Nameless Crown

Nameless Crown
Chapter 5 - Skill dan Job


__ADS_3

Saat lengan Big Rabbit hampir mencapai wajah Ryan dan mungkin saja memberikan sebuah luka. Namun, kini wajah Ryan tersenyum akan sebuah kemenangan mutlak. Luka-luka yang ia dapatkan memang belum sembuh karena belum memakan permen bungkus buatan Lesta.


Dan pada akhirnya Big Rabbit itu melemas. Cranggg... tubuhnya terpecah-pecah menjadi kepingan kaca transparan berwarna biru cerah. Lalu hancur menjadi serbuk-serbuk cahaya.


“Brrrrrr... rrravoooo!!!”


Ia pun langsung terjatuh lemas. Tubuhnya terlentang dengan lengan kanan yang menutupi kedua matanya. Namun, tiba-tiba saja sebuah notifikasi muncul.


[Level Up!]


[Level Up!]


[Level Up!]


Notifikasi itu memberitahukan bahwa level milik Ryan telah naik menjadi level 4. Dan sebuah panel muncul dengan semua status Ryan meningkat cukup pesat. Kini semua statusnya tidak ada yang di bawah 10.


Bahkan kini sebuah kemampuan baru muncul pada panel dengan opsi ... keahlian. Ryan pun menyentuhnya lalu ada sebuah gambar dengan wajahnya berbentuk animasi. Wajah itu memiliki sekitar enam buah cabang ... Ryan pun langsung melihatnya dengan seksama.


“Hmm... Knight, Wizard, Thief, Archer, Monster Tammer, dan Assassin. Ahhh... tampaknya ini adalah Job. Tetapi apa yang sekiranya cocok dengan sifat semi hikikomori-ku?....”


Ryan pun berpikir keras, ia yang tidak suka terlalu di dalam keramaian. Tidak suka keluar dari Safe Zone miliknya, sangat menghargai sebuah buku light novel karangan Honobu Yonezawa-sensei dengan karakter yang memiliki moto ‘Keep Calm and Safe Energy’, benar-benar membuatnya harus berpikir keras.


Lalu ia pun mengingat sebuah gim yang sangat populer di kalangan para remaja lelaki. Terutama jika itu adalah urusan membunuh tanpa suara,  atau sebut saja Assassin. Di dalam gim itu sang tokoh utama harus membunuh beberapa petinggi besar untuk membalaskan dendam yang dimilikinya, menemukan kebenaran, merebut kembali ingatannya bahkan menebus kesalahan-kesalahan masa lalunya.


Ryan pun mantap dengan pilihannya kali ini.


“Kalau begitu aku akan memilih ini....”


Ia pun langsung menyentuh Job Assassin dan sebuah suara seperti terompet kecil terdengar. Notifikasi baru pun muncul.


[Now Your Job Is An Assassin, Your Special Abillities Will Appear When Your Target In State Of Careless. That Skill Is—Asassinate]


“Jika dengan Job ini aku akan dengan cepat mengalahkan musuh, lalu setelah itu bisa tidur pulas... ehmmm. Pilihanku tepat... hahahaha.”


Ryan yang kini telah mendapatkan job sebagai Assassin merasa senang, perasanan yang menggelitik tubuhnya seakan-akan terasa nyata walaupun hanya terasa geli pada bagian dalamnya saja.


“Lalu apa yang akan kulakukan sekarang?”


Lagi-lagi sebuah notifikasi muncul dengan tiba-tiba.


[Acquire New Skill—Backstab]


Ryan pun menyentuh notifikasi itu dengan jari telunjuk tangan kanannya. Lalu muncul sebuah panel, ada sebuah gambar yang menunjukkan contoh keahlian Backstab itu. Lalu di bawahnya ada penjelasan dan biaya MP—Mana Point yang di perlukan untuk menggunakan keahlian ini.


“Hmmm... jadi singkatnya keahlian ini akan memberikan daya rusak 3.25x lipat dari serangan biasa, tapi mengurangi 0 MP setiap kali penggunaannya... ehh? 0 MP?! Yang benar saja!?”


Ryan yang mungkin entah kegirangan atau tak percaya langsung melihat status keahlian itu. Ketika ia memeriksanya lagi—


“ Wooohhhhh... pantas aja pasif... khahahaha.”


