Nameless Crown

Nameless Crown
Chapter 11 - Kastil Monochrome


__ADS_3

“Saat Golem itu hancur, aku melihat sebuah lingkaran sihir di bawahnya. Sepertinya itu adalah pintu masuk menuju Dungeon di atas sana.”


Di saat yang bersamaan, Elesis telah menguatkan keputusannya. Pada akhirnya ia harus memilih salah seorang dari anggota Partynya.


Ryan dan Elen yang telah berada di tengah-tengah sebuah lingkaran misterius yang muncul setelah Golem itu dikalahkan. Tiba-tiba saja sebuah cahaya kehitaman muncul dari bawah lingkaran sihir yang mereka pijaki.


“Sepertinya dugaanku benar”


“Eh ... ehhhhh.”


Tetapi Elen tampaknya panik karena cahaya hitam yang tiba-tiba muncul itu. cahaya itu akhirnya menelan mereka berdua.


***


“Kita sampai... semoga ini tidak terlalu lama, aku ingin tidur siang.”


Ryan lagi-lagi menguap, tetapi Elen kebingungan. Ia masih harus menebak tempat mereka berada.


Sebuah kastel yang sangat besar berdiri tepat di tepi tebing sana. Jembatan raksasa penghubungnya pun tampak seperti di zaman pertengahan. Suasana yang ditimbulkan dari kastel itu sangat kelam.


Dengan cuaca yang gelap tanpa adanya sinar matahari yang menerangi. Elen sedikit gemetar. Ryan menyadarinya dan menggodanya dengan beberapa lelucon seram.


“Hihihihihihi~ di belakangmu ada apa tuh~”


Nadanya yang meyakinkan serta kondisi gelap, apalagi sebuah kastel suram di depannya. Membuat Elen sedikit ketakutan dan mengeluarkan teriakan kecil yang di tahan.


“Khiiiii!!!”


“Hahahaha... hanya bercanda, jangan dianggap serius. Nanti kebawa mimpi lho... hahahaha.”


Selagi Ryan tertawa, Elen menatap wajah Ryan dengan kesal. Kedua pipinya mengembung layaknya balon, dengan tambahan sedikit riasan berwarna merah.


“Sebaiknya kita segera pergi menuju ke dalam kastel untuk mendapatkan hadiahnya.”


Ryan pun berlari, Elen mengikutinya di belakang tetapi ia masih kesal terhadap Ryan yang menakut-nakutinya.


“Ayolah. Jangan dibawa sampai ke hati, nanti benar-benar terbawa mimpi”


“Hmph.”


Jembatan lebar serta panjang yang Ryan dan Elen sekarang sedang lalui adalah jembatan penghubung gerbang depan kastel dan juga tebing tempat mereka pertama kali sampai.


Bagian bawahnya di susun oleh batu-batu terukir yang sangat elegan, tapi kini telah sedikit hancur dan terkelupas. Pinggirnya adalah sebuah dinding batu dengan berbagai lampion bercahaya pudar di sepanjang sisinya.


Terlebih lagi sebuah palang yang tinggi di setiap antar jembatan yang menghubungkannya dengan tali baja yang menggantung di langit-langit membuatnya terlihat seperti lorong ketimbang sebuah jembatan.


Namun dengan kondisinya yang seperti itu, kastel dan jembatan yang saling berkesinambungan seperti itulah yang membuatnya terlihat lebih hidup.


Jika harus di bandingkan dengan kastelnya sendiri yang begitu megah namun terkesan gelap. Jembatan itu bukanlah apa-apa.


Pemandangan yang terlihat dari luar sangat lah berbeda saat pertama kali di lihat oleh Ryan dan Elen.


Kastil ini memiliki tiga buah menara yang menjulang ke atas, tinggi. Dua di depan dan satu lagi berada di samping kanan, sebuah jam klasik berwarna putih dengan jarum penunjuknya yang berwarna hitam.


Menara itu terbuat dari batu yang memiliki warna berbagai macam. Dari merah, hitam, putih dan juga kuning. Sedangkan untuk bagian atapnya berbentuk segitiga.


