Nameless Crown

Nameless Crown
Chapter 29 - Dungeon Break III


__ADS_3

Berbeda dengan kelompok Ash dan Fion. Beberapa Player yang merasa bahwa dirinya berada dalam perangkap misterius mulai kesulitan untuk mencari jalan keluar dari dalam hutan kabut.


Ada yang menganggap jika tempat yang kini mereka datangi adalah tempat terlarang. Ada juga yang berpikir bahwa mereka telah menemukan sebuah harta tersembunyi, tapi sayangnya semua anggapan itu sama sekali tidak berpengaruh bagi seorang gadis kecil berpostur tegap.


Tingkah lakunya terkesan sedikit menggelitik dan terkadang jahil, tapi semua tindakan yang ia lakukan merupakan rencana sekaligus taktik yang baru saja ia kembangkan bersama tim sementaranya.


Berada di dalam gelapnya kabut tipis yang menyelimuti seisi hutan, seorang laki-laki pemegang tombak tengah berdiri di atas batang pohon. Matanya memicing, mengawasi sekitar sembari menjaga posisi sebagai tiang pengawas.


Ia adalah Rok, Sang Lancer. “Apa kita sudah sampai, Elen?”


“Mungkin? Instingku berkata kalau tempat ini adalah tempat tepat”


“Aku sudah mengawasi tempat ini seperti yang kamu katakan, tapi apa-apaan balasan itu. Mungkin?”


Elen yang ketahuan sedikit usil pun dipertegas oleh Sera. Perempuan berkebangsaan Elf itu memasang ekspresi menyeramkan dan menatap Sang Gadis pembawa Halbert dengan sangat intens.


“Bukannya tadi kamu yang mau datang ke sini, Elen?”


“E-ehehehe. Maaf, sepertinya kompas yang baru saja kubeli ternyata palsu,” jawab Elen canggung.


“Sudahlah, Sera. Kita tahu kalau tempat ini juga bukanlah Dungeon biasa, jadi maklumi saja Elen untuk kali ini”


“Andre! Kamu ini terlalu baik sebagai ketua tim, sekali-kali cobalah menjadi tegas”


“Ahahaha. Meski begini aku itu orang yang tegas, nanti juga kamu pasti akan mengetahuinya.”


Tim beranggotakan empat orang itu adalah Andre, Sera, Rokh, dan juga Elen sebagai anggota sementara. Setelah mereka mendapatkan kabar mengenai misi spesial dari panel pemberitahuan sama seperti Ash dan Player lainnya.


Mereka juga mendapatkan informasi tambahan dari Rokh. Di mana informasi itu mengatakan bahwa Pilar pertama telah dikalahkan beberapa hari yang lalu dan yang kedua adalah mengenai Dungeon rahasia.


Informasi kedua ini ia dapatkan secara tidak sengaja ketika menjual hasil tangkapan tim mereka ke pedagang NPC. Sebagai seorang yang memiliki pendengaran tajam, ia berhasil mendengar secara samar dari beberapa Player yang berlalu-lalang di sekitar tempat itu.


Walaupun informasi yang ia dapatkan terbilang belum konkret. Namun, ia tetap membawa hasil tangkapan telinganya itu ke teman-teman satu timnya.


Pada awalnya mereka masih ragu tentang hal tersebut, tapi begitu mereka mencoba mendatangi tempat yang dirumorkan memiliki akses menuju Dungeon rahasia. Mereka mendapati banyak sekali Player yang datang dari segala penjuru tempat.


Melihat hal tersebut, Andre selaku ketua tim menyatakan jika informasi yang berhasil Rokh dapatkan adalah suatu kebenaran. Fakta bahwa banyaknya Player yang berdatangan merupakan hal yang tak terbantahkan.


Karena itulah mengacu pada kedua hal tersebut mereka merencanakan semuanya hanya dalam satu hari. Baik dari perbekalan, alat, rute jalan, dan hal-hal lainnya.


Akhirnya semua itu sampailah pada hari ini, di mana mereka telah berada di tengah-tengah hutan kabut ilusi. Bertahan dari gempuran gelombang monster. Tanpa adanya Elesis [Lilith] sebagai penyembuh, tim mereka kehilangan satu inti, tapi meski begitu mereka sama sekali tidak berniat untuk mundur.


Untungnya Elen berada di tempat dan waktu yang tepat. Andre pun mengajukan kerja sama kepada gadis pembawa Halbert besar itu. Ia pun menyetujuinya dan wala, kini mereka berempat masuk ke dalam satu Party.


“Sebagai Lancer, aku punya penglihatan dan pendengaran yang tajam. Dari tadi hanya ada kabut, pohon, kabut, pohon. Aku sama sekali tidak melihat ada jalan keluar”


“Bagaimana kalau men-tracking jejak monsternya?”