Setelah itu Ryan kembali menggeser panel. Panel yang menampilkan keahlian menghilang lalu ia pun mengodok-ngodok saku kemeja hitamnya yang compang-camping. Sangat di sayangkan sekali padahal setelan baju yang di gunakan olehnya sangatlah bagus.


Tapi apa dayanya, sekarang ia hanya memiliki beberapa uang?


“Ehh ... tunggu sebentar, mata uang di dunia ini adalah ...


Ryan pun langsung mengetuk panel transparan yang tersembunyi. Setelah itu ia pun langsung menyentuh opsi Quest. Ketika melihat mata uang yang di gunakan di dunia gim ini adalah Gill.


“Gill? Nama yang cukup aneh, sepertinya aku pernah mendengar mata uang ini?”


Ia hampir saja lupa untuk memakan beberapa permen untuk memulihkan HP-nya. Setelah memakan permen penambah HP itu, Ryan pun mulai berdiri kembali. Ia melihat-lihat tempat di sekitarnya. Benar-benar sungguh kacau, apakah sistem akan memperbaikinya kembali ataukah dunia gim ini memiliki jam dunia yang sama seperti di dunia nyata?


Jika iya, maka hutan ini akan tumbuh beberapa tunas pohon yang suatu hari akan tumbuh menjadi pohon yang besar.


“Ehh?....”


Setelah berjalan-jalan di sekitar itu, Ryan tidak sengaja mendendang sebuah benda.


“Bukankah ini tanduk Big Rabbit itu?”


Ryan pun mengambilnya, seketika benda yang di pegang olehnya berubah menjadi cahaya lalu muncul sebuah notifikasi.


[Obtain Steel Horn  x1]


Lalu ketika ia melihat nama Item itu, warna statusnya berupa biru. Artinya Item ini masuk kedalam kategori Rare ...


“Hehehehe... baru masuk udah dapet barang langka aja. It’ssssss my niubi luk.”


Kini wajahnya berlinang air mata perjuangan. Dengan bahagianya Ryan berlari-lari kecil sambil melompat-lompat gembira. Dan tampaknya sekarang ia harus segera pergi kembali ke rumah Lesta untuk memberikan hasil dari misinya.


Ia pun berjalan kembali menelusuri pedalaman hutan yang seperempatnya telah musnah oleh serangan dari Big Rabbit. Cuaca tampak mendung, terangnya cahaya matahari telah tertutup oleh awan kelabu.


Ryan pun masih tetap santai berjalan pelan, itu karena staminanya terkuras cukup banyak. Jika stamina habis, maka akan sangat sulit sekali untuk bergerak. Walaupun itu hanya mengangkat sebuah garpu sekalipun akan sama seperti mengangkat beban dengan berat setara belasan ton baja yang besar.


Walaupun itu hanya berjalan tetapi Ryan terlihat menyeret kaki kirinya setiap kali melangkah.

__ADS_1


“Hah huh hahh ... aku tidak mengira kehidupan di dunia virtual ini begitu nyata, sebaiknya aku harus mengistirahatkan dulu tubuhku di Rumah Lesta.”


Ryan sedikit kesal karena mendapatkan luka yang luar biasa akibat pertarungannya dengan seekor Monster atau dapat di samakan dengan bos kecil. Dan itu adalah seekor kelinci, di dunia aslinya kelinci adalah hewan yang penurut dan penggemar wortel.


Namun, di sini kelinci itu malah diubah menjadi sesuatu yang cukup mengerikan. Bertanduk dan memiliki taring yang cukup panjang. Ryan masih menyeret kaki kirinya agar bisa meneruskan perjalanannya menuju Rumah Lesta.


Tidak lama kemudian akhirnya ia sampai di belakang rumah. Pelan, tapi pasti ia mulai kembali berjalan pelan ke depan pintu rumahnya, cuaca yang mendung itu kini mengeluarkan suara halilintar yang cukup menggema di langit atas.


Suaranya seperti sebuah sentakan dari cambukkan yang teramat kuat. Sesekali muncul beberapa petir yang turun jatuh ke bawah tetapi tidak menyentuh permukaan tanah. Suaranya begitu dahsyat.