Kemudian dua menara yang saling berdekatan dengan kastelnya sendiri memiliki dua buah jendela terbuka dengan sebuah lonceng kuning pudar yang menggantung. Setiap kali Ryan dan Elen melangkah lonceng itu berdentang beberapa kali, menandakan sesuatu telah datang.


Bagian depannya yang terbuka lebar tanpa pintu yang menutupinya membuat Ryan terhenti tiba-tiba. Elen pun berhenti dan hampir saja menubruk punggung Ryan.


“Uhhhh ... kenapa tiba-tiba berhenti?”


“Ssssttt... diam.”


Suaranya halus bagai selir angin yang bertiup. Elen pun langsung menegang ketika mendengarnya. Ekspresi yang di perlihatkan oleh Ryan benar-benar sangatlah berbeda dari pada biasanya.


Walaupun mereka baru bertemu dan hanya menghabiskan waktu bersama tidak begitu lama. Tetapi, ketika mendengarnya seserius itu, mau tidak mau ia harus diam dan mendengarkannya.


Ryan menanggalkan belatinya dari sabuk.


“Sepertinya kita kedatangan tamu lagi”


“Ehhh?”


Elen kebingungan, kedua mata kecilnya sama sekali tidak melihat apapun di depan sana.


“Tetapi, apa yang akan kita lawan?”


“Huhh. Meskipun Player terkenal tetapi sifatmu masih kekanak-kanakan. Lihat!”


Ryan pun menunjuk dua buah menara yang memilik lonceng dengan jari telunjuknya.


“Jika kau tidak melihatnya, berarti penglihatanmu masihlah belum jeli!"


“Hmmm....”

__ADS_1


Ketika Elen menyipitkan kedua matanya dan kembali melihat ke salah satu menara itu. Ia cukup tersentak ketika melihat dua buah makhluk yang mengintip dari bagian pinggir-pinggirnya dengan aura haus darah.


“Mereka adalah Gargoyle. Makhluk mitologi yang mendiami suatu kastel untuk melindungnya. Pada awalnya mereka adalah sebuah patung berbentuk seperti burung bertubuh besar bersayap sayap besar yang memiliki kuku tajam. Aku akan pergi dulu sebentar... tunggu aku di sini, Elen”


“Eh? Tunggu... aku juga akan ikut, lagi pula level kita berbeda jauh”


“Mungkin jauh, tetapi pengalaman kita juga berbeda jauh dan lagi Jobku lebih cocok untuk pekerjaan seperti ini.”


Elen mematung mendengar perkataannya dikembalikan begitu mudahnya. Seketika itu juga raut wajah Ryan lebih tampak seperti predator malam jika dibandingkan dengan seorang kesatria di siang hari.


Matanya sangat fokus sekali. Kedua Gargoyle itu pun keluar dari tempat persembunyiannya, kedua sayapnya terbuka lebar, menempel pada kedua lengannya yang memiliki kuku-kuku tajam.


Ketika level parameternya menunjukkan 20, sedangkan milik Ryan masih 8, Elen berteriak untuk menghentikannya, tetapi ketika ia menoleh, sosok Ryan telah menghilang menjadi kabut hitam.


Lenyap begitu saja tertelan oleh malam, tak menyisakan jejak-jejak yang dapat bisa ditelusuri keberadaannya.


“Tampaknya Skill ini lumayan juga ... Sillent Step.”


Sebuah bisikan halus membaur dengan udara. Ketika kedua Gargoyle itu menyeru sambil memekik, sosok Ryan telah berada di belakang mereka. Hanya dalam satu kali tebasan menggunakan kemampuan spesialnya, yaitu Assassinate. Kedua Gargoyle itu langsung lenyap begitu saja, menghilang menjadi sekumpulan data virtual.


Ryan pun mendarat dengan selamat sambil menatap kastel di depannya. Sebuah gerbang tak berpintu terbentang, gerbang itu seperti memberi sebuah undangan untuk segera memasuki kastel itu sendiri.


