Nameless Crown

Nameless Crown
Chapter 23 - Peninggalan Kerabat II


__ADS_3

“Apa sekarang kamu sudah merasa tenang, Ash?”


“Begitulah ....”


Keramaian Kota Belgana mulai terlihat ketika berbagai lampu jalanan serta rumah menyala. Kabut semu, langit sepi akan bintang, dengan penerangan yang berkelap-kelip bunyi di bawah sana terasa seperti pasar di siang hari.


Sementara itu Ash dan Lilith masih menikmati waktu sendiri di dalam keheningan berbalut lampu samar.


“Ini sedikit rumit. Ketika aku sadar kalau perasaan ini bukanlah milikku, rasanya aku ingin menyendiri.”


Ash sedang memejamkan matanya, membayangkan masa lalu yang ia sendiri tidak tahu apakah masa itu adalah masa yang dilaluinya atau bukan. Karena sosok yang ia lihat sekarang adalah seorang laki-laki dengan identitas jelas.


Memunggunginya dengan seutas senyum tipis. Lelaki itu berjalan meninggalkan identitasnya kepada Ash, begitu juga dengan masa lalu serta masa depan yang akan tiba.


Sayangnya Ash adalah seorang pendatang dari dunia kelabu. Dunia yang mana Lilith katakan sebagai kebohongan, dunia di mana teman-teman sekolahnya merupakan ilusi yang diciptakan untuk mengurungnya jauh dari kenyataan.


Sebagai orang biasa yang menyukai makanan rakyat, begitu ia mengetahui siapa identitasnya sendiri, Ash bahkan belum dapat mempercayai kebenaran itu 100%. Walau begitu, sedikit demi sedikit ia berusaha menerimanya meskipun berat.


Kini ketika misi spesial muncul, hati kecil masa lalunya berdetak kencang karena sosok yang perlu ia habisi adalah kerabat yang sangat ia kenali. Mengetahui bahwa benteng dan kerabatnya itu menjadi target sasaran, rasa gundah kecil yang muncul mulai bertambah besar.


Lilith hanya bisa tersenyum untuk menutupi rasa penasarannya, ia tak mau terlalu gegabah dalam menanyakan hal sensitif yang mungkin dapat memperkeruh suasana hati Ash.


“Sudahlah, jangan membuat wajah seperti itu. Aku tahu kau pasti ingin menanyakannya”


“Hahaha. Apakah aku tertangkap basah?”


“Jangan berlaga bodoh, lagi pula aku sudah tahu seperti apa sifatmu itu, Lilith”


“Yah ... siapa yang tidak khawatir jika suaminya merasa kesakitan?”


“Suami, eh? Aku tidak pernah bilang kita ini pasangan suami-istri”


“Akulah yang akan membuatnya menjadi kenyataan”


“Jangan terlalu berharap, wanita licik,” tandas Ash dengan senyum tipis.


“Aku tidak pernah menarik kata-kataku, laki-laki tidak peka,” balas Lilith sembari mencubit ujung hidung Ash.


Setelah perdebatan panas nan hangat itu, suasana atmosfer di sana pun menjadi lebih santai.


“Hanya cerita masa lalu ... apa kau masih ingin mendengarnya?”


“Kenapa tidak? Sudah tugas seorang istri untuk mendengarkan keluh kesah Sang Suami, bukan?”


“Hahhh. Dasar ....”


Tidak lama kemudian Ash mulai menceritakan isi ingatannya yang bahkan ia sendiri tidak tahu apakah itu ingatan miliknya atau bukan. Namun, perasaan yang ia rasakan terasa sangat nyata sehingga dirinya hanya bisa melepaskan semua beban tersebut.


“Aldebaran adalah seorang Ayah. Ia memiliki dua orang anak perempuan dan seorang istri yang baik, tapi karena situasi saat itu, ia terpaksa meninggalkan rumah demi tugas yang lebih berat”


“Tugas berat? Seperti bertarung melawan monster?”


“Hampir. Tugas sebenarnya yang ia emban adalah mempertahankan sebuah benteng perbatasan yang menghubungkan zona mematikan dan zona aman”


“Dengan kata lain jika benteng itu hancur, maka perbatasan akan bebas, dan semua monster yang sebelumnya dibelenggu bakal menyerbu pemukiman warga sekitar”


“Benar. Selain itu lokasi keluarganya juga tidak terlalu jauh dari zona mematikan, karena itulah ia mengambil risiko untuk ikut andil dalam mempertahankan benteng tersebut.”


Di dalam keterangan misi spesial tersebut menyatakan bahwa untuk dapat menyelesaikannya diharuskan untuk menaklukkan benteng sekaligus mengalahkan Aldebaran.


