
Kastel mulai bergemuruh hebat. Menara jam yang berada di samping kanan kastel runtuh , hutan-hutan di bawah sana tumbang, dan Oz dapat mendengar kepanikan para kesatria yang sedang datang kemari.
Mendengar permintaan terakhir Vlad, Oz pun langsung bergegas berlari kembali ke dalam kastel untuk mencari perempuan itu.
Sebelumnya Vlad membisikan sesuatu ke dalam kepalanya. Ia berkata bahwa perempuan itu berada di lantai dua, di sebuah ruangan yang cukup mewah. Ia juga mengatakan perempuan itu sama sekali tidak bisa mati seperti dirinya, artinya dia abadi.
Perempuan itu juga memiliki sebuah julukan yang di berikan oleh orang-orang sekitarnya, julukan itu adalah Immortal Witch. Yang berarti dia adalah penyihir yang tak bisa mati.
Benar apa yang di katakan Vlad tentang kutukannya.
Akhirnya Oz sampai di ruangan itu, ia pun segera membuka pintunya. Karena pintu itu terkunci dari dalam, akhirnya Oz menendang pintu itu hingga ambruk dan terbanting.
Walau samar ia dapat melihat sesosok perempuan di dalam sana. Ia sedang terduduk dengan kedua kakinya yang di lebarkan menjadi huruf W ke belakang. Memiliki rambut seputih dan sepucat milik Vlad.
Ia menggunakan gaun One Piece yang berenda merah terang di sekitar bawah dada dan juga bagian bawah tubuhnya. Karena gaun itu tidak terlalu menutupi kulit dan bagian tubuh yang lainnya. Oz segera menenangkan dirinya dan menghampirinya sebelum kastel tempatnya berada sepenuhnya hancur.
Begitu ia sampai di tempat perempuan itu, ia cukup sedih karena melihat ekspresi wajahnya yang sama sekali tidak menunjukkan rasa keinginan untuk hidup.
Mata kuning keemasannya hampa dan tak memiliki cahaya di dalamnya. Walau wajahnya terbilang cantik, kondisinya yang sekarang itu lebih mirip seperti boneka manequin yang utuh dan lengkap menggunakan sebuah pakaian.
“Apa kau tidak apa-apa?”
Wajah perempuan itu bergerak sedikit demi sedikit, kedua mata hampanya itu kini memandangi Oz yang berada di depannya.
“S-s-siapa k-k-kau?... ”
“Oz, itulah namaku.”
Bahkan suaranya saja sudah seperti itu, rapuh, dan tak bertenaga.
“Apakah kau baik-baik saja?” ucap Oz mengulangi perkataan yang sebelumnya ia tanyakan.
“Aku? Heh... huh... aku?”
Karena melihat kondisinya yang seperti itu, Oz langsung saja memegang kedua pundaknya. Sensasi lembut dan nyaman itu dapat langsung ia rasakan. Kulitnya sungguh bersih dan di kedua pipinya kini mulai memerah.
Sebelum itu ia menjerit dan membuat Oz hampir terjungkal ke belakang.
“JANGAN MENYENTUHKU... EKKKKK!!! JANGAN MENDEKATIKU LAGI, JIKA KAU MENDEKATIKU LAGI AKU AKAN MEMBUNUH DIRIKU SENDIRI!!!”
Oz tak gentar dan ia pun kembali mendekati perempuan itu sedikit demi sedikit.
“SUDAH KUKATAKAN JANGAN MENDEKATIKU LAGI! MEREKA... MEREKA MELEMPARIKU DENGAN BATU PANAS, KOTORAN, MENJELEK-JELEKANKU DAN BERKATA BAHWA AKU ADALAH PEREMPUAN TERKUTUK YANG MEMBAWA SEBUAH BENCANA! AKU AKAN MEMBALAS MEREKA SEMUA... JADI JANGAN DEKATI DIRIKU!!! ATAU AKU AKAN BUNUH DIRI—“
Di tangan kirinya sebuah pisau dapur telah siap menusuk kerongkongan miliknya sendiri. Namun, tangannya bergetar hebat dan pada akhirnya pisau itu jatuh. Ia pun mulai menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
Tidak lama setelah itu ia menangis hebat. Oz pun langsung menghampirinya dengan cepat, menenangkannya beberapa kali, tetapi semua itu percuma saja.
