Nameless Crown

Nameless Crown
Chapter 27 - Dungeon Break I


__ADS_3

Ketika Player lain kesulitan dalam menghadapi monster tak diundang dari dalam kabut hutan. Kelompok Ash dan Fion berhasil dari labirin semu itu tanpa mendapatkan luka sedikit pun.


Tentu lantai pertama adalah tempat bagi para pemula mendapatkan poin Exp untuk meningkatkan level. Namun, terkadang ada beberapa individu yang lebih santai, dan membawanya ke tingkat berbeda.


Mereka adalah para pemalas dan tidak memedulikan perubahan kondisi Taman Kecil ataupun masa depan mereka. Berbeda dengan kelompok Fion dan Ash, dua kelompok kecil ini lebih mengedepankan kekuatan level agar tidak tertinggal oleh waktu Taman Kecil.


Berada di depan jembatan rusak yang sama, Ash memberi isyarat singkat ke Lilith. Sang Permaisuri Pemikat itu pun mengerti kemudian menggunakan keahlian sihirnya untuk mendeteksi sekitar.


Apabila tidak ada yang mengikuti mereka, maka keduanya akan langsung masuk ke dalam gua.


“Tidak ada siapa-siapa, semua aman”


“Bagus. Kalau begitu, ayo”


“Umm~”


Ash pun langsung merangkul pinggang Lilith dan wanita itu mengerang keenakan. Namun, Ash menghiraukan sikap nakal teman spesialnya itu, dan lebih fokus untuk mewaspadai sekitarnya.


Di sisi lain kelompok Fion tiba setelah Ash. Laki-laki berkacamata itu membuka sebuah buku sihir, kertas-kertas tersingkap sangat cepat bagai daun yang diterpa angin kencang.


Huruf-huruf astral dan Rune kuno bermunculan. Fion menarik napas pelan kemudian mengarahkan tongkat sihirnya ke arah jembatan rusak.


“Aldiento!”


Layaknya waktu yang diputar ulang, jembatan rusak itu pun perlahan-lahan mulai memperbaiki diri. Dari yang tak berpijak menjadi berpijak, lumut-lumut menghilang, persis seperti pada masa kejayaannya. Kini jembatan tersebut mirip seperti tempat sakral.


“Aku juga ingin bisa melakukannya, tapi sayang ... Job-ku bukanlah seorang Mage,” celetuk Fiona yang sedang memanggul sabit.


“Kita tidak memiliki banyak waktu. Sebelum mereka datang menyusul, ayo kita segera masuk ke dalam.”


Fiona pun menyeringai kecil mendengar Kakaknya yang seakan-akan siap melakukan pertempuran hebat. Sementara itu, Fion memastikan tidak ada satu orang pun yang dapat mengikuti mereka.


Alhasil dengan keahlian sihir keduanya, ia membuat sebuah ilusi sederhana di sekitar jembatan.


“Dengan ini semua sudah selesai”


“Yahooo~ akhirnya, ayo!”


***


Berbanding kontras dengan keadaan di luar, tempat yang Ash masuki berupa sebuah gua lebar. Terdapat berbagai kristal keunguan menggantung di atas langit yang biasa disebut sebagai stalaktit.


Tanah pun tak kunjung diam dengan memancarkan sinar temaram dari pucuk Bunga Dandelion. Bertabur kapas kecil yang mengapung, melintas sesaat hanya untuk menepi, Lilith sedikit takjub dengan keadaan tersebut.


Ia bahkan menggandeng tangan Ash erat sekali. Meski wajah terpana akan keindahan tempat tersebut, tapi ia masih bisa menerimanya karena apa yang dilihatnya sekarang adalah sosok Ash.


Laki-laki yang memiliki sifat baik dan terkadang dingin di saat yang sama. Namun, kali ini kilas balik bayang dari bentuk wajahnya memancarkan kepercayaan diri tinggi. Untuk pertama kalinya ia melihat ekspresi Ash setenang itu.


Seolah-olah sosok Ash sedang memeluk keindahan itu untuk dirinya sendiri. Meresapi selayaknya seorang bayi yang tertegun melihat kebaikan Sang Ibu, tapi apa yang ada di depan mereka memang cukup dapat digambarkan sebagai surga kecil.


[Selamat! Kalian adalah orang pertama yang menemukan tempat ini. Sebagian dari mereka mungkin penasaran, tapi jangan khawatir. Bagi Sang Pencipta, mereka yang terus mencari, dan melihat dari balik kebenaran pasti akan diberikan berkah tersendiri]


[Floral Garden—Lv.20->Lv.35]


[Welcome to Secret Dungeon, Floral Garden]


“Sebuah kebun? Di dalam gua?”