Tampaknya hari ini akan ada hujan badai yang sangat lebat. Tik... suara itu terdengar ketika setetes air jatuh mengenai lengan Ryan yang ingin mengetuk pintu rumah Lesta. Dalam sekejap pintu rumah itu terbuka dan menampakkan Lesta yang sedang memegang sebuah cangkir kayu.


Uap mengepul terlihat di atas cangkir kayu itu. Sepertinya minuman hangat, Lesta pun langsung mempersilahkan masuk Ryan. Setelah itu pintu tertutup ketika Ryan memasuki rumah.


Hujan pun akhirnya turun bersamaan dengan suara rintik-rintik bergemersik di luar sana.


Lesta pun langsung segera mengambil beberapa papan kayu yang berada di dekat tungku perapian hangat untuk menutupi dua buah jendela.


Karena jendela itu terbuka dengan bebas, sehingga mungkin saja air hujan akan masuk ke dalam rumahnya jika ke dua jendela itu masih di biarkan terbuka. Lesta pun mengambil beberapa penyangga untuk membantu menutupi ke dua jendela itu.


Membantu sang papan kayu yang akan menjadi perisai utama untuk menghadang air hujan masuk. Setelah itu Lesta kembali ke ruang makan. Di mana Ryan sedang terduduk lemas di atas kursi kayu yang lumayan nyaman.


Hangatnya perapian dapat di rasakan oleh Ryan dan juga Lesta. Ryan yang duduk di kursi kayu sedangkan Lesta masih berdiri tepat di samping kanannya.


“Jadi bagaimana tentang Wild Rabbit itu, Ryan?”


“Setidaknya aku sudah membereskannya, tapi Lesta... ”


“Huh? Ada apa?”


“Aku tidak menyangka akan melawan Big Rabbit di sana!”


“Ehhh... kenapa bisa!? Kok ada sih?”


Lesta tampak sedikit panik dan juga bingung, ia memegangi dagunya sendiri sambil berputar-putar tidak jelas.


“Sudahlah tidak usah terlalu seperti itu, aku sudah menghabisinya.”


Ryan mengangkat tangan kanannya lalu jempolnya berdiri seakan-akan berkata ‘Tidak masalah’. Lesta pun terdiam, lalu kepalanya memiring.


“Eh? Kau menghabisinya?”


“Yup.”


“Yang bener?”


“Suer demi pantat si Samurai”


“Dan kau selamat?”


“Bisa lihat tubuhku utuh?”


“Hmmm... pastinya, tapi— HEHHHHHH!”


“Whoaaaa!”


Ryan pun terjungkal dari kursinya ketika  Lesta tiba-tiba saja tersentak kaget. Ia juga secara tidak sengaja melepaskan keahlian yang mampu membuat Ryan terjungkal.


“Ryannnnn! ... aku tidak percaya itu, kau tau Big Rabbit itu adalah Monster langka. Apalagi dia adalah Mini Boss dari pedalaman hutan belakang rumahku....”


Lesta yang merasa bangga tidak sadar bahwa kini Ryan telah bangkit lalu menyentil dahinya yang terbuka lebar.


“Ouchhh... ”


“Jangan kagetkan aku, lihat pantatku sakit tau!”


Laki-laki pembuat kue itu mengangguk pelan dan ia pun segera berhenti dari mode bangganya itu. Ia pun segera mengambil kursi kayu yang berada di belakangnya, setelah itu ia duduk di atasnya.


“Maaf, tadi aku terlalu berlebihan, yahh kau tau kan? Big Rabbit itu adalah Rare Monster. Apalagi levelnya yang tinggi itu sangatlah sulit untuk di kalahkan bagi seorang pemula. Levelnya mungkin pada saat keadaan normal adalah 5, tetapi saat ia dalam keadaan marah levelnya akan meningkat drastis menjadi 12... Ryan, heiii Rya ... kau seharusnya bangga bisa mengalahkannya seperti itu”


“Jangan terlalu berharap seperti itu, Lesta. Suatu saat yang di atas akan pasti turun menjadi yang paling terendah... aku tidak terlalu bangga jika harus mengalahkan Monster seperti itu. Aku akan bangga jika setidaknya aku bisa menghabiskan lima kotak martabak keju... hehehe.”


Wajah Ryan tiba-tiba entah kemana. Pandangannya seperti berada di tempat lain, sedangkan mulutnya terbuka sedikit dan mengeluarkan air liur.


