
Kabut menyelimuti seisi hutan. Bunyi dentuman dan retakan pohon tumbang terus terdengar tanpa henti. Cipratan darah membekas di mana-mana dan di tengah-tengah itu semua Fiona mengamuk membabi buta.
Sabit besar yang dibawa olehnya memenggal setiap monster tanpa henti. Walaupun setiap makhluk yang ada di sana tercipta dari data-data virtual, tapi keakuratan visual yang terlihat selayaknya makhluk hidup yang nyata sehingga sebelum HP mereka benar-benar habis, efek visual seperti darah pasti akan muncul.
Tumpukkan mayat monster berjatuhan dan hancur lebur menjadi jejak data virtual. Sementara itu Fiona berjalan keluar dari gelapnya kabut hutan sembari memanggul sabit raksasa.
“Ini tidak seberapa dan tidak menyenangkan. Dasar, awas saja kalau sudah sampai, aku akan meminta jatah yang lebih banyak kepada Kakak.”
Gadis pembawa sabit raksasa itu pun mematahkan permen lolipop di mulutnya, lalu pergi meninggalkan hutan tersebut.
***
Lantai Pertama, Wind Hill, West Green Plain, Monster Den
“Ambil bagian sana, aku akan mengurus yang sebelah sini”
“Baik.”
Lilith mengangguk mantap lalu melompat tinggi. Sebuah pentagram bintang muncul dari jentikkan jarinya dan seketika itu juga sebuah lingkaran merah darah muncul dari di atas permukaan tanah.
Para Kobold yang sebelumnya berpencar pun langsung tersedot ke dalam lingkaran tersebut.
“Aldion!”
Tidak lama kemudian sulur-sulur akar berduri pun mencuat dari dalam tanah dan langsung mencambuk semua Kobold yang berada di dalam lingkaran tanpa ampun.
Bunyi pekik dan jerit kesakitan terdengar, tapi Lilith tidak berhenti meski suara yang ia dengar merupakan minta tolong. Malahan ekspresinya penuh akan ekstasi, mulutnya menyeringai, dan pupil tajam matanya memancarkan cahaya merah samar.
Di sisi lain Ash bergerak cepat, menari di antara Ogre dan Goblin. Setiap liukkan belati baru miliknya memancarkan energi kegelapan pekat. Meski tubuh Ogre besar, hanya dengan sedikit goresan pada pelipis kaki mereka, makhluk raksasa itu pun tumbang tak berkutik.
Berkat spesial efek dari senjata baru Ash, setiap monster yang terkena goresannya akan terkena kutukan berlapis. Dengan kata lain lumpuh berkelanjutan meski hanya beberapa detik.
Namun, Ash sama sekali tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia terus menggempur mereka satu-persatu, secara cepat, akurat, dan presisi. Job Class-nya yang merupakan Assassin juga membantunya dengan sangat baik, begitu darah monster sedikit, dengan sekejap mata Assassinate pun mendarat tepat di ulu hati mereka.
Baik tumbang dengan kepala lenyap atau salah satu bagian tubuh berlubang besar. Ash terus mereset ulang posisinya ketika seekor monster hancur. Semua itu juga telah masuk ke dalam ranah serangan Lilith, wanita elegan tersebut memberikan debuff kepada musuh-musuh suaminya.
“Aku telah selesai di sini, bagaimana denganmu?” tanya Ash sembari membersihkan belati.
“Tentu saja aku juga sudah selesai. Apa kamu baik-baik saja? Makhluk jelek itu tidak melukaimu, ‘kan?”
Ash menggeleng pelan. “Tenang. Kamu juga melihatnya sendiri, bukan? Serangan debuff itu sungguh sangat membantuku”
“Huhu. Aku hebat, ‘kan?”
Namun, Ash hanya memberikan senyum tipis lalu berbalik memunggungi Lilith. Sang Permaisuri Pemikat sangat tahu betul jika laki-laki di depannya itu tidak pandai memuji sehingga setiap kali layangan pujian muncul, ia akan selalu berbalik memunggunginya.
Bukan karena acuh melainkan satu dari bentuk kepercayaan Ash kepada Lilith untuk selalu melindungi bagian belakangnya. Rumit, penuh teka-teki, tapi Lilith sama sekali tidak membencinya melainkan perasaannya kepada Ash semakin dalam.
“Ini adalah Dungeon di mana salah satu Pillar bersemayam, itulah yang dikatakan dokumen ini.”