“Tchh ... tidak ada cara yang lain, jika para kesatria itu menemukanmu sudah pasti mereka akan menyiksa dan mempermalukanmu. Vlad... maafkan aku.”
Oz pun mengangkat wajah perempuan itu lalu menamparnya keras. Sebuah pekikan kecil terdengar, ketika perempuan itu kembali tenang. Ia pun menatap Oz dengan kedua mata kuning kelamnya itu sambil memegangi pipi kanan yang memerah akibat tamparan.
Ia tak percaya ... sekali lagi ia harus merasakan sebuah kesakitan yang menyengat di salah satu bagian wajahnya.
“A-APA—“
Sebelum ia kembali mengutarakan apa yang ia pikirkan dengan pahitnya kehidupan yang di deritanya. Oz sudah terlebih dahulu mengunci mulutnya dengan sebuah ciuman hangat dan juga menggairahkan.
Mereka berdua kemudian bertukar saliva. Setelah kembali pada kesadaran semulanya, Oz pun melepaskan ciuman itu.
“Apa kau sekarang sudah sadar! Jangan diam saja, kita harus segera meninggalkan tempat ini.”
Perempuan itu masih terdiam dengan wajah yang memerah karena ciuman panas tadi. Oz mendecak kecil lalu segera menggendong perempuan itu. Namun, kedua kakinya yang tertutupi oleh selimut lebar rupanya terikat oleh rantai yang cukup besar.
Sekali lagi Oz mendesah pelan lalu memutuskan rantai itu dengan tangan kanannya. Kedua matanya kembali memerah dan ia pun mengeluarkan sayap hitam di punggung kanannya.
Oz memperkuat pijakkan kakinya lalu akhirnya melesat terbang jauh ke atas. Atap-atap yang menghalangi jalannya seketika itu juga hancur.
Kini bersama dengan perempuan yang berada di dalam gendongan seorang tuan putri. Mereka berdua saling memandang satu sama lain. Perempuan itu yang sedari tadi menaruh kedua lengannya di dada kini mulai merangkul leher Oz dan menatapnya dengan penuh harapan.
“Sebaiknya kau tidak melakukan hal seperti itu lagi. Jika kau seperti itu lagi, maka mungkin saja mendiang kawanku akan sedih melihatnya.”
Bulan purnama yang tadi berubah warna kini telah kembali seperti semula. Kastel mulai hancur sedikit demi sedikit, runtuh bersamaan dengan tebing yang membantunya untuk berdiri. Jembatan-jembatan penghubung putus dan ambruk ke jurang.
Hutan kematian atau yang di kenal hutan orang mati mulai tumbang satu persatu. Suara kepanikan para kesatria terdengar di telinga Oz.
Tidak lama kemudian perempuan itu membuka mulutnya dengan tenang untuk pertama kalinya.
“M-mengapa kau menyelamatkanku? Lebih baik kau menyerahkanku kepada pihak kerajaan agar segera dimurnikan”
“Diam! atau tidak aku akan mengunci mulut lagi”
“Aku tidak keberatan,” ucapnya lembut malu-malu.
Lalu perempuan itu mencium Oz kembali selama beberapa detik, wajahnya kembali merah, tapi bukan memar atau luka. Kedua matanya yang hampa mulai menunjukkan cahaya di dalamnya. Tubuhnya yang tadi gemetar mulai pulih dan kembali tenang.
Oz pun merasakan bagaimana rasanya di cium oleh seorang perempuan. Hidupnya selama ini selalu berantakan karena sayap hitam di punggung kanannya.
“Kalau begitu aku akan kembali bertanya untuk kedua kalinya, mengapa kau menyelamatkanku?”
“Setelah mengalahkan raja yang jahat bukankah seorang pahlawan layak di berikan hadiah?”
__ADS_1
Perempuan itu tertawa kecil sambil memejamkan kedua matanya.
“Sekarang adalah giliranku untuk bertanya. Mengapa kau begitu mudah untuk menyerahkan hidupmu begitu saja?”
