Nameless Crown

Nameless Crown
Chapter 14 - Darah dengan Darah


__ADS_3

“Dengan begitu pion pertama telah di atasi.”


Oz pun menyingkap jubahnya yang menyentuh lantai dan kembali berjalan. Melangkahi dua mayat Minotaur yang tergeletak di hadapannya. Darah merahnya mengguyur seluruh lantai yang dapat ia jangkau. Setelah berhasil mengalahkan kedua Minotaur itu, ia telah siap menuju babak selanjutnya dari perburuan.


Pintu yang kini berada di hadapannya sangat berbeda dari pintu yang sebelumnya. Pintu itu besar dan memiliki dua buah pegangan di tengah-tengahnya. Berwarna hitam solid dengan pinggiran yang dihias oleh lampion-lampion padam.


Ketika Oz membukanya, apa yang ia lihat bukanlah sebuah pasukan Zombie, Skeleton, Minotaur atau pun Werewolf melainkan lebih parah.


“Woi woi apakah ini nyata!?”


Bagaimana ia tidak kaget setelah di sapa oleh sebuah Wyvern Vampir yang terbang berkeliaran di atas jembatan panjang yang saling menghubungkan satu sama lain dengan bagian kastel selanjutnya.


Kali ini Oz harus menghadapi seekor Wyvern berjenis hibrida itu sendirian. Ia tidak memiliki sayap ataupun peralatan terbang seperti balon udara. Namun, ia masih memiliki rencana tersembunyi di dalam kepalanya.


Selayaknya seekor naga, ukurannya juga cukup besar, dengan ekor yang panjang berujung sebuah cambuk ujung tombak yang tajam. Warna tubuhnya benar-benar hitam dengan mata merah, sayapnya lebar sekali.


Oz pun berlari menuju jembatan di depannya dengan cepat. Sementara Wyvern itu mulai menukik untuk menghampiri mangsa barunya yang sedang berlari. Dua buah dentuman terdengar menggema, asap terlihat pada ujung silinder pistol yang di genggam oleh tangan kiri Oz.


Peluru-peluru berkecepatan tinggi membalas keramahan Wyvern yang menyapa Oz terlebih dahulu. Hanya dalam beberapa terik saja peluru itu berhasil menembus paha kiri dan juga sayap sebelah kanan hingga merobeknya.


Wyvern itu merintih kesakitan. Oz menyeringai sambil berlari, tetapi tiba-tiba saja sebuah cairan masam meluncur ke arahnya.


Cairan itu hampir saja melumatkan Oz menjadi lelehan daging jika saja ia tidak segera berguling ke depan. Wyvern itu mulai kembali terbang ke atas.


Dengan cepat Oz pun bangkit dan berbalik, lalu melihat bagaimana batuan kokoh di belakangnya mencari dengan cepat. Melihat itu ia harus lebih berhati-hati lagi. Jika tidak, maka hanya dalam satu kali serangan riwayatnya akan tamat.


Namun, melihat bagaimana reaksi dari Wyvern itu, Oz sampai dibuat takjub oleh sosok besar monster bersayap tersebut. Apalagi Daya regenarasinya sangat lah cepat. Sama seperti apa yang telah dibayangkan oleh Oz sebelum menyerangnya.


“Peluru tidak berguna, kah?”


Oz harus memikirkan cara lain untuk membasmi Wyvern itu sebelum ia dulu yang di habisi olehnya. Jika peluru tidak bisa, maka dengan menggunakan pedang perak miliknya, kemungkinan Wyvern itu akan tumbang.


Namun, dengan jarak serangnya yang hanya satu meter dan untuk Wyvern itu yang terbang. Serangan jarak dekat harus bisa menggapai bagian tubuhnya yang tidak terlalu keras.


Dua peluru sebelumnya berhasil menembus beberapa bagian tubuh makhluk besar itu. Namun, sayapnya tidak meregenerasi, artinya bagian lengan adalah tempat vital di mana Oz dapat menumbangkannya dengan mudah.


Hanya tersisa beberapa peluru lagi yang berada di kantung gantelnya.


“Kalau begitu ....”


Oz pun langsung mengeluarkan sebuah botol berisikan air suci dari saku jubah dalamnya. Botol itu bening dan air yang sangat bening dapat terlihat dari luar.


