitan menghadapi Skeleton King di dalam kastel”


“Elen!?”


Seketika itu juga Ryan baru menyadari bahwa ia bersama Elen datang ke Dungeon Castle of Monochrome untuk segera menyelesaikan misi dan mendapatkan bahan-bahan untuk senjata baru miliknya.


“Untuk itu aku tahu, tetapi kau harus menjelaskan sisa dari gambaran masa lalu tadi!”


Vlad mengangguk kecil, ia mulai terbang meninggalkan bahu Ryan.


“Dan untuk perempuan yang bernama Lilith itu... ia memiliki penampilan yang sama seperti Elesis, apakah itu ada sangkut pautnya?”


Vlad hanya terdiam.


“Aku tak bisa memberitahumu tentang itu, tetapi untuk sisanya akan kuberitahu.”


Ia pun mengambil  dalam-dalam lalu mengeluarkannya kembali.


“Setelah kalian—Oz dan Lilith hidup bersama-sama, Oz dikhianati oleh pihak kerajaan. Mereka menganggap Oz adalah seorang pengkhianat karena menyelamatkan Lilith. Lalu pengejaran dan pengejaran mulai menghantui kehidupan mereka berdua. Pada akhirnya Oz berhasil dibunuh oleh Kerajaan dan sementara untuk Lilith ia berhasil melarikan diri.”


Ryan mendengarkan itu dengan seksama dan tanpa mengalihkan perhatiannya.


“Lilith yang kembali merasakan sakit hati mulai mengamuk, tetapi ia berhenti karena mengingat janjinya dengan Oz. Janji itu mengatakan “jangan pernah membenci seseorang yang akan membunuhku, karena kau hanya akan mendapatkan rasa sakit yang lebih mendalam”—kurang lebih seperti itu. Lalu karena janji itu, Lilith pun memutuskan untuk menguburkan jasad Oz, ia juga masuk ke dalam peti bersama Oz. Dengan bantuan Familiar yang ia ciptakan dan ditugaskan untuk menguburkan dirinya beserta Oz dalam tenang.  Pada saat itu pun Immortal Wicth bersamaan dengan sang pemburu iblis menghilang untuk selama-lamanya. Akhirnya apa yang kau percayai akan kembali mengkhianati dirimu karena termakan oleh keserakahan.”


Setelah mendengar penjelasan Vlad, Ryan terkejut, karena cerita itu tidak hanya mengharukan tetapi kecintaan Lilith terhadap Oz begitu kuat. Sehingga ia ikut menguburkan dirinya sendiri bersama Oz.


“Setelah ini kita akan kembali ke kastel itu, tetapi sebelum kita kembali aku akan memberikan sedikit hadiah kepadamu, Ryan”


“Hadiah?”


Tepat di bawah mereka muncul sebuah lingkaran sihir merah. Ryan cukup panik pada saat melihat lingkaran sihir itu.


Namun, Vlad si burung kecil terbang di depannya. Wujudnya yang selama ini seperti burung berubah menjadi seorang lelaki menawan berambut putih panjang. Ia memakai sebuah kemeja putih berlengan panjang dan sebuah celana hitam panjang.


Di antara bahu kiri dan kanannya terdapat sebuah emblem yang mengganjal jubah kebesaran. Ia sama seperti yang tadi di lihat Ryan saat masa lalu di perlihatkan.


“Vlad?”


“Apa kau kaget?... ini adalah bentuk tubuhku yang sebenarnya. Kalau begitu akan kumulai.”


Vlad pun menyentuh dada kanan Ryan sambil mengucapkan beberapa Chant yang aneh.


“[Life force gathered to bought something valuable, within the sacred blood of my vessel. Grant my wish to accomplish something and give him the absolute power to commanding the sin]”


Ryan tiba-tiba merasa aneh dengan tubuhnya. Sebelum ia berkata, jantungnya berdetak keras dan keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya. Ia kesulitan untuk bernapas dan langsung ambruk sambil memeluk lututnya.


“Ini mungkin akan terasa sakit, tetapi ini adalah permintaanku sebelum aku benar-benar menghilang dari dunia ini. Pergi... dan tunjukan jalan yang sebenarnya pada mereka, Ryan... wahai ‘kawan’ lamaku.”


Vlad berubah menjadi kumpulan cahaya hitam dan setelah itu masuk ke dalam tubuh Ryan. Begitu satu detak jantungnya yang keras terdengar, Ryan berteriak kesakitan di dalam tempat gelap itu sendirian.


Dengan stamina yang masih ada di dalam tubuhnya, ia berusaha untuk bangkit. Perlahan-lahan ia meremas kemeja dada kanannya. Setelah ia berhasil bangkit sambil terbatuk-batuk, kedua kakinya gemetar dan hampir kembali terjatuh.