Suara entakkan kaki berhamburan datang dari belakang Ryan. Itu adalah Elen yang berlari untuk menghampirinya dari belakang.


“Kak!”


“Huwaaa! Jangan mengagetkanku”


“Tadi itu Skill apa?”


“Itu hanya Skill pasifku saja, tidak ada yang lebih kok. Sebaiknya kita segera masuk atau tidak kita akan kedatangan tamu lagi dari bawah jurang sana."


Ryan pun kembali berlari sambil ditemani Elen yang berada di sampingnya. Elen masih bertanya-tanya tentang keahlian yang digunakan oleh Ryan saat mengalahkan Gargoyle tadi.


Seorang Player berlevel rendah dapat mengalahkan Monster berlevel tinggi adalah fenomena yang langka. Terlebih lagi perbedaan levelnya pun sangatlah berbeda jauh.


Bahkan bagi dirinya sendiri yang telah berada di dalam gim ini sejak lama tidak mengetahui sosok sebenarnya dari Ryan ini. Namun, anehnya mengapa tidak ada rumor yang beredar atau pun desas-desus mengenainya sama sekali.


Tidak ada sama sekali, terlebih lagi Ryan adalah Player pemula yang mengalahkan Monster berlevel tinggi. Sedangkan dirinya sendiri yang memiliki Tittle The Fallen Noble dan memiliki serial angka 05 tidak bisa berkutik ketika melihat aksinya yang sangat singkat itu nan mematikan.


Selagi ia melihat punggung lelaki yang sedang berlari bersama dengannya, di dalam hatinya ia berkata-kata, Kak Ryan, kau ini sebenarnya siapa?


Akhirnya mereka pun memasuki kastel itu tanpa masalah lagi. Namun, kini mereka harus bisa memilih lorong yang akan mereka lewati. Ada tiga buah lorong penghubung yang menyatukan bagian depan dan dalam kastel.


Dengan anggukan yang seirama. Mereka pun sudah memutuskannya.


“Kanan!”


“Kiri!”


Mereka pun saling bertukar pandang dan langsung tertawa kecil.


“Kalau begitu aku akan mengambil kanan”


“Seperti yang kukatakan, kak. Aku akan mengambil kiri.”


Tanpa ada keraguan lagi, akhirnya mereka pun memisahkan diri dan mengambil jalan yang telah mereka putuskan.


Ryan memilih lorong sebelah kanan sedangkan Elen memilih lorong sebelah kiri. Dengan cepatnya mereka pun langsung berlari dan segera menelusuri lorong yang telah mereka pilih.


Ketika Ryan berlari di lorong yang telah ia pilih, secara tidak sengaja ia menyenggol sebuah vas bunga dan akhirnya pecah. Ia sedikit merasa bersalah tetapi karena tempat itu adalah Dungeon, ia pun hanya bisa terus maju.


Tanpa ada rasa yang mengganggunya, kini ia telah berada di sebuah pintu. Ketika ia ingin membuka pintu itu, tiba-tiba saja sesuatu keluar dari tembok sebelah kanannya.


Ryan tidak bisa menghindarinya dan ia pun terhempas, terbawa hingga tembok di sebelah kirinya ikut hancur. Bersamaan dengan sosok yang menggiringnya ke tempat lain ia terjatuh ke sebuah tempat yang tidak diketahui.


Sementara itu Elen yang memilih lorong kiri tengah menghadapi sesosok Minotaur hitam yang membawa sebuah kampak bermata dua.


“Sepertinya akan sedikit menyenangkan!”


Elen pun langsung menerjangnya dengan cepat. Cahaya di kedua matanya kembali menghilang seiring tebasan yang akan ia lancarkan. Selagi Minotaur itu mendengus, cengkeraman kedua tangan pada kampaknya itu semakin mengerat.


Akhirnya ia pun melayangkan sebuah hantaman pembelah secara horizontal. Tetapi Elen memutarkan tubuhnya pelan dan berhasil menghindarinya dengan cepat.