Tepat setelah sarang monster berada terdapat sebuah tebing curam. Sebuah jembatan hancur terlihat sangat kuno dengan berbagai ukiran aneh pada bagian kiri dan kanan pembatasnya.
Selain itu juga dua buah totem berdiri tegak di kedua sisi jembatan tersebut. Bagian atasnya menyerupai kepala Burung Garuda, terbuat dari batu, dan telah berlumut.
“Sepertinya begitu, tapi aku tidak melihat Player lain di sini.”
Lilith pun memutar matanya, melihat ke kanan dan kiri. Sayangnya tidak ada tanda-tanda Player lainnya di sekitar mereka, tapi tidak ketika sebuah suara bising terdengar dari belakang kedua pasangan tersebut.
“Tampaknya tidak begitu, eh?”
Di belakang mereka muncul sekitar 12 orang dengan berbagai Job Class. Namun, perhatian Ash terarah pada dua orang.
__ADS_1
Seorang laki-laki dengan seragam lengkap kesatuan bermedal dengan warna putih berdiri membawa sebuah tongkat. Rambutnya yang hitam kentara dengan tatapan dari balik kacamata membuat Ash merasa diperhatikan dengan seksama.
Sedangkan di sampingnya adalah seorang gadis dengan jaket merah muda bertudung kelinci. Terdapat sebuah sabit raksasa yang ia istirahatkan di atas pundak kirinya.
Mereka berdua adalah Fion dan Fiona, dua bersaudara yang telah dirumorkan sebagai Player unik. Sebagaimana Elen dengan angka 06, maka mereka berdua sepasang adalah Player unik dengan nomor 04.
Tidak ada yang tahu seperti apa detailnya, tetapi ... satu hal pasti adalah mengenai rumor serta desas-desus itu sendiri. Di mana isi dari rumor tersebut menjelaskan siapa pun Player yang bersinggungan dengan kedua bersaudara tersebut akan selalu menemui nasib tragis.
Begitu mereka berdua saling bertukar pandang, sisi kiri mulut Fion pun menyungging kecil. Ia kemudian memperbaiki kacamatanya.
“Wah, wah, wah. Sepertinya kita keduluan, Fiona. Aku tidak menyangka akan ada Player lain yang telah berada di sini”
“Bukannya aku sudah bilang, kalau prediksimu itu akhir-akhir ini mulai meleset”
“Jangan seperti itu. Lagi pula lebih banyak lebih ramai, bukan? Kita bisa menyelesaikan tempat ini dengan cepat”
“Hahhh. Itu sangat membosankan aku ingin byone dengan Boss di sini, tapi terserah lah. Aku juga tidak terlalu peduli.”
Sementara itu Player lainnya juga saling bertukar informasi dan mulai menegosiasikan sesuatu.
“Hei, kau! Apa kalian tidak takut menantang Pillar hanya berdua saja?”
Seorang laki-laki berjubah maju ke depan dan langsung menyoroti Ash.
“Tidak terlalu tuh”
“Hngg ... kalian bisa mati tahu”
“Tentu saja aku tahu, tapi siapa juga yang waras datang menyerbu tempat ini berdua. Kami hanya kebetulan saja menemukan tempat ini terlebih dahulu”
“Hooo ... kalian mendengar itu, ‘kan?”
Namun, mata magis Lilith bereaksi. Ia langsung mendekati telinga kiri Ash dan berbisik pelan.
“Mereka tidak baik”
“Bagaimana dengan dua orang yang kuperhatikan sebelumnya?”
“Aku tidak bisa menentukannya sekarang, mereka masih abu-abu”
“Jadi netral, ya? Baik, aku mengerti.”
Dengan beberapa bisikan kecil itu Ash dan Lilith mendiskusikan sesuatu, tapi gelagat mereka langsung disela oleh teriakan seorang laki-laki berbadan besar.
“Tenang saja! Kami juga ingin menantang tempat ini, aku yakin kalian memiliki informasi lebih, ‘kan?” tanyanya dengan seringai.
Jarak mereka dan juga Ash tidak lah jauh. Namun, dengan teriakan tadi seakan-akan mengisyaratkan jika Ash tidak memberitahu mereka, maka kemungkinan besar akan terjadi pertikaian kecil.
Sayangnya Ash acuh dan menghiraukan permintaan laki-laki besar itu, ia hanya memandangnya dingin lalu menghilang bersama Lilith.
“A-apa?”
“Mereka melarikan diri!”
“Cepat cari mereka!”
Ketika sekumpulan Player independen yang mengancam Ash pergi berpencar untuk mencarinya. Fion hanya diam, laki-laki penuh perhitungan ini menganalisis sekitarnya lalu berdeham pelan.