Namun, ia akhirnya berhasil menyeimbangkan kembali tubuhnya. Tempat gelap itu mulai menampakkan cahaya menerang yang menyilaukan seakan-akan berkata “Pergi dan carilah kebenaran yang tersembunyi dari dunia yang telah membusuk ini”.


Lalu akhirnya Ryan kembali ke reruntuhan di mana ia menyentuh sebuah diagram sihir dengan telapak tangannya. Kancing atas kemejanya longgar dan memperlihatkan sebuah segel sihir pada dada kanan Ryan, merah hitam.


“Aghh... Vlad!”


Ryan kembali terbatuk-batuk dan beberapa air liurnya ikut tumpah. Sesaat ia telah berhasil mengembalikan keseimbangannya lagi, ia tak menyangka akan kembali terjatuh dengan wajah yang menghadap tanah.


Ryan juga ingat bahwa Elen masih bertarung di atas sana, sendirian. Ia berusaha merangkak untuk mencari jalan keluar dari tempat itu. Namun, karena tubuhnya masih gemetar dan tak kuasa menahan rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuh.


Akhirnya Ryan menyerah dan berpikir untuk mengistirahatkan tubuhnya di sini beberapa saat. Tubuhnya terlentang, menghadap langit di atas sana.


“S-s-sebenarnya apa yang terjadi dengan dunia ini?”


Sambil berusaha menahan rasa sakit itu, Ryan sesekali bergumam pada dirinya sendiri agar bisa mempercayai apa yang baru saja ia lihat dan rasakan. Semua itu begitu nyata baginya.


Dunia ini—dunia gim MMORPG, mengapa hal seperti itu bisa terjadi. Terlebih lagi kejadian itu ada sangkut pautnya dengan kerajaan. Lesta... apakah ia musuh atau teman?


Di dalam pikirannya sekarang, Ryan berpikir keras untuk mendapatkan sebuah resolusi yang paling tepat baginya. Sembari memejamkan kedua mata ia mulai membayangkan sebuah skenario yang paling terburuk.


Apakah Lesta yang ia percayai akan berbalik dan mengkhianatinya ataukah kerajaan yang membuatnya menjadi boneka sempurna untuk melakukan segala hal yang menguntungkan bagi kerajaan.


Kini Ryan telah berada di dekat sebuah pilar, ia menggunakan pilar itu untuk berdiri. Memegangnya erat-erat dan sekali lagi berusaha bangkit. Akhirnya setelah berusaha berulang kali, kali ini ia berhasil bangkit dan mulai berjalan pelan menuju keluar reruntuhan itu.


“Mengapa semuanya tampak jelas dari mataku?”


Sambil terengah-engah karena rasa sakit itu belum sembuh. Ryan kebingungan mengapa tempat segelap itu dapat terlihat jelas oleh kedua mata Ryan. Pemandangannya pun sejelas pemandangan di siang hari.


Walau sekarang sedang bulan purnama. Tetapi itu tidak mungkin, karena penglihatan manusia di malam hari itu buruk.


Apakah kekuatan yang di berikan oleh Vlad mempengaruhi keanehan ini.


“Vlad ... apakah ini ulahmu?”


Setelah mendapatkan kekuatan aneh dari Vlad. Ryan pun langsung membuka opsi status pada panelnya.

__ADS_1


Name  : Ryan Angga Baskara


Race    : Human [Half-Vampire]


Job      : Assassin Lv 19


Vitality: 2478


Str       : 75        Psy Atk          : 99


Agi       : 91        Psy Def          : 75


Int       : 66        Mag Atk         : 57


Luck    : 39        Mag Def         : 60


【Skill】


【Active】=>


—Hidden Presence


—Shadow Stalker


【Passive】=>


—Counter Attack


—Back Stab


—Shadow Dash


—Sillent Step


—Night Vision


—Blood Seeker’s


—Awareness


【Tittle】


—Bloodiast


【Unique Skill】


—Seal of Metamorph


“Bloodiast? Seal of Metamorph? Hmmm... apa itu.”


Ryan pun menekan Tittle miliknya, hingga beberapa saat muncul keterangan yang membuat matanya melebar.


“Semua status dikalikan 3!?”


Kemudian meneruskannya hingga ke bawah.


“—Tittle ini memberikan penggunanya sebuah kekuatan baru berupa “Blood Seeker’s”, ia akan dapat mencium keberadaan darah sejauh 700 meter dari tempatnya berada. Dapat merasakan hawa pembunuh dua kali lipat dan memberikan efek “HP Drain” jika kondisi HP 3% atau di bawahnya.”


Kali ini Ryan hanya dapat termenung. Melihat semua statusnya meningkat dengan drastis berkat bantuan Vlad sang mantan Raja Keabadian itu. Namun, kini dirinya merasa aneh dengan kondisi tubuhnya.