Namun, apa yang membuat Ash gundah sekaligus bingung bukanlah ketentuan atas persyaratan penyelesaian misi melainkan identitas Aldebaran itu sendiri. Bagaimana mungkin entitas yang telah lama hidup 300 tahun lalu bisa masuk ke dalam sistem dunia Taman Kecil.


Hal ini membuktikan bahwa teori yang sebelumnya ia buat bisa saja benar. Teori di mana dunia bernama Taman Kecil serta ingatan Vlad merupakan dua dunia yang berbeda, tapi saling terhubung akibat sesuatu yang misterius.

__ADS_1


Sayangnya logika tersebut masih belum dapat dibuktikan karena keterkaitan antara dunia virtual dan paralel miliki persentase yang terbilang sangat sedikit. Perbandingannya juga sudah dapat dikatakan sangat jauh meski belum bisa dikatakan mustahil.


Lalu apakah Elesis sendiri yang merupakan sistem petunjuk adalah entitas asli dari dunia paralel tersebut?


Dengan semua petunjuk dan bukti yang telah Ash miliki, kemungkinan Elesis adalah penghuni asli dunia ini sangat besar apalagi ketika ia bertemu Lesta. Ia tidak tahu jika Lesta mengenal Elesis, tapi setelah mengetahui bahwa Lesta bukan merupakan seorang NPC, Ash pun merasa yakin jika teorinya mungkin saja benar.


Meski begitu ia masih meraba-raba ... tentang dunia ini, Lilith, Elesis, dan juga Sandi Peri.


“Ia memanglah bukan seorang petarung hebat, tapi Aldebaran bisa kau katakan sebagai sosok laki-laki yang hebat”


“Kalau kamu mengatakannya seperti itu, maka aku akan mempercayainya.”


Lilith pun mengeluarkan senyum manis andalannya dan meski sekilas, tapi Ash tersipu malu.


“Apa kau tahu pakaian yang aku kenakan saat itu?”


“Maksudmu saat pertama kali kita bertemu di Kastel Vlad?”


Ash mengiyakan dengan memejamkan matanya.


“Ketika semua orang menganggapku sebagai orang yang tidak lazim dan ditakuti. Hanya keluarga Aldebaran lah yang menerima aku apa adanya, mereka juga bahkan memberiku pakaian baru, dan persediaan lainnya”


“Mereka orang-orang baik”


“Ya. Berkat mereka juga aku masih bisa hidup dan tiba di Kastel Vlad”


“Lalu apa yang mengganggumu sampai seperti ini, Ash? Pasti masih ada, ‘kan?”


Ash yang sebelumnya memasang wajah datar langsung tersedak kecil. Ia tidak mengira cerita ala kadarnya itu bisa dihancurkan oleh Lilith.


“Kau ini ... “


“Hehehe. Jangan pernah meremehkan intuisi seorang perempuan, Suamiku tercinta,” balas Lilith sambil mencium kening Ash.


“Fufufu. Tentu saja, apa yang tidak bisa kulakukan untukmu, Ash?”


Urat-urat di kepala Ash mulai bermunculan satu-persatu, kemudian dengan satu tarikan napas ia pun meneriaki Lilith dengan sekuat tenaga.


“Berhentilah bersikap bejat ketika kita berada di tengah-tengah kota! Dasar wanita tidak tahu diri!”


“Tehee~”


“Tehee endasmu! Kau tahu aku selalu saja terkena masalah karena kebiasaanmu itu! hahhh ... kenapa juga aku harus membuat kontrak denganmu.”


Menyaksikan ekspresi kesulitan Ash yang manis, Lilith hanya tertawa kecil melihat semua itu terjadi di atas pangkuan pahanya.


“Sayangnya itu sudah menjadi hasrat dan juga karakteristik rasku. Jadi hal itu sayangnya tidak bisa dihindarkan, apalagi jika targetnya sangat dekat bahkan hanya dengan mengendus aromanya saja sudah membuatku basah~”


“Demi si Samurai, aku benar-benar menyesal karena membuat kontrak denganmu.”


Ash pun menghela napas lalu bangkit dari bantalan paha Lilith, setelah itu ia berjalan ke arah pagar pembatas. Lilith pun mengikutinya dari belakang.


Kini di hadapan mereka terpampang sebuah pemandangan luar bisa. Dengan kerlap-kerlip cahaya yang berasa dari kota, mereka seakan-akan melihat atraksi natural yang dihasilkan dari sumber penerangan tersebut.


“Jadi sebelumnya kita apa yang kita bahas?”


Ash menoleh dan melihat ekspresi puas Lilith kemudian ia kembali memandangi pemandangan kota di bawah sana.