“Itu karena aku tidak bisa mati dan orang-orang yang dulu berada di sampingku satu persatu meninggalkanku “
“Hmm, jadi?”
“Apakah kau tidak memiliki rasa simpati?”
“Jaga mulutmu perempuan tak tahu diri. Aku menolongmu bukan karena hadiah atau pun niat yang sama seperti itu, itu semua karena permintaan mendiang kawanku.”
Ketika Oz mengatakan itu dengan nada yang datar dan tanpa ekspresi, perempuan di gendongannya mulai perlahan merapatkan tubuhnya ke tubuh Oz. Napasnya terengah-engah sambil memandangi wajah Oz yang begitu dingin.
“Sudah kuduga akan menjadi seperti ini ... walau aku tidak ingin merasakan perasaan seperti itu lagi, tetapi tampaknya itu tidak bisa kuhindari. Sebaiknya kau bertanggung jawab terhadapku~”
Lalu untuk ketiga kalinya perempuan itu mencium Oz dengan panasnya. Kedua tangan yang merangkul leher Oz mulai ia rapatkan dan dekatkan agar ciuman itu tidak berakhir dengan cepat.
Begitu selesai Oz tampak kaget sedangkan perempuan itu masih merangkul leher Oz kuat sekali.
“Bukankah ini aneh?”
“Hmmm“
“Ah... aku lupa belum memberitahu namaku. Oz... kau bisa memanggilku, Lilith.”
Lilith tersenyum lembut ke arah Oz yang masih keheranan dengan tingkah laku yang begitu tiba-tiba berubah.
“Oh... aku mengerti, lalu mengapa kau yang sebelumnya menjerit-jerit ketika kusentuh dan akan bunuh diri menjadi seperti ini?”
“Karena kau memberikanku kehangatan”
“Semudah itu, kah!?”
Lilith mengangguk pelan.
“Sebelumnya aku selalu dilecehkan dan selalu dilukai oleh manusia, tetapi sekarang aku dilindungi dan juga di gendong oleh manusia?”
“Sepertinya kau salah paham. Aku bukan sepenuhnya manusia.”
Senyum kecut mengias wajah Oz dan ia pun menatap Lilith dengan ragu.
“Ara! Begitu, kah?”
“Kau bisa melihatnya sendiri kan, sayapku?”
Lilith pun langsung mengubah perhatiannya. Kini ia melihat sebuah sayap hitam berlapis merah keabuan. Matanya melebar dan ia pun melepaskan rangkulannya.
“Ahhh... indahnya”
“Huhh. Kau memang tidak mendengarkanku sama sekali”
“Namun, memiliki sayap seperti ini, bukankah kau seharusnya menghargai itu?’
Dari ucapannya yang begitu mudah, Oz cukup terkesan karena Lilith memuji sayapnya walaupun ia tidak menginginkannya.
“Baiklah kembali ke topik awal, setelah ini aku tidak yakin akan membawamu bersamaku”
“Huh? T-t-tapi—“
Oz menggeleng pelan.
“Kehidupanmu mungkin akan lebih berbahaya dari pada yang sekarang”
“Aku sudah mengalaminya, jadi kumohon bawa aku bersamamu.”
Sekali lagi Oz menggeleng tanda penolakan. Lilith tampak tidak bisa berbuat apa-apa, karena keputusan Oz sudah sangat telak. Ia tidak akan bisa mengubahnya lagi hanya karena hal sepele.
“Kumohon aku akan menjadi apapun yang kau mau, budak, pembantu, mainan apapun j-j-jadi bawalah aku bersamamu.”
Lilith sangat putus asa sekali ingin ikut bersama Oz. Namun, Oz hanya melihatnya dengan dingin. Dari kedua matanya tidak memiliki keinginan apapun untuk membawa perempuan secantik Lilith bersamanya.
Seketika itu Lilith menggumamkan sesuatu dan Oz menyadarinya.
“Apa yang kau gumamkan!?”
Ketika mereka berdua bertukar pandang, tiba-tiba saja Oz tidak bisa mengendalikan hawa nafsunya. Dua buah taring yang cukup panjang muncul di rahang atasnya.