Rasanya sangat ringan sekali ketika ia menggerakkan kakinya. Setelah momen-momen penyiksaan itu berlangsung, tubuhnya kembali segar bugar seperti sedia kala.


“Hmmm... lalu apa ini?”


Karena rasa penasaran yang berlebih, Ryan mengaktifkan keahlian Shadow Stalker. Bayang-bayang hitam muncul di depannya, kemudian secara bertahap berubah menjadi sebuah naga hitam dalam bentuk bayang-bayang samar.


Naga bayang-bayang itu mengelilingi tubuh Ryan seperti sedang melindunginya. Lalu setelah beberapa detik ia pun masuk ke dalam tubuh Ryan. Pakaiannya tiba-tiba berubah menjadi sebuah jubah hitam selutut.


Kemeja merah-kehitaman yang memiliki kerah tegas hingga pipi. Berdasi merah dengan jepitan pada tengah-tengahnya, lengkap dengan sabuk menyilang keputihan yang cukup mengilat.


Sepatu yang ia gunakan bukanlah lagi sepatu Sport melainkan sebuah sepatu Bot yang antik. Di kedua sikut lengannya muncul pelindung tangan.


Ketika ia merasa takjub dengan penampilan barunya, sebuah panel muncul di depannya.


“10 menit?... tampaknya waktu ini adalah batas penggunaan Skill, lebih baik aku segera menyusul Elen!”


Ryan pun langsung berlari dan melompat-lompat di sekitar reruntuhan itu. Sosoknya membaur dengan kegelapan malam buta.


Di tempat lain Elen tampaknya hampir kehabisan ramuan. Melawan sekumpulan ras Skeleton bukanlah hal yang mudah. Terutama jika rajanya bersama mereka.


Berkat adanya Skeleton King, seluruh pasukannya mendapatkan Vampiric Aura yang cukup untuk membombardir Elen dengan berbagai serangan.


“Tchh... tak kusangka akan sekuat ini. Lagi pula di mana Kak Ryan saat ini?”


Memikirkan Ryan yang belum tentu selamat atau tidak, Elen kembali melancarkan serangannya secara unik. Dari mulai tebasan menyamping dan hantaman kuat yang memunculkan gelombang kejut.


Pasukan Skeleton itu akhirnya menghilang dari pandangan Elen. Sambil tersenyum kecut Elen menunjuk Skeleton King yang masih duduk di singgasananya.


“Dasar pengecut... sini lawan gadis manis ini,” teriak Elen sambil mengacungkan Halbert besarnya.


Akhirnya Skeleton King itu berdiri dari singgasananya. Melepaskan jubah kebesaran yang terpasang di seluruh tubuhnya. Memperlihatkan sekumpulan baju tempur hitam lengkap.


Sementara di atas kepalanya muncul sebuah mahkota yang sedari tadi tidak di sadari oleh Elen. Mahkota itu memiliki permata merah di tengah-tengahnya.

__ADS_1


Sebelum Elen melancarkan serangannya, sebuah pedang melesat begitu cepat hingga Elen tak bisa menahannya dan ia pun terlempar begitu jauh. Tubuh kecilnya pun langsung menghantam tembok hingga retak.


HPnya berkurang drastis dan penglihatannya mulai kabur.


“A-ahh ... ramuanku telah habis dan aku sama sekali tidak bisa bergerak—“


Ketika Skeleton King itu berlari ke arah Elen yang terbaring di tembok. Elen pun sudah siap untuk merasakan keheningan di dalam dunia ini. Kilatan cahaya melengkung dari atas ke bawah, garis tajamnya hampir membelah tubuh Elen dan menjadikannya sekumpulan data-data virtual.


Namun, sebelum itu pedang yang di gunakan oleh Skeleton King terpental jauh sekali ke belakang.


Sebuah suara hangat mulai terdengar oleh Elen, suara itu tampak seperti mengucapkan sebuah sumpah.


“[O my wish to became a messenger of justice, recall you with my soul and my power to banish the evil in this world... Moonfang!]”


Lalu kilatan cahaya yang membentuk bulan sabit melesat cepat ke arah Skeleton King itu dengan hebat.


Kedua mata Elen yang tadi sempat menutup mulai terbuka kembali dengan pelan. Di depannya kini muncul sesosok lelaki berpakaian gelap yang menggenggam sebuah belati di tangan kanannya.


Berdiri tegak dan menghempaskan Skeleton King itu dari hadapannya.


Tidak lama setelah itu sekumpulan cahaya kuning dan hijau mulai menyinari tubuh Elen. Ia kaget dan segera menolehkan kepalanya ke belakang.