Tubuhnya yang ramping berpenampilan gothik pembawa Halbert besar itu dengan luwesnya menebas bagian kanannya dengan sangat keras. Minotaur itu terhempas ke belakang beberapa meter.


Status parameter yang berada di atas kepalanya menunjukkan seberapa panjang bar HP yang ia miliki. Ia memiliki dua buah bar HP berwarna hijau tua, tapi bagian paling atas telah menguning karena serangan Elen yang luar biasa itu.


Minotaur itu kembali mendengus. Urat-uratnya terlihat keluar dan menampakkan diri di permukaan kulitnya yang hitam. Matanya mulai memerah terang sedangkan ia mulai mengambil ancang-ancang untuk menerjang Elen yang sedang bersiap dengan Halbert besar miliknya.


Di satu sisi Sang Monster berkepala banteng itu sedang mempersiapkan serangan, di satu sisi lainnya Elen sedang berada di dalam posisi bertahan.


Ketika sebuah suara retakan di sertai gemuruh muncul, Minotaur di depan Elen mulai berlari kencang ke arahnya sambil menghuyungkan kampak bermata dua itu secara diagonal.


Namun, Elen melompat tinggi dan melewati sosoknya yang besar. Kini ia berada di belakangnya, dengan lincah ia pun membalikkan tubuhnya seraya memainkan Halbert besarnya, dan menebas Minotaur itu berulang-ulang kali.

__ADS_1


Monster itu memekik kesakitan karena punggung kokohnya di serang terus menerus oleh Elen tanpa henti. Perhatian Elen berubah ketika mimik tubuh lawan yang ia serang berubah.


Sesaat Minotaur itu membalikkan tubuhnya sambil melancarkan serangan horizontal. Elen meluncur di antara kedua kakinya, setelah berhasil melewatinya, ia pun melompat dan melancarkan serangan berat.


“[Flame Impact!]”


Sebuah kobaran api berkumpul di pergelangan tangan kanannya yang kecil. Menyatu dan menggumpal lalu ia pukulkan ke punggung Sang Monster. Semua gumpalan api itu menghantam perut sang Minotaur dengan telak dengan sebuah ledakan api yang langsung menghempaskannya jauh ke belakang sana.


Tubuhnya yang besar itu langsung hancur ketika menghantam sebuah tembok batu.


Sekali lagi kastel itu bergemuruh dan sedikit berguncang akibat serangan yang di lancarkan oleh Elen. Ia pun kembali menelusuri lorong itu dengan riang sambil memikirkan Ryan yang berada di lorong lainnya.


“Semoga Kak Ryan baik-baik saja.”


Ia pun membuka pintu selanjutnya dengan pelan. Begitu tiba di dalamnya, ia cukup terkejut karena disambut oleh puluhan pasukan Skeleton berlevel 15 hingga 20.


Skeleton Knight, Mage, Priest bahkan yang sedang duduk di sebuah kursi dan mengenakan mahkota kumuh yang sudah pudar warnanya. Monster itu adalah Skeleton King yang memiliki level 35.


Suara sorakan tak jelas di sertai riuh pikuk senjata yang mengeluarkan suara gaduh tak henti-hentinya terdengar saat Skeleton King itu mengangkat tangan kanannya.


Lalu jari telunjuknya yang kini menunjuk Elen membuat seluruh pasukan tulang itu berhenti bersuara. Namun, kini seluruh perhatian mereka teralihkan dan mulai menatap Elen dengan mata berlubang mereka.


Tanpa di duga suara bergemulutuk dari masing-masing mulut mereka terdengar dan mereka pun langsung mengepung Elen saat itu juga.


Elen mendecak kecil ketika menyadarinya.


“Tampaknya aku tidak ada pilihan lain selain mengalahkan mereka semua!”


***


“Ughhh ... huh hah huh hah.”


Ryan pun terbangun dengan napas berat. Saat ia melihat sekelilingnya. Ia tak memiliki ingatan dengan tempat dan apa yang terjadi sebenarnya.


Yang ia ingat hanyalah saat ia sedang membuka pintu dan tiba-tiba saja tubuhnya terbawa oleh sesuatu.