Matanya menyala merah, ia berusaha memberontak tapi sayangnya ia tidak bisa dan karena itulah sekarang ia mulai mendekati leher milik Lilith.
Wajah Lilith mulai bergairah, pupil matanya melebar, wajahnya memerah dan napasnya terengah-engah seperti kelelahan.
“Kemarilah, sayang~”
Di dalam hatinya yang paling terdalam, Oz benar-benar membenci situasi seperti ini. Jika ia yang merupakan campuran setengah manusia dan vampir menggigit leher Lilith, maka ia akan menjadikannya miliknya.
Seluruhnya... tubuh, jiwa bahkan sifatnya akan menjadi miliknya.
Oz berusaha menahan dan ia pun mencoba untuk menjauhkan wajahnya dari leher Lilith. Begitu mulutnya mulai terbuka dan kedua taringnya menyentuh bagian samping leher Lilith, jantungnya pun berdetak kencang.
Keringat dingin keluar dari sekujur tubuh Oz pada saat itu. Hampir saja ia menancapkan kedua taring dan memanen darah milik Lilith, untungnya ia bisa bertahan dan ia juga tampak kelelahan.
__ADS_1
Kedua mata Lilith melebar dan ia pun memandang Oz dengan tidak percaya.
“Jangan pernah m-mencoba h-h-al seperti itu lag-lagi ... d-dasar bodoh!”
“T-tidak mungkin, bagaimana kau lolos dari sihir pengikatku!?”
“Aku tidak semudah itu kau ikat ... Lilith!”
Lilith pun murung dan tak bisa berbuat apa-apa lagi. Sihir pengikat yang membuat Oz keluar kendali sama sekali tidak membuat dirinya bertingkah agresif.
Akhirnya Oz terbang menjauhi kastel dan pergi ke suatu tempat bersama Lilith. Lilith yang terdiam karena apa yang ia ingin kan tidak terjadi harus merasa berat hati akan di tinggal Oz sendirian.
Setelah beberapa menit telah berlalu, mereka berdua sampai di sebuah danau yang besar. Air bening yang memantulkan warna langit malam begitu indah. Bayang siluet bulan purnama pun bahkan terlihat jelas di atas permukaannya.
Oz menurunkan Lilith, ia pun berbalik dan ketika ia ingin kembali terbang. Tiba-tiba saja ia dihentikan oleh dua buah tangan lembut yang merangkul tubuhnya.
“Lilith!? Lepaskan aku sekarang juga, kau masih bisa hidup dengan normal”
“Apa maksudmu!? Meninggalkanku sendirian di sini, aku ketakutan ... aku ketakutan karena aku akan kembali menyendiri!”
Tubuhnya sedikit gemetar selagi kedua tangannya berusaha menghentikan Oz.
“Kau pasti bisa... di antara ribuan—tidak, di antara miliaran laki-laki pasti kau akan menemukan yang lebih cocok dari pada diriku. Sebaiknya kau segera melepaskanku sebelum aku “mempermainkan” tubuhmu,” ucap Oz dingin.
Lilith terisak-isak, wajah cantiknya itu kini terpendam di hamparan punggung kokoh milik Oz.
“Aku tak peduli! Lakukan saja sesukamu!”
Oz langsung berbalik, kemudian mendorong Lilith hingga tubuhnya menghantam tanah. Lilith sedikit memekik dengan wajah yang masih berlinang air mata.
“Lihat kau saja masih gemetar seperti itu!.”
Ketika Oz akan mempermainkan tubuhnya, ia pun segera menghentikannya dan kembali berjalan untuk meninggalkan Lilith yang telentang sambil menangis.
“Sebaiknya kau segera mencari pakaian baru atau tidak laki-laki lain yang menemukanmu akan menjadikanmu sebagai mainannya.”
Karena melihat Lilith yang gemetar, Oz langsung menanggalkan jubah hitam yang telah lusuh untuk dipakaikan kepada Lilith.
Ia mendesah pelan karena kerepotan melihat tingkah laku Lilith yang aneh sekali. Sejak Oz menciumnya, sifatnya berubah drastis. Dari yang awalnya pembangkang dan tidak patuh menjadi penurut dan penuh kasih sayang.