Ia pun mendapati seorang perempuan berambut putih tergerai yang cantik sedang membacakan beberapa Chant pemulihan baginya.


“Elesis!?”


Elesis yang merasa namanya terpanggil menghentikan Chantnya dan segera berlari menghampiri Elen yang terbaring.


“Ahh ... kau rupanya telah sadar, Elen”


“M-mengapa kau berada di sini!?”


“Ceritanya panjang yang terpenting kau selamat sekarang, selanjutnya kita serahkan pada Ryan.”


Nama itu terucap dan Elen pun tak percaya bahwa lelaki di hadapannya tadi adalah Ryan sang Assassin. Matanya melebar dan berusaha menggapai lelaki berjubah hitam itu.


“Mengapa? Kau bisa bersama Kak Ryan dan penampilan itu?”


Elesis hanya tersenyum lembut mendengarnya.


“Aku juga tidak terlalu mengerti tetapi singkatnya Ryan terjatuh ke dalam reruntuhan dan menemukan sebuah lambang segel, ketika ia menyentuhnya ia mendapatkan kekuatan itu”


“Kekuatan!? Dan bagaimana kau bisa bertemu dengannya?”


“Hmmm ... itu sedikit rumit, pada awalnya aku tersesat di kastel ini, tetapi ketika melihat bayang-bayang yang melesat cepat melewatiku aku pun menggapai dan memegangnya ... kau pasti bisa menebaknya, kan?”


“... itu adalah Kak Ryan yang sekarang berada di sana menghadapi Skeleton King?”


“Ping-pom! Benar sekali....”


Yang membuat Elen paling kaget adalah perubahan sikapnya yang sungguh berubah drastis. Bukankah ketika Rokh, Andre dan Sera hampir saja mati ia sangat bersedih. Namun, sekarang ia begitu tampak gembira.


Sebenarnya apa yang terjadi dengannya?


“Lalu bagaimana dengan mereka?”


“Ahh... maksudmu Party-ku?”


Elen mengangguk pelan, karena ia masih terbaring sambil menerima penyembuhan dari Elesis. Yang bisa ia lakukan adalah bertanya dan menggunakan gestur tubuhnya untuk menjawab.


“Tentang mereka... aku sudah mendengar cerita lengkapnya mengapa Andre hingga seperti itu. Semuanya sudah menerima hal itu dengan lapang dada, mereka ingin menghabiskan hidup mereka bersama-sama karena penyakit yang di derita oleh mereka di dunia “nyata” sudah mencapai stadium empat.”


Saat Elesis mengeluarkan aura kelam, Elen hanya membeku ketika mendengarnya. Stadium empat? Penyakit yang benar-benar sudah sangat kronis dan tidak mungkin untuk disembuhkan.


“Namun, bukankah mereka—ahh... tidak-tidak bukan itu maksudku, mengapa kau menyebut dunia nyata seperti kau tidak mengenalnya?”


“Eh?”


“Bukan “eh” ... tetapi apa jawabanmu?”


“Mau kau bertanya seperti itu juga sebenarnya aku sendiri tidak tahu, karena aku tidak memiliki ingatan yang pasti tentang dunia ini. Intinya adalah—“


“—kau kosong, benar, ‘kan?” potong Elen cepat.


Elesis tersenyum kecut sambil meremas rok pendeknya.


“Ya... aku kosong, aku tidak tahu apa dan di mana tempat aku dilahirkan. Nama kerabat, keluarga, saudara, bahkan teman-teman pun aku tidak mengetahuinya kecuali saat aku bertemu dengan Andre, Rokh, Sera dan tentunya kalian berdua”


“ —Yang artinya kau baru masuk ke dunia gim ini dan tidak mengetahui apa-apa? Huhh... cukup rumit juga.”


Elesis menolehkan kepalanya dan melihat bagaimana Ryan sekarang berubah. Hatinya tak bisa berhenti berdegup dengan normal. Pada awalnya ia tidak mengalami hal seperti itu.


Namun, pada saat bertemu dengannya beberapa saat yang lalu ketika ia menggunakan pakaian seperti itu. Ekspresinya mulai berubah, melembut bahkan memandang Ryan sebagai seseorang yang pernah ia beri kasih sayang.


“Sebaiknya aku meneruskan ini.”


Dengan kembali mengucapkan beberapa Chant, Elesis kembali mengeluarkan sihir penyembuhnya. Bersamaan dengan suara nyanyiannya yang memberikan status Buff tambahan bagi Ryan yang sekarang berhadapan dengan Skeleton King.


Skeleton King yang terlempar mulai bangkit dengan sedikit kaku. Armor yang terpasang di tubuhnya hancur dan meninggalkan dada penuh tulang.


Ryan melangkah maju dan menyiagakan belatinya.


“Majulah!”

__ADS_1


__ADS_2