Dengan menunjuk langit, jari telunjuk kanan Oz mulai bergerak seperti membuat sebuah lingkaran sihir atau tepatnya diagram pemanggilan. Warnanya kelabu tetapi terang dan cahayanya membias.


Lalu botol berisikan air suci itu ia lempar ke atas. Wyvern yang melihatnya tidak tinggal diam dan langsung menukik ke arah Oz. Mulutnya terbuka, mengeluarkan beberapa bola-bola cairan asam yang cukup besar.


Botol berisikan air suci itu kemudian Oz pecahkan menggunakan pedang perak yang berada di tangan kanannya. Air suci yang kini berada di sekujur tubuh pedang milik Oz mengeluarkan cahaya pudar berwarna putih.


“ ~O my wish to became a messenger of justice, recall you with my soul and my power to banish the evil in this world... Moonfang!—”


Oz pun langsung menebaskan pedangnya tepat ke arah diagram pemanggilan itu secara horizontal.


Sebuah gelombang sabit yang bercahaya keluar bersamaan dengan aura biru yang menyelimutinya. Bola-bola cairan yang terkena gelombang sabit itu langsung terbelah dua, membeku dan akhirnya hancur berkeping-keping.


Sementara Wyvern itu berusaha melarikan diri dengan kembali terbang ke atas, tetapi sayangnya gelombang sabit yang dikeluarkan oleh Oz terlebih dulu membelahnya menjadi dua.


Wyvern itu kembali merintih kesakitan di barengi dengan pekikkan yang melengking. Gelombang suaranya berhasil membuat jembatan yang di lalui Oz bergetar hebat. Kastel pun tampak terlihat seperti berguncang.


Namun, saat monster bersayap itu terbelah dua, dari dua bagian tubuhnya yang berpisah itu keluar beberapa darah yang menyatukannya kembali. Sayangnya dengan daya regenerasi yang lambat, tubuhnya tak bisa lagi kembali, dan akhirnya jatuh bebas.


Oz pun segera berlari meninggalkan jembatan secepat mungkin sebelum mayat Wyvern beku yang kini jatuh ke arah jembatan menimpa dirinya. Untungnya ia berhasil menghindarinya pada detik-detik terakhir dengan berguling ke depan.


Ketika tubuh besarnya hancur, hanya kepalanya sajalah yang tersisa menjadi bagian dari jembatan itu sendiri. Terimpit oleh dua bagian, Oz pun kini menghampirinya dengan santai. Pedang kembali ia masukkan ke dalam sabuknya. Sementara pistol tergenggam di tangan kirinya.


Setelah ia sampai di depan kepala Wyvern yang telah kembali menyatu. Ia injak kepala itu keras sekali menggunakan kaki kanannya.


“Jawab atau aku akan memusnahkan rasmu!” ancam Oz dengan nada mengintimidasi.


Namun, Wyvern itu terdiam dengan mata yang memelototi Oz.


“Aku tahu kau bisa berbicara, kau adalah salah satu Familiar dari Raja Keabadian. Jika kau tidak membuka mulutmu, maka akan kuhancurkan sisa tubuhmu ini!”


(Familiar?)


Vlad pun mulai menjawab pertanyaan mendadak dari Ryan.


[Familiar adalah seekor makhluk yang diciptakan oleh tuannya. Makhluk itu bisa berupa apa saja, kau bisa melihatnya sendiri, kan? Wyvern yang kini sedang diinjak oleh Oz adalah salah satunya. Ia bertipe setengah naga, selain itu juga di dalam tubuh mereka terdapat darah tuan yang menciptakan mereka]


Ryan mulai menangkap maksudnya.


[Namun, jika Familiar itu memberontak kepada tuannya, ia akan langsung hancur atau  mati tanpa pengecualian]


(Huh?)


[Familiar itu terikat oleh kontrak. Dengan kontrak yang telah mereka buat dengan tuannya, mereka tak akan bisa memberontak ataupun melarikan diri. Jadi, jika ada Familiar yang memberontak ataupun membangkang, maka dengan otomatis kontrak mereka akan hancur dan langsung membinasakan sang Familiar tersebut]


Ryan merinding mendengar penjelasan Vlad yang tampak tidak terpengaruh itu.