__ADS_1


Kepala Ash memiring sedikit, tapi Lilith mengambil kesempatan itu, dan langsung menariknya.


“Ayo! Aku jadi penasaran, mungkin jawaban yang kamu butuhkan ada di bagian paling dalam tempat ini, Ash.”


Dengan senyum lembut dan antusiasme Lilith, Ash pun langsung menyerah, dan membiarkan Lilith menariknya jauh lebih ke dalam.


Melewati lorong lampu kristal cantik, Lilith bagai seorang gadis cilik yang berlari tanpa masalah. Di belakangnya Ash yang terlihat sedikit canggung tidak bisa berhenti dan terus mengikuti kemauan Sang Permaisuri Pemikat.


Laki-laki itu baru pertama kali melihat tingkah laku rekannya yang kekanak-kanakan sehingga ia memakluminya. Mengingat bagaimana kondisi Lilith di masa lalu dan semua pengalaman yang telah mereka lalui bersama.


Setelah 300 tahun berlalu, ia belum pernah melihat sekali pun reaksi Lilith yang seperti itu. Jadi mau tidak mau ia hanya diam dan mengikuti apa yang ingin dilakukannya meski itu membuat dirinya sendiri kewalahan.


Tidak lama kemudian akhirnya mereka tiba di sebuah taman. Terdapat berbagai jenis bunga dan pohon kecil tumbuh di sana. Sulur-sulur mengambai dari balik bayangan pada sisi langit-langit.


Apa yang menjadi perhatian keduanya saat ini ialah pemandangan tak terduga dari sebuah danau di tengah-tengah taman tersebut. Sangat jernih dan terkesan majestik, sinar mentari yang masuk dari langit-langit berlubang secara samar juga menjadikan danau itu seperti dalam mitos legenda kuno.


Terlebih dengan fakta bahwa tidak ada satu pun monster yang menghalangi jalan mereka. Itu berarti dungeon tempat mereka berada bukan ditujukan untuk misi penaklukan atau pemberantasan semata, melainkan untuk ditemukan dan diklaim.


Tidak ada monster di sepanjang jalan, aku juga tidak melihat sesuatu yang janggal. Jadi tempat ini kenapa mengindikasikan sebuah dungeon? Batin Ash.


Di sisi lain Lilith yang masih menggandeng lelaki tercintanya mengeluarkan senyum lebar nan manis.


Aku ingat ... aku ingat pernah datang ke tempat seperti ini bersama Ash, batin Lilith.


Mereka memiliki pemikiran yang berbeda. Satu mengenang dan yang satunya mengkhawatirkan sesuatu. Walaupun begitu keduanya masih tenang dan tetap mengetatkan penjagaan mereka.


Tidak ada yang tahu dan bagaimana semua kejutan itu bisa terjadi.


“Awalnya aku kira tempat ini akan menjadi medan pertempuran, tapi ternyata ... “


“Justru aku mengkhawatirkan itu”


“Hehehe. Jangan malu-malu, aku tidak akan melakukan sesuatu yang aneh, kok”


“Mungkin sebaiknya aku meningkatkan status imunitas”


“Ehh? Kenapa? Aku ‘kan sudah bilang kalau aku tidak akan berbuat aneh-aneh. Tolong dengarkan aku sekali saja ....”


Pada awalnya Ash hanya membuat wajah tak peduli, tapi semakin lama ia menghiraukan Lilith. Wanita tersebut justru memberi tekanan paling kuat yang pernah ia hadapi selama ini.


Bagaimana ekspresi wajah manis nan cantiknya itu dapat menghancurkan dinding tak terlihat Ash hanya dalam beberapa detik. Akhirnya Ash pun menghela napas, ia tidak bisa bertahan lama dari serangan kejutan Lilith.


“Baiklah, kuharap kau menepati kata-kata itu, Lilith”


“Tentu saja~”


Ash tidak terbiasa menghadapi seorang wanita, apalagi tipe lengket, dan manja seperti Lilith. Namun, perilakunya itu ia berikan hanya untuk Ash saja, dan bukan orang lain.


“Omong-omong, apa kamu bisa mendengarnya, Ash?”


“Sesuatu?”


“Uhm~ seperti keajaiban hutan belantara~”


“Hmm? Maksudmu?”