Rokh pun mengusap dagunya dan berpikir.


“Itu memang ide yang cukup bagus, Elen. Sayangnya aku tidak memiliki Skill tracking, meski ada satu Skill pasif yang serupa, tapi efeknya berbeda jauh”


“Misalnya?”


“Sensor ... atau lebih simpelnya inderaku bisa menangkap sesuatu yang mencurigakan dengan cepat. Aku yakin Sera dan Andre setidaknya sudah tahu tentang ini, tapi berbeda untukmu, Elen”

__ADS_1


“Hmmm. Memang benar sensor adalah Skill pasif yang hampir mirip seperti tracking. Jadi apa ada saran untuk langkah selanjutnya?” tanya Elen sembari mengubah topik.


Ketiga anggota timnya terdiam untuk beberapa saat sebelum akhirnya pecah akibat suara geraman misterius yang terdengar dari dalam kabut hutan.


“Sepertinya kita kedatangan tamu tak diundang, eh?”


Andre mulai memposisikan diri sebagai pintu penjaga, Sera melompat ke belakang sembari menyiapkan busur sedangkan Rokh yang tidak jauh dari Andre menyiagakan tombaknya.


Di sisi lain Elen langsung mengaktifkan kemampuan [Taunt] dan [Reflector] secara bersamaan. Sebagai Player unik ia sudah menggantikan posisi Andre dan Rokh.


Kali ini jika seandainya ada monster yang datang menerjang, target pertama yang akan menjadi mangsanya adalah Elen sendiri. Berkat itu Sera dapat melepaskan serangan penghabisan dengan mudah.


Namun, setelah beberapa saat mereka menunggu, dan menjaga posisi dengan baik. Anehnya tak ada satu pun monster yang datang ataupun menampakkan ujung batang hidungnya.


Geraman tersebut sebenarnya berasal dari dalam Dungeon. Di mana sesosok makhluk raksasa muncul dengan geraman luar biasa yang dapat menggetarkan tanah, mengguncang langit-langit gua, dan mengeluarkan aura kemuraman.


Bahkan sebagai Player unik selain Elen dan Ash. Fion dan Fiona pun mengerti akan kengerian makhluk tersebut, sayangnya hal itu tidak dapat dirasakan oleh kelompok Elen.


Tim mereka kurang lebih masih tersesat di dalam kabut hutan dan belum mendapatkan jawaban atas perasaan tersesat. Untuk mengatasinya, Rokh kini menggunakan kemampuan pasif sensornya untuk men-tracking jejak monster.


Tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama baginya untuk menemukan jalan keluar. Mengarungi tumpukan tulang-belulang, rumput ilalang hingga kejaran monster lainnya demi mencapai jalan keluar.


Saat ini mereka telah berada tepat di depan jembatan hancur. Jalan masuk menuku Dungeon rahasia kini telah menampakkan dirinya di hadapan mereka.


“Sekarang apa?” tanya Sera.


“Jembatan ini hancur dan satu-satunya jalan untuk memasuki Dungeon rahasia yang dirumorkan itu tidak bisa dilewati,” sambung Rokh.


“Aha!”


Sera yang penasaran langsung menghampiri Elen. “Dari mana kamu mendapatkan Jumper ini, Elen?”


“Aku membelinya dari pedagang yang sama, hehehe. Ternyata pedagang sialan itu ada gunanya juga”


“Jumper?” Andre memiringkan kepalanya.


“Iya. Benda ini mirip seperti piringan biasa, tapi jika kita berdiri di atasnya, maka otomatis kita akan dibawa terbang beberapa belas atau bahkan puluhan meter ke atas,” jawab Sera.


“Oh! Jadi begitu rupanya.”


Rokh memukul telapak tangannya pelan, lalu dengan ekspresi penasarannya ia pun ikut mendekat ke arah Elen.


“Jadi tunggu apa lagi? Ayo kita segera berdiri di atasnya!”


“Whoa, whoa ... tenanglah kawan. Aku tahu kamu selalu suka dengan benda-benda seperti ini, tapi untuk sekarang coba tenangkan dirimu”


“Kamu ini sama sekali tidak mengerti romansa seorang pria, Andre”


“Bukannya tidak mengerti, tapi lebih tepatnya kurang percaya. Kamu pikir barang yang dibeli di pedang NPC yang sama seperti kompas sebelumnya akan berfungsi dengan baik, huh?”


“Hmmm. Benar juga, aku terlalu terbawa suasana, maafkan aku.”


Melihat tingkah laku rekan laki-laki  satu timnya, Sera hanya dapat menahan tawa kecilnya sementara Elen tampak terkejut dengan pernyataan Andre.