“Martabak Keju?”


“Ehhh— maaf maaf, aku tadi melamun.”


Ryan pun segera mengelap air liurnya yang tidak jadi jatuh menetes.


“Kalau begitu tentang hadiahnya, tunggu dulu sebentar.”


Lesta pun segera pergi menuju sebuah ruangan. Ruangan itu berada di samping lukisan yang menggambarkan pemandangan indah. Tidak lama kemudian ia membawa sebuah kantung cokelat yang kecil, diikat oleh tali simpul mati.


Lalu satu lagi adalah sebuah pisau kecil. Ia pun  menghampiri Ryan, setelah itu memberikan benda itu kepadanya.

__ADS_1


“Terima kasih atas kerja samanya, Ryan”


“Tidak masalah, Lesta. Kalau begitu aku menerima barang-barang ini—”


Setelah itu Ryan mengambil pisau kecil itu dan juga sekantung kecil berisikan uang. Lalu memindai pisau kecil yang beada di tangan kanannya.


 “—Steel Dagger. Hmmm... lumayan juga ternyata, kita lihat  ... ahhh daya serangannya tidak buruk.”


Ryan pun cukup terkejut dengan kualitas senjata itu, walaupun normal tetapi setidaknya bukan inferiority. Ada satu Abillity tambahan yang muncul pada bagian bawah keterangan.


“ Kulihat keterangannya ... blablablabla~ ... ‘ saat penghabisan titik maksimum serangan, sebuah serangan dapat di lancarkan kembali jika dalam jarak yang di tentukan [Melee]’ +1 Hit. Hmmm, jadi menambah jumlah serangan rupanya....”


Lesta ikut senang ketika mengetahui bahwa pisau kecil buatannya itu dapat berguna bagi Ryan.


“Apa kau suka dengan belati itu?”


“Tentu saja, lagi pula ini adalah hasil yang kudapatkan sendiri. Lesta... terima kasih”


“Sama-sama, ahh ... aku lupa. Apa kau secara tidak sengaja memungut suatu barang? Ryan”


“Barang? Contohnya?”


Ryan kebingungan dengan perkataan Lesta. Apakah ia harus memungut barang bekas? Atau ada maksud di balik perkataannya itu.


“Seperti batu, kristal, daun aneh, atau pedang patah dan sejenisnya”


“Tentang itu... hanya tanduk Big Rabbit saja yang kuambil, apakah ada sesuatu lagi?”


Lesta tersenyum kecil.


“Besok pagi ikut aku ke rumah salah satu temanku.”


Ryan terdiam, jelas-jelas ia merasa kebingungan dengan sikap yang di tunjukan Lesta kepadanya. Namun, berhubung ia mengizinkannya untuk menginap di rumah, jadi Ryan hanya dapat mengikuti kehendaknya.


Berhubung ia juga baik dan ramah, tampaknya tidak ada motif di balik tujuannya untuk mengajak Ryan pergi ke rumah temannya.  Setelah itu Lesta pergi ke kamarnya, sebelumnya ia menunjukkan kamar di mana Ryan akan tidur malam itu.


Tidak jauh hanya saja berdekatan dengan bagian samping rumahnya. Lalu Ryan pun segera menuju kamar yang di tunjukan oleh Lesta. Setelah berada di dalam kamar itu, Ryan kembali mengecek barang-barangnya yang telah ia dapatkan saat berada di hutan.


Ia pun membuka Inventory miliknya, lalu men-drag item-item yang ia dapatkan. Pertama adalah Raw Meat, ke dua adalah Steel Horn dan yang terakhir adalah Small Candy. Ketika Ryan melihat status Item-Item tersebut, tepat di samping kanan atasnya muncul status atribut.


Untuk Raw Meat adalah Material, sama akan halnya seperti Steel Horn, tapi untuk bagian Small Candy terdapat Consume. Berarti masih banyak barang-barang dengan status atribut. Perkataan Lesta mungkin ada maksudnya ketika ia berkata ‘Apakah Ryan mengambil barang ataupun tidak sengaja memungut sebuah barang?'


Ternyata ada maksud di balik perkataannya itu. Namun, dengan levelnya yang sekarang apakah itu mungkin untuk membaut senjata baru? Tetapi setiap kemungkinan patut untuk dicobanya.