(Kau memang aneh)


[Aneh?]


(Kau seekor burung kecil, tapi kau begitu bangga ketika menjelaskannya?)


[Begitu, kah?]


(Huhh... sudah lupakan saja tentang apa yang aku katakan tadi. Aku akan terus melihatnya jadi....)


Tiba-tiba saja tanah tempat Oz berdiri mulai bergetar pelan.


“Hahahahaha... dasar rendahan!”


Suaranya itu seperti gema yang berada di lorong sunyi. Sedikit bising dan berat.


“Apa yang kau inginkan dari Tuanku... makhluk rendahan!”


(Ahhh... sekarang aku tahu mengapa kau memanggilku rendahan)

__ADS_1


[Hehehehe....]


Ryan tampaknya sudah menyadari dari mana asal kalimat itu datang. Sementara Vlad tertawa canggung.


Oz kembali menginjak kepala Wyvern itu beberapa kali dengan keras.


“Huh? Rendahan katamu? Apa kau bisa melihat siapa yang rendah sekarang!”


“KHA!... dasar tidak tahu diri, kau yang berada di dalam ras paling terendah dan juga terbuang tak akan bisa membuatku tunduk—ARGHHHKKK!!!!”


Sebuah peluru kini bersarang di mata kirinya. Darah pun membuncah hebat melumuri sepatu yang digunakan oleh Oz.


“Jangan melawan!”


Oz mengancamnya dengan tatapan sinis. Tatapan merendahkan bahkan ia tampak jijik melihat kepala Wyvern yang sedang ia injak kali ini.


“Sekarang beritahu aku di mana tuanmu berada atau peluru selanjutnya akan bersarang di matamu dengan cepat.”


Wyvern itu merintih kesakitan sambil mendengus pelan. Mungkin kepalanya telah menyatu tetapi tubuh bagian tengah hingga belakangnya masih terpisah dan membeku karena serangan Oz.


“Ha... ha-ha-ha... ARGHHHKKKK!!!”


Satu peluru lagi kini bersarang di mata kanannya dan gara-gara itu semua kini Wyvern yang diinjak oleh Oz sama sekali tak bisa melihat. Namun, ia masih dapat merasakan sensasi kesakitan yang di ciptakan oleh Oz untuknya.


“Jawab aku keparat,” ujar Oz dengan nada dingin.


“K-k-kau sama sekali tidak akan bisa membuatku tunduk!”


“Begitu? Kalau begitu selamat tinggal.”


Sebuah tebasan horizontal dan vertikal yang dilepaskan Oz langsung menghancurkan kepalanya berkeping-keping hingga menjadikannya gumpalan daging tak bermutu.


Menjatuhkan sisa dari tubuhnya ke jurang.


Setelah berhasil menghancurkan Wyvern, Oz berbalik lalu meninggalkan tempat itu. Ia pun langsung mengibaskan pedangnya guna membersihkan noda darah yang masih menempel pada bagian samping.


Setelah itu ia masukkan kembali ke dalam sabuknya bersamaan dengan pistol di tangan kirinya yang ia masukan ke dalam saku jubahnya.


Berjalan di tengah malam yang penuh teka-teki. Oz akhirnya tiba di bagian kedua kastel, kini sembari ia memaksimalkan semua indranya. Dari mulai pendengaran, penglihatan dan juga perasa ia mencoba melacak target buruannya itu.


Namun, ia terpaku setelah berhasil menemukan gerbang raksasa berlapis perak dengan kepala tengkorak sebagai hiasannya.


“Apakah aku sudah mendapatkan bingo sekarang?”


Oz mendorongnya dengan kuat sekali. Satu tangan gerbang itu tidak bergerak sedikit pun, dua tangan pun sama. Hingga akhirnya ia mendorong gerbang itu dengan bahu kanannya.


Kakinya yang mulai letih terus saja berusaha untuk melangkah, mendorong gerbang raksasa itu agar terbuka.


Suara decitan terdengar kecil dan akhirnya gerbang raksasa itu terbuka.


Oz akhirnya bisa bernapas lega walaupun sekarang ia berkeringat dingin.