“Ughh ... kepalaku sakit dan sebenarnya apa yang terjadi?”


Sambil meletakan telapak tangan kanannya di kepala, Ryan melihat bahwa bar HPnya telah memerah.


“Ini gawat, aku harus menggunakan ramuan itu.”


Namun, Ryan ingat bahwa ia telah memberikannya kepada Elesis. Karena itu lah ia mendesah pelan dan berusaha berpikir bagaimana caranya agar ia keluar dari situasi kritis saat itu.


Setelah ia melihat-lihat tempat apa yang kini ia anggap bahwa itu adalah reruntuhan. Perhatiannya kini mengarah pada sebuah tanaman hijau cerah yang disinari oleh cahaya bulan.


Ryan pun merangkak untuk mengambil tanaman hijau itu. Ia juga melihat sesosok Minotaur yang telah mati karena tubuhnya tertusuk oleh besi tajam. Akhirnya Minotaur itu menghilang dan tertelan data-data virtual.


“ S-sepertinya tadi aku di serang oleh Minotaur itu.”


Sambil bergumam pelan, Ryan terus merangkak. Kini ia pun sampai dan setelah ia berhasil mendapatkan tanaman itu, pemuda itu langsung mencabutnya.


Saat ia melihat status namanya, ia merasa lega karena tanaman itu adalah sebuah Herb. Tanpa menunggu lebih lama lagi, ia pun mencabuti daun-daunnya dan langsung mengunyahnya mentah-mentah.


Rasa sepat dan kesat terasa di sekujur lidahnya. Walau memasang wajah masam tetapi ia harus menahannya. Kini sebuah cahaya hijau yang pudar bermunculan di sekitar tubuh Ryan.


Ketika ia melihat kondisi bar Hpnya lagi. Ia bisa ber lega, walau hanya setengah tetapi warnanya kembali menghijau.


Setelah staminanya sedikit pulih, Ryan pun bangkit sambil menepuk-nepuk pantatnya.


“Nah ... sekarang aku harus bagaimana?”


Tempat di mana Ryan berada sekarang ini adalah tempat yang ia tidak ketahui sama sekali. Setelah jatuh akibat hantaman Minotaur ia terbawa ke sebuah reruntuhan yang aneh.


Batu-batu besar yang telah berlumur berserakan di pinggir-pinggirnya. Pilar-pilar batu yang sedikit hancur masih berdiri tegak menahan lantai di atasnya. Terlebih lagi sepertinya Ryan berada di lantai terbawah, karena saat ia mendongakkan kepalanya ke atas.


Ia bisa melihat seberapa dalamnya tempatnya berada. Sinar bulan mengintip dari celah-celah di atas sana. Memberikan penerangan seadanya sehingga tempat itu tidak terlalu gelap.


Ketika Ryan kembali melihat-lihat sekitar, ia tak sengaja menemukan sebuah diagram sihir yang tercetak pada alas tembok. Di kedua sisinya terdapat sebuah lilin yang telah mati, sehingga permukaannya hanya terlihat setengah.


Ia pun melangkah maju untuk mendekatinya, tetapi ketika Ryan menempelkan telapak tangannya pada diagram itu. Tubuhnya bereaksi dan detak jantungnya berdetak kencang. Ia bahkan tidak bisa mengendalikan tubuhnya sehingga telapak tangannya kini mencengkeram wajahnya sendiri.


Secara perlahan kesadarannya memudar, tubuhnya yang masih berdiri itu kini benar-benar tak sadarkan diri.


“Huhh... hahh? Dimana ini?”


Ketika ia membuka matanya lagi, ia tidak mengira bahwa kini dirinya telanjang. Ia dapat merasakan sebuah angin sejuk membelai tubuhnya yang telanjang itu.


“APA!?”


Karena refleks akhirnya ia pun menutupi bagian tubuh yang paling sensitif.


Tiba-tiba saja sebuah suara yang cukup berat terdengar menggema di sekeliling Ryan.


[Kau....]

__ADS_1


__ADS_2