Sekali lagi Oz menghela, hati seorang perempuan memanglah rumit, pikirnya.
Setelah itu ia pun pergi meninggalkan Lilith yang masih memasang wajah memelas.
“Sepertinya ini akan menjadi lebih sulit.”
Di kegelapan malam itu Oz terbang melintasi awan-awan kelam dengan leluasa.
“Huhh... tadi itu hampir saja, ci-ci-ciuman pertamaku tidak seperti apa yang kubayangkan.”
Sambil bergumam sendiri Oz menambah kecepatan terbangnya. Hanya beberapa menit saja kini ia telah sampai di sebuah pedesaan yang cukup ramai. Namun, tidak ada aktivitas apapun di sana, karena pada saat itu malam benar-benar gelap.
Lampion-lampion gantung menyala dengan redup. Oz pun berkeliling mencari sebuah penginapan untuk tempat ia beristirahat. Ia akan menggunakan dalih sebagai petualang atau pun menggunakan identitas pekerjaannya sebagai Priest untuk menghindari pertanyaan aneh.
Hanya berjalan beberapa mengitari sebuah pancuran air dan Oz melihat rumah yang cukup menjanjikan. Ia pun segera berlari ke sana dengan pakaian kotor, robek serta compang-camping miliknya.
Ketika Oz sampai di sana ia pun langsung di tanyai oleh pemilik penginapan, untungnya ia menggunakan rencana yang sebelumnya ia telah siap kan.
Ruangan tempatnya beristirahat adalah kamar 2.1 yang berarti berada di lantai dua paling pojok kanan. Setelah ia membuka pintu kamar itu, langsung saja Oz melompat ke atas ranjang putih dengan selimut hitam bersamaan pakaian yang masih terpasang di tubuhnya.
Malam pun tak terasa dan pagi telah datang menjemput haru yang baru. Oz terbangun sambil merentangkan kedua tangannya. Namun, ia merasakan sebuah sensasi yang belum pernah ia rasakan.
“Mengapa tubuhku berat!?”
Dengan terburu-buru ia pun langsung menyingkap selimut dari atas tubuhnya. Sesosok perempuan setengah telanjang yang benar-benar cantik tertidur di atas tubuhnya. Di sekitar mulutnya terdapat darah dan kedua tangannya merangkul tubuh Oz dari atas hingga ke bawah.
“LILITH!?—akh!”
Begitu menyadari bahwa itu adalah Lilith, bibir Oz terasa sakit dan saat ia menyentuhnya, darah merah kental terlihat menempel di jari telunjuk tangannya.
“I-ini tidak mungkin!”
Di saat Oz kaget, Lilith terbangun dan menindih Oz dari atas. Di perut putih mulusnya terdapat sebuah lingkaran segel yang begitu unik. Lingkaran dengan dua buah segi enam terbalik di tengahnya saling memunggungi dan terlebih lagi lambang segel itu berwarna merah terang.
Lilith menguap begitu lebar dan membuat *********** mengembang beberapa saat. Di saat itulah Oz menatap wanita yang kini ada di atasnya dengan tidak percaya.
“Ahh... Sayang, rupanya kau telah bangun~”
Nada yang riang dan juga lembut itu bukannya memberikan ketenteraman bagi Oz. Melainkan sebuah tusukan yang dalam tepat ke jantungnya.
“A-apa yang kau lakukan!?”
“Aku hanya membuat kontrak denganmu, apakah itu tidak boleh?~”
“Ughhh!!”
Wajah kekalahan telah di dapatkan oleh Oz dan semenjak itu mereka berdua terus bersama. Kontrak yang membuat Lilith harus mematuhi segala perintah Oz. Yaitu kontrak antara majikan dan juga pelayan.
Namun, bagi seorang Lilith yang memiliki julukan Immortal Wicth menjadi seorang pelayan bukanlah hal yang berat. Karena rasa cintanya terhadap Oz sangatlah dalam. Entah apa yang terjadi tetapi rasa itu kembali bermekaran di hati Lilith.
Dan terlebih lagi warna mata kuning keemasan milik Lilith berubah menjadi merah darah sama seperti milik Oz versi setengah vampir.
__ADS_1