“Memang benar aku membelinya di pedagang yang sama, tapi apa mungkin ini juga rusak?”

__ADS_1


“Coba lihat keterangannya dulu, Elen”


“Baiklah, Sera.”


Mengikuti saran dari Sang Elf Pemanah, Elen pun memeriksa Jumper tersebut dengan mengetuk ikon bergambar roda gigi, dan segitiga yang berada di bagian samping kanan atas.


Seperti kebanyakan anak-anak yang kegirangan karena mendapatkan mainan impiannya. Elen pun syok tak karuan karena baru sadar selama ini ia belum pernah memeriksa kondisi Jumper.


Alhasil begitu ia mengetahui bahwa ketahanan dari barang tersebut mendekati angka 10%, ia pun marah. Namun, Sang Gadis pembawa Halbert itu tidak bisa melampiaskannya kepada siapa-siapa, dan lebih memilih untuk tertawa canggung.


Sera yang melihat itu langsung mengelus keningnya. Ia juga tahu Elen adalah tipe orang yang tidak pernah memeriksa keadaan barang ketika membeli sesuatu. Hal tersebut ia dapatkan ketika ikut berbelanja bersama dengannya beberapa hari belakangan ini.


Penampilannya mungkin terkesan sangat antik dan gotik, tapi sifat asli dalam tubuh kecil itu memang benar seorang anak kecil. Tidak lebih dari sekedar kamuflase untuk menutupi kecerobohannya yang sudah tidak dapat tertolong lagi.


“U-u-ughhh ... “


“Sudahlah. Kita tidak punya pilihan lain, mau tidak mau kita harus mencobanya meski itu akan membahayakan kita,” celetuk Rokh dengan ekspresi suram.


“Apa yang dikatakan Rokh benar, kita memang tidak punya pilihan lain. Apalagi sudah sejauh ini, akan sangat disayangkan sekali jika harus mundur”


“Dengar kata ketua tim? Ia juga sependapat denganku.”


Sera dan Elen saling bertukar pandang kemudian mengangguk kecil.


“Baiklah. Sebelum itu aku ingin kalian meminum ini”


“Elen ... apa ini?”


“Ini adalah ramuan untuk penangkal serangan, Sera”


“Serangan? Dari siapa?”


“Dampak dari gravitasi jatuh atau dikenal sebagai fall damage. Anggap saja seperti sihir menengah milik Elesis. Dengan in kuharap kalian bisa memaafkan kecerobohanku ... uhhh.”


Mendengar itu mulut Sera menyungging kecil, ia pun berjalan mendekati Elen kemudian mengelus kepalanya.


“Sudahlah. Kamu tidak perlu memikirkan hal itu, lagi pula semua orang juga pernah mengalaminya. Benar ‘kan, Rokh, Andre?”


Kedua rekan laki-laki mereka tersenyum dan mengangguk secara bersamaan seakan mereka tidak pernah menganggap itu sebagai kesalahan Elen.


“Yang lalu biarlah berlalu. Itu juga bukan kesalahanmu sendiri, Elen. Kami juga tidak pernah berpikir kalau satu-satunya jalan menuju Dungeon rahasia hancur. Berhasil memikirkan hal seperti itu saja sudah hebat, seharusnya kamu bangga dengan ketelitianmu,” tutur Andre


Setelah mendengar jawaban dari mereka berdua, Elen yang sempat murung, dan merasa bersalah pun mengambil napas kemudian ia mengeluarkannya perlahan-lahan.


Tidak ada lagi ekspresi suram yang terlukis di wajah gadis gotik tersebut. Semuanya bersih dan kini wajah senang nan ceria layaknya mereka yang percaya akan dirinya sendiri terlihat sangat jelas.


Elen tidak lagi merasa tertekan akibat kecerobohannya. Bahkan suasana hatinya pun mulai pulih, menjadi sosok dirinya sendiri.


“Uhhh ... terima kasih. Aku tak menyangka bisa mendengarnya langsung dari seseorang”


“Sudah, sudah. Waktu adalah uang, kita perlu segera masuk ke sana, dan mencari apa yang kita sudah rencanakan,” tandas Andre.


Rokh dan Elen mengangguk mantap, sementara Elen mengepalkan kedua tangannya, menandakan jika ia telah benar-benar siap untuk pergi masuk ke dalam Dungeon rahasia bersama mereka.


Setelah itu mereka melompat tinggi menggunakan Jumper menuju seberang jembatan rusak. Tanpa berpaling dan mengkhawatirkan sesuatu, keempat Player itu berjalan berdampingan dengan persiapan matang ... masuk ke dalam gua.

__ADS_1


__ADS_2