Gerbang itu terbuka perlahan-lahan hingga akhirnya sebuah suara Grand Instrumen terdengar lantang. Oz pun kaget dan segera memasang kuda-kuda, dan bersiap dengan pedangnya.


Ia tidak percaya bahwa tujuannya kini berada tepat di hadapannya.


Seorang lelaki berambut putih panjang. Menggunakan jubah kebesaran hitam yang panjang sekali. Di depannya terdapat sebuah Grand Instrumen besar, pipa-pipa silinder yang berada di belakangnya menjulang ke atas.


Bahkan hanya sebuah lampu gantung yang menerangi tempat itu. Tepat di belakangnya sebuah jendela besar. Terbuka begitu saja, membiarkan angin dingin berhembus masuk dan membuat gorden berkibar-kibar.


“Seperti yang kulihat kau tampaknya sangat fokus sekali, bahkan kau tidak menyadari aku datang, Vlad!”


(Vlad!?)


Ryan tidak habis berpikir bahwa Sang Raja Abadi itu adalah Vlad. Burung kecil yang kini bertengger di bahu kirinya. Ia tidak bisa percaya dengan semua yang di lihatnya sama sekali.


Saat itu juga Ryan dan Vlad si burung kecil yang bertengger di bahu kirinya saling bertukar pandang.


(Vlad?)


Ryan menatap Vlad dengan mata datar.


[Hmmm?]


(Apa itu kau?)


Vlad mengangguk pelan.


[Kau bisa mendengarkannya, kan? Dia Vlad dan aku Vlad]


(Oh... hmm... seperti itu, kah?)


[Kau tampaknya terkena serangan batin, Ryan]


Namun, Ryan hanya mematung menanggapi Vlad.


[Ahhh... tampaknya aku benar, lebih baik kau melihatnya dengan kedua matamu sendiri. Apakah lelaki berambut putih itu adalah si burung kecil ini atau bukan]


Pada akhirnya Ryan mengikuti saran Vlad dan kembali terdiam.


Lelaki yang bernama Vlad itu langsung terdiam setelah namanya dipanggil oleh Oz. Ia pun bangkit dari kursi tempatnya duduk.


“Sepertinya aku kedatangan tamu di sini. Maaf karena tidak menyambutmu dengan baik, tuan pendatang.”


Dari suaranya saja Oz sudah bisa menebak ia sangat tenang sekali. Walaupun ada seseorang yang akan melenyapkannya dan ia adalah dirinya sendiri.


Selain itu ia tidak gentar.


Suara tepuk tangan terdengar tidak lama setelah itu. Oz dengan santainya berjalan pelan ke arah Vlad.


“Hmm. Aku salut kau begitu tenang di saat seperti ini, Vlad.”


Vlad pun berbalik dan kini ia saling berhadapan dengan Oz.


“Wah, wah, rupanya Oz sang pemburu iblis. Ada apa gerangan datang ke kediaman sederhana tercintaku ini?”


“Tak biasanya seorang raja dalam arti lain berkata sopan seperti itu. Mungkin kau tidak perlu mengetahuinya karena beberapa Familiarmu telah memberitahu kedatanganku ke sini, bukan?”

__ADS_1


“Apakah seperti itu?”


Vlad memegang dagunya sendiri seperti sedang berpikir. Sementara Oz yang melihatnya hanya bisa mendesah kecewa mendengarnya.


“Ayolah kau pasti bisa mengingatnya, kan?”


“Gerangan mungkin tahu jika diriku ini sangat buruk dengan yang namanya ingatan”


“Bahhh... ”


“Jadi... kembali ke pertanyaan sebelumnya, ada apa gerangan—“


“Ahhhh... baiklah! Baiklah! Dan jangan gunakan kata seperti itu untuk memanggilku!”


“Gerangan?”


“Cukup panggil aku dengan nama saja, bisa, ‘kan?”


Vlad mengangguk patuh.


“Jadi ada apa kau datang ke sini?”


“Huhh... akhirnya aku bisa sedikit tenang karena mendengarnya. Aku datang ke sini untuk melenyapkanmu, Vlad!”


“Walaupun aku abadi?”


Oz mengangguk.


“Walaupun aku tak bisa mati sekali pun?”


“Ya!”