“Tentang Aldebaran. Aku hanya tidak ingin melakukannya, tapi sebagai seseorang yang dulu pernah dibantu olehnya. Aku tidak bisa membiarkan hal ini begitu saja”


“Siapa cepat dia dapat? Kamu ingin menjadi yang pertama mengalahkannya?”


Ash mengangguk mantap, ia pun mengepalkan tangannya erat-erat. Lilith yang telah mengetahui sifat Ash ini yakin jika langkah selanjutnya yang akan mereka ambil adalah menyelesaikan misi ini.

__ADS_1


Namun, ia belum tahu pasti apakah laki-laki yang ia anggap sebagai suaminya itu benar-benar akan menaklukkan benteng dan mengalahkan Aldebaran atau ada maksud lain dari pertanyaannya.


“Jadi kamu ingin mengalahkannya?”


“Seandainya ada jalan alternatif atau skenario tersembunyi, mungkin aku bisa mencobanya. Namun, sampai saat ini aku hanya baru bertemu satu kali, aku juga tidak yakin jika yang kedua kalinya akan terjadi”


“Pernah? Kapan?”


Ash langsung menatap Lilith lekat-lekat. Pada awalnya Sang Permaisuri itu malu-malu sambil menatap balik Ash dengan mata penuh gairah, tapi ketika ia sadar maksud dari pendekatan tersirat Ash, ia pun termenung.


“Maksudnya aku?”


“Lambat. Memangnya kenapa aku bisa bertemu denganmu di sana? Apa karena faktor keberuntungan? Pffft ... dasar”


“Uhhh. Aku tahu, aku tidak terlalu pandai dengan kepalaku, tapi bukan berarti kamu bisa mengejekku seperti, Ash”


“Sejak kapan aku mengejek ingatanmu? Apa aku pernah mengatakannya?” tanya Ash datar.


“Dasar, aku benci kamu!”


“Oh? Baguslah ... kalau begitu aku tidak perlu berurusan lagi denganmu”


“Huehh?! Bukan itu maksudku, Ash. Ash ...!”


“Ugh. Berisik ....”


Seketika itu juga Ash langsung menyumbat mulut Lilith dengan ciuman panas. Di sisi lain insting Lilith pun aktif dan merangkul leher Ash dengan sangat kuat sekaligus meningkatkannya menjadi french kiss.


.


.


.


“Sudah puas? Sial, tadi itu 10 menit, lho!”


“Akan lebih baik kalau kita meneruskannya di ranjang, bukan begitu, sayang?~”


“Ranjang jidatmu,” balas Ash kesal sambil menyentil kening Lilith.


“Ouchh!”


Setelah itu Lilith terus menggoda Ash dengan jurus-jurus jitunya sebagai Sucubus, tapi sayangnya hal itu tidak terlalu efektif seakan-akan laki-laki yang dicintainya itu sudah memiliki kekebalan terhadap hal-hal erotis.


***


Wind Hill, West Green Plain, Rumah Wendy


Di sebuah ruangan penuh dengan berbagai benda penempaan, seorang perempuan sedang memerhatikan tungku perapian sembari menikmati ubi rebus. Ia adalah Wendy, Sang Penempa Besi yang dipercayai oleh Ash untuk meningkatkan kualitas senjatanya.


“Memang benar aku akan membuat senjata luar biasa, tapi sampai-sampai status mengerikan ini muncul dari dalam kualitas barang Boss. Fiuhhh ... aku yakin Ryan—oopps, lagi-lagi aku salah menyebutnya. Sekarang ia menjadi, Ash, kah?”


Ia pun menyeka keringat yang jatuh dari atas keningnya kemudian mengambil palu dari atas meja dan berjalan mendekati tungku perapian.


“Sepertinya aku akan mencetak sejarah baru dalam pembuatan senjata. Kuharap ia akan menyukai hasil kreasi mahakaryaku ini, hehehehe.”


Tidak lama kemudian bunyi-bunyi aduan besi terdengar. Percikan api bersorak dan deburan dari uap panas membelai bagian tubuh Sang Penempa Besi dengan lembut.


Dalam lingkungan panas itu, semangat Wendy tidak pudar, mata yang penuh tekad dan ketangkasan yang terpancar dari caranya menempa besi menciptakan sesuatu yang berbeda.


Tidak kenal lelah dan terus menempa. Bahkan ia tidak sadar bahwa matahari yang sebelumnya berada di atas langit telah tenggelam ke dasar jurang dunia.


“Tunggu saja, aku pasti akan menciptakan senjata luar biasa yang bahkan Kapten Kesatuan Divisi 1 seperti Lesta saja bisa cemburu. Hahaha!”

__ADS_1


__ADS_2