Ryan pun mulai melihat kedua tangannya lagi, ia mencoba meremas-remasnya. Mengepalnya, menggerak-gerakan jari-jemarinya. Namun, bagaimana di lihat pun, sesungguh itu begitu nyata. Bahkan rasa dan juga penciumannya benar-benar nyata tidak ada ilusi sedikit pun.


Elesis benar-benar berkata nyata tentang pengaturan tambahan itu. Pada akhirnya Ryan pun langsung segera berbaring di ranjangnya, tapi ia juga kembali memasukkan barang-barang yang ia telah keluarkan tadi.


Di dalam benaknya sekarang, apakah dunia ini sama seperti dunia yang dulu pernah ia benci atau tidak?


Jika apa yang di harapkannya itu menjadi kenyataan bahwa dunia gim ini berbeda, mungkin ia akan kembali bersungguh-sungguh untuk segera menyelesaikan gim ini.


Beberapa menit kemudian Ryan pun tertidur. Matanya yang sedari tadi telah lelah akhirnya tertutup juga. Di lain tempat, tepatnya di kamar Lesta. Sekarang ia sedang berganti baju, lalu ia pun memunculkan sebuah saluran pesan melalui telinga kanannya.


“Di sini Kapten Divisi Lesta, izin untuk melapor.”


Sebuah panel muncul tepat di depan kaca yang kini ia hadapi. Kaca itu cukup panjang seperti ukuran tubuhnya sendiri,  lalu di dalam kaca itu pun berubah, menampilkan sesosok gadis berambut putih dengan gaya rambut twintail.


Ia menggunakan pakaian yang sangat mewah sekali, bibirnya yang mungil nan tipis berwarna merah muda dapat melelehkan siapa saja yang melihatnya. Mata ungu kebiruannya benar-benar sangat indah, dengan kulit putih yang sangat putih seperti salju itu sendiri.


Perempuan itu langsung tersenyum ketika melihat Lesta yang kini sedang melapor. Lesta langsung berlutut ketika melihat kehadiran sosok gadis tersebut.


“Player no.00, ia tidak menampakkan keanehan apapun”


[Apakah begitu?]


“Ya, saya telah melihatnya sendiri ketika ia pergi menghabisi Big Rabbit sendirian. Walau ia masih level 1, tetapi saya terkesan dengan kemampuannya. Sebenarnya siapa Player itu yang Mulia Putri Elesis?”


Ketika nama kehormatannya di ucapkan, ia hanya dapat tersenyum tipis dengan mengembangkan kedua pipi putihnya yang secara perlahan mulai merona.


[Tidak, ia bukan siapa-siapa. Hanya Player biasa saja]


“Terima kasih atas penjelasannya Yang Mulia, kalau begitu saya undur diri dulu.”


Lalu setelah laporan itu selesai tampilan gadis tersebut yang tampak seperti di dalam kaca langsung menghilang seperti tertelan ke dasar laut. Lesta pun langsung mengambil sebuah buku kecil untuk ia baca.


Setelah itu ia duduk di kursi depan meja kerjanya.


“Ryan... kau seorang Player yang tampaknya berhasil menarik perhatianku. Sayangnya tidak hanya dirimu saja, tujuh Player yang unik pun mendapat perhatian yang sama dari Yang Mulia Putri Elesis. Namun, saat tadi aku melapor di hadapan Yang Mulia, ia tampak senang mendengar kabarmu... Ryan, kuharap kau bukanlah Player yang jahat.”


Ia pun membuka buku itu setelah ia duduk di atas kursi kayu. Hujan masih terdengar deras dari luar rumahnya, rintik-rintiknya mengentak-entak atap rumah. Namun, semua itu tidak membuat Ryan terbangun dari tidurnya yang pulas.


Hujan itu pun masih mengguyur rumah milik Lesta, bahkan ia terlalu sering mengetuk jendela yang telah di tutupi oleh kayu-kayu penampang. Malam hujan itu sangat cepat sekali terlewati karena rasa lelah dan kantuk yang tidak bisa ditahan.


Sekali tertidur, pasti rasa berjam-jam itu berasa seperti hanya beberapa menit. Dan dikala itu pun sang fajar telah siap menyambut hari baru yang telah di berikan kesejukan oleh air hujan tadi malam.

__ADS_1


__ADS_2