“Walaupun aku akan bangkit lagi jika kau membunuhku?”


“Ya!”


“Hmmm... tunggu sebentar....”


Vlad berbalik ke belakang, menghadap Grand Instrumen lalu melangkah maju untuk menghampiri Oz.


Oz bingung apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Apakah ia akan membawa sebuah senjata rahasia?


Menggunakan kemampuan berbahaya? Atau mungkin saja ia melarikan diri..,. tetapi itu tidak mungkin.


Karena ia dapat mengendalikan darah makhluk hidup sesukanya.


“Hei... sebenarnya kau itu siapa, Vlad—“


Sebelum Oz menyelesaikan perkataannya. Ia dikagetkan oleh suara aneh yang ditimbulkan Grand Instumen Vlad. Karena itu Oz menutup kedua telinganya.


“AKHIRNYA AKU BISA MATI DENGAN TENANG!!! HAHAHAHAHAHA!!”


Satu kalimat yang dikeluarkan Oz ketika melihat reaksi Vlad.


“Dia ... tentunya gila.”


Ryan hanya bisa mematung dengan rahangnya yang jatuh. Vlad ternyata gila.


(Vlad?)


Setelah itu Ryan menoleh menatap gumpalan bulu bersayap yang bertengger di atas bahunya dengan tatapan menyedihkan.


[Ya, aku tahu apa yang ingin kau katakan ketika melihat ini. Tentunya ‘gila’, kan? dan tolong jangan melihatku dengan tatapan mengasihi seperti itu]


Ryan mengangguk pelan.


[Namun, jangan salah, aku telah hidup beribu-ribu tahun dan aku bosan dengan dunia saat itu. Kau pasti akan bosan jika mencicipi makanan yang sama berulang-ulang, kan?]


Vlad menatap mata Ryan dengan penuh keyakinan. Namun, Ryan mengembalikannya dengan dingin.


(Tidak sama sekali)


[Hmmm... ok, baiklah... Ryan, kau aneh]


(Itu tidak masalah jika kau memang benar-benar menyukainya)


[Namun, jika kau adalah diriku pada saat itu, kau akan benar-benar merasakan apa yang namanya bosan sekali. Karena itulah aku gila dan ingin segera mati secepat mungkin..., tetapi berkat jantungku yang memiliki daya regenerasi yang melebihi batas normal. Mau kau menusukku dengan pedang perak atau tombak perak, membakarku selama berhari-hari atau menenggelamkanku di sungai,  atau bahkan meracuniku selama-lamanya itu semua tidak akan pernah bisa untuk membunuhku sama sekali]


(Benar, kah?)


Vlad mengangguk penuh bangga.


(Kalau begitu ....)


Ryan langsung mencekik Vlad versi burung kecil dengan sekuat tenaga.


[Eghkkkk... he-hen-ti-kan, bodoh—plakk!!]


Vlad pun memukul kepala Ryan dengan tangan mungil terbalut bulu-bulu sayapnya.


(Aww! baiklah baiklah, lalu?)


[Lihat saja sendiri, kau akan mengetahuinya dan jangan kau coba-coba untuk mencekikku lagi. Mungkin dulu aku memang gila tetapi sekarang aku waras karena dalam bentuk yang berbeda]


Ryan menghela  panjang karena mendengarnya.


Oz perlahan mengambil langkah mundur untuk meng hindari kegilaan Vlad saat itu. Ia pikir Sang Raja Keabadian Vlad tidak seperti ini. Tetapi nyatanya lebih parah dari pada yang ia duga selama ini.


“Mau pergi ke mana kau!? Bukankah kau akan membebaskan kutukan ini dari tubuhku, Oz.”


Vlad kembali menghadap Oz dengan seringai penuh kepuasan.


“Sebaiknya kau berkata yang sebenarnya, jika tidak kepalamulah yang akan terpenggal!”


Vlad memiringkan tangan kanannya, lalu ia gerakan dari sebelah kanan ke kiri lehernya.


“Huh ... dasar gila! Lalu jika kau akan mati mengapa kau bisa sesenang itu? Kelakuanmu itu membuat tanda tanya besar di kepalaku”

__ADS_1


“Tentunya aku senang!”


“Huh?”


__ADS_2