“Tampaknya mereka hanya sekumpulan otak barbar, tapi laki-laki itu ... “
“Aku tahu! Aku tahu! Mereka kuat, ‘kan?” sela Fiona dengan senyum lebar penuh antisipasi.
__ADS_1
“Dasar, tunggu dulu aku menyelesaikan kalimatku, Fiona. Namun, apa yang kamu katakan memang benar. Auranya saja sudah seperti Boss lantai, tapi aku tidak melihat tanda NPC di atas kepalanya. Itu berarti ... “
“Mereka adalah Player! Dan juga UNIK!” sela Fiona kembali kegirangan.
“Hahhh.” Fion pun mengelus kepala Adiknya, “Benar. Mereka sama seperti kita”
“Iyeyyy! Akhirnya aku bertemu Player yang sama seperti kita, Kak!”
“Kamu ini, ya. Terlalu bersemangat.”
Selain cepat, aku bahkan tidak sadar kalau mereka melepaskan debuff ke arahku dan juga Fiona. Sebagai seorang Grand Mage aku merasa harga diriku sedang diuji. Hmph ... ini menarik, batin Fion.
“Jangan berpikiran yang aneh-aneh dulu, Fiona. Lagi pula identitas mereka masih misteri, jadi ekspektasi yang berlebihan itu tidak baik”
“Ihh, Kakak! Jangan begitu juga dong, aku ‘kan bosan jadinya kalau harus membasmi cecunguk yang sama”
“Sudah, sudah. Sekarang kita analisis dulu tempat ini baru setelahnya mencari tahu tentang mereka. Puas sekarang?”
“Ohhh!” mata Fiona berkelap-kelip penuh antusias. “Kalau begitu cepatlah. Aku jadi tidak sabar!”
Ternyata yang otaknya bar-bar bukan saja mereka, tapi Adikku juga salah satunya. Hahhh ... ini seperti menjaga seekor peliharaan yang sulit untuk diatur. Namun, meski begitu aku tetap menyayanginya karena dia adalah Adik perempuanku, batin Fion.
Ekspresi Fion pun langsung melunak ketika melihat tingkah laku Adik manisnya. Setelah itu ia kembali pada tujuan utamanya—menganalisis tebing atau tepatnya reruntuhan yang ada di seberang.
Di sisi lain Ash dan Lilith yang telah pergi jauh berkat kemampuan Ash sebagai Assassin serta buff pemberian Lilith berhasil mengelabui para pengejar. Mereka saat ini berada di dalam gua jauh dari kejaran mereka.
Apa yang membuat Lilith sedikit terkeju adalah ketika kekasihnya itu membisikkan sesuatu ke telinganya.
“Kenapa kita melarikan diri? Mengalahkan mereka adalah hal yang sangat mudah, bukan?”
“Memang benar, tapi ....”
Firasatku mengatakan sesuatu akan terjadi jika aku meneruskannya. Apalagi ketika melihat dua Player itu, batin Ash.
“Seharusnya kamu juga sadar dengan dua Player lainnya, Lilith”
“Aku tahu kok, tapi kenapa kita harus melarikan diri. Mau itu monster atau Boss aku yakin kita bisa mengalahkannya, tapi kenapa harus mereka?”
“Intuisiku berkata kalau mereka mirip seperti Elen”
“Hmm? Seperti Elen? ... Oh!”
Pada awalnya Lilith merupakan perwujudan Elesis yang bepergian bersama party Andre dkk. Namun, begitu Ash menyinggung nama Elen, ia langsung paham apa maksud dari perkataan Ash.
“Ternyata otakmu tidak selambat siput, eh?”
“Jangan mengejekku seperti itu, Ash. Aku tidak suka”
“Baiklah, aku mengerti, tapi lain kali kamu juga harus cekatan dalam hal seperti itu. Memiliki kepercayaan diri memanglah hal bagus, tapi merasa waspada dalam situasi yang tidak pasti juga merupakan langkah tepat dalam mencegah hal buruk.”
Lilith mengangguk mantap dan paham betul dengan ucapan Ash.
“Jadi langkah selanjutnya apa?”
“Kita tunggu dulu dua hari ke depan, jika mereka masih mengerumuni tempat itu, maka kita akan masuk dengan cepat”
“Oke, aku mengerti, tapi dua hari? Kenapa harus dua?”
Ash hanya menyunggingkan mulutnya sembari meletakan jari telunjuk kanan ke dekat bibir.
“Lihat saja nanti ....”
__ADS_1