Setelah itu Ash mempertajam pendengarannya. Sebagai rasi setengah Vampir, kekuatan indra tubuhnya ditekan saat siang hari. Walaupun kondisi sekitar gelap, tetap saja tidak sama seperti malam sehingga pendengarannya menjadi sedikit kabur.

__ADS_1


Namun, begitu ia mendengarkannya dengan seksama. Matanya pun menjadi tegang dan perlahan mulutnya menyungging kecil.


“Jadi itu maksudmu, ya?”


Lilith hanya mengangguk ceria. Sementara Ash mengusap jidatnya sembari tertawa kecil.


“Ada-ada saja, kukira ada serangan monster atau sesuatu yang datang mendekat, tapi ternyata ... sebuah sara air mengalir, kah?”


“Benar. Jadi aku pikir danau di tengah sana bukan berasal dari tetesan air dari kristal di langit-langit melainkan ada sesuatu yang membuatnya menjadi seperti itu”


“Jadi kamu berhenti sejenak dan mendengarkan sekitar?”


“Yup~ tepat sekali dan ajaibnya suara itu sangat jelas bisa kudengar. Aku penasaran, ayo kita ke sana~”


“Kamu ini anak kecil atau apa?”


Lilith melangkah sebelum kepalanya berpaling dan memperlihatkan wajah seorang wanita cantik yang tersenyum lebar penuh antusias. “Tentu saja aku Istrimu~”


Untuk beberapa saat Ash termenung melihat kilas wajah Lilith. Mata yang indah dengan kilauan merah rubi, kulit putih pasi persis seperti bulan, rambut panjangnya yang terkibas akibat gestur tubuh, serta bagaimana ia memberi kejutan melalui senyum dan perkataannya.


Ash—lelaki yang pernah dijuluki sebagai pembasmi iblis di masa lalu itu terpukau. Apalagi dengan adanya latar belakang yang mendukung, ia langsung mengingat kenangan lamanya bersama Lilith ketika berada di atas gedung kastel saat bulan purnama.


Meski memiliki waktu dan tempat yang berbeda, ia tak menyangkal bahwa kejutan itu membuat hatinya sedikit berdetak cepat. Untuk menyembunyikan kekaguman akan betapa luar biasanya sosok Lilith, Ash menundukkan kepala, menyembunyikan wajah malu serta senyum tulusnya.


“Ada apa, Ash? Apa kamu sakit?”


“Tidak. Bukan apa-apa, ayo. Bukannya tadi kamu mau mengajakku pergi ke sana?” tanya Ash dengan wajah lembut.


“Ash ....”


Setelah Ash yang sebelumnya mengalami serangan “hati”, kini giliran Lilith lah yang terpana akan ekspresi wajah Ash. Ia tak sadar telah menurunkan penjagaannya dan alhasil ia pun langsung berbalik arah berlari ke arah Sang Kekasih kemudian memeluknya dengan penuh kasih sayang.


“H-h-heii! Bukannya kita mau ke sana?”


“Tahan sebentar, aku ingin memelukmu saat ini”


“Dasar, kamu seperti anak kecil saja.” Ash menghela napasnya lalu mengusap kepala Lilith pelan-pelan.


Berseberangan dengan dua orang sejoli itu, Fion dan Fiona tak beruntung karena begitu mereka memasuki gua. Apa yang mereka dapatkan adalah seekor monster setinggi lima meter sedang berdiri menghalangi mereka sembari memanggul pilar batu di pundaknya.


Memakai topeng kayu dan berperawakan besar berotot. Sosok monster itu mendengus, mendengus, dan mendengus sebelum akhirnya marah karena Fiona menghantam kaki kanannya dengan bagian tumpul sabit besar.


“Dasar menjijikkan. Makan ini!”


NGAHHHHHHH!


“Kamu ini, ya. Main serang saja, padahal aku ingin menghabisinya dengan sekali serang. Hahhh ... air susu tumpah tidak bisa kembali lagi, sepertinya kita tidak memiliki pilihan lain selain menggunakan jalan brutalmu itu”


“Hehehehe. Justru itulah bagian yang menyenangkannya, Kak. Tunggu saja biar akulah yang menghabisi makhluk jelek ini, Kakak hanya perlu diam, dan menontonnya dari belakang”


“Kalau begitu aku akan memberi keringanan ... [Double Amplify]!”


Dengan rapalan tersebut, Fion mengetukkan tongkat kebesarannya ke permukaan lantai. Sebuah gelembung transparan meluap cepat membungkus Fionna kemudian gelembung itu pecah meningkatkan beberapa status miliknya.


“Selamat bersenang-senang”


“Yehaaaaa~”

__ADS_